16. Elizabet

1582 Kata
Author POV Bianca membuka pintu mobil dan segera turun dari mobil Willy setelah mereka sampai di depan lobby hotel. Willy hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Bianca. Willy pun ikut turun dan memberikan kunci mobilnya kepada valet yang akan memarkirkan mobilnya. Bianca menunggu lift, ketika lift terbuka Bianca masuk dan menekan tombol 3 untuk menuju lantai kamarnya. Baru saja lift tertutup, Willy datang dan menekan tombol lift agar terbuka lagi. Bianca berdecih kesal dan menggeser posisinya. Willy masuk dan lift itu berhenti di lantai 3. Di dalam kamar Bianca meletakkan belanjaannya. Bianca melangkah menuju toilet, lebih baik dia mandi agar tubuhnya yang lengket bisa terasa segar kembali. Kebetulan sekali mereka menyewa dua kamar tetapi ada pintu penghubung diantara kamar mereka. Willy melewati pintu itu untuk masuk ke kamar Bianca, dan dia duduk di ranjang Bianca untuk menunggu Bianca keluar dari kamar mandi. Tak lama terdengar suara pintu terbuka, dan benar Bianca keluar dengan memakai bathrobe sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Kau!”ucap Bianca terkejut melihat Willy sudah duduk manis di atas ranjangnya dengan kaki yang diluruskan di ranjangnya juga. “Bisakah kamu keluar dari kamarku!” usir Bianca. “Tidak” jawab Willy santai. “Kenapa?” tanya Bianca tak suka. “Karena aku tak ingin” jawab Willy kembali santai. “Ck” umpat Bianca. Bianca lebih memilih mengabaikannya. Bianca mengambil pakaiannya lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk megenakan pakaiannya. Lima menit kemudia Bianca sudah keluar dengan menggunakan kaos putih dan celana ¾ bewana coklat. “Ayo kita makan” ajak Willy menarik tangan Bianca. “Eh, Eh” ucap Bianca terkejut hampir saja dirinya terjatuh. “Tapi tidak perlu menarikku seperti kambing begini donk” ucap Bianca kesal. “Memang kamu kambing?” tanya Willy tanpa dosa. “Bukanlah” jawab Bianca kesal. “Yasudah” ucap Willy santai dan Bianca hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Akhirnya dengan terpaksa Bianca mengikuti Willy. Di dalam hatinya Bianca hanya bisa kesal. Willy ini selalu berbuat seenaknya. Sudahlah untung saja dia menariknya untuk mengajak makan, kalau menariknya untuk mengajak tidur bersama Bianca pastikan dia akan menjambak rambut Willy sekancang-kencangnya. Kini Willy dan Bianca duduk bersama menikmati makan malam mereka. Willy mengetuk meja dengan jarinya seakan memberi isyarat kepada Bianca. Bianca sedang asyik menikmati pasta tak menghiraukannya. Akhirnya Willy menggeser piring pasta Bianca sampai Bianca melihatnya. “Apa lagi?” tanya Bianca kesal. Willy tak menjawab hanya memberi isyarat dengan menunjukkan jari kebawah bibir sebelah kanannya. Bianca pun megerti maksud Willy. “Oh” ucap Bianca lalu dengan tangannya membasuh mulutnya. “Terima kasih. Ini juga tidak sengaja ya. Aku tidak bermaksud ada adegan romantis seperti di film, seorang pria- Mppph“ belum sempat Bianca meneruskan ucapannya Willy menutup mulut Bianca dengan telapak tangannya. “Dasar wanita tidak tahu berterima kasih” ucap Willy dan Bianca hanya mencibir. Bianca meneruskan makannya dengan hati-hati. Bianca menunduk, ini pertama kalinya Willy menyentuh wajahnya walau hanya sebentar. Tetapi Bianca merasa jantungnya berdebar. Bianca menggelengkan kepalanya. Tida-tidak mungkin dia mempunya perasaan pada pria ini. “Besok bangunlah pagi karena kita akan pergi ke York” ucap Willy yang sudah selesai makan. “Kita? Kenapa kamu harus mengajakku? Kamu saja sendiri” ucap Bianca. “Patner Bisnisku adalah seorang janda muda. Kalau aku bertemu dengannya sendiri apa tidak merasa cemburu nanti” ucap Willy santai. “APA? Cemburu. Harusnya kamu menikah saja dengannya kalau tahu janda muda itu menyukaimu” ucap Bianca emosi. “Nah, itu kamu marah. Cemburukan” ucap Willy santai. “Dengar ya Bapak Willy Pratama tidak ada di dalam kamus hidupku cemburu karena melihat wanita yang mendekatimu” ucap Bianca sombong. “Oke, biar ucapanmu terbukti, besok kita lihat bersama di York” ucap Willy final. Binca terdiam dan kesal. Pria ini pandai sekali berucap. Itu artinya besok dia akan tetapi ikut Willy ke York. Ok, Bianca mencoba menahan emosinya. Sepertinya dia belum tahu bagaimana cara menghadapi pria ini. Benar sekali keesokan paginya Bianca dan Willy sudah meninggalkan London dan pergi ke kota York dengan menggunakan kereta. Satu jam jam pejalanan mereka sudah sampai di kota York dan di jemput oleh supir dari patner bisnis Willy yang di bilang janda muda itu. Bianca sudah tidak sabar mau lihat secantik apa wanita ini, sampai Willy menyangkanya bisa cemburu. Bianca tersenyum-senyum kecil, di pikirannya sudah memasang rencana kalau nanti selama bersama janda muda itu dia akan bersikap masa bodoh agar wanita itu dapat merayu Willy dengan puas. Dua puluh menit supir membawa mereka. Bianca baru tahu ternyata kota York adalah kota tua di Inggris. Bangunannya pun masih pekat dengan bangunan Romawi. Ini adalah salah satu daya tarik wisatawan untuk melihat bangunan bersejarah. Mobil itu berhenti di sebuah rumah dengan bangunan Romawi kuno yang sangat besar. Seorang pelayan membukakan pintu mobil untuk Willy dan Bianca. Willy terlihat turun terlebih dahulu dan disusul oleh Bianca. Willy memasang tangannya agar Bianca bisa mengalungkan tangannya di lengan Willy. Dengan malas terpaksa Bianca melangkah dengan bergandengan bersama Willy. Pelayan terlihat memandu mereka memasuki rumah besar itu. Bianca takjub sekali, semua yang ada di dalam rumah ini terlihat antik dan pastinya harga dari seluruh barang-barang ini sangat mahal. Bianca sudah sangat tidak sabar ingin melihat wanita pemilik semua ini. Pintu kayu besar terbuka lebar dan disana ada wanita cantik menggunakan dress selutu bewarna ungu dengan rambut sebahu yang tergerai ditambah senyum manis yang keluar dari bibir wanita itu. “Selamat datang Tuan dan Nyonya Pratama” ucap wanita itu dengan suara lembut. Bianca hampir tak bekedip menatap wanita dihadapannya ini seperti bidadari. Bianca akui wanita ini sangat cantik, tubuhnya juga ideal. Saat bersalaman pun tangannya terasa halus sekali. Entah apa perawatan yang dipakai oleh wanita ini sampai kulitnya bisa sangat halus. Bianca POV Aku tidak tahu kenapa wanita ini bisa menjadi Janda padahal umurnya sudah 30 tahun. Ya Tuhan, umurku saja lebih muda darinya. Tetapi kalau aku berdiri disampingnya aku terlihat lebih tua, dan yang pasti aku seperti pembantunya kalau kami berdampingan. ‘Tunggu’ Kenapa aku harus terpesona padanya. Tapi kalau aku saja wanita bisa terpesona padanya, bagaimana dengan Willy? Diakan pria, melihat gadis sesempurna ini masa iya dia tidak tergoda. ‘Oh Tidak’ Aku mulai memikirkan perasaan Willy terhadap wanita ini. Tidak, aku tidak boleh cemburu. Ingat Bianca kalau sampai aku ketahuan cemburu pasti Willy merasa menang. Ok, baiklah sepertinya aku harus fokus dan jangan terus-menerus memperhatikan wanita ini. “Hai, Nyonya Pratama. Aku Elizabet. Senang bertemu denganmu” sapanya mengenalkan diri padaku. “Ya, panggil saja aku Bianca. Aku juga senang bertemu denganmu” balasku juga dengan tersenyum. Elizabet mempersilahkan kami duduk. Lalu dia dan Willy sudah mulai membicarakan kerja sama mereka. Aku baru tahu ternyata Elizabet ingin bekerjasama dengan menaruh sahamnya di perusahaan Willy. Tetapi Willy terlihat tidak setuju, aku tidak tahu kenapa. Melihat penolakan Willy, Elizabet tidak terlihat sedih justru dia tersenyum. Dan lihat, kenapa tangan Elizabet mengusap punggung tangan Willy. Apa itu? Willy terlihat biasa saja. Aku pun kembali menyimak pembicaraan mereka. Sekarang Elizabet berdiri dan berpindah duduk di samping Willy. Untuk apa dia berpindah, kalau cuma mau melihat coretan-coretan Willy tak perlu berpindah duduk bisa kali. Willy juga sepertinya merasa nyaman dengan posisi seperti itu. Aku jadi tidak fokus mendengarkan pembicaraan mereka. Aku lebih fokus dengan sikap Elizabet yang terlalu manja pada Willy. Lihatlah sekarang tangannya dengan mudah mengusap-usap punggung tangan Willy. “Permisi bolehkah aku meminta air” ucapku mencoba terseyum walau terlihat kaku. “Oh iya, maaf aku hampir lupa. Sebentar ya” ucap Elizabet yang segera berdiri. Akhirnya aku bisa melihat dia pergi. Dan aku menatap Willy sedang menatapku aneh. “Kenapa?” tanyaku ketus. “Bisakah kamu berlaku sopan sedikit” ucapnya. Aku mau menjawabnya, tetapi aku menahannya karena si centil Elizabet itu sudah kembali datang dan di belakangnya ada pelayan yang membawakan tiga cangkir teh, dan kue kiring. Aku melihat pelayan itu menyajikannya di atas meja. Lalu si centil Elizabet kembali duduk di samping Willy. Apa-apaan Willy. Kenapa dia bersikap ketus denganku? Padahal dia yang mengajakku kesini. Kalau memang dia ingin bermesraan dengan si centil Elizabet harusnya jangan mengajakku. Sudah syukur aku kemarin tidak mau ikut, tetapi dia memaksaku. Aku mengambil cangkir teh bewarna putih dengan perasaan kesal aku mendekatkan cangkir ke bibirku dan menyeruput teh itu. “Cuuih, huh huh huhh!” aku tanpa sengaja memuntahkan teh di dalam mulutku dan meniup-niup mulutku yang kepanasan. “Ya, Tuhan. Ada apa Bianca?” tanya Elizabet berdiri dan terkejut. “Tehnya panas” cicitku yang masih mencoba menghilangkan panas dimulutku ini. “Oh, maaf ya. Pasti pelayanku tidak menambahkan air dingin. Mereka terbiasa membuatkan teh dari air mendidih sesuai dengan kebiasaanku. Aku tidak tahu kalau kamu tidak biasa meminum teh panas. Tunggu sebentar ya, aku akan meminta pelayan untuk mengambilkan air dingin” ucapnya merasa bersalah dan pergi. Ya Tuhan pantas saja bibirku melepuh, ternyata air ini baru saja diangkat dari kompor. Lagi mana ada orang yang bisa meminum teh dengan air mengepul seperti ini. Ada juga minum teh hangat bukan teh mendidih. Aku tidak tahu kalau si centil Elizabet mempunyai kebiasaan aneh meminum teh panas begini. “Bi, bisa tolong jaga sikapmu. Berlakulah seperti wanita dewasa” ucap Willy ketus. Dan aku yang mendengarnya membuat hatiku lebih panas dari teh yang tadi aku minum. Aku menatap Willy dengan tatapan kesal. Tidak bisakah dia khawatir padaku. Bibir dan lidahku baru saja melepuh, kenapa dia harus marah. Dasar pria egois. Sudah aku bilangkan aku tidak mau ikut. Tetapi kamu masih saja memaksaku. Aku memandang Willy dengan tatapan sangat kesal dan dia menatapku acuh membuatku semakin jengkel padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN