Bintang sudah memikirkan perihal omongan Bian yang menyuruhnya tunangan dengan Flora, sepertinya hal itu memang terbaik. Bintang sadar kalau Senja memang tidak tercipta untuknya, lebih baik dia fokus pada apa yang ada di hadapannya saat ini, yaitu Flora. Minggu depan adalah waktu yang tepat untuk melangsungkan pertunangan tersebut. "Serius, Yang?" tanya Flora antusias. Bintang mengangguk. "Itu lebih baik, setidaknya aku ikat kamu dengan sebuah cincin dulu baru nanti aku ikat dengan mahar." Flora rasanya ingin menangis mendengar keseriusan Bintang, dia memang hampir ragu akan Bintang karena kedatangan Senja tapi sekarang dia sudah yakin. "Terus nanti persiapan tunangannya gimana?" "Nanti biar aku minta tolong mami buat urus semuanya, hari jumat sore kita ke Jakarta." Memang Bintang m

