13. The Wedding

1551 Kata
Bianca memilih keluar dari ruangannya dari pada harus menanggapi Willy. Tetapi belum sempat dia membuka pintu ruangannya Willy sengaja menahan tangannya. "Menikah denganku atau-" "Atau apa? Atau memecat Papaku dari kerjaannya. Aku tidak peduli apapun ancamanmu dan keluargamu" ucap Bianca memotong pembicaraan Willy. "Bisakah kita bicara baik-baik" ucap Willy. "Tidak" tolak Bianca. Willy masih berusaha mengendalikan emosinya saat ini. Sedangkan Bianca tidak bisa sama sekali mengendalikan emosinya. Emosinya memuncak sejak kedatangan Willy pagi ini. "Bianca sekali lagi aku memohon padamu. Menikahlah denganku" ucap Willy. "Tidak" tolak Bianca. Willy memejamkan matanya. Dia sudah menjatuhkan harga dirinya saat ini. Dan dia tidak bisa menerima tolakan berkali-kali apalagi setelah mendapatkan pengkhianatan dari orang yang dia cintai. Bianca terkejut ketika melihat mata Willy yang menyala dipenuhi amarah. Tidak, Bianca tidak boleh takut. Dia pasti bisa melewati semua ini. "Oke, kamu yakin dengan jawabanmu" ucap Willy mengeluarkan ponselnya. "Lihat ini" ucap Willy menunjukkan layar diponselnya. "Papa" ucap Bianca terkejut. Bagaimana dia tidak terkejut? Pantas saja dia tidak melihat Mama dan Papa pagi ini. Bianca kira mereka masih di dalam kamarnya. Ternyata kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Papa di dalam penjara, dan Mama menunggunya disana. "Kenapa kau tega melakukan ini?" lirih Bianca menutup mulutnya. "Aku bisa melakukan apapun. Termasuk membuat Papamu dipenjara atau lebih dari ini" ucap Willy begitu kejam. "Apa salahku padamu, sampai kau setega ini padaku?" lirih Bianca meneteskan air matanya. "Karena kau menolakku" ucap Willy santai. "Kenapa harus aku. Kenapa kau tidak mencari wanita yang lebih cantik dan aku yakin mereka pasti mau menjadi istrimu" isak Bianca menggelengkan wajahnya. "Aku tidak suka wanita matrealistis" ucap Willy. "Siapa bilang aku tidak matrealistis? Aku wanita matre. Aku butuh uang" isak Bianca. "Aku tidak yakin kau seperti itu. Dan sayangnya aku tahu seperti apa dirimu" ucap Willy dengan seringai diwajahnya. Seketika Bianca teringat akan peristiwa kemarin pagi. Ya pasti karena dia ketahuan menguping pertengkaran Davira dan Willy. Pasti Willy tidak ingin masalah pribadinya diketahui banyak orang. Pasti Willy takut kalau Bianca menceritakan semua itu pada media. "Apa karena kemarin?" tanya Bianca mengusap air matanya. "Tidak" jawab Willy memainkan ponselnya. "Berikan aku waktu untuk memikirkannya" pinta Bianca. "Baik. Aku akan menjemputmu untuk makan siang nanti" ucap Willy. Tak butuh jawaban Bianca, Willy sudah keluar dari ruangan itu dengan seringai di wajahnya. Sedangkan Bianca merosot ke lantai setelah kepergian Willy. Bianca menangis menutup wajah dengan kedua tangannya. Ceklek "Ya Tuhan, Bii. Loe kenapa?" tanya Naena dan Icha bersamaan yang baru saja masuk. Naena dan Icha berjongkok dan memeluk Bianca. Naena dan Icha juga mengusap punggung Bianca memberikan ketenangan untuknya. "Bii, sabar sayang. Semua pasti ada jalan keluarnya" ucap Naena. "Kenapa harus gue,Na?" tanya Bianca terisak. "Ada apa Bii, cerita sama kita?" ucap Icha. Bianca melepas pelukannya dan menatap dua sahabatnya itu. Air matanya masih mengalir. Naena dan Icha pun membasuh air mata di pipi Bianca. "Willy minta gue jadi pengantinnya" isak Bianca. Naena dan Icha terkejut tak percaya. Mereka tidak mengerti kenapa bisa tiba-tiba seperti ini. "Maksudnya apa Bii?" tanya Naena. Bianca masih terisak. Icha pun mengambilkan segelas air putih dan memberikannya kepada Bianca. Bianca meminum