Bab 163 : Hari pembalasan

2006 Kata

Fahry bangun pagi itu karena mendengar putranya menangis. Setelah subuh, ia kembali duduk di sofa, menunggu sang istri keluar dari kamar. Tapi ternyata ia kembali tidur. Tadi malam pun demikian, ia tidur di sofa ruang tengah, karena Alea tidak mau membuka pintu. Awalnya, dia hanya berniat menunggu istri dari kamar, mungkin untuk mengambil sesuatu atau karena alasan lain. Tapi karena rasa kantuk yang mendera, ia pun tertidur. Bergegas ia melangkah menuju kamar, untuk menghampiri sang anak yang tengah menangis seraya manggil sang ibu. "Sayang, kok sendiri? Mama mana?" tanya Fahry saat melihat sang anak menangis sambil duduk di tempat tidur khusus balita. "Mama ...." Arkana pun semakin mengencangkan suara tangis saat mendengar sang ayah bertanya tentang ibunya. "Mimi aja ya, Sayang? Mau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN