FZ | 05

1507 Kata
-happy reading- "Makasih, Zam!," Naya memberikan jaket dan helm miliknya pada Azzam. Kemudian menunduk untuk menyembunyikan senyum yang tak bisa di tahannya. Jantung Naya berdetak lebih cepat dari biasanya. Azzam mengangguk sambil tersenyum tipis "Sama-sama," balasnya. Setelah menggantung helm miliknya dan Naya, Azzam kembali menggunakan jaket yang ia pinjamkan untuk Naya tadi. "Ayo!," ajaknya pada Naya yang menunggunya. 'Gaboleh baper!!' Naya tersentak saat merasakan tepukan di bahu kanannya, ia pun menoleh mendapati Azzam yang kini menatapnya lurus. "Mau gue gendong?," tanya Azzam merentangkan tangannya. "Eh?," "Abisnya lo diajakin jalan malah diem!," Azzam langsung menarik pergelangan tangan Naya dan mengenggamnya. Naya memperhatikan tangannya yang di genggam lembut oleh Azzam, bukan cuma Naya melainkan murid yang berada di koridor itu memperhatikan mereka berdua. Naya memang cukup di kenal di sekolah karena ia bersahabat dengan Nabila si mantan Ketua Osis. Bisa di bilang, Naya terkenal karena Nabila. Namun, Naya juga anak basket yang pernah membawa nama sekolah dalam kompetisi sekolah membuat ia di kenal bahkan dari anak sekolah lain pun mengenal Naya. Meskipun talk semua, tapi di setiap sekolah pasti ada yang mengenal Naya. 'Mereka pacaran?,' 'Goals parah,' 'Potek dah gua, si Naya udah punya pacar!,' 'Gue baper ih,' 'Kak Azzam cool banget!!,' Naya menggelengkan kepalanya ketika mendengar bisikan-bisikan dari teman seangkatan maupun adik kelasnya. Dengan langkah acuh ia dan Azzam berjalan melewati orang-orang yang memperhatikan mereka. Naya merasakan pipinya memanas ketika Azzam mengelus-elus tangannya menggunakan ibu jari. Naya menatap tangannya, melihat ibu jari Azzam bergerak mengelus lembut kulitnya membuat Naya merasa ada banyak kupu-kupu beterbangan di perutnya. Naya sedikit berdeham, ingin membuka suara tapi ragu. Setelah menghembuskan nafas pelan, Naya akhirnya membuka suara. "Zam!," "Hm?," "Jangan gini dong!," Naya melepaskan tangannya dari genggaman tangan Azzam. "Kenapa?," tanya Azzam bingung. "Gue deg-deg an!," jawab Naya polos membuat Azzam tertawa. "Ih jangan ketawa!!," Naya mencubit lengan Azzam pelan. "Kenapa lagi?," Naya berjalan mendahului Azzam "GUE BAPER!," jawabnya tanpa menoleh pada Azzam. "Kok gitu?," Azzam tersenyum jahil. "Senyum lo manis ih kek gula," lagi, Azzam terbahak karna jawaban polos Naya. Belum sempat Azzam membalas perkataan Naya, Naya lebih dulu berlari memasuki kelas dan langsung menutup pintu kelas dengan sekali dorongan yang kuat sehingga menimbulkan bunyi keras membuat murid di dalam kelas terkejut dan menoleh ke Naya. Naya tak peduli saat teman-temannya menatap tajam Naya, ia langsung berlari ke bangkunya dan memeluk erat Nabila.. "Lo kenapa anjir?," tanya Nabila heran melihat kelakuan Naya yang langsung memeluknya erat. Naya melepaskan pelukkanya pada Nabila dan mengipas wajahnya yang memanas. Naya bahkan berdiri dan menurunkan suhu pendingin ruangan di kelasnya agar semakin dingin. "Gue malu!," pekiknya menelungkupkan wajahnya di meja. Nabila mengernyitkan dahinya "Malu kenapa? Lo lagi salting apa gimana si?," tanyanya bingung melihat tingkah Naya yang sudah mirip dengan cacing kepanasan. Tidak biasanya Naya bertingkah ubnormal seperti ini. Belum sempat Naya menjawab pertanyaan Nabila, Azzam sudah lebih dulu memasuki kelas bersama Randy dan Abian. Abian memperhatikan Naya yang melamun kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "Si Naya b**o, lu