air itu dan membuatnya sedikit tenang. Setelah Bianca tenang, mereka bertiga duduk di sofa. Bianca pun menceritakan permintaan Willy yang memaksanya untuk menjadi pengantin wanitanya. Hingga Papa yang ditahan saat ini. Naena dan Icha sangat terkejut dengan semua yang Bianca ceritakan. Mereka juga tidak mengerti kenapa harus Bianca yang menjadi pengganti Davira. Dan semua itu hanya Willy yang tahu. Naena dan Icha hanya bisa memberi semangat untuk Bianca. Karena tak ada yang bisa mereka lakukan selain memberikan semangat dan menghibur Bianca. Siang ini Willy sudah datang ke kantor Bianca. Lagi-lagi dia masuk tanpa mengetuk pintu. Bianca hanya mendengus tak suka. Karena saat ini Bianca dan Icha sedang menghitung ulang laporan keuangannya managemant. "Bii, kita teruskan nanti ya" ucap Icha menutup laptopnya. "Baiklah" "Permisi" ucap Icha mencoba tersenyum pada Willy, tetapi Willy hanya memasang wajah datarnya. "Bisakah kau membalas senyuman Icha. Dia hanya menyapamu" ucap Bianca kesal. "Kalau kau sudah menjadi istriku. Aku juga akan baik terhadap sahabat-sahabatmu" ucap Willy santai. Bianca hanya mendengus kesal. Dia merapikan kertas-kertas diatas mejanya dan menutup laptopnya. Lalu Bianca berdiri dan melangkah. "Ayo" ajak Bianca. "Kemana?" tanya Willy. "Kau bilang ingin makan siang bersama" jawab Bianca kesal. "Iya, tapi tidak diluar" ucap Willy. "Baiklah ayo keatas" ajak Bianca lagi. "Tidak" tolak Willy lagi. "Kau ini maunya apa sih. Kalau hanya mengganguku lebih baik kau keluar saja" ucap Bianca kesal. "Kita makan siang bersama disini" ucap Willy santai. "Tidak. Aku tidak ingin ruanganku kotor dan bau masakan" tolak Bianca. "Terlambat" ucap Willy. Karena beberapa pelayan catering Bianca sudah datang membawakan makanan yang sudah sengaja Willy pesan dari tadi pagi. Willy duduk di sofa dan Bianca sengaja duduk berjauhan dari Willy. Akhirnya dengan terpaksa Bianca membiarkan ruangannya dipenuhi bau masakan. "Bagaimana?" tanya Willy menyelesaikan makannya. "Apa lagi?" tanya Bianca kesal. "Pernikahan" ucap Willy. "Boleh aku tanya satu hal?" "Tidak ada pertanyaan sebelum kau menjawabnya" "Lepaskan Papaku, agar dia bisa menjadi wali nikahku besok" ucap Bianca dingin tanpa menatap Willy. "Jawaban yang bagus" ucap Willy senang. "Baiklah. Sudah cukup. Jangan terlalu lelah hari ini. Karena besok adalah pernikahan kita" ucap Willy sebelum pergi. Bianca menjambak rambutnya. Dia berteriak. Bianca tidak dapat membayangkan hidupnya saat ini. Kenapa dia harus terjebak dengan pria seperti Willy? Ternyata bukan hanya Naena dan Icha yang terkejut. Seluruh karyawan Managemnet pun terkejut dengan pernikahan Bianca. Apalagi Nathan. Dia sangat terkejut dan sedih. Siang ini Bianca sudah di kamar rias bersama Naena dan Icha. Bianca duduk diam seperti patung di depan kaca. Dengan ragu Naena meminta izin untuk merias Bianca. Naena tidak tahu haruskah sedih atau bahagia saat ini. Di satu sisi dia sedih melihat Bianca harus menikah seperti ini. Di sisi lain dia bahagia, karena gaun yang pertama kali dia buat akhirnya memang untuk Bianca. Saat itu Naena tidak sadar jika membuat gaun pengantin itu dengan ukuran Bianca. Dan saat ingin membesarkan ukurannya, Naena mengurungkan niatnya untuk mengubah gaun yang ukurannya sudah pas dengan Bianca. Naena lebih memilih membuat ulang gaun untuk Davira, tetapi entah mengapa modelnya menjadi tidak sama dengan rancangannya. Ya, setidaknya Davira tidak jadi menggunakannya. Dan Gaun pernikahan ini yang memang dia buat khusus untuk pernikahan sahabatnya. Naena lega melihat gaun itu sangat cocok di tubuh Bianca. "Saya terima nikah dan kawinnya Bianca Esterina binti Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" "Sah" "Sah" "Alhamdulillah" "Sekarang kita akan menyaksikan mempelai wanita untuk datang ke meja akad" ucap Damara yang menjadi Mc. Bianca menahan sesak didadanya. Dia terus melangkah menuju meja akad di temani oleh Naena dan Icha. Bianca masih tak percaya dengan saat ini. Dia menikah. Menikah dengan Willy bukan dengan Erick. Tak ada yang Bianca nikmati dari pernikahan ini. Wajahnya datar tanpa senyuman sedikitpun. Walau dekorasi ini begitu indah dan megah. Lantunan musik romantis dan merdu bersenadung di dalam ballroom, makanan lezat menjadi pemanis di keramaian ini. Bianca tidak bisa menikmati semua itu. "Tersenyumlah, jika kau tidak ingin terlihat menjadi pengantin yang menyedihkan" bisik Willy. "Aku memang pengantin yang menyedihkan" ucap Bianca pelan. "Tersenyum atau aku yang akan membuat bibirmu terbuka" Lagi-lagi Willy mengaturnya. Terpaksa Bianca mengulas senyumnya. Hari ini adalah hari terberat baginya. Bianca ingin sekali mengakhiri  acara malam ini. Dia sudah lelah dengan sandiwaranya yang harus berusaha tersenyum di depan orang-orang. Jam sembilan malam acara telah selesai. Bianca lebih dulu menuju kamarnya. Ya dia baru tahu kalau Willy memesan kamar pengantin yang berbeda, pantas saja saat dia masuk ke kamar 505 tim dekornya tidak ada disana. Ternyata Willy sudah mengubungi tim dekor untuk pindah kamar memilih kamar 666. Bianca tidak sempat menemui Naena dan Icha apalagi orang tuanya sebelum dia masuk ke dalam kamar. Bianca sudah merasa lelah untuk hari ini. Bianca melepas semua aksesoris di rambutnya. Lalu dia membersihkan wajahnya dengan micellar water. Bianca memandang wajahnya di cermin dia tersenyum penuh kesedihan. Ingin sekali dia menangis saat ini, tetapi Bianca merasa tangisannya tidak akan berguna karena dia sudah sah menjadi istri dari pria yang tidak pernah sedikitpun Bianca menyukainya. “Apa aku tidak boleh merasakan pernikahan seperti wanita lainnya? Kenapa aku tidak bisa membuat pernikahan impianku sendiri seperti aku membuat impian pernikahan pengantin lain?” sedih Bianca memejamkan matanya. Sepuluh menit Bianca terdiam dengan memejamkan matanya. Lalu Bianca membuka matanya kembali dan masih menatap wajah lelahnya di depan cermin. Bianca tahu mulai hari ini kehidupannya mungkin akan berbeda. Bianca membuang nafas berat, dia tidak ingin menambah beban pikirannya lagi, hari ini sudah sangat melelahkan untuknya. Bianca membuka koper kecilnya, dia mengambil baju tidur bewarna putih. Lalu Bianca masuk ke dalam kamar mandi. Dia menyalakan air hangat, sepertinya air hangat cocok untuk membuat dirinya rileks malam ini. Sepuluh menit Bianca sudah selesai dengan ritual mandinya. Bianca keluar dari kamar mandi. Bianca baru sadar lilin-lilin masih menyala di dalam kamarnya. Bianca pun mematikan lilin-lilin itu. Bianca merebahkan dirinya di ranjang, dia lupa di ranjang ini di penuhi kelopak mawar merah dan putih. Bianca menutup wajahnya lagi. Ini adalah kamar pengantin, wangi bunga mawar sangat menyengat di seluruh kamar ini. Bianca berpikir, apa dia harus menyingkirkan kelopak bunga ini atau membiarkannya. Bisakah saat ini dia tidur di kamar lain saja, pikirnya. Bianca melihat sofa bewarna krem, dia tersenyum. Sofa itu seperti sangat nyaman untuk tempat tidurnya malam ini. Bianca pun mengambil selimut coklat dari dalam kopernya. Lalu dia menuju sofa dan memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa lelah dan penatnya malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN