"Bii, ada yang ingin Papa bicarakan" ucap Papa dengan nada berubah serius.
"Iya Pa" ucap Bianca santai.
"Sudah tiga tahun sejak kegagalan pernikahanmuu dulu, Bii" Papa menjeda kalimatnya.
Bianca hendak mengambil sepotong martabak dia urungkan niatnya. Bianca menunduk, dia tidak mengerti kenapa Papa membuka pembicaraan yang tidak ingin dia bahas untuk saat ini.
"Bii, dengarkan Papa sayang" ucap Mama mengusap bahu Bianca.
"Bii, pria itu tidak akan kembali. Mengertilah, dia telah meninggalkanmu dihari pernikahan kalian. Jangan menutup dirimu" ucap Papa menatap Bianca dengan raut wajah sedih jika mengingat tiga tahun lalu.
"Pa" ucap Bianca menggelengkan kepalanya agar Papa menghentikan pembicaraan ini.
"Papa harus bicara Bii. Ini demi masa depanmu. Papa tidak ingin melihat putri Papa sendirian dimasa tuanya nanti" ucap Papa dengan selembut mungkin.
"Ada Papa dan Mama" ucap Bianca sedih.
"Bii, kami tidak bisa selamanya menjagamu. Usia semakin bertambah dan kamu tidak mungkin hidup seorang diri selamanya" ucap Mama.
"Kamu seorang wanita. Tidak baik seorang wanita hidup sendirian. Apalagi di usiamu saat ini. Lihat Naena dia sudah menikah dan Icha 6 bulan lagi dia yang akan menikah. Tidakkah kamu ingin seperti mereka mempunyai pasangan?" ucap Papa. Bianca menggigit bibirnya menahan perasaan sedihnya jika harus mengingatkannya tentang pernikahan.
"Kenapa Mama dan Papa membahas semua ini?" tanya Bianca yang sudah tak tahan jika terus membahas ini.
"Papa ingin kamu menikah Bii" ucap Papa.
Bianca menggelengkan kepalanya menatap Papa dan Mamanya. Sejujurnya dia belum sanggup menghadapi pernikahan. Kegagalan pernikahannya membuat dirinya takut akan terulang lagi. Dan di hatinya belum bisa menerima laki-laki selain Erick.
"Ini demi masa depanmu Bii" kali ini Mama yang berucap.
"Bianca belum memiliki kekasih" lirih Bianca.
"Itulah kesalahanmu Bii. Tidak membuka hati kepada pria lain. Harusnya kamu belajar membuka hatimu" ucap Papa.
Bianca tertunduk benar yang Papa katakan. Seharusnya dia membuka hatinya untuk pria lain. Tetapi itu sangat sulit. Buktinya saja Nathan yang sudah jelas-jelas memberikan perhatian lebih tetapi tidak bisa mencairkan hati Bianca yang beku. Jadi harus bagaimana Bianca bersikap? Bianca tidak tahu itu.
"Bianca akan memikirkannya, Pa. Untuk saat ini Bianca masih trauma dengan pernikahan" ucap Bianca berdiri dan hendak meninggalkan pembicaraan ini.
"Papa belum selesai bicara Bianca" ucap Papa memperingatkan putrinya itu.
Bianca akhirnya kembalu duduk di tempatnya. Apalagi ini masalah di managementnya saja belum selesai, sekarang orang tuanya menuntut dirinya untuk menikah. Rasanya kepala Bianca ingin pecah saat ini juga.
"Bii, Mama dan Papa mempunyai calon yang cocok denganmu. Dan penikahan kali ini dia tidak akan meninggalkanmu. Kamu hanya harus belajar mencintai pria yang nanti akan menjadi suamimu" ucap Mama lembut.
"Papa dan Mama menjodohkanku" ucap Bianca tak percaya.
"Bii, pria ini baik. Mama yakin kamu bisa menerimanya" ucap Mama lagi.
"Tidak, Ma. Bianca tidak mau dijodohkan. Apalagi memikirkan pernikahan" ucap Bianca tak terima.
Papa melihat jam di tangannya. Sudah pukul 8 malam. Sebenarnya Papa tidak tega, tetapi ini semua demi keluarganya. Papa pun berdiri dan bersiap menjamu tamu yang akan datang ke rumahnya malam ini.
"Gantilah pakaianmu. Calon mertuamu akan datang sekarang" ucap Papa tanpa melihat Bianca..
Bianca menganga tak percaya, kenapa Papa bisa seperti ini. Menjodohkannya tanpa harus bertanya terlebih dahulu padanya. Bianca menatap Mama meminta perlindungan, tetapi Mama tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mama mohon turuti kali ini permintaan kami Bii" mohon Mama dengan memelas.
Bianca merasa tidak tega menatap Mama begitu sedih memohon padanya. Baiklah Bianca akan mencoba menerima perjodohan ini. Semoga saja mereka tidak meminta untuk menikah cepat. Bianca berharap pernikahan akan berlangsung 1 atau 2 tahun bahakan kalau bisa 5 tahun mendatang saja.
Bianca sudah di kamarnya. Bianca memilih dress selutut bewarna hujau toska kesukaannya. Lalu dia menggerai rambutnya. Bianca juga memberikan eye liner di matanya agar mata sedihnya tak terlihat. Tidak lupa menyemprotkan kembali parfum beraroma bunga lily.
Melihat tampilannya sudah rapi, Bianca turun dan menuju ruang tamu. Hatinya gelisah memikirkan pria seperti apa yang akan dijodohkan dengannya. Bianca berjalan perlahan sambil menetralkan nafasnya.
"Minggu ini pernikahannya"
Deg
Jantung Bianca terasa ingin lepas dari tempatnya. Bianca berharap pendengarannya salah saat ini. Bianca menghentikan langkahnya. Kakinya lemas jika dia harus bergabung ke dalam sana. Bianca lebih memilih berdiri di belakang tembok.
"Pak apa pernikahannya tidak bisa diundur. Putri saya belum ada persiapan apapun" terdengar suara Papa.
"Tidak bisa. Putrimu tidak perlu menyiapkan apapun cukup menjadi mempelai wanita dipernikahan putraku dan hidup sebagai suami istri bersamanya"
"Pak berikanlah waktu untuk putri saya berpikir" terdengar Papa memohon.
"Tidak bisa Gunawan. Kau ingin membuat nama baik keluargaku tercoreng, Hah"
"Bukan begitu Pak"
"Kau harus membujuk putrimu untuk menikah dengan putraku minggu ini. Tidak ada bantahan apapun. Atau kau akan aku pecat dari jabatanmu dan aku pastikan kau tidak akan diterima kerja dimana pun"
"Saya akan coba Pak"
"Berikan dia keyakinan. Kalau pernikahannya kali ini tidak akan gagal seperti pernikahannya dulu. Putraku tidak akan pergi disaat hari pernikahannya. Putraku pria yang bertanggung jawab"
Jleb
Hati Bianca merasa sedih sekali, pantas saja Papa dan Mama menjodohkannya dan memaksanya. Mereka tidak pernah ikut campur dalam masalah asmara Bianca. Ternyata karena ancaman dari Bos Papa. Bianca sedih sekali mendengarnya.
Hampir saja Bianca mengira Papa dan Mamanya tega menjodohkannya. Ternyata Papa sudah berusaha untuk menolak. Tetapi ancaman untuk Papa, Bianca merasa sedih sekali. Kalau Papa menolak Bianca tidak tega apa yang terjadi dengan Papa. Apalagi keuangan managementnya saat ini tidak stabil.
Bianca memejamkan matanya mencoba untuk tidak menangis. Andai saja dia tidak menerima acara Davira dan Willy yang akan gagal ini. Pasti Bianca bisa menolak mentah-mentah pernikahan tiba-tiba ini. Nasi sudah menjadi bubur, Bianca tidak bisa berbuat apa-apa.
"Saya akan panggilkan Bianca"
Mendengar suara Mama, Bianca membuka matanya dan berusaha mengontrol dirinya. Dia tidak ingin Mama tahu kalau Bianca telan mendengar pembicaraan ini. Bianca tidak ingin menambah Mama dan Papa sedih.
Bianca pun melangkah menuju ruang tamu dengan senyum terpaksanya. Bianca bisa melihat ada raut wajah sedih di wajah kedua orang tuanya. Bianca pun bersalaman dengan pria yang Bianca yakin pria yang tadi memaksa Papanya. Lalu wanita cantik yang Bianca yakin adalah istri dari pria itu.
Tunggu, dimana pria yang akan menjadi suaminya nanti. Oh syukurlah dia tidak hadir malam ini. Bianca merasa tidak perlu mengenalnya dengan cepat. Bianca duduk bergabung dengan Papa.
"Ini Bianca?" tanya wanita yang merupakan istri dari Bos Papa.
"Iya" jawab Mama dengan senyum.
"Ternyata kamu tumbuh menjadi wanita yang cantik" ucap wanita itu dan Bianca hanya tersenyum dengan terpaksa.
"Bii, ini calon mertuamu. Bapak Pratama dan Ibu Elsi Pratama" ucap Papa mengenalkan dua orang dihadapannya ini.
Bianca seperti tak asing dengan nama ini. Sepertinya Bianca mengenal nama ini.
"Dimana Pak Willy?" tanya Papa.
"Jangan panggil Pak. Sebentar lagi Willy akan jadi menantumu juga" ucap Pak Pratama yang entah sejak kapan nada bicara berubah lembut tidak seemosi saat Bianca menguping pembicaraan tadi.
'Willy Pratama'
Satu nama yang Bianca ingat. Jantungnya seakan mau copot jika yang dia kira adalah benar nama itu. Berarti dia akan menikah dengan pria itu. Bianca tidak percaya.
"Hallo Semua. Maaf saya telat" ucap seorang pria yang baru saja masuk.
Deg
Kali ini Bianca lemas seketika, jantungnya seakan benar-benar lepas dari tempatnya. Kenapa harus pria ini yang harus menikah dengannya. Apakah dunia sesempit ini, sampai Bianca harus bertemu pria ini lagi, dan menikah dengannya. Bianca tidak ingin semua ini. Bukan pria ini yang dia harapkan.
Mungkin kalau pria itu baik dan lembut seperti Nathan Bianca masih bisa mentolerir, setidaknya pasti pria itu akan bersifat arogant dan pasti akan mengerti keadaan Bianca. Bianca berharap ini mimpi buruknya, dan Bianca berdoa dalam hatinya untuk segera bangun dari mimpi buruk ini. Sayangnya ini semua kenyataan buruk yang harus dia terima ketika Willy mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Saya tidak ingin menikah" ucap Bianca sebelum ada yang memulai pembicaraan setelah Willy datang.
Bianca berdiri dan langsung pergi tanpa pamit kepada semua orang yang berada di sana. Air matanya menetes. Dia berlari menuju kamarnya. Bianca mengunci pintunya rapat. Tidak, Bianca tidak bisa menerima pernikahan ini, apalagi dengan Willy. Pria yang tidak pernah ada dalam kamus percintaannya.
Keesokan paginya Bianca sudah pergi ke kantornya tanpa pamit kepada Mama dan Papa. Ya, semenjak dia pergi ke kamarnya, Mama dan Papa belum menemuinya. Bianca juga tidak peduli dengan apa yang terjadi.
Jam 6 pagi Bianca sudah sampai di kantornya. Dia masuk ke dalam ruangannya. Matanya sembab menangis semalam. Bianca berpikir keras, tabungan pribadinya bersisa 40 juta sisa dari penjualan mobil karena 50 juta sudah dia berikan kepada Icha untuk menutupi keuangan Managemannya.
Kalau sampai Papa di pecat setidaknya Bianca harus membuat usaha untuk Papa agar Papa mempunyai kesibukan. Dengan uang 40 juta apa bisa? Bianca berpikir keras. Belum lagi kerugiannya akibat pembatalan pernikahan ini.
"Apartemen" ucap Bianca ketika mengingat apartemennya.
Bianca menganggukan kepalanya. Dia akan menjual apartemennya. Dan uangnya bisa untuk menutupi sebagian kerugiannya nanti dan bisa membantu Papa membuat usaha baru. Bianca membuka laptopnya dia melihat situs jual beli rumah. Bianca ingin tahu berapa harga pasaran apartemennya.
Ceklek
Suara pintu terbuka menghentikan aktivitas Bianca yang baru saja menyalakan tombol power laptopnya. Bianca ingin tahu siapa yang membuka pintu ruanganya tanpa mengetuk. Karena hanya Icha dan Naena yang membukanya, tetapi mereka selalu memanggilnya saat membuka pintu. Sedangkan orang yang membuka pintu ini tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Deg
Jantung Bianca berhenti seketika melihat orang yang dengan tidak sopan masuk ke ruangannya. Willy Pratama. Ya orang itu adalah Willy. Wajah Bianca memasang wajah tak suka dengan kehadiran Willy.
"Mau apalagi?" tanya Bianca tak suka ketika Willy sudah melangkah memasuki ruangannya.
"Tentu saja memintamu menjadi pengantinku" ucap Willy datar dan dengan seenaknya duduk di bangku Bianca.
"Berlakulah sopan. Ini bukan kantor anda Bapak Willy Pratama" ucap Bianca.
"Sebentar lagi ini menjadi milik istriku dan berarti milikku jugakan"
Bianca menganga tak percaya. Pria ini selain sombong rasa percaya dirinya sangat tinggi dan egois. Bianca dengan kesal menarik Willy dari bangkunya dengan sekuat tenaganya. Tetapi Bukan Willy yang tertarik, melainkan Bianca yang tertarik dan terjatuh ke tubuh Willy yang duduk disana karena Willy sengaja menarik tangannya.
Untuk kedua kalinya Bianca merasa sesuatu yang aneh terjadi di dalam dirinya saat wajahnya sedekat ini dengan Willy. Bianca lebih memilih memutus pandangannya. Dan hendak bangun.
"Menikahlah denganku" ucap Willy pelan.
"Tidak" tolak Bianca yang sudah berdiri dan merapikan kemejanya.
.
.
Yuhuuuuuuuuu
Selamat malam semua.....
Siapa disini yang lagi nunggu Up Bianca ???
Heeee... Nie dia udh up jgn lupa baca dan votenya ya..
Semoga kalian masih setia dan suka sama cerita aku..
Luv uu
Happy Reading....