ngapain make seragam putih abu-abu Maymunah?," tanya Abian seraya meletakkan tasnya. Naya menunduk melihat seragam yang ia kenakan, setelah itu ia memperhatikan seragam teman-temannya. "Bukannya pelajaran olahraga jam terakhir ya, Bil?," tanya Naya pada Nabila. Seingat Naya jam olahraga dilaksana 3 jam sebelum bel pulang berbunyi. setelah istirahat kedua. Tapi, mengapa teman temannya memakai baju olahraga, sedangkan jam pertama adalah pelajaran Matematika. "Udah diganti jadi jam pertama," jawan Nabila santai. Naya menepuk dahinya "KOK LU PADA GA NGASIH TAU GUE?!," pekiknya kesal. "LO NYA GA NANYA!," sahut mereka bersamaan. "Lagian, kok gue ga nyadar ya pas berangkat bareng Azzam, kan dia pake baju olahraga," gumam Naya yang masih dapat di dengar oleh teman-temannya. "OHHHH GITUUUUU!!!," sahut Abian tersenyum jahil. "BERANGKAT BARENG YA??," tambah Nabila sambil menganggukan kepalanya. "CUKUP TAUU!!," timpal Randy sambil tersenyum jahil pada Naya yang tersipu. "ASSALAMUALAIKUM!!," semua murid yang ada di dalam kelas langsung menatap dua orang yang berada didepan pintu, tak ayal mereka membalas salam yang di lontarkan oleh salah satu dari kedua orang itu. "Lo bikin malu aja sih, Bel!," Bela menoyor kepala adiknya kembarnya yang sedang terkekeh. "Sakit monyet!," pekik Abel lalu balas menoyor kepala Bela. Belum sempat Bela membalas perbuatan Abel, seseorang lebih dulu menahannya. Laki-laki itu menahan lengan Bela dan langsung di tepis dengan kasar. Bela berdecih sinis, kemudian menatap laki-laki itu, menunggu kalimat yang akan di ucapkannya. "Bela gue mau ngomong sama lo,". Bela masih menatap sinis orang yang ada di hadapannya kini "Mau apa sih lo?!," tanyanya sinis. "Gue masih sayang sama lo!," jawabnya orang itu lantang. Membuat teman teman Bela menoleh dan menatap kedua sejoli itu penuh minat.  "Drama seru nih keknya," gumam Rendi langsung mendapat senggolan dari Abel. "HEH NOPAL i***t, GUE GASUKA YA SAMA LO! UDAH SANA PERGI!!," Bela mendorong kasar d**a Naufal, sebenarnya namanya bukan Nopal tapi Naufal. Namun, kata Bela nama Naufal terlalu bagus untuk orang i***t sepertinya. "Udah dramanya, gue mau ganti baju," Naya menepuk bahu Naufal "Semangat bro!," ujarnya menyemangati. Naya menggeser sedikit tubuh Naufal dan keluar dari kelas. Karena posisi Naufal dan Bela berada di depan pintu Naufal mengangguk kaku, karna ia dan Naya memang tidak terlalu kenal.  "Thanks Nay," setelah mengucapkan kata itu, Naufal langsung meninggalkan kelas 12 Ipa 7. "Bel, jangan terlalu kasar sama Nopal," ujar Nabila menasehati. "Gue tuh jijik sama dia, udah di tolak berkali-kali masih juga ngarep," ujar Bela bergidik jijik. "Jijik gitu, lo terima juga waktu itu!," sahut Abel menatap kembarannya malas. "Kan gue, khilaf!," jawab Bela tak mau kalah. "Intinya, kalo lo ga suka sama Nopal. Ngomong baik-baik, jangan kasar juga. Takutnya lo kena karma nanti!," ujar Nabila menepuk pelan bahu Bela. "Btw, si Naya beneran ganti baju sendiri itu?," tanya Abel pada Nabila yang di balas anggukan oleh sang empunya nama. "Tumben," sahut Bela. Naya memang tidak pernah berani ke toilet sekolah sendiri, karna ia pernah terkunci di dalam bilik toilet hingga sore. Untung saja, ada adik kelas yang menolongnya. Jika tidak, mungkin saja Naya sudah kehabisan nafas di dalam bilik tersebut. "Susulin anying, ntar dia pingsan kita yang ribet!," ujar Abel mengingat momen dimana Naya mencoba pergi ke toilet sendiri, dan berujung ia pingsan. Lebay memang, tapi Naya memang seperti itu. Kalo bahasa kampungnya 'Sawan'. "Duh, perhatian banget sih kalian!," kata Naya yang baru masuk ke dalam kelas dengan seragam olahraga yang sudah melekat di tubuhnya. "Najis!," sahut Nabila "Jijik!," timpal Bela melengkapi. "Btw, lo beneran sendiri Nay?," tanya Randy yang juga penasaran. Naya menggelengkan kepalanya "Kaga lah, mana berani gue,". Randy mangut-mangut "Terus?," tanyanya. Naya memasukan seragam putih abu-abu miliknya ke loker "Nabrak!," "Becanda, gue dianterin sama Sarah tadi!," Naya menyengir pada Randy yang sudah memasang wajah seriusnya. Naya tadi mendengar Sarah akan pergi ke toilet, kemudian memilih ikut untuk berganti pakaian. Naya tak ingin merepotkan teman-temannya untuk menemaninya ke toilet. "Aduh, abang jangan marah dong," Naya mencolek dagu Randy, membuat sang empunya tak tahan untuk tidak tersenyum. Naya tertawa melihat Randy yang tampak menahan senyumnya, kemudian menggelitik Randy agar laki-laki itu tertawa.  "Ekhem!," Azzam berdeham cukup keras, membuat teman-temannya memperhatikannya. Naya juga ikut menghentikan kegiatannya mengusili Randy dan menoleh pada Azzam "Eh, maaf ganggu," Azzam tersenyum masam "Lanjutin aja Nay!," pinta Azzam pada Naya. Seperti anjing yang mengikuti perintah majikannya, Naya kembali mencolek dagu Randy membuat Randy terkekeh dan menahan tangan Naya.  "Peka dong dek!," ujar Randy menatap Naya dan Azzam bergantian. Naya mengerutkan dahinya bingung. "Lo pikir gue kulit apa?," Naya melipat kedua lengannya di depan d**a "Peka terhadap rangsang," sambung Naya terkekeh. Teman-temannya menghela nafas melihat tingkah Naya. "Emang dasarnya lo ga peka d***o!," sahut Abian menoyor kepala Naya. "Yee sirik aja lo, urusin tuh bocah masih ngambek!," Naya menunjuk Abel yang berbicara pada Nabila dengan dagunya. Kemudian mengambil parfume di tasnya dan menyemprotkannya ke leher, lengan, dan baju. Naya dan Abian, mereka sudah berbaikan sejak kemaren. Bagi mereka, itu bukan masalah besar yang membuat mereka untuk tidak bertegur sapa. Hanya saja Abel, ia masih merasa malu dan canggung untuk sekedar berbicara pada Abian. "Bel!," Abian memegang pundak Abel.  Abel menoleh dengan tatapan canggungnya, dan itu membuat Abian merasa sedikit bersalah. Abian menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Memegang kedua bahu Abel dan memutar tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya. "Gue minta maaf,". "Untuk?," Abel menunduk menahan airmata yang ingin keluar dari tempatnnya. Rasa sakit itu masih ada. "Masalah kemaren,". "Sans, udah lupa kok gue," kata Abel mendongak dan berusaha tersenyum. Melupakan kejadian kemaren, tak segampang melupakan perkataan Maudy saat itu. Abel merasa malu, karna sudah mengucapkan kata-kata kemaren pada Abian. Secara tidak langsung ia berharap kepada Abian, padahal memang iya eh,, "WOI DIPANGGIL PAK DESI KE BAWAH!!," teriak Paskal, murid ter badung di kelas 12 Ipa 7. Setelah mendengar teriakan Paskal tadi, murid-murid yang masih di dalam kelas langsung berlari ke bawah. Karena selain disiplin akan waktu, Pak Desianto juga suka berceramah panjang kali lebar kali tinggi kepada murid-murid yang ia ajari. Naya merasakan tarikan di tangannya, sehingga badannya sedikit terhuyung ke belakang. "Kenapa sih?," tanya Naya pada Azzam, pelaku yang menarik tangan Naya. "Jangan lagi nyolek dagu Randy!,". Naya menaikan sebelah alisnya, seolah bertanya 'Kenapa?'. "Gue cemburu!,". ✨✨✨ Tbc Thanks for read
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN