11. Pria Menyedihkan

1634 Kata
Sore ini Bianca sudah sampai di kantornya. Bianca sedang duduk sendiri di ruangannya. Di pikirannya masih terbayang wajah Willy yang penuh amarah tadi. Bianca baru sadar pantas saja toko itu mendadak sepi, pasti ini memang sengaja. Bianca mengedik ngeri memikirkan nasib Davira yang ketahuan bersama pria lain padahal tiga hari lagi dia akan menikah. Bianca memegang kedua keningnya tak percaya. Ya tuhan, ini pasti akan berdampak dengan acara pernikahannya. "Ya Tuhan, bagaimana kalau mereka menggagalkan pernikahan ini. Kerugianku pasti lebih besar lagi. Bagaimana ini?" ucap Bianca terkejut. Ceklek "Bii" ucap Naena yang baru saja masuk ke dalam ruangan Bianca. "Na, maaf aku cuma memberikan ini untukmu" ucap Bianca memberikan bungkusan bewarna biru. "Ya Tuhan, Bii. Kamu tidak perlu repot-repot" ucap Naena tidak enak hati. "Anggap saja ucapan terima kasih karena sudah menjualkan mobilku" ucap Bianca tersenyum. "Dimas yang menjualnya bukan aku. Dan kamu juga sudah memberikan Dimas hadiah" ucap Naena. "Jadi menolak? Baiklah aku berikan pada Icha saja" ledek Bianca. "Hahaha. Tentu saja aku menerima dengan senang hati" ucap Naena tertawa. Ceklek "Bii, mana kuenya?" ucap Icha yang baru saja masuk. Bianca memasang wajah senyum terpaksa. Ya, padahal dia sudah memberitahu kalau dia akan membawakan kue kepada dua sahabatnya ini. Icha pun duduk di samping Naena dan menatap Bianca bingung. "Maaf" ucap Bianca. "Sebenarnya tadi aku sudah membeli untuk kalian berdua. Tetapi kue itu jatuh. Tetapi masalah yang lebih besar bukan tentang kue yang jatuh. Aku pasti bisa membelikannya lagi. Kalian harus tahu kita bisa mengalami kerugian yang lebih besar lagi" ucap Bianca sedih. "Maksudmu bagaimana Bii?" tanya Naena dan Icha bersamaan. "Pernikahan Willy dan Davira sepertinya akan batal. Dan kita pasti akan rugi besar kali ini" ucap Bianca. "Ko, Bisa?" tanya Icha tak percaya. "Kamu ingat pernah melihat Davira di hotel waktu itu?" Icha menganggukan kepalanya. "Itu memang benar Icha. Dia bersama Jason teman SMAnya juga. Dan yang pasti dulu mereka sepasang kekasih. Bisa dikatakan sampai saat ini" ucap Bianca. "Bii, bagaimana Davira bisa menjalani hubungan dengan Jason ketika dia ingin menikah dengan Willy?" tanya Naena yang juga terkejut. "Aku juga tidak yakin. Tetapi tadi siang aku melihat mereka berdua berciuman. Dan yang lebih parahnya lagi Willy sudah mensetting toko kue itu sepi agar bisa melabrak mereka berdua" jelas Bianca mengingat yang dia lihat tadi. Icha dan Naena menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Lalu apa yang terjadi dengan Davira?" tanya Icha penasaran. "Aku tidak tahu. Yang aku tahu Aku menabrak Willy dan tatapan pria itu sangat marah" ucap Bianca menggelengkan kepalanya. "Davira bodoh sekali kalau dia benar selingkuh dari Willy" ucap Icha kesal. "Pasti dia dan pria itu habis dengan kemarahan Willy" ucap Naena membayangkan apa yang terjadi saat itu. "Gaees. Kita tidak perlu tahu masalah hubungan mereka. Yang harus kita pikirkan adalah WO kita sekarang. Kalau mereka gagal menikah bagaimana nasib WO kita?" ucap Bianca. "Benar. Untuk apa kita mengurusi hubungan mereka. Ya Tuhan. Kenapa bisa berdampak buruk bagi kita. Kita akan benar-benar rugi besar kali ini" ucap Icha. "3 hari lagi. Kita akan tunggu saja kabar buruknya" ucap Naena pasrah. Pagi ini Bianca datang ke Hotel Sabrina. Dia melihat sudah sampai mana dekorasi yang dibuat oleh timnya. Ya sudah sempurna dan sangat indah dengan nuansa putih. Bianca menghembuskan nafasnya kasar. Bisa-bisa dekorasinya kali ini akan terbuang sia-sia. Padahal dia merancang semuanya sesuai degan inspirasinya. Bianca keluar dari ballroom hotel. Dia hendak melihat dekorasi kamar pengantinnya di lantai 5. Bianca melangkah menuju lift. Tiba-tiba kakinya terhenti saat mendengar suara samar dari dekat toilet wanita. "Kamu tidak akan berani membatalkan pernikahan kita, Kak" ucap seorang wanita. "Siapa bilang. Aku akan membatalkan pernikahan denganmu" ucap pria itu. Deg Hati Bianca mencelos. Willy akan membatalkan pernikahan ini. Bianca tahu ini pasti akan terjadi. Dia tidak bisa bayangkan berapa besar kerugian yang akan dia alami dan nasib timnya yang sudah dengan susah payah untuk acara ini. Bianca semakin lemas memikirkan hal itu. Bianca pun melangkah lebih mendekat dan ingin tahu kelanjutan dari pembicaraan mereka. "Namamu akan tercoreng Ka" "Tidak akan" "Undangan sudah tersebar. Media sudah tahu. Apa kau yakin akan membatalkan pernikahan kita?" "Untuk apa aku mempertahankan pernikahan dengan w***********g seperti mu" Plak "Tutup mulut kotormu Ka. Kau harus ingat siapa yang meminta aku menjadi kekasih dan istrimu? Kau berlutut dan memohon cinta padaku. Padahal aku tidak pernah sedikit pun ada perasaan padamu" "Kau akan menyesal, Davira" "Kau yang akan menyesal, karena tidak menikahiku Kak. Bukankah kau sangat mencintaiku?" "Tidak" "Seharusnya kau menerima tawaranku kemarin. Kita tetap menikah, dan nama baikmu tidak akan tercoreng dengan kegagalan pernikahan ini. Tetapi biarkan aku tetap menjalin hubungan dengan Jason kekasihku" "Hah. Terlihat seperti pria menyedihkan sekali jika aku menerima tawaranmu itu" "Kau memang pria menyedihkan Kak. Karena kau mencintai wanita yang sama sekali tidak mencintaimu" "Aku bersumpah kau akan menderita" "Hahaha, terlihat seperti sebuah ancaman. Asal kau tahu, aku menderita itu karena harus bersandiwara untuk mencintaimu di depan semua orang. Dan aku pastikan kamu yang akan menderita karena berlutu meminta aku datang ke pernikahan minggu nanti" "Aku tidak akan menikahimu jalang. Dan kau harus tahu yang batal adalah pernikahanku denganmu. Tetapi bukan nama baikku" Bianca  masih terdiam tak percaya mendengar pertengkaran Willy dan Davira. Dia tak sadari jika Willy sudah melangkah pergi meninggalkan Davira dan kini Willy sudah melangkah keluar dari balik tembok dan berdiri di depan Bianca. "A...aku ti..dak men..dengarnya.. Ma..af" ucap Bianca yang terkejut tiba-tiba Willy sudah dihadapannya. Bianca pun menalan salivanya dan melangkah cepat meninggalkan Willy. Nafasnya tercekat saat itu. Setelah merasa dirinya aman, Bianca baru bisa bernafas lega. Bianca menutup wajahnya ketika mengingat sikap bodohnya tadi. "Sial, harusnya aku tidak perlu berkata apapun tadi. Harusnya aku pergi saja. Pasti dia mengira aku menguping pembicaraannya. Bodoh, kenapa aku bodoh sekali" ucap Bianca pada dirinya sendiri. Ting Bianca masuk ke dalam lift dan menekan tombil angka 5. Bianca masih saja menyesali kebodohannya itu. Untung saja Davira tidak melihatnya. Bianca tidak tahu apa yang akan terjadi jika Davira juga keluar saat itu. Ting Bianca keluar dari dalam lift. Dia melangkah cepat menuju kamar 505. Bianca membuka pintu dengan kartunya. Kamar ini baru selesai di bersihkan. Dan belum ada tanda-tanda timnya datang untuk mendekor kamar ini. Bianca menatap jam di tangannya. Ini sudah jam 11 harusnya tim dekorasi kamar sudah sampai disini. Bianca duduk di atas ranjang dengan sprei bewarna putih. Bianca memijit keningnya, seketika teringat pertengkaran Davira dan Willy, hatinya begitu terkejut. Dia memegang dadanya, dia tak menyangka Davira bisa melakukan semua ini kepada Willy. Dan benar Willy terlihat menyedihkan sekali. Bianca bisa rasakan apa yang Willy rasakan saat ini. Pasti pria itu hatinya hancur mengetahui wanita yang di cintainya ternyata tidak mempunyai perasaan apapun padanya. Drrrt Drrrt "Hallo Ma" "Bii, bisakah kita makan malam hari ini di rumah?" "Bisa Ma. Bianca akan pulang sore ini" "Terima kasih sayang. Mama akan menunggumu" Siang ini Bianca makan bersama Naena, Icha dan timnya yang berada di Hotel Sabrina. Mereka menikmati nasi kotak yang sudah Bianca pesan. Nafsu makan Bianca menjadi sedikit berkurang karena dia tahu semua kerja kerasnya dan tim BM akan sia-sia. "Bii, ada apa?" tanya Icha "Cha, apa kita tidak perlu melanjutkan semua ini?" tanya Bianca balik. "Bii, selama mereka belum menghubungi kita untuk membatalkannya, berarti kita tidak boleh menghentikan semuanya sekarang" ucap Icha. "Ya, tapi buat apa kalau semuanya sia-sia" ucap Bianca sedih. "Bii, kita harus yakin. Walaupun batal mereka tetap membayarnya. Walau memang kita rugi besar setidaknya kita buat saja acara untuk seluruh karyawan kita. Agar semua masakan yang di buat Nathan dan timnya tidak terbuang sia-sia" usul Naena. "Betul Bii. Acaranya malam. Jadi kita semua bisa mengajak keluarga ataupun pasangan masing-masing. Anggap saja ini acara gathring untuk BM" tambah Icha. "Baiklah" ucap Bianca pasrah. Betul juga usul dua sahabatnya itu. Setidaknya dia bisa membuat seluruh timnya bahagia. Bianca  akhirnya bisa menelan semua makannya dengan tenang. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Bianca sudah berjanji pada Mamanya untuk makan malam bersama. Bianca pun meminta izin kepada yang lain untuk pulang duluan. Karena mereka akan pulang setelah pukul 6. "Bii" ucap Nathan menghampiri Bianca. "Ada apa Nat?" tanya Bianca. "Untukmu" ucap Nathan tersenyum memberikan kotak berisi coklat. "Terima kasih" ucap Bianca menerima coklat itu. "Semangat Bii" ucap Nathan. Bianca menganggukan kepalanya dengan tersenyum. Lalu Bianca pergi meninggalkan hotel ini. Ya, Bianca mencoba bersikap biasa saja. Dia tidak boleh menunjukkan masalah yang terjadi di managemenya kepada kedua orang tuanya nanti. Sebelum pulang ke rumahnya Bianca membeli martabak telor kesukaan Mamanya. Bianca juga tidak lupa membelikan Martabak keju kesukaan Papanya. Bianca tersenyum menatap martabak yang dia bawa malam ini untuk menambah menu makan malamnya. Bianca masuk ke dalam rumahnya. Dia menyerahkan bungkusan martabak kepada Mbok Darmi pembantu di rumahnya. Setelah itu Bianca menuju kamarnya untuk mandi agar dia terlihat lebih segar malam ini. Setelah mandi Bianca memakai sweater putihnya dan celana diatas lutut. Tak lupa dia mengepang rambut coklatnya. Lalu memoles sedikit bedak dan lipstik peach agar terlihat tambah segar. Bianca tak lupa menyemprotkan parfum wangi bunga lily kesukaanya. Tepat pukul tujuh malam Bianca turun ke ruang makan. Disana sudah ada Mama dan Papanya. Bianca pun langsung mengecup pipi Mama dan Papanya lalu ikut duduk bergabung di ruang makan. Mereka bertiga makan malam bersama. Bianca makan dengan lahapnya karena semua masakan malam ini dimasak spesial oleh Mamanya. Bianca tidak tahu dalam rangka apa karena ini bukanlah ulang tahun dirinya, Mamanya ataupun ayahnya. yang jelas Bianca harus makan dengan lahap agar Mama tidak kecewa kalau Bianca hanya makan sedikit. Setelah mereka selesai makan Mbok Darmi merapikan piring kotor dan membawany ke dapur. Sedangkan Bianca, Mama, dan Papa masih duduk di ruang makan. Dengan sajian martabak yang Bianca beli tadi tak lupa coklat pemberian Nathan. "Tumben kamu membeli coklat Bii" ucap Mama melihat coklat di atas meja. "Itu dikasih Nathan Ma" ucap Bianca. "Pacarmu?" selidik Mama. "Bukan. Hanya teman Biasa" ucap Bianca. "Syukurlah" ucap Mama pelan. "Ada apa Ma?" tanya Bianca karena samar mendengar ucapan Mama.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN