Author POV
From across the Bianca's car, there were eight pairs of eyes staring at him disappointedly. Yes, they are Icha, Jonathan, Naena, and Dimas. Though they deliberately went home so that Bianca could be close to Nathan. But Bianca was still cold with a man who paid more attention to her.
"I haven't moved on Bianca yet, " Icha said.
"Yeah, maybe Nathan can't take Bianca's heart yet," Jonathan said, rubbing Icha's back.
"It's not Nathan who can't take Bianca's heart. But Bianca who doesn't want to open his heart to other men," Naena said sadly.
"Na, we know how Bianca's a person. We should help her. Maybe Bianca still can't figure out Erick," said Dimas, embracing Naena.
"Yes, we want Bianca to also have a partner. So if we go together, she will not be lonely," Icha said.
Finally Icha and Jonathan got out of Dimas's car. Yes, Jonathan is Icha's lover, they plan to get married this year. While Naena and Dimas are Bianca's campus friends and Icha, the two of them were married last year. After making sure Bianca's car left, they also left the cafe.
In the car Bianca considered. He will not pass the highway, Bianca prefers to pass housing so he can get to his apartment faster. When Bianca's car has entered the luxury housing, suddenly the car's engine turns off. Bianca was surprised, then she tried to be patient.
Bianca pun terlihat mencoba menghidupi mesin mobilnya berkali-kali, namun hasilnya nihil. Mobilnya mogok dan tidak bisa dikemudikan lagi. Bianca kesal sekali, dia pun keluar dari mobilnya dan menendang ban mobilnya dengan kesal. Padahal mobil jazz silver ini baru saja diambilnya dari bengkel satu hari lalu. Bianca membuang nafasnya dengan kesal.
Dan kesialan Bianca bertambah saat dia hendak memesan taksi online ponselnya mati. Bianca pun bersandar di pintu mobilnya dan terlihat berpikir. Saat dia sedang berpikir Bianca melihat ada sinar lampu mobil ke arahnya. Bianca berniat meminta tumpangan atau meminta tolong untuk meminjamkan ponselnya agar bisa memanggilkannya taksi. Bianca pun berdiri dan melambaikan tangannya.
Mobil itu pun berhenti dan dia lihat pengemudinya membuka kaca mobilnya itu. Bianca sudah siap memasang wajah imutnya dengan senyuman. Seketika senyumnya memudar ketika melihat siapa pengemudi mobil itu.
Willy Pratama
Ya, pria angkuh dan sombong ini.
"Kau pasti stalker. Kau ingin aku memakau WO milikmukan, sampai kau sengaja menungguku disini. Sudah biasa. Tapi sayangnya aku tidak akan setuju menggunakan jasamu" ucapnya yang membuat Bianca ternganga.
"Keluar kau" bentak Bianca dengan penuh keberanian dan memukul pintu mobilnya.
"Apa?" tantang Willy yang keluar dari mobilnya.
"Dengar ya, aku bukan stalker. Aku juga banyak kerjaan yang lebih penting daripada mengurusi pria sombong sepertimu" ucap Bianca kesal menunjuk d**a Willy dengan jari telunjuknya.
"Lalu untuk apa kau menungguku di depan rumahku?" ucap Willy menghempaskan tangan Bianca yang menunjuknya.
Bianca pun melihat kesampingnya. Rumah besar dan sangat mewah. Tetapi itu bukan tujuan Bianca. Percuma Bianca berbicara dengan pria sombong ini. Bianca pun berbalik ke moilnya, Bianca mengambil tas dan kunci mobilnya. Lalu Bianca berjalan kaki meninggalkan mobilnya.
"Hei, singkirkan mobilmu dari jalanan rumahku" teriak Willy.
Bianca tetapi saja melangkah mengacuhkan Willy.
"Lihat saja aku akan menderek mobilmu ke kantor polisi" ucap Willy kesal. Bianca pun mengentikan langkahnya dan berbalik.
"Yap, panggil saja mobil derek. Dan kalau bisa tolong derek mobilku sampai bengkel" ucap Bianca dengan nada mengejek lalu berbalik lagi melanjutkan langkahnya.
BIANCA POV
Sial baru saja aku melanjutkan langkahku, hujan langsung turun dengan deras. Tidak mungkin aku terus melangkah keluar dari perumahan ini. Aku pun terpaksa berbalik dan berlari ke mobilku. Lebih baik aku berteduh di dalam mobil saja.
"Auuuw" jeritku karena aku terpeleset menginjak batu hingga keseimbangaku goyah.
Deg
Apa ini? Ternyata jatuh menabrak Willy yang juga berlari, dan posisiku sungguh tidak baik. Aku terjatuh diatas tubuhnya. Kenapa jantungku seperti ini berada sedekat ini dengan Willy.
"Tubuhmu berat, bangun dari tubuhku nona" desis Willy tidak suka dengan posisinya saat ini.
Aku pun segera bangun dan berdiri. Aku juga melihat Willy berdiri, dan kami berdua sudah basah kuyup karena terkena hujan.
"Maaf" ucapku.
"Tubuhku sakit" ucapnya.
"Aku kan sudah minta maaf" ucapku kesal.
Duuuar
Bunyi suara geluduk seketika mengagetkanku dan aku pun terlonjak langsung memeluk pria dihadapanku saat ini. Aku sedikit menyembukikan wajahku di jasnya yang aku cengkram.
Deg Deg
Lagi-lagi jantungku berdetak tidak karuan. Saat aku tersadar posisiku saat ini, aku pun langsung melepaskan cengkramnku dari jas Willy. Aku tidak berani menatapnya. Aku yakin saat ini dia menatapku horor.
"Maaf" ucapku lagi dan langsung berlari ke mobilku.
Aku pun membuka pintu mobilku. Sialnya karena aku gugup kunci mobilku terjatuh, aku pun berjongkok dan mengambilnya, lalu aku membuka kembali pintu mobilku dan langsung masuk ke dalamnya. Tubuhku mengigil karena gugup dan kedinginan. Barulah di dalam mobil aku berani manatapnya.
Aku melihat Willy menatapnku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Lalu aku melihatnya masuk ke dalam mobil. Dan aku bisa bernafas lega ketika melihat mobilnya sudah masuk ke dalam rumahnya.
Aku lupa meletakan baju ganti di mobil ini, karena mobil ini baru aku ambil dari bengkel satu hari lalu. Alhasil aku harus menunggu hujan berhenti dengan baju yang basah. Aku menatap jam tanganku, ternyata ini sudah jam 12 malam. Aku menghela nafas berat memikirkan aku harus menunggu sampai kapan hujan berhenti.
Ternyata penantianku hanya lima menit. Aku melihat ada lampu mobil dan aku memicingkan mata ternyata itu adalah taksi. Aku pun segera keluar dari mobil dan melambaikan tangunku kepada taksi itu.
Taksi itu berhenti di depanku, dan aku pun langsung naik ke dalam taksi.
"Pak Apartemen City ya" ucapku kepada Bapak supir.
"Iya Non" jawab Bapak Supir itu tersenyum.
Aku bisa bernafas lega lagi saat sudah di dalam taksi. Setelah aku meminta supir taksi itu mengantarkanku ke apartemen. Aku memejamkan mataku sebentar mungkin lebih baik. Setidaknya aku bisa beristirahat sejenak, walau tubuhku masih sedikit mengigil kedinginan karena baju basahku.
"Non, sudah sampai" aku mendengar samar suara supir taksi membangunkanku.
"Ah iya, Pak terima kasih" ucapku menatap kesamping ternyata benar sudah sampai apartemenku.
Aku membuka tasku hendak mengambil dompet, aku pun melebarkan tasku dan menundukkan wajahku mencari dompet di dalam tasku, dan sialnya lagi dompetku tidak ada. Perasaan setelah membayar pesanan aku memasukkannya ke dalam tas.
"Pak, tunggu sebentar ya, dompet saya hilang. Saya mau mengambil uang dulu di atas" ucapku merasa tidak enak.
"Sudah dibayar Non, saat memesan taksi tadi" ucap supir itu dengan tersenyum.
"Sudah dibayar?" tanyaku tidak percaya. Dan aku melihat supir taksi itu mengangukkan kepalanya.
Aku pun dengan bingung turun dari taksi itu. Hatiku masih bertanya-tanya, atau jangan-jangan taksi itu salah penumpang. Mungkin ada yang memesan tetapi supir taksi itu mengira aku yang memesannya. Lalu yang memesan taksi itu bagaimana?
Ah, sudahlah memikirkan itu membuatku pusing. Lebih baik aku berendam air panas dan beristirahat untuk hari yang melelahkan ini.
