Kabut tipis masih menyelimuti Villa Argan ketika Diandra melangkah menuju ruangan kerja Sebastian. Jejak langkahnya nyaris tak bersuara di lantai marmer yang dingin. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, entah karena udara pagi yang mengandung kelembaban atau karena ia tahu bahwa setiap percakapan di ruangan ini selalu berlangsung dengan tegang. Diandra mengetuk sekali sebelum mendorong daun pintu, lalu melangkah masuk. Ruangan kerja Sebastian adalah simbol kekuasaan. luas, berkelas, tetapi tak pernah benar-benar nyaman. Rak buku tinggi berjajar di dinding, bukan sekadar pajangan, melainkan catatan bisnis dan sejarah keluarga yang membentuk fondasi imperium mereka. Sebastian duduk di kursinya yang berlapis kulit hitam, satu tangan bertautan di depan wajahnya, sementara tatapanny

