14. Istri

1539 Kata
Bianca meregangkan tubuhnya. Bianca merasa sangat nyaman sekali saat ini. Entah sejah kapan sofa yang semalan dia tiduri bisa menjadi sangat lembut dan empuk seperti tidur di ranjang. 'Ranjang' Bianca mengumpulkan kesadarannya. Tepat saat dia ingin membuka mata dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Bianca mengurungkan niatnya untuk membuka mata. Lebih baik Bianca berpura-pura masih terpejam, dari pada harus menatap pria yang sudah resmi menjadi suaminya. 'Suami' Lagi-lagi Bianca terkejut. Bianca mengigit bibir bawahnya ketika dia sadar dia sudah menikah. Dan Bianca semakin terkejut ketika meraba ke samping dengan tangannya, dan benar ini di atas ranjang. "Jangan-jangan"  batin Bianca gelisah. Bianca meraba tubuhnya, seketika dia merasa lega ternyata dia masih menggunakan pakaian tidur sama seperti semalam. Dengan ragu Bianca meraba perut dan terus menjalar kebawah. Tangannya sedikit gemetar. "Please, semoga semalam pria itu tidak melakukan macam-macam padaku" batin Bianca lagi. Bianca memberanikan tangannya terus menjalar hingga organ intimnya. Lalu dia menekannya sedikit. Bianca sangat lega sekali saat tidak merasakan sakit apapun di organ intimnya. Berarti pria itu tidak melakukan apapun. Senyum pun terlukis di wajah Bianca yang masih memejamkan matanya. Saat ini dia hanya menunggu Willy pergi barulah dia bangun. Lega sudah pasti. Tanpa Bianca sadari dirinya sudah tidak berselimut, karena selimut itu jatuh ke lantai. Willy yang baru saja keluar kamar mandi memperhatikan Bianca. Tadinya dia tidak ingin menatap Bianca yang tertidur. Tetapi melihat aksi Bianca itu, Willy terdiam berdiri di hadapan Bianca. Dia melihat dengan jelas tangan Bianca bergerak mengusap perutnya dan terus turun meraba organ intimnya lalu menekannya apalagi dengan bibir Bianca yang tersenyum. Seandainya gairah Willy sedang naik sudah pasti dia yang akan menggantikan tangan Bianca dengan tangannya. Tetapi sayangnya Willy tidak berpikiran pendek seperti itu. "Apa yang wanita ini bayangkan?" ucap Willy pelan dan terkekeh melihat aksi Bianca itu. Willy menutup mulutnya agar tawanya tidak keluar. Dia berpikir pasti Bianca sedang bermimpi yang aneh-aneh sampai seperti itu. Tidak Willy kira ternyata Bianca seperti ini. Setelah selesai memakai baju, Willy keluar kamar. Dia pun terus terkekeh jika mengingat aksi tidur Bianca itu. Merasa sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kamarnya. Bianca membuka matanya. Hal yang pertama dia lihat adalah ruangan yang sepi. Bianca bernafas lega, akhirnya Willy sudah pergi. Bianca membangunkan tubuhnya. Matanya melebar saat melihat selimut nya berada di lantai. Bianca menutup mulutnya ketika mengingat aksinya tadi. "Ya Tuhan, semoga Willy tidak melihat aksiku tadi" ucap Bianca pelan. "Tapi, bagaimana kalau dia melihatnya? Pasti dia berpikir macam-macam tentangku. Aku harus bagaimana? Tidak-tidak, pasti dia tidak melihatku. Pasti selimut ini terjatuh saat aku bangun tadi. Ya, benar Willy tidak melihatku" ucap Bianca lagi dengan gelisah. Dari pada memikirkan hal ini Bianca lebih memilih mengguyur tubuhnya agar otaknya menjadi segar. Bianca masuk ke dalam kamar mandi, dia menyalakan shower agar membasahi seluruh tubuhnya. Setelah selesai mandi Bianca mengenakan bathrobe bewarna putih, lalu dia merapikan baju tidurnya untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik. Saat memegang celana dalamnya Bianca terkejut melihat bercak darah disana. "Ya Tuhan. Apa Willy sudah melakukannya?" tanya Bianca terkejut. "Tapi kenapa rasanya tidak sakit. Naena bilang saat dia malam pertama rasanya sangat sakit sekali dan dia tidak bisa jalan. Tetapi aku tidak merasakan apapun. Jalanku juga tidak sakit. Bagaimana ini, apa miliknya terlalu kecil sampai aku tidak bisa merasakan apapun?" lagi-lagi Bianca berbicara sendiri dengan gelisah. Bianca masih mengenakan pakain dalam di balut bathrobe bewarna putih. Dia mengigit jarinya berjalan ke kiri dan ke kanan. Hatinya gelisah. Sejujurnya dia tidak mempunyai pengalaman tentang berhubungan intim. Dia takut sekali kalau Willy sampai melakukannya saat dia tertidur, berarti Willy sudah melecehkannya. "Tidak-tidak. Dia sudah jadi suamiku. Jadi mana bisa aku menuntutnya karena melecehkanku saat sedang tidur" ucap Bianca frustasi. Ceklek Hampir saja Bianca melompat karena terkejut mendengar pintu di buka. Bianca memasang wajah kesal saat Willy masuk ke dalam kamar. Willy membawakan nampan berisi sarapan untuk Bianca ke kamar. Ya, tadi Willy menunggu Bianca untuk sarapan bersama, tetapi wanita ini tidak juga muncul. Akhirnya Willy sendiri dan membawakan sarapan untuk Bianca ke kamar. Willy meletakkan nampan di atas meja. "Apa yang kau lihat? Pakai bajumu dan sarapanlah" ucap Willy datar. "Apa yang kau lakukan semalam padaku?" tanya Bianca kesal. "Apa?" tanya balik Willy. "Apa kau setega itu melakukannya saat aku sedang tertidur, hah?" tanya Bianca kesal dengan menyilangkan kedua tangannya di d**a. "Melakukan apa?" Willy semakin bingung. "Jangan berpura-pura" Bianca semakin kesal. Willy pun melangkah mendekat ke arah Bianca. Bianca menyadari Willy ke arahnya mencoba mundur perlahan, takut sudah pasti. Tangan Bianca sudah mengepal kalau sampai Willy berani melakukan macam-macam, Bianca akan memukul wajahnya. Melihat Bianca ketakutan Willy menyeringai, dia pun sengaja terus melangkah ke arah Bianca hingga Bianca terpojok. "Berpura-pura bagaimana maksudmu?" tanya Willy yang sudah menahan Bianca di dinding. Bianca menelan salivanya. posisinya saat ini sangat tidak bagus. Dirinya terpojok di dinding dan tangan Willy sengaja di tempelkan di dinding agar Bianca tidak bisa bergerak. "Me..menyingkirlah" ucap Bianca gugup. "Kalau aku  tidak mau" ucap Willy dengan sengaja mengerjai Bianca. "Ja..jangan ma..macam-macam" ancam Bianca gugup. "Macam-macam. Ingat kita sudah menjadi suami istri yang sah. Jadi aku bebas melakukan apapun padamu" bisik Willy di telinga Bianca. Deg Bianca terkejut tidak percaya. Jadi benar semalam Willy melakukannya saat dia tertidur. "Kau. Tega sekali. Kenapa kau melakukannya saat aku tertidur. Aku belum siap untuk melakukan hubungan itu. Tapi kenapa kau tega" ucap Bianca kesal. Willy menaikkan satu alisnya. "Damn" benar dugaannya. Tapi Willy tak habis pikir, sebenarnya wanita ini polos atau bodoh, bagaimana Bianca bisa mengira Willy sudah melakukannya saat dia tertidur. "Ini pasti karena mimpi anehnya tadi pagi. Pasti dia mengira sedang melakukannya. Dimana otak wanita ini. Apa dia tidak tahu tentang seks. Kalau aku sudah melakukan padanya, saat ini dia tidak akan bisa berdiri tegak seperti sekarang" batin Willy. "Dimana otakmu Nona?" ucap Willy mengetuk kepala Bianca dengan jarinya. "Berhentilah bermimpi jorok seperti tadi pagi. Dan lebih baik kau berendam air hangat agar kotoran di dalam otakmu hilang" ucap Willy lagi kali ini tangannya mengetuk kepala Bianca berkali-kali. Seketika teringat, Bianca menutup mulutnya. Sungguh dia malu sekali. Berarti Willy melihatnya tadi. Mau di taruh dimana mukanya saat ini. Pasti Willy sudah berpikir macam-macam tentang dirinya. Bianca menggelengkan kepalanya dan menutup wajahnya karena malu. "Tapi kenapa pakaian dalamku ada noda darah kalau dia bilang tidak melakukan apapun?" tanya