Author POV
Keesokan harinya Bianca kembali ke kantornya dengan mengunakan MRT. Tapi kali ini dia tidak tergesa-gesa karena tidak ada meeting pagi-pagi. Bianca tersenyum ketika melihat tukang ojek yang pernah mengantarnya.
"Pak, Ojek ya" ucap Bianca menepuk bahu tukang ojek.
"Eh, Mbak deposit. Ke Gedug BM ya" ucapnya, dan Bianca mengangukkan kepalanya.
Tukang ojeg itu pun mengantar Bianca sampai di tempat dengan selamat. Bianca pun turun dari motor dan mengembalikan helm itu kepada tukang ojeg.
"Udah Mbak, tidak perlu bayar, depositenya kan masih ada" ucap tukang ojeg itu.
"Tapi, Pak" ucap Bianca yang baru saja mau membayar tukang ojeg itu.
"Terima kasih Pak" teriak Bianca karena tukang ojeg itu sudah jalan.
Jam tujuh pagi Bianca sudah sampai di kantornya, ya hari ini dia akan ke Menari 145 untuk melihat dekorasi pernikahan dua hari lagi. Di dalam ruang kerjanya, Bianca mengecek berkas-berkasnya, dia melihat lagi kesiapan dari semua pekerjanya.
Tema kali ini adalah hijau toska, warna favourite Bianca. Bianca pun menghubungi anak buahnya apa sudah sampai di tempat. Ternya mereka semua sudah sampai dan sedang mendekorasi ballroom disana.
Ceklek
"Pagi, Bii" ucap Icha yang baru saja masuk ke dalam ruangan Bianca.
"Pagi. Cha, nanti kita ke 145, lihat dekorasi disana' ucap Bianca.
"Oke. Oh iya, Bii, tadi satpam titip undangan ini" ucap Icha menguarkan undangan dari tasnya dan memberikannya pada Bianca.
"Dari siapa?" tanya Bianca bingung menerima undangan berwarna abu-abu dengan pita silver. Dan Icha menggelengkan kepalanya.
"Undangan Reuni SMA" ucap Bianca membaca undangan itu.
"Reuni SMA" ucap Icha mendekat dan ikut melihat undangan itu.
"Wah, loe harus ikut Bii. Siapa tahu loe ketemu teman-teman SMA loe. Atau loe bisa ketemu gebetan dulu waktu SMA gitu" ucap Icha dengan semangat dan menyenggol bahu Bianca dengan bahunya.
Ceklek
"Siapa yang mau Reuni?" tanya Naena yang baru saja masuk.
"Bianca, Na. Dia dapat undangan Reuni" jawab Icha.
"Bagus, Bii" ucap Naena.
Tetapi Bianca terdiam dan tersenyum masam mendengarkan semua ucapan dua sahabatnya itu. Naena dan Icha pun bingung denga kediaman Bianca.
"Bii, loe kenapa?" tanya Icha.
"Gue tidak bisa datang' ucap Bianca datar dan meletakkan undangan itu diatas meja.
"Kenapa, Bii? Loe bisa ketemu teman-" Naena yang sedang berucap menghentikan ucapannya ketika Bianca langsung memotongnya.
"Gue tidak punya teman di SMA" ucap Bianca datar dan mengalihkan pikirnnya kepada kerjaannya.
"Bii" ucap Icha dan Naena.
Bianca tertunduk sedih. Mungkin bagi Icha dan Naena masa SMA itu adalah masa yang indah. Tapi tidak baginya. Bianca dulu sangat berbeda dengan Bianca sekarang.
"Bii, ada apa? cerita ya" ucap Naena merangkul bahu Bianca.
"Iya, Bii. Kita kan sahabat loe. Cerita ya" kali ini dan ikut memeluk Bianca.
Mereka berdua tahu kalau Bianca sedih, dan saat mereka ingat selama mereka bersahabat Bianca tidak pernah membicarakan masa SMA nya. Berbeda dengan Icha dan Naena yang mempunya kisah tersendiri dari masa SMA mereka.
"Gue SMA berbeda dengan yang sekarang. Dulu gue cupu bangat, kutu buku. Dan tidak ada yang mau berteman sama gue. Di SMA gue yang banyak ditemani cuma cewek-cewek keren dan kece" ucap Bianca sedih ketika mengingat masa SMAnya dulu.