Bianca POV
Hari pertamaku di Inggris tidak ada yang menarik. Aku hanya menghabiskan waktuku di hotel. Makan, berenang, baca buku, menonton televise, tidur. Ya Seperti itulah karena pria yang berstatus suamiku itu tidak mengizinkanku pergi keluar hotel.
Yang aku tidak sangka adalah Willy kesini karena memang dia ada urusan bisnis. Biarlah setidaknya aku tidak perlu terus-terusan bersamanya. Walaupun aku berada di hotel setidaknya aku tidak harus selalu berada didekatnya.
Hari kedua aku memilih untuk keluar hotel sebentar, saat Willy sudah pergi. Aku berjalan-jalan disekitar hotel tetapi sangat membosankan juga berjalan sendiri tidak ada pemandangan yang menyenangkan. Aku berpikir sepertinya pergi ke Mall akan menyenangkan bagiku. Aku pun melangkah ke halte bis untuk menunggu bis. Tak lama bis datang dan aku naik.
Tidak butuh waktu lama, aku sudah sampai di Mall. Andai saja ada Naena dan Icha pasti akan sangat menyenangkan sekali bisa berbelanja bersama. Pertama aku pergi ke toko kaos, disini menjual kaos bergambar icon dari kota London dan yang menarik perhatianku adalah aku bisa menambahkan nama dikaos ini.
Aku memilih tiga pcs kaos putih untuk ukuranku, Naena, dan Icha. Aku meminta menambahkan nama kami. Tetapi aku tidak ingin tulisannya besar. Aku meminta tulisannya kecil di pojok kanan bawah. Sepertinya aku harus menunggu 30 menit sampai kaos pesanku selesai. Aku pun melanjutkan langkahku untuk melihat-lihat toko lainnya.
Tak jauh dari sana ada toko yang menjual miniatur-miniatur sudah pastinya icon kota London. Sepertinya aku akan membelikan satu miniatur menara jam big ben untuk Mama. Tidak adil kalau aku hanya membeli untuk Mama. Aku pun mencari oleh-oleh untuk Papa. Papa suka sekali bermain golf, aku akan membeli topi golf untuk papa saja.
Yang terakhir aku pergi ke toko coklat. Aroma coklat begitu kental saat aku memasukinya. Aku akan memberikan beberapa coklat untuk para timku di Bianca Management.
Sepertinya belanjaanku sudah cukup banyak. Aku lebih baik menghentikannya. Aku pun kembali ke toko kaos untuk mengambil kaos pesananku tadi. Dan waktu aku sampai disana, ya hasilnya sangat memuaskan. Aku pun membayar kaos pesananku dikasir.
Kruuuk kruuk
Ehm, cacing-cacing diperutku seperti sudah bernyanyi minta diberi makan, sepertinya aku harus mencari tempat makan sekarang. Aku melangkah mencari tempat makan terdekat saja.
Tetapi tunggu aku juga lagi menghemat. Tadi aku sudah belanja banyak. Lebih baik aku pergi ke restourant cepat saji saja yang harganya sudah jelas pas dikantongku. Kalau aku memaksakan masuk ke dalam restourant-restourant disini, aku belum tahu berapa harga makanan disini. Bisa-bisa uangku habis sebelum kembali ke Indonesia. Pikirku sedikit sedih.
Makan ayam goreng ditambah kentang goreng dan segelas lemon tea itu juga menyenangkan. Yang pasti membuat cacing-cacing diperutku tertidur kekenyangan. Aku pun menikmati makan siangku disini dengan menatap kearah jendela dan memperhatikan orang-orang berlalu-lalang.
Aku menatap jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 2 siang waktu bagian London. Aku sepertinya harus kembali ke hotel, sebelum Willy pulang. Karena aku tidak mengabarinya kalau aku pergi. Aku menyudahi makan siangku dan mencuci tanga. Setelah itu aku membawa belanjaanku dan melangkah meninggalakan restoran cepat saji itu.
Aku melangkah keluar dari Mall. Aku terus melangkah menuju tempat pemberhentian bis. Sepertinya bus akan datang 10 menit lagi. Karena tadi sudah ada bus yang datang. Dan aku jangan sampai salah. Aku harus menaiki bus seperti tadi yang aku naiki. Sebenarnya ada rasa takut juga, karena ini pertama kalinya aku bejalan sendiri di negeri orang yang sama sekali belun pernah aku kunjungi.
Gluduk
Byuurrr
Yah, langit sepertinya tidak mendukungku hari ini. Hujan di tambah petir datang dengan tiba-tiba. Membuat semua orang-orang berdatangan untuk berteduh di halte. Mau tak mau aku pun menggeser terus tubuhku kebelakang karena orang-orang semakin berhimpitan.
Satu yang harus aku waspadai adalah tasku. Aku memeluknya dengan erat. Jangan sampai ada pencuri seperti di tv-tv. Aku harus waspada dan sesekali melirik ke kanan dan kiri, agar kalau sampai ada yang mencurigakan aku bisa segera berteriak.
Dan sialnya, karena aku lebih memikirkan para pencuri dua bus yang menuju hotel tempatku menginap sudah lewat. Aku harus menunggu lebih lama lagi. Sepertinya posisiku dibelakang tidak mendukung sekali. Karena kalau bis datang pasti aku tidak akan dapat cepat naik.
Sial, aku tak bisa untuk melangkah dan berpindah kedepan. Orang-orang ini tidak ada yang mau mengalah. Dan lebih parahnya lagi busku datang, aku tak bisa menaikinya lagi, karena orang yang dibarisan paling depan yang menaiki duluan. Aku pun hanya bisa pasrah menatap bus itu jalan meninggalkan halte.
Hari sudah sore, hujan pun sudah tak begitu deras. Aku juga sudah lelah. Orang-orang juga hampir semuanya naik bus dan meninggalkan halte. Lebih baik aku memilih duduk saja. Berdiri 1 jam disini membuat kakiku lelah apalagi harus berhimpitan dan membawa belanjaan.
Hoam
Aku menguap. Rasa kantuk tiba-tiba datang begitu saja. Aku pun menyandarkan kepala dan badanku di tiang ujung tempat duduk. Dengan sekejap mataku terlelap karena kelelahan. Pikiranku kini sudah terbawa ke alam mimpi.
Drrrt Drrrt
Getar ponsel dan dering mengagetkanku. Aku pun membuka mataku dan menguceknya. Aku menatap ke depan dan lagi-lagi bis itu jalan saat aku mau berdiri.
“Ah” ucapku lemas melihat bus sudah pergi. Kenapa aku bisa tertidur disini, bodohnya diriku. Aku menatap semua belanjaanku. AKu bernafas lega ternyata semuanya masih berada disampingku dan tidak kurang satupun.
Ya, Tuhan hari sudah hampir gelap. Aku pun membuka tas dan mengambil ponselku. Aku melihat yang menghubungiku nomor tidak dikenal. Mungkin ini dari client ku. Lebih baik aku mengangkatnya. Aku tidak boleh mengabaikan pekerjaan yang datang.
"Hallo"
"Kamu dimana sekarang?" terdengar suara orang marah.
Aku sedikit menjauhkan ponsel dari telingaku. Sial, ternyata ini adalah nomor Willy. Kalau aku tahu ini nomornya sudah pasti aku tidak akan mengangkatnya.
"Di halte" ucapku santai.
"Dihalte. Kamu pergi keluar tanpa mengabariku! Dan hari sudah hampir gelap belum juga pulang!" ucapannya terdengar lebih marah lagi.
"Ya, aku hanya ingin jalan sebentar. Lalu tadi hujan dan aku harus mengantri untuk naik-" belum sempat aku melanjukkan ucapanku dia memotong dengan seenaknya.
"Terlalu banyak alasan. Dasar para wanita kalian terlalu pandai berucap"
"APA KAMU BILANG?? Kalau kamu tahu ya, aku memang benar menununggu bis. Lagi untuk apa aku harus memberitahukan kemana aku pergi. Ini juga bukan urusanmu. Dengar ya jangan menganggap semua wanita itu seperti mantanmu yang pandai bersandiwara" ucapku dengan emosi mendengar kata-katanya.
"Sudah jelas kamu harus izin padaku karena kamu itu istriku. Dan jangan pernah membantah kata-kataku" desisnya tajam.
"Istri? Aku juga tidak mau jadi istrimu. Ingat kamu yang memaksaku. Dan jangan pernah mencampuri urusan pribadiku. Ingat kita menikah cuma untuk menjaga nama baik keluargamu" ucapkku tak kalah emosi.
Tuut tuut tuut
Aku yang kesal mematikan ponselku. Pria ini membuatku emosi sekali. Dia seenaknya mengaturku. Dia sendiri saja jalan dari pagi tak pernah bilang padaku. Lalu kenapa harus aku juga harus izin padanya. Lagi pula pernikahan ini bukan keinginanku. Dan aku juga tidak tahu nomor ponselnya bagaimana aku bisa memberitahunya. Dasar pria bodoh.
Aku melangkah sedikit dan menengok ke kanan dan kiri. Tidak ada tanda-tanda bus datang. Sepuluh menit berlalu sudah bis juga tidak datang. Aku pun memilih untuk melihat papan petunjuk arah. Siapa tahu ada bis lain yang bisa membawaku kembali ke hotel.
Aku menepuk kening dengan tanganku. Bis terakhir jam 6. Dan sekarang sudah jam 6 lewat 15. Pasti bis yang datang saat aku bangun tidur adalah bis terakhir. Kakimu lemas seketika. Sekarang aku harus pulang naik apa? Aku tidak tahu taksi disini. Dan kalaupun aku naik, aku sedikit takut karena tidak tahu jalannya. Bisa-bisa supir taksi itu membawaku ke tempat yang jauh.
"Aaarrgh. Kenapa disaat seperti ini selalu kepikiran yang buruk" ucapkku kesal.
Aku tidak bisa diam seperti ini. Sepertinya jarak halte bis ini ke halte bis dekat hotel tidak terlalu jauh. Aku lebih baik melangkah pelan-pelan saja mengikuti jalur bis ini. Ya, itu adalah ide yang bagus. Aku pun mulai melangkahkan kakiku melewati trotoar dan mengikuti arah jalannya bis. Aku juga membuka ponsel untuk membuka maps agar aku tidak kesasar.
Tepat di lampu merah aku harus belok ke kanan. Baiklah aku mengikutinya saja. Lalu aku harus jalan lurus sampai di halte bis bewarna biru. Oke walau terasa lelah baiklah aku akan melanjutkannya. Sepertinya aku harus melewati 1 halte lagi dari yang aku lihat di map ini.
Tiit Tiit
"Yahh, please jangan sekarang" teriakku melihat ponselku berbunyi karen baterai habis.
Bip
Lengkaplah sudah penderitaanku. Tak ada petunjuk arah sekarang. Baiklah lebih baik aku melanjutkan langkahku saja. Mungkin kita tinggal lurus saja.
Sial, lagi-lagi harus lampu merah dan sekarang aku memilih lurus, kekiri, atau kekanan. Aku mencoba-coba mengingat maps yang terakhir kali aku lihat. Kalau tidak salah...
Aaah, aku lupa. Sekarang aku harus bagaimana? Oke mau tidak mau aku naik taksi saja. Baiklah aku akan menunggu taksi di lampu merah ini. Semoga saja ada taksi yang lewat.
Tiiin Tiin
Suara klakson mobil berhenti di sampingku. Pengendara itu membuka kaca mobilnya. Dan aku masih memperhatikannya.
"Naiklah" ucapnya yang ternyata adalah Willy.
Aku diam membuang pandanganku. Untuk apa dia menjemputku. Aku juga bisa pulang sendiri. Karena aku mengabaikannya, aku melihat dia turun. Dan menghampiriku.
"Ayo naiklah. Bis sudah tidak ada. Kamu mau pulang dengan apa?" ucapnya.
"Aku bisa pulang sendiri" ucapku ketus.
Tiiin Tiin
Suara klakson mobil dari belakang mobil Willy begitu terdengar, karena sudah lampu hijau dan mereka tak bisa lewat karena mobil Willy menghalangi mereka.
"Ayo naik. Aku tidak akan pergi sebelum kamu naik. Biar saja orang-orang itu marah. Ini semua karena kamu" ucapnya tanpa dosa.
Aku menatapnya tak suka. Seenaknya saja dia menyalahkanku. Sekarang lihatlah, beberapa orang sudah memaki-maki dari dalam mobilnya. Dan berkali-kali menyalakan klakson mobil mereka. Ini gawat, aku tidak mungkin membiarkan orang-orang itu memakiku. AKu menatap kekanan dan kekiri kalau terus seperti ini suara klason ini bisa mengundang polisi lalu lintas datang.
Dengan sangat terpaksa aku masuk ke dalam mobilnya. Aku tidak mau mendapat masalah di negara orang. Bisa-bisa polisi datang. Ah, sudahlah, kenapa aku selalu memikirkan yang buruk-buruk. Aku melihat Willy tersenyum penuh kemenangan saat aku menaiki mobilnya.