17. Menyebalkan

1773 Kata
Bianca POV “Bi, bisa tolong jaga sikapmu. Berlakulah seperti wanita dewasa” ucap Willy ketus. Dan aku yang mendengarnya membuat hatiku lebih panas dari teh yang tadi aku minum. Aku menatap Willy dengan tatapan kesal. Tidak bisakah dia khawatir padaku. Bibir dan lidahku baru saja melepuh, kenapa dia harus marah. Dasar pria egois. Sudah aku bilangkan aku tidak mau ikut. Tetapi kamu masih saja memaksaku. Aku memandang Willy dengan tatapan sangat kesal dan dia menatapku acuh membuatku semakin jengkel padanya. Aku bergeser meyamankan posisi duduk dengan membuang pandanganku dari Willy. Sungguh sikapnya kali ini benar-benar membuatku jengkel. Kenapa dia harus marah? Seharusnya dia khawatir padaku karena bibirku ini hampil melepuh. Dimana sih letak urat kepekaan pria sombong itu? Oh iya aku lupa, pria ini tidak mempunya kepekaan. Yang dia punya adalah harga diri, jadi dimanapun, kapanpun yang dia pentingkan hanya harga dirinya dan keluarganya. Mulai besok kalau dia memaksaku untuk ikut pergi lagi aku tidak akan pernah mau. Menyesal sekali aku ikut kesini. Elizabet datang membawakan segelas air dingin dan memberikan padaku. Aku menerimanya dengan tersenyum. Aku tidak tahu wajahnya terlihat merasa bersalah sekali, aku menjadi tidak enak padanya. Aku lihat dia kembali duduk, kali ini dia duduk di tempatnya semula bukan disamping Willy lagi. Aku tidak tahu, apakah dia merasa kalau aku tidak suka melihatnya dekat dengan suamiku. “WHATS?” batinku. Tidak, aku tidak cemburu. Lebih baik aku meminum air ini untuk mendinginkan bibir dan pikiranku. Aku pun menegak air putih dingin yang diberikan oleh si centil Elizabet. Glek Apalagi kali ini. Aku terpaksa menelanya hampir setengah gelas. Aku kembali meletakkan gelas itu di atas meja. Aku melihat Elizabet tersenyum padaku memastikan aku baik-baik saja. Jelas aku baik-baik saja. Aku bingung sebenarnya di rumah ini apa sih kebiasaannya. Apa mereka biasa minum air putih berasa asin seperti ini. Kalian tahu aku terpaksa menelannya. Kalau sampai aku kembali memuntahkan air putih itu, Willy pasti menuduhku sengaja dan kembali memarahiku. Hari sudah hampir siang Elizabet ternyata sudah menyiapkan makan siang untuk kami. Aku melihat lima orang pelayan datang membawakan trolly berisi makanan dan minuman. Mereka menatanya dengan rapi di meja panjang yang berada di depan kami. “Mari, kita makan siang dulu” ajak Elizabet dengan ramah. Aku dan Willy berdiri dan melangkah menuju meja yang sudah berisi makanan. Aku tidak tahu kenapa Elizabet sikapnya terlihat seperti dia menggoda Willy, tetapi ekspesi wajahnya terlihat ramah, tidak terlihat seperti ekspresi seorang w*************a. Akh, lagi-lagi aku memikirkan mereka berdua. Harusnya aku masa bodoh. Aku melihat semua makanan ini terlihat lezat sekali. Tetapi tunggu, tadi aku minum teh panas lalu air putih terasa asin, jangan-jangan makanan ini juga ada sesuatu yang tidak beres bila aku memakannya. Aku harus mencari alasan yang tepat untuk menolak makanan ini. Tetapi apa? Aku jadi bingung dan takut memakannya. Tiga orang pelayan sudah menyendokkan nasi dan memberikannya kepada piring kami. Lalu mereka kembali berdiri di belakang kami menunggu kalau-kalau kami membutuhkan sesuatu. Kalau aku bilang aku tidak makan daging, tidak mungkin. Willy tahu aku pemakan segala. Aku tidak tahu harus beralasan apa saat ini. Sepertinya aku mengambil lauk yang sama dengan Willy dan Elizabet saja. Pasti yang aku ambil rasanya sama dengan yang mereka makan, kecuali lidah mereka berbeda denganku. Lagi-lagi aku melihat Elizabet bertingkah seperti seorang istri yang melayani suaminya, lihat saja dia memotongkan daging panggang dan meletakkannya di piring Willy, lalu menyendokkan salad sayur untuk Willy. Mungkin saja kalau aku tidak ada dia sudah menyuapi Willy atau mungkin setelah ini mereka tidur bersama. Entah kenapa aku merasa ada api di dalam pikiranku saat ini. “Bianca ingin daging asap?” tanya Elizabet padaku. “Terima kasih, aku bisa mengambilnya sendiri” ucapku berpura-pura ramah. “Oh, baiklah” ucapnya. Seperti rencanaku, aku mengambil menu yang sama dengan Willy dan Elizabet. Aku lebih baik memperlambat aksiku. Aku mau melihat ekspresi mereka. Sepertinya mereka menikmati makanan lezat ini, terlihat sekali mereka makan dengan santai dan tak merasakan sesuatu yang aneh. Berarti deal makanan ini aman untuk aku konsumsi. Akupun dengan tenang menyantap makanan itu ke mulutku. Wanginya memang tercium sangat lezat, pasti rasanya tidak akan mengecewakan bagiku. Aku mulai mengunyah perlahan, dan apalagi ini. Ya, Tuhan kenapa daging makanan ini terasa sangat asam. Aku tidak boleh memuntahkannya, bisa-bisa Willy semakin mencapku wanita yang tak beretika. Tapi ini benar terasa sangat asam. Kalau aku bilang pada mereka, apa mereka percaya? Aku rasa tidak, buktinya mereka terlihat menikmati makanan mereka sampai habis. Sekarang bagaimana aku menghabiskan semua makanan di piringku, sementara perutku tak bisa menerima semua ini. Ini juga kenapa harus ada pelayan di belakangku. Kalau tidak ada dia aku bisa saja membuang makanan ini ke dalam tasku. Aku yakin Willy dan Elizabet tidak akan melihatnya. “Bianca, kenapa makanannya tidak dihabiskan? Makanannya tidak enak ya” tanya Elizabet yang melihat makananku masih banyak. Dan sempurna kali ini Willy menatapku horror. “Oh bukan. Ini sangat lezat. Aku pasti akan menghabiskan makanan ini” ucapku terpaksa. Akupunn terpaksa menghabiskan semua makanan di piringku. Aku sama sekali tidak menikmatinya. Rasanya perutku sudah mau meledak dan mengeluarkan semua isinya. Dan sekarang aku butuh minum untuk menghilangkan semua rasa asam ini. Oke, sekarang aku lebih baik mengambil minum Willy. Biar saja aku berpura-pura tidak tahu kalau ini minumnya. Aku harus jaga-jaga kalau minumku terasa asin lagi. “Bi, itu minumku” ucap Willy yang melihatku meminum air di gelasnya. “Oh iya. Maaf, aku lupa. Aku terbiasa minum di milikmu seperti yang sering kita lakukan bersama” ucapku asal. “Uhuk-Uhuk” Elizabet tersedak tiba-tiba padahal dia tidak sedang minum. “Maaf, tenggorokanku terasa gatal tiba-tiba” ucapnya. Dan kini Willy menatapku horor. Masa bodoh yang penting kali ini aku sudah meminum air sungguhan. Betulkan air Willy terasa air putih biasa. Aku dengan senyum tanpa dosa memberikan gelas milikku kepada Willy. Biar Willy tahu aku melakukan ini semua karena air milikku pasti akan terasa asin seperti yang aku minum tadi. Aku melirik Willy, dia terlihat meminum air itu sampai habis dan Willy biasa saja. Well, ini ada yang tidak benar. Ataukah memang lidahku yang bermasalah atau lidah mereka. Sepertinya hanya lidahku disini yang bermasalah, buktinya Willy dan Elizabet mereka biasa-biasa saja. Kruuk Kruuk Ah, perutku tiba-tiba terasa mulas sekali. Ini pasti karena makanan asam yang tadi aku makan. Dan sekarang aku harus ke toilet sebelum aku meledakkan gas beracun disini. “Maaf, boleh aku pinjam toiletnya?” izinku kepada Elizabet. “Silahkan” ucap Elizabet dengan ramah. “Pier, tolong antarkan Nyonya ke toilet” titah Elizabet kepada pelayannya yang berdiri di belakangku. “Mari Nyonya” ucap Pier pelayan itu. Aku pun mengekori Pier keluar dari ruangan ini. Aku melangkah melewati ruangan-ruangan besar. Lalu berbelok ke belakang. Setelah itu menysusuri koridor dan melewati taman. Ya Tuhan harus berapa lama lagi aku melangkah. Rumah sebesar ini apa Cuma mempunyai satu toilet dan letaknya apa sejauh ini. “Pier, apa masih jauh?” tanyaku yang sudah tak sabar. “Sebentar lagi sampai Nyonya” jawabnya tersenyum. Okey, baiklah. Aku mencoba sabar mengikuti Pier entah harus berapa belokan lagi aku lewati. Yang terpenting saat ini aku harus ke toilet. “Silahkan Nyonya” ucap Pier merentangkan sebelah tangannya menunjukkan toilet dengan pintu bewarna putih. “Terima kasih” ucapku pada Pier. Aku masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Aku harus segera menuntasnya perutku yang bermasalah ini. Lebih baik aku tidak makan dari pada harus menikmati makanan asam tadi yang membuat perutku sakit. Lima menit sudah aku menuntaskannya. Aku mencuci tanganku di wastafel dengan sabun. Sabun ini wangi sekali dan wanginya sangat menempel dikulitku. Sabun cuci tangannya saja sewangi ini, apalagi sabun mandinya, pantas saja aroma tubuh Elizabet segar sekali. Aku membuka pintu yang terkunci. Tetapi tunggu, kenapa pintu ini tidak bisa terbuka. Apa ada yang salah saat aku membuka kuncinya. Aku mencoba menekan tombol yang ada di handle pintu, tetapi tidak bisa terbuka juga. Disini tidak memakai kode, Pier bilang hanya menekan tombol saja pintu akan terbuka. Ini sudah aku coba berkali-kali, tetapi tidak terbuka juga. Tok Tok Tok “Pier, masih diluarkah kamu, tolong bukakan pintuku! Sepertinya ini terkunci dari luar” teriakku. Aku menunggu tak ada jawaban dari Pier. Aku akan mencobanya lagi. TOK TOK TOK “Pier, tolonglah bukakan pintu ini!” teriakku lagi. Tak ada jawaban lagi. Tidak mungkin kamar mandi ini kedap suarakan. Atau jangan-jangan Pier tidak ada di luar. Lalu bagaimana aku kembali. Perjalanan ke toilet ini saja membuatku pusing karena terlalu jauh. TOK TOK TOK “Siapun disana tolong bukakan pintu in!” teriakku. TOK TOK TOK TOK TOK Aku terus mengedor-gedor pintu kayu ini. Sepertinya tidak ada harapan. Jalan satu-satunya adalah menunggu seseorang datang ke toilet. Aku juga tidak membawa tasku, kalau membawanya aku pasti bisa mengambil ponsel dan menghubungi Willy untuk minta tolong. Ini sungguh menyebalkan aku harus terkunci di toilet. Aku melihat ada jendela disana. Tidak, aku tidak mungkin manjat jendela. Aku yakin pasti akan ada yang ke toilet. Lebih baik aku menunggu saja. 5 menit 10 menit 15 menit 30 menit 45 menit Aku hampir bosan harus menunggu seperti ini. Tidak mungkinkan aku terus terkurung seperti ini. Kenapa menyedihkan sekali hidupku disini. Sepertinya aku tidak cocok tinggal di Negara orang lain. Apa Willy juga tidak khawatir karena aku belum kembali? Atau jangan-jangan aku tidak ada meraka bisa melakukan hal bebas, ada aku saja si centil Elizabet bisa terang-terangan menyentuh Willy, apalagi aku tidak ada pasti dia semakin bebas dan berani. Tidak-tidak. Willy pasti tidak seperti itu. Aku tiba-tiba merasa sedih sekali memikirkan nasibku ini. “Will, aku membutuhkanmu. Will, datanglah! Aku takut disini. Will, apa kamu tidak khawatir kalau aku belum kembali dari toilet? Aku terkunci Will” lirihku sedih dan berjongkok di depan pintu toilet. Ceklek Aku mendengar pintu terbuka, akupun berdiri, dan aku melihat Willy. Aku pun spontan memeluknya. Aku merasa lega sekali akhirnya Willy datang dan membuka pintu ini. “Will, aku mau pulang” lirihku sedih yang memeluknya. Tetapi aku merasakan dia tak memelukku balik. “Hei, kamu kenapa Bi?” tanyanya melepaskan pelukanku dan memegang kedua bahuku juga menatapku bingung. “Aku mau kembali ke hotel saja” lirihku tanpa sadar aku meneteskan air mata. “Kamu menangis Bi” ucapnya terkejut melihatku mengeluarkan air mata. “Baiklah kita akan pulang. Sudah jangan bersedih lagi ya. Sekarang kita pamit dulu pada Elizabet” ucapnya menghapus air mata di pipiku. Aku pun menganggukkan kepalaku. Aku tidak tahu kenapa aku merasa nyaman sekali di dekat Willy dan jantungku selalu berdebar. Entahlah, yang jelas aku ingin kembali ke hotel sekarang. Aku pun melangkah dengan memeluk Willy dari samping dan dia juga terlihat memeluk pinggangku sepanjang jalan. Aku tiba-tiba tersenyum kecil, kali ini dia mau memelukku walau hanya melingkarkan tangannya di pinggangku.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN