Bianca POV
Aku saat ini merasa lega sekali dan aku ingin secepatnya pergi dari rumah yang sangat aneh ini. Aku terus melangkah bersama Willy.
‘Tunggu’
Aku baru menyadari ternyata aku tidak melewati jalan yang panjang seperti tadi aku di pandu oleh Pier. Jalannya hanya lurus sedikit lalu berbelok ke kiri. Dan kini aku sudah sampai di tempat tadi.
Ya Tuhan, rumah apa sebenarnya ini. Tadi Pier mengajakku berputar-putar padahal jarak toilet ini sangat dekat. Kalau nanti aku bertemu dengan pelayan itu, akan akan melabaraknya. Tidak peduli etika atau tidak. Apalagi dia meninggalkanku di toilet, aku yakin dia juga pasti yang mengunci pintu dari luar.
“Bianca, apa kamu tidak apa-apa?” baru saja aku memasuki ruangan si centil Elizabet langsung menghampiriku dan terlihat sangat khawatir.
“Tidak apa-apanya palamu. Rumahmu ini aneh dan pelayanmu itu menyebalkan sama seperti dirimu” batinku kesal.
“Tidak” ucapku dengan senyum memaksa.
“Syukurlah. Aku khawatir sekali, karena hampir satu jam kamu belum kembali” ucap si centil Elizabet.
Aku sengaja tidak melepaskan sandaranku di bahu Willy. Tetapi yang membuatku tambah kesal Willy melepaskan tangannya dari pinggangku. Dan sepertinya Willy merasa rishi dengan posisiku. Baiklah aku terpaksa mengangkat kepalaku dari bahu Willy.
“Oh iya, Bianca aku minta maaf sekali ternyata air putih dingin tadi itu adalah air garam untuk campuran daging. Aku salah mengambilnya dari pelayanku. Apa kamu tadi tidak merasakan air itu terasa asin?” jelasnya.
Yang pasti membuatku tidak percaya, jadi benar air yang aku minum adalah air garam. Sungguh keterlaluan. Tapi aku bisa apa dia bilang tidak tahu kalau air itu air garam.
“Oh, iya memang asin” jawabku malas.
“Kamu kenapa tidak mengatakannya Bi?” tanya Willy.
“Sudah terlanjur aku minum” jawabku.
Entah kenapa tiba-tiba kepalaku terasa pusing sekali. Tanganku pun memijat kening.
“Bi, kamu terlihat pucat. Ayo, duduklah” ucap si centil Elizabet itu memapahku duduk di sofa.
“Bi, kamu kenapa?” tanya Willy yang aku lihat dia sangat khawatir padaku.
“Kepalaku pusing Will” ucapku tiba-tiba terasa lemas.
“Sebentar aku punya obat untuk menghilangkan rasa pusing di kepala” ucap si centil Elizabet.
Aku merasakan Willy duduk di sampingku dan mambawa tubuhku bersandar padanya. Lalu Elizabet mengambilkanku segelas air putih dan obat dari kotak obat yang berada di pojok dinding. SI centil Elizabet memberikannya kepada Willy.
“Bi, ayo minum dulu” ucap Willy menyodorkan air di bibirku.
Aku enggan sekali meminum obat darinya ini. Nanti apa yang akan terjadi padaku. Jangan-jangan ini obat juga bisa menimbulkan efek samping. Lalu dengan gampangnya dia bilang tidak tahu. Lebih baik aku menggelengkan kepala.
“Ayo, diminum Bi. Ini paracetamol” ucap si centil Elizabet seakan dia tahu aku tidak mau meminumnya.
“Ayo minum Bi, setelah itu kita akan pulang” ucap Willy pelan di telingaku.
Akhirnya dengan terpaksa aku meminum obat yang dibilang paracetamol itu. Semoga saja benar obat ini memang mengandung paracetamol bukan sianida. Dan yang pasti aku ingin sekali segera pergi dari tempat keramat ini.
Sebenarnya aku masih mau menanyakan tentang makanan asam dan Pier yang mengajakku berputar untuk menuju toilet. Tetapi aku sudah tidak sanggup menanyakannya, aku terasa lemas dan pusing.
“Elizabet, sepertinya kami harus kembali agar Bianca bisa beristirahat. Terima kasih atas jamuannya” ucap Willy dengan tersenyum manis sekali.
Apa-apaan Willy, dia tidak pernah tersenyum seperti itu padaku.
“Yaah, sayang sekali padahal aku ingin kalian bermalam disini. Masih banyak yang ingin aku tanyakan. Dan juga bukannya lebih baik Bianca beristirahat disini sampai keadaanya lebih baik” ucap si centil Elizabet dengan nada kecewa dan khawatir padaku.
“Menginap. Lebih baik aku tidur dijalanan daripada harus menginap di rumahmu yang aneh ini. Bisa-bisa kamu sudah menyiapkan hantu atau hewan mengerikan di kamar yang kamu persiapkan untuk kami” batinku kesal.
“Will, aku mau kembali. Ayo pulang” cicitku pelan kepada Willy.
“Terima kasih. Tetapi Bianca ingin beristirahat di hotel saja . Untuk hal-hal lain aku akan mengirim semua berkas-berkas yang diperlukan ke emailmu” tolak Willy halus.
Baguslah Willy menolaknya, karena kalau Willy tidak menolak aku akan memilih pulang saja.
“Okey, baiklah. Lain kali berkunjunglah kesini” ucapnya.
Kami pun akhirnya bisa pergi meninggalkan rumah aneh ini diantar oleh supir yang tadi menjemput kami. Dan aku tidak akan mau kembali berkunjung ke rumah aneh ini, walau dia mengundangku secara khusus.
Akhirnya malam ini aku bisa beristirahat dengan tenang di ranjang hotelku, setelah seharian tadi sungguh menyebalkan sekali. Untung saja obat itu bereaksi tadi di perjalanan kami kembali. Sehingga rasa pusingku sudah mulai menghilang.
Aku juga tidak tahu, malam ini Willy kemana? Sejak mengantarku ke kamar dia belum terlihat lagi. Mungkin dia juga lelah dan sudah tidur dikamarnya. Sudahlah untuk apa aku memikirkannya. Lebih baik aku memejamkan mata saja.
Willy Pov
Malam ini aku tidak bisa tidur nyenyak, setelah apa yang terjadi seharian ini. Seharusnya memang tidak perlu aku mengajak Bianca dalam urusan bisnisku. Dia hampir saja menggangu konsentrasiku seharian ini.
Kalau dipikir-pikir sikapnya seperti tidak suka dengan Elizabet. Atau jangan-jangan dia cemburu karena Elizabet terlalu dekat padaku. Aku menjadi tersenyum jika mengingat tingkah bodohnya tadi. Sudah jelas dia pasti cemburu.
Lihat saja besok pagi aku akan membuktikan kata-katamu tidak pernah cemburu jika melihat wanita mendekatiku itu adalah salah. Apa jadinya dia, pasti wajahnya akan malu sekali besok. Atau dia akan bertingkah aneh lagi.
“Hahaha” aku tertawa jika mengingat tingkah anehnya selama bersamaku.
“Grrg grrrr grrrr”
Aku seperti samar mendengar suara orang menggigil. Aku tidak menyalakan tv dan juga ponsel.
“Grrrr grrrr grrr”
Suara itu terdengar lagi, aku menatap jam di nakas. Sudah jam 2 pagi. Apa Bianca masih menonton tv dan belum tidur. Tadi dia bilang tidak enak badan, atau memang dia bersandiwara saja karena tidak suka dengan Elizabet.
Lebih baik aku ke kamarnya. Aku ingin lihat hal aneh apa lagi kali ini yang dia lakukan. Aku bangun dari ranjangku dan melangkah menuju kamar Bianca melewati pintu penghubung.
“Ggggrrrr grrrr grrr”
Benar suaranya dari kamar Bianca, tetapi tvnya mati. Aku menatap ke arah ranjang Bianca. Ya, Tuhan ternyata dia menggigil. Aku pun segera mendekat ke arahnya dan duduk di sampinya. Aku mengecek keningnya, badannya panas sekali.
“Bi, Bi bangun Bi” ucapku menepuk pelan pipinya.
“Ggggr gggrrr grrr”
Bianca tidak menjawab ataupun bangun. Apa dia mempunyai penyakit? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya obat. Aku coba mencari di tasnya. Aku mengeluarkan semua isi tas dan kopernya mencari-cari obat. Tetapi nihil taka da obat pribadi apapun disini.
“Bi, Bi bangun Bi” ucapku lagi dengan menepuk pipinya pelan.
“Diiingiiin, dingiiin” ucapnya.
“Kamu kedinginan? Tetapi badanmu panas. Bi bangunlah jangan membuatku khawatir” ucapaku bingung dan khawatir.
“Ekh. Ekh” sekarang dia merintih.
Lebih baik aku mengambil remote AC dan mematikan ACnya saja. Aku melihatnya masih menggigil dan merintih padahal aku sudah mematikan ACnya. Sekarang apalagi? Aku tidak tahu. Lebih baik aku mencari tahu lewat internet saja.
Aku menyalakan ponselku, aku menekan logo mbah google dan mengetikan ‘Cara mengobati tubuh yang panas’
Cara mengatasi tidak enak badan karena demam
Banyak minum air. Minum air putih akan membantu Anda mengendalikan suhu tubuh agar tidak terlalu panas. ... Pakai baju dan selimut tipis. ... Mandi air hangat. ... Lebih banyak tidur. ... Tak perlu dipijat. ... Kompres hangat. Minum air putih yang banyak. Baiklah aku akan mengambilkan air putih.
“Bi, bangun ayo minum air putih yang banyak biar kamu tidak panas lagi” ucapku membawakan dua botol air mineral.
“Ekkhhhh” lagi-lagi dia merintih.
Kenapa sih dia tidak bangun saja. Huft, merepotkan sekali kamu, Bi. Baiklah apa cara kedua, ‘Pakai baju dan selimut yang tipis’. Aku melihat Bianca yang masih saja merintih.
Selimut hotel ini terlalu tebal. Apa aku singkirkan saja selimut ini ya. Kalau untuk baju aku tidak yakin menggantinya dengan pakaian yang sangat tipis. Aku pun mengangkat selimut tebal dari tubuh Bianca.
“Diiiingiiin, diingiiiin”
Ah, aku mengembalikan lagi selimut untuk menutupi tubuh Bianca. Ini tidak berhasil, dia malah kedinginan. Aku membaca cara selanjutnya, ini juga tidak mungkin. Mana mungkin malam-malam aku menyuruhnya mandi air hangat, bangun untuk minum saja dia susah.
Aku akan pakai cara terakhir mengompres dengan air hangat. Aku mengambil apa, tidak ada wadah yang bisa aku gunakan untuk menaruh air hangat. Aku melihat-lihat isi kamar Bianca. Hanya ada gelas, aku pakai gelas saja. Aku mengambil air hangat dari keran kamar mandi, lebih praktis daripada aku harus ribet mencampur air panas dengan air dingin.
Aku kembali ke ranjang Bianca dengan membawa segelas air hangat. Lalu apa yang bisa untuk mengompresnya, tidak ada handuk kecil disini. Aku menatap naks Bianca, ada tissue disana. Baiklah pakai tissue basah disana. Sepertinya bisa untuk mengompres Bianca.
Aku mengambil dua tissue basah dan mencelupkannya ke dalam gelas berisi air hangat. Aku memeras airnya dan menempelkan di kening Bianca.
“Ekkh” lagi-lagi dia merintih.
Coba aku cari cara lain yang lebih efektif. Harusnya aku membawa anak buahku. Jadi disaat seperti ini aku bisa mengandalkannya untuk membelikan obat.
Memberikan jahe, ah ini tidak mungkin. AKu mendapatkannya dimana malam-malam begini. Coba cara lain.
“Memeluknya agar suhu tubuhnya berpindah” ucapku membanca cara lain dari mbah google.
Aku menatap Bianca. Dia masih menggigil dan merintih. Apa aku harus melakukan ini padanya? Aku berpikir, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, aku juga tidak tega melihat menggigil dan merintih seperti ini.
Aku membuka kaos tidurku, agak sedikit ragu saat aku ingin masuk ke dalam selimutnya. Kalau Bianca terbangun dan terkejut lalu menamparku bagaimana?
Aku menatapnya lagi, posisinya masih sama seperti tadi. Aku menahan nafas lalu membuangnya dengan kasar. Aku naik ke ranjangnya dan ikut bergabung ke dalam selimut Bianca. Aku memiringakn tubuhnya agar menghadapku, lalu aku memeluknya.
Aku merasakan kedua tangannya yang bergetar karena menggigil berangsur berhenti. Tubuhnya juga perlahan berhenti menggigil. Syukurlah, tiba-tiba tangannya yang tadi di depan d**a memeluk tubuhku, dan tubuhnya bergeser lebih menempel pada tubuhku.
Deg
Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar seperti ini. Aku menahan nafas karena payudaranya menempel di dadaku. Ini sangat terasa sekali. Apa jangan-jangan dia tidak menggunakan bra saat tidur. Dengan ragu tanganku meraba punggungnya. Benar tubuhnya hanya tertutupi oleh piyama.
“Bianca, Please jangan bergerak lagi. Bisa-bisa aku yang menjadi panas karenamu”