-happyreading-
---
Naya menyeka keringat yang ada di pelipisnya, sesekali ia mengibaskan tangan di depan wajahnya yang sedikit memerah. Belum ada 20 menit mereka berjemur di tengah lapangan untuk melakukan pemanasan, keringat sudah mengucur di pelipis murid 12 Ipa 7.
"Panas banget anjir!," pekik Windi, murid yang bisa di bilang sok berkuasa di kelas, karna ia merupakan salah satu dayangnya Salsa.
"Duh, bisa item nih gue!!," sambungnya membuat beberapa murid memutarkan bola mata mereka malas.
Windi itu ribet, itulah yang ada di pikiran teman temannya.
"Alay banget sih lo!," tegur Paskal menatap sinis Windi.
"Dih, suka-suka gue lah!," Windi memperhatikan kuku yang baru saja ia warna tadi pagi "Sirik aja!," gumamnya sewot.
"Kalo cowok, udah gue gebukin lo!," Paskal mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke udara lalu memukul angin.
"Najis sih, kuku gituan aja di pamerin!," sahut Sarah sinis, ia memang tak menyukai Windi dari pertama mereka kenal.
"Iya, sok tajir najis!," timpal Tina, menatap jijik Windi.
"Alah muna lo Tin, di depan gue lo nge bela. Di belakang gue, lo nyeritain gue sama kumpulannya Salsa!,".
Naya melipat bibirnya menahan tawa, ia menatap Nabila yang juga menatapnya. Beberapa saat kemudian, mereka terbahak. Seolah mengerti apa yang ada di pikiran sahabatnya, Abel dan Bela ikut tertawa. Kecuali Cika yang hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
Seolah tertawa itu menular, beberapa murid yang melakukan pemanasan pun ikut tertawa. Padahal mereka tidak mengetahui apa yang keempat cewek itu tertawakan.
"HEH, KALIAN DI SURUH PEMANASAN MALAH KETAWA!," bentak Pak Desi yang baru saja datang bersama Azzam dengan bola basket yang ada ditangannya.
Azzam melirik Naya yang masih senyum-senyum bersama Nabila kemudian meletakkan bola basket yang ia bawa di tanah. Setelah itu ia balik ke barisannya.
"Naya sudah selesai pemanasannya?," tanya Pak Desi lembut dan di balas anggukan oleh Naya.
"Yee, giliran sama Naya ae lembut!," gumam Abel pelan.
"Orang pintar mah bebas!," sahut Bela pelan.
"Orang yang reputasinya udah baik, mau ngelakuin hal memalukan sekali pun. Orang lain bakal tetep nganggep dia baik," timpal Nabila terkekeh kecil.
"Gibahin ae teros!!," Naya berkacak pinggang menatap teman-temannya yang menyengir.
Tidak, mereka bukan menyindir Naya. Ini berdasarkan pengalaman, di jaman sekarang, orang yang reputasinya sudah baik jika melakukan suatu kesalahan akan tetap di bela. Kalo di jaman sekarang istilahnya 'goodlooking selalu di bela'
"Sumpah ya, gue kalo jadi si Tina malu banget pasti!," ujar Bela dengan suara yang sengaja ia besarkan, agar sang empunya nama mendengar.
"Nice, kalo mau nyeritain orang itu langsung di depan. Jangan di depan baik, di belakang nyeritain!," sahut Sarah menatap Tina yang berbicara dengan Windi.
"Nah, setuju gua!," sahut Lia pada Sarah membuat Tina berdecih sinis.
"Heh, itu cewek yang di belakang bisa diam?!," tegur Pak Desi marah.
Naya mendongakan kepalanya saat merasakan seseorang menghalangi sinar matahari yang sedari tadi menerpa kulitnya. Azzam, lelaki itu lah yang melindungi tubuh mungil Naya dari paparan sinar matahari. Azzam tersenyum dan sedikit menunduk untuk melihat wajah Naya yang memerah karna paparan sinar matahari.
Naya tersenyum tipis pada Azzam. Tanpa Azzam sadari, ia kembali membuat jantung Naya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Azzam tuh emang jago banget bikin jantung anak orang jedag jedug ga jelas.
"Panas hm?," tanya Azzam mengusap keringat Naya menggunakan lengannya tanpa rasa jijik sedikit pun.
"Kalian, kalo mau pacaran jangan di sini!," tegur Pak Desi pada Azzam dan Naya.
Teman-teman Naya ikut bersorak membuat Naya malu setengah mati.
Naya menundukkan kepalanya malu, sedangkan Azzam ia kembali ke barisannya.
"Iya Pak, maaf," kata Naya menatap Pak Desi.
"Yasudah, sekarang kalian lari keliling lapangan. Untuk yang putra 5 kali dan untuk putri 4 kali!," pinta Pak Desi, setelah itu ia meniup peluitnya.
✨✨✨
Naya berjongkok mengikat tali sepatunya yang terlepas. Dengan nafas yang ngos-ngosan, ia kembali berdiri dan melanjutkan larinya.
"Hey!," Naya menoleh dan mendapati Azzam yang tersenyum padanya.
"Tayo!," sambung Azzam ketika Naya membalas senyumnya.
"Anjing lo!," umpat Naya merasa kesal pada Azzam.
Melihat wajah kesal Naya, bukannya takut Azzam justru tertawa gemas. Ia berlari dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Naya. Azzam melirik Naya yang menekuk wajahnya. Terlihat lucu dengan bibir manyun dan pipi mulus yang sedikit menggebung.
"Cie ngambek," Azzam menoel pipi Naya yang sedikit memerah.
"Dih, pipi lo kok merah?," tanya Azzam pura-pura tak tahu penyebab memerahnya pipi Naya.
"Ih, apaan sih lo?!," Naya menepis kasar tangan Azzam yang berada di pipinya.
"Lah, ngambek beneran," Azzam menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
Azzam berlari mengejar Naya yang sudah berada jauh di depannya. Setelah menepis tangan Azzam, Naya segera berlari meninggalkan Azzam sendirian di belakang. Naya tuh salting!!
"Nay, maaf dong!," Azzam berdiri menghadap Naya dan berjalan mundur.
Naya diam tak menanggapi ucapan Azzam, membuat Azzam mendengus sebal.
"Nay, maapin napa?!," sahut Azzam menahan tubuh Naya yang ingin berlari.
"Ih, lo ga salah ngapain minta maaf sih?!," ketus Naya menepis kasar tangan Azzam yang memegang tangannya.
"Terus kok muka lu gitu?,".
"Gue capek Azzam!," pekik Naya pada Azzam.
Azzam tuh b**o apa gimana sih? Naya tuh capek lari lari. Naya haus, ga ada tenaga buat ngomong. Yang ada di pikiran Naya sekarang, ia harus menyelesaikan putaran terakhirnya dan duduk di samping Nabila sambil meluruskan kakinya.
Dengan cepat Azzam berjongkok di depan Naya, membuat Naya hampir saja terjatuh jika Azzam tidak menahan tubuh Naya.
"Lo ngapain sih Zam???," Naya menghela nafas pelan.
"Naik!," pinta Azzam.
"Naik?,".
"Gue gendong,".
Naya merasakan pipinya memanas, bisa di pastikan pipinya memerah saat ini. Jadi Azzam berniat menggendongnya? yang benar saja!!
"Lo pikir gue bocah apa?," sahut Naya langsung berjalan meninggalkan Azzam.
Azzam berdecih sinis dan bangkit lalu mengejar Naya. Azzam menarik Naya memegang tengkuk dan lipatan lutut Naya, mengendong gadis itu ala bridal style..
"AZZAM!!," pekik Naya ketika Azzam menggendongnya ala bridal style.
Naya menggoyangkan kakinya agar Azzam mau melepaskan tubuhnya. Ia menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Azzam, saat ini mereka menjadi pusat perhatian sekarang. Bukan hanya teman sekelasnya, melainkan adik kelas dan teman seangkatannya yang ada di lantai 2 dan 3 atau di koridor.
"Azzam ih gue malu!!," pekik Naya masih tetap menyembunyikan wajahnya.
Dengan santai, Azzam menurunkan Naya tepat di depan Pak Desi dan teman sekelasnya. Naya merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena tadi ia berontak di dalam gendongan Azzam.
"Kalian pacaran?,".
Azzam dan Naya saling menatap, sesaat kemudian mereka sama-sama menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Lia, teman sekelas mereka.
"Friendzone b*****t!," sahut Paskal membuat Naya dan Azzam terdiam.
"Dia bukan siapa-siapa saat ini, dia hanya seorang teman yang begitu baik. Dan gue mencintainya!," ingin rasanya Naya berucap seperti itu untuk membalas perkataan Paskal, tapi ia tak punya nyali untuk mengatakannya.
"Biasa aja!," hanya kata itu yang terkeluar dari bibir Naya.
Setelah itu suasana di antara Naya dan Azzam menjadi sedikit canggung akibat perkataan Paskal tadi.
✨✨✨
"Nay, gue mau nanya sama lo!," Nabila menatap Naya serius.
Saat ini mereka ada di kamar Naya, semenjak bel pulang sekolah berbunyi. Naya dan Nabila memutuskan untuk ke rumah Naya, hanya sekedar ingin bermain.
Naya mengangkat salah satu alisnya seolah bertanya 'Mau nanya apa?," dari matanya.
"Ada hubungan apa lo sama Azzam?,".
"Maksud lo?," pertanyaan Nabila membuat Naya sedikit terkejut. Bagaimana bisa Nabila menganggap ia dan Azzam memiliki hubungan spesial.
"Lo pacaran sama Azzam?," tanya Nabila menatap Naya yang sepertinya memikirkan sesuatu.
Naya menggelengkan kepala "Kagak lah!,".
"Tapi, lo deket banget sama Azzam," ucap Nabila seolah tak percaya dengan ucapan Naya.
"Apa lo punya perasaan sama Azzam?," tanya Nabila lagi.
"Gue emang suka sama dia," Naya menjeda ucapannya sejenak "Sejak tiga tahun lalu malah!," sambungnya.
"Hah?!," Nabila membulatkan matanya "Lo suka sama Azzam dari kelas 10?!,".
"Yagitu," balas Naya cengengesan.
"Jadi yang waktu itu lo bilang pas kita nontonin anak-anak main basket beneran, Nay?,"
Dulu, saat mereka masih kelas 10. Naya dan Nabila menonton murid laki-laki di kelasnya bermain basket. Terbesit pertanyaan bodoh di pikiran Nabila dan langsung ia tanyakan pada Naya. Nabila bertanya, apakah Naya menyukai salah satu teman kelasnya, dan Naya menjawab iya.
Nabila pikir Naya hanya bercanda, namun sekarang?! Ternyata Naya benar benar serius dengan ucapannya.
Naya mengangguk pelan "Gue ga tau ini hanya sekedar rasa kagum atau rasa sayang," Naya mendengus pelan "Terkadang gue berharap lebih sama dia, kadang gue juga pengen berhenti berharap sama dia,".
"Tapi, kenapa di saat gue mau berhenti untuk berharap sama dia, dia harus bersikap sebaik itu sama gue?," Nabila mengusap pelan bahu Naya, bermaksud menenangkan.
Nabila menghela nafas, merasa bodoh membiarkan Naya memendam rasa sendirian bertahun-tahun.
"Apa gue salah, kalo gue baper sama sikap dia ke gue?," tanya Naya menatap Nabila sendu.
"Lo nggak salah," jawab Nabila sambil tersenyum menenangkan.
"Kenapa lo ga bilang sama gue, Nay?," tanya Nabila sedih.
"Ya buat apa juga gue bilang ke lo?,"
"Setidaknya lo bisa cerita ke gue biar lo ga mendem sendirian," Nabila mendengus.
Naya terkekeh pelan.
"Jangan kasih tau siapa-siapa ya, Bil?," Naya mengacungkan jari kelingkingnya ke udara.
"Insya Allah," kata Nabila seraya mengaitkan jari kelingkingnya di jari Naya.
"Yu nonton!," ajak Naya mengambil laptopnya di atas nakas kemudian meletakannya di hadapan Nabila.
"Lo cari aja dulu drakornya, gue mau ambil cemilan,"
Nabila mengangguk dan Naya berjalan keluar dari kamar lalu turun ke bawah untuk mencari cemilan.
Naya membuka kulkas mengambil minum kaleng dan s**u kotak. Kemudian, beralih ke frezeer Naya mengambil es krim dan coklat. Naya mengambil beberapa ciki di lemari khusus cemilan dan roti lalu ia bawa naik ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar, Naya meletakan semua barang yang ia bawa di atas kasur lalu ikut rebahan di samping Nabila. Menonton drama korea dan melupakan Azzam untuk sementara waktu. Setidaknya itulah yang Naya lakukan agar tidak kepikiran Azzam dan perasaannya yang belum terbalaskan.
✨✨✨
"Dadahhh hati hati yaa!!, " Naya melambaikan tangan sambil tersenyum manis pada Nabila yang berada di dalam mobil.
Naya memperhatikan mobil yang semakin lama semakin jauh lalu segera masuk ke dalam rumah saat mobil itu hilang di tikungan komplek. Naya berjalan santai naik ke lantai atas dan masuk ke kamar Regil. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam namun abangnya itu belum menampakan batang hidungnya di rumah. Naya menyalakan pendingin ruangan di kamar Regil dan merebahkan diri dii kasur milik Regil.
"Laper," eluh Naya mengelus perutnya yang keroncongan.
Naya berdecak, bunda juga belum pulang karena menemani ayah di kantor. Sebenarnya bunda sudah menyiapkan makanan dan ada beberapa frozen food di kulkas. Namun, Naya terlalu malas hanyak untuk sekedar memanaskan makanan yang sudah mulai dingin itu.
Naya membuka ponselnya mencari kontak Regil dan segera menelponnya.
"Bang!!! Nay laper," ujar Naya ketika Regil mengangkat telponnya.
"Makan lah," sahut Regil dari sebrang sana.
"Pengen mekdi," balas Naya dengan wajah melasnya meskipun Regil tak dapat melihanya. Namun, tak melihat wajah melas adiknya pun Regil sudah tau dari suaranya.
"Beli sendiri,"
Naya mencebik "Abang!!!!!," teriak Naya kesal.
"Buset santai napa, iya gue beliin. Tunggu!,"
"Gua balik duluan ye," Naya dapat mendengar suara Regil yang pamit dengan teman-temannya karena Regil belum memutuskan sambungan telpon mereka.
"Dih cepet banget!," protes salah satu teman Regil.
"Ade gue laper b**o, mo gue beliin makanan dulu," Naya tersenyum haru mendengar jawaban abangnya dan segera memutuskan sambungan telpon Regil.
Naya beranjak dari kasur dan mengambil chargeran di laci nakas lalu mencharge ponselmya yang sudah lowbat. Sambil menunggu Regil, Naya menyalakan TV dan menonton kartun yang ada di salah satu channel. Naya melirik jam yang terpajang di dinding lalu menghela nafas.
Setelah menunggu hampir 30 menit akhirnya Regil datang dan kantong plastik di tangannya. Naya bersorak berlari menghampiri Regil dan merebut bawaan abangnya itu.
"Jangan makan duluan, gue mandi dulu!," ujar Regil melihat Naya yang sudah mengerluarkan box dari dalam plastik.
"Iye! Sana cepet mandi! Nay laper!," balas Naya.
Regil tak menjawab dan segera masuk ke kamar mandi.
Naya mengambil ponselnya di nakas dan mengecek notifikasi yang masuk di ponselnya. Naya sedikit kecewa karena tak ada notif dari Azzam.
Tunggu!
Naya menggelengkan kepalanya, mengapa Naya berpikiran seperti itu?!
15 menit berlalu, Regil keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tergantung di lehernya. Naya memperhatikan Abangnya yang memakai boxer dan kaos oblong hitam.
Naya masuk ke kamar mandi dan mencuci tangannya di westafel lalu kembali duduk di hadapan Regil. Akhirnya mereka berdua makan di kamar Regil sambil bergurau sesekali.
Tbc
Thanks for read❤