Bianca POV
"Ya, Tuhan kali ini aku mendapatkan clien seperti itu" ucapku.
Aku pun menghubungi Bu Uni untuk membersihkan ruangan ini. Lalu aku membereskan peta dan katalog-katalogku yang diatas meja. Setelah memastikan semuanya rapi, aku keluar dari ruangan.
Aku kembali ke ruangan kerjaku. Pagi ini benar-benar membuatku lelah. Ternyata diruanganku masih ada, Icha dan Naena yang sedang menikmati kopi panas juga roti bakar.
"Gimana Bii, bertemu dengan teman SMA loe?" tanya Icha.
Aku rebahkan bokongku di sofa. Lalu tentukan agenda di atas meja. Aku menarik nafas panjang.
"Gak, tahu dech" jawabku pasrah.
"Maksudnya?" Kali ini Naena yang bertanya bingung.
"Ya, calon pengantin wanitanya memang temen gue waktu SMA. Tapi calon pengantin prianya itu. Buat gue kesel" ucapku emosi jika menerima tadi.
"Tumben" ucap Naena dan Icha bersamaan mereka saling berpandangan.
"Baru kali ini gue dapat clien rese begitu" ucapku jika mengingat wajah angkuh Willy Pratama.
Dan aku melihat ekspresi dua sahabatku yang tanda tanya.
"Seorang Bianca, bisakah mood buruk pada clien. Loe ingetkan moto kita yang mendirikan usaha ini?" ucap Naena.
"Ya. Sabar, Tenang, dan ikuti kemauan clien" ucapku pasrah.
"Tapi ini beda. Dia buat gue kesel pagi-pagi" belaku.
"Coba cerita" pinta Icha.
Aku pun menceritakan bagaimana Willy Pratama itu menghinaku dan meremehkanku. Benar-benar aku tidak terima. Apalagi dengan wajah angkuh dan sombongnya itu, membuatku muak sekali.
"Ya, Tuhan. Bii, masa cuma karena dia bilang gitu loe langsung marah sih" ucap Naena yang sudah mendengar ceritaku.
"Bii, itu salah loe juga. Nih, hilangin sifat pikun loe. Coba kalau loe ingat pagi ini ada meeting. Pasti semalam kita bisa langsung rapihin ruang meeting dan pastinya loe tidak bangun kesiangan kayak gini" kali ini Icha.
"Well, mereka malah nyalahin gue. Whatever" batinku tidak percaya.
"Yaudah lupain dech si Willy Pratama itu" ucapku pasrah.
"Siapa Bii?" tanya Icha mencoba memperjelas ucapanku.
"Willy Pratama" jawabku santai.
"Dia calon pengantin pria yang tadi loe bilang?" tanya Icha penasaran dan aku menganggukkan kepala.
"Bii, loe tidak kenal sama Willy Pratama?" Naena dengan terkejut.
"Ya, dia calon suami Davira teman SMA gue" jawabku santai melahap 1 potong roti bakar.
"Bii, lihat nie. Willy Pratama itu Penerus Pratama Entertaiment. Sekaligus dia Model dari setiap branch ternama" ucap Icha antusias.
Icha memperlihatkan ponselnya yang aku lihat disana adalah ya itu gambar Pratama Entertainment. Dan aku pun melihat gambar Willy Pratama. Sayangnya aku tidak tertarik untuk melihat lebih jauh. Dan aku hanya menaikkan kedua bahuku acuh.
"Ya, pantas dia kecewa. Dia itu orangnya tepat waktu Bii. Dan sibuk bangat, makanya dia jadi bad mood gitu" ucap Naena.
"Hm. Yaudahlah. Ngapain juga ngurusin dia. Ya, kalau proyek ini goal berarti rejeki kita, dan kalaupun gagal bukan rejeki kita. Dan ingat kita masih ada rejeki-rejeki lain didepan mata" ucap ku dengan tangan mengarahkan kemataku.
"Ayo jam 9, kita harus menemui Lisa di mau fitting baju" ucapku memberhentikan Icha dan Naena yang masih asyik melihat info tentang Willy Pratama.
"Tapi Bii, kalau sampai kita yang bisa menangani acara pernikahan Willy dan Davira pasti BM akan semakin terkenal" ucap Icha antusias.
"BM, sudah cukup terkenal selama dua tahun kita mendirikannya" ucapku menatap horor kepada Icha.
"Baik Bu Bianca" ucap Naena dan Icha bersamaan lalu melangkah pergi karena melihat tatapan hororku.
Aku menghembuskan nafas setelah dua sahabatku itu keluar. Aku tahu pasti mereka ingin proyek kali ini berhasil. Memang kalau dipikir, aku juga salah. Ya, sudahlah nasi sudah menjadi bubur.
Tepat pukul sembilan aku, Icha, dan Naena sudah berada di lantai dua. Kalian harus tahu lantai dua ini adalah wadrobe kami. Berbagai busana pengantin dari berbagai adat di dunia kami sudah punya.
Dan yang pastinya ini semua adalah hasil rancangam Naena. Sahabatku Naena adalah perancang. Alhamdulillah hasil rancangan Naena bagus dan disukai semua pelanggan kami.
Naena dan Icha terlihat sedang merapikan gaun putih yang Dipakai Lisa. Naena pun sangat telaten ketika ada bagian yang tidak pas, Naena langsung memberi tanda untuk dia rapikan.
"Aku suka" ucap Lisa senang.
"Ba Naena bagus sekali hasil rancangannya. Pasti Mas Dewo suka dech" ucap Lisa yang bergerak memutar di depan cermin.
"Oh iya, Mas Dewonya kemana Ba?" tanyaku yang baru sadar tidak ada calon suami Lisa disini.
"Nanti katanya nyusul. Sekalian kita mau tester menu untuk cateringnya Ba Bianca" ucap Lisa
Dan aku hanya ber'oh'ria. Benar sekali sepuluh menit kemudian calon suami Lisa datang. Aku memastikan fitting baju Lisa tidak ada kendala, aku pun menheluarkan ponselku menghubungi Nathan kepala chef catering di Bianca Management.
"Halo, Nat makanannya sudah siap?" tanyaku.
"Sudah Bii"
"Oke, aku akan segera kesana lima menit lagi"
"Oke".
Aku pun mematikan ponselku. Setelah itu aku mengajak Lisa dan Dewo untuk ke lantai 6 untuk mencicipi tester makanan yang sudah mereka pesan.
Dewo dan Lisa sudah duduk manis dengan sajian menu yang mereka pesan. Aku dan Icha duduk dihadapan mereka. Nathan berdiri disampingku untuk mendengarkan komentar dari dua calon mempelai ini.
Aku mengukir senyuman ketika melihat Dewo dan Lisa mencicipi makanan yang disajikan Nathan. Mereka juga saling tersenyum dan menganggukkan kepalanya, yang aku dapat pastikan mereka menyukai masakan Nathan and team.
Sore ini aku mengecek kembali susunan acara untuk minggu depan. Dan aku harus memastikan semua tim ku sudah mempersipkan tugas mereka masing-masing.
Ceklek
"Bii, belum pulang?" tanya Icha yang baru saja masuk ke ruanganku.
"Duluan aja, Cha. Loe dijemput Jonathan kan?" ucapku.
"Iya, tapi loe gak apa-apa sendiri?" tanya Icha khawatir dan aku tersenyum menggelengkan kepala.
"Gak apa-apa, Cha. Loe kan mau jalan Sama Jo. Yaudah sana nanti Jo kelamaan nunggu" ucapku menghampiri Icha.
"Yaudah. Gue duluan ya. Jangan terlalu lelah ya. Ingat lusa loe hutang makan-makan sama kita" ucap Icha sebelum pergi.
"Oke, hati-hati" ucapku mengiringi kepergian Icha.
Aku pun menutup kembali pintu ruang kerjaku. Aku harus segera menyelesaikan semua pekerjaanku hari ini. Karena besok aku akan sangat sibuk sekali. Baru saja lima langkah dari pintu, aku mendengar pintu sudah terbuka lagi.
Ceklek
"Bii, belum pulang. Mau pulang bersama?" ajak Naena.
"Kamu, duluan aja Na. Aku harus mengecek susunan acara buat minggu depan" jawabku.
"Oke. Maaf ya, tidak bisa nemenin loe, coz Dimas sudah jemput" ucap Naena.
"Tidak apa-apa Na. Nyantai aja lagi. Yaudah sana kasihan Dimas nunggu kelamaan"
"Oke. Lusa jadikan makan-makan. Tadi Dewo dan Lisa setuju tanpa kompain, ya kan" ucap Naena dengan nyengir kudanya.
"Iya-iya" ucapku.
Setelah Naena pergi aku mengeleng-gelengkan kepalanya. Dua sahabatku ini selalu menagih janji kalau aku mengajak mereka makan-makan. Ya, memang aku selalu mengajak mereka makan-makan kalau clien sudah oke dengan semua pelayan kita. Apalagi tadi Lisa dan Dewo tidak ada komplain sama sekali di saat fitting dan menu makanan. Ya, aku lakukan itu membuat teman-temanku semangat agar selalu memberikan terbaik untuk kemajuan usaha kita ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Aku pun segera pulang untuk beristirahat. Aku berdiri menunggu lift terbuka. Saat lift terbuka aku melihat Nathan seperti juga ingin pulang.
"Mau pulang, Bii" ucapnya.
"Ini pernyataan atau pertanyaan?" tanyaku.
"Ya, terserah kamu saja menganggapnya bagaimana?"
"Ya" jawabku singkat.
"Mau pulang bersama? Dan ini pertanyaan yang membutuhkan jawaban" ucapnya dengan terkekeh.
"Terima kasih. Aku sudah memesan taksi online" tolakku. Dan aku lihat dia sedikit kecewa mendengar jawabanku.
Akhirnya hari dimana aku mengajak sahabat-sahabatku makan telah tiba. Sore hari ini mereka berdua sudah duduk manis di ruang kerjaku. Mereka sedang asyik melihat tempat-tempat makan yang asyik untuk kita datangi.
"Yuk. Nanti macet kalau kita terlalu sore" ucapku yang sudah selesai merapikan meja kerja.
"Bii, Nathan diajakkan?" ucap Icha. Aku terdiam menatap Icha.
"Bii, loe udah janji mau ajak Nathan kalau menu yang dia sajikan tidak ada kompain. Hutang adalah janji Bii" kali ini Naena. Aku pun menghela nafas berat.
"Iya" jawabku malas.
"Horee" Naena dan Icha terlihat senang.
Sekarang Aku, Icha, dan Naena berada di salah satu Cafe kawasan kemang. Tak lama Nathan juga ikut berkumpul. Kami pun menikmati makan bersama sebagai perayaan hasil kerja kami. Setelah kita selesai makan dan sedikit bercanda, Jonathan datang.
"Hai semua" sapa Jonathan.
"Hai" ucap kami.
"Bii, aku sama Jo duluan ya" ucap Icha
"Ya. Hati-hati"
"Makasih ya Bii, untuk hari ini" ucap Icha yang cipika cipiki kepadaku dan Naena
"Bii, Dimas juga sudah jemput Nie. Aku duluan ya" ucap Naena setelah sepuluh menit kepergian Icha dan Jonathan.
"Kalian pulangnya dijemput. Terus gue pulang sendiri" ucapku dengan sedikit drama.
"Ada Nathan Bii. nanti pulangnya diantar Nathan aja" ucap Naena.
"Nat, kamu nanti bisakan antar pulang Bianca?" tanya Naena kepada Nathan. Nathan terlihat menganggukan kepalanya dengan tersenyum.
"Bii, mau pulang. Aku antar ya" ucap Nathan setelah lima menit kepergian Naena.
"Aku bawa mobil Nat. Aku pulang sendiri saja. Makasih atas tawarannya" tolakku. Aku pun melihat ekpresi kecewa Nathan.
"Oke. Makasih untuk hari ini, Bii. Kamu hati-hati ya" ucapnya tulus, sebelum aku membuka pintu mobilku. Aku pun menganggukan kepala dan tersenyum padanya.
Sial, di tengah jalan mobilku mogok. Padalah baru kemarin aku mengambilnya dari bengkel. Aku pun kesal dan keluar dari mobil. Dengan kesal aku menendang ban mobil jazz silverku ini. Aku melihat jalan ini begitu sepi. Ya, aku sengaja tidak melewati jalan raya. Aku melewati perumahan agar aku bisa lebih cepat sampai ke apartemnku.
Aku terpaksa memesan taksi online saja. Aku pun mengambil ponselku. Dan ditambahlah lagi kesialanku hari ini. Ponselku mati baterainya habis. Perumahan besar ini sungguh sepi, aku pun bersandar di pintu mobil dan berpikir sebentar.
Aku melihat ada sinar lampu mobil ke arahku. Sebaiknya aku meminta tumpangan atau meminta tolong untuk meminjamkan ponselnya agar bisa memanggilkanku taksi. Aku pun berdiri dan melambaikan tanganku.
Mobil itu pun berhenti dan aku lihat pengemudinya membuka kaca mobilnya itu. Aku siap memasang wajah imutku dengan senyuman. Seketika senyumku memudar ketika melihat siapa pengemudi mobil itu.
Willy Pratama
Ya, pria angkuh dan sombong ini.
"Kau pasti stalker. Kau ingin aku memakau WO milikmukan, sampai kau sengaja menungguku disini. Sudah biasa. Tapi sayangnya aku tidak akan setuju menggunakan jasamu" ucapnya yang membuatku ternganga.
"Keluar kau" bentakku dengan penuh keberanian dan memukul pintu mobilnya.