Bianca pelan untuk dirinya sendiri, tetapi Willy masih mendengarnya. "Ya Tuhan, kenapa aku harus menikahi gadis bodoh ini. Apa kau tidak bisa membedakan mana darah perawan dan darah bulananmu, hah?" ucap Willy tidak menyangka Bianca sebodoh ini. Deg Bianca terdiam. Bodoh, ya memang dia bodoh. Kenapa dia berpikiran sependek ini. Bianca melepas tangan yang menutup wajahnya. Bianca tersenyum kikuk dihadapan Willy. "Ma-af" ucap Bianca kikuk. Willy hanya menggelengkan kepalanya, lalu berbalik melangkah pergi. Setelah melihat Willy pergi, Bianca bernafas lega. Lalu dia memukul kepalanya, merutuki kebodohannya pagi ini. "Bodoh, bodoh. Kenapa aku jadi bodoh seperti ini? Ya Tuhan, aku malu sekali. Bianca kenapa pikiranmu secetek selokan di depan rumah Icha" ucap Bianca pada dirinya sendiri. Kenapa juga dia tidak ingat kalau memang saat ini jadwal tamu bulanannya. Bianca menjadi kesal pada dirinya sendiri. Gara-gara pernikahan ini, pikirannya menjadi cetek dan tidak jernih. Dia benar-benar malu saat ini kepada Willy. Bianca yakin, pasti Willy sudah berpikiran buruk tentangnya. Siang ini Bianca dan Willy sudah ada di bandara. Bianca melangkah di belakang Willy sambil menarik  dua kopernya dan Willy. Mereka berduaa akan berencana pergi ke Inggris. Ingat ini bukan honeymoon, melainkan hanya holiday. Saat ini bertepatan dengan musim liburan sekolah sehingga bandara terlihat cukup ramai. Banyak orang yang juga ingin berlibur bersama keluarga.  "Will" panggil Bianca kelelahan karena menyeret dia koper besar dan kecil. "Apa?" tanya Willy berhenti. "Tolong bantu aku. Setidaknya kamu bawa kopermu sendiri" ucap Bianca yang kelelahan. Willy terlihat menjentikkan jarinya. Tak lama seorang Office boy datang menghampirinya. "Tolong bawakan koper saya dan istri saya" ucap Willy santai. Office boy itu mengangguk dengan tersenyum dan mengambil alih dua koper yang dipegang Bianca. Lalu Willy kembali melanjutkan langkahnya. Sedangkan Bianca terdiam menatap Willy tak percaya. “Dasar pria ini memang sangat menyebalkan!” ucap Bianca pelan dengan kesal dibelakang Willy. "Kenapa tidak dari tadi dia melakukan ini? Dasar pria tidak peka" oceh Bianca lagi dengan kesal. Bianca dan Willy sudah duduk di dalam pesawat. Bianca lebih memilih duduk di samping jendela. Ya, dia ingin sekali bisa melihat awan. Sejujurnya ini baru kedua kalinya dia naik pesawat. Untung saja dia tidak mabuk walaupun hanya pernah sekali menaiki pesawat. Bianca mengeluarkan headset-nya dia memasangkan ke telinya. Bianca mulai memainkan jarinya mencari lagu kesukaannya. Merasa sudah oke dia membenarkan posisi duduknya agar terasa nyaman. Sedangkan Willy hanya terlihat memainkan ponselnya, dan Bianca juga tidak peduli dengan yang Willy lakukan. Yang penting saat ini dia lebih menikmati liburannya tanpa takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ya, Bianca merasa lega saat dia tahu kalau dia sedang datang bulan. Berarti Willy tidak akan berani melakukan macam-macam padanya. Dan hal itulah yang membuat mood Bianca menjadi lebih baik. Bianca memejamkan matanya dengan alunan music pop yang semangat. Karena nadanya begitu terdengar bersemangat Bianca merasa sangat senang apalagi membayangkan liburannya nanti. Bianca membayangkan nanti kalau mereka sudah sampai dia tidak akan mengikuti kemana Willy pergi. Bianca akan memilih berjalan-jalan sendiri, seketika Bianca tersenyum membayangkannya. Tanpa Bianca sadari lagi-lagi Willy tanpa sengaja melihatnya yang sedang tersenyum. Willy menggelengkan kepalanya menatap Bianca, lalu kembali berkutik dengan ponselnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN