FZ | 07

2038 Kata
-happyreading- --- "Nay, ada temen kamu tuh di bawah!," Naya mengernyit bingung mendengar ucapan Bundanya. Pagi pagi sekali siapa yang ingin menemuinya? "Lah, cewek apa cowok Bun?," tanya Naya meletakan sisir yang baru saja ia gunakan ke meja. "Cowok," setelah mengucapkan itu, Kirana langsung meninggalkan kamar Naya dan turun ke bawah. Naya menatap pantulan wajahnya di cermin, sesekali ia mengernyitkan dahinya bingung. Siapa teman prianya yang datang pagi-pagi seperti ini, ia tak merasa minta jemput pada siapapun. Naya membuka penutup lipbalm miliknya dan setelah itu ia gunakan di bibirnya. Setelah itu, ia meletakkan kembali lipbalm itu dan mengambil liptint bewarna softpink miliknya. Naya menatap bibirnya di pantulan cermin, setelah itu ia terkekeh geli. "Bibir gue sekseh juga," gumamnya sambil terkekeh geli. "Bedak gue dimana ya?," gumam Naya mencari bedak bayi miliknya. Naya membuka laci namun tak menemukan bedak bayi yang di carinya. Kemudian, Naya berjalan ke nakas di samping tempat tidurnya. Naya berdecak kesal karna tak menemukan bedak bayi itu. "BUN, BEDAK NAY DIMANA YA?!," teriak Naya sembari mengelilingi kamarnya untuk mencari bedak. "ADA DI NAKAS SAMPING TEMPAT TIDUR KAMU," teriak Kirana dari bawah. "GA ADA BUN, UDAH NAY CARI TADI!,". "Makanya kalo nyari pake mata, nak!," ujar Kirana seraya memegang bedak Naya, setelah mendengar kata 'Ga ada' dari mulut putrinya, ia langsung berjalan menuju kamar Naya. "Kebiasan kamu tuh," tegur Kirana menatap anaknya yang menyengir dan memberikan bedak yang ia dapatkan pada Naya. Naya menatap Bundanya  yang berjalan keluar dari kamarnya, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Naya menatap bedak yang ada di tangannya lalu mengeluarkan isinya di telapak tangan. "Bug dunia sih ini, setiap gue nyari barang pasti harus keliling kamar dulu, tapi kalo emak yang nyari ga sampe lima menit udah dapet," gumam Naya seraya memakai bedak bayi di wajah mulusnya. Setelah siap, Naya mengambil ponsel dan earphone miliknya. Dengan cepat ia memasukan kedua barang tersebut dalam tasnya dan langsung turun ke kamar. Tak lupa sebelum turun, ia mematikan lampu, pendingin ruangan, dan menutup pintu kamarnya. ✨✨✨ "Tumben bawa mobil," ujar Naya menatap Azzam yang menyetir di samping kanannya. Setelah ia turun dari kamarnya, ia langsung mendapati Azzam yang tengah berbicara pada Ayahnya. Entah kemasukan setan apa, Azzam dengan suka rela datang menjemputnya untuk ke sekolah bersama. Emang Azzam tuh suka tiba-tiba anaknya. Tak mau Azzam menunggu lebih lama lagi, Naya langsung menyalimi Ayah dan bundanya lalu berjalan keluar. Begitupun dengan Azzam yang ikut menyalimi kedua orang tua Naya, dan berjalan keluar. Tak lupa mereka berpamitan terlebih dahulu, sebelum Azzam menjalankan mobilnya. "Gue bawa gitar noh, makanya bawa mobil," ujar Azzam menunjuk gitar yang ia letakkan kursi belakang. Naya menoleh ke belakang dan melihat gitar yang bertengger manis di jok belakang. "Masih aja lo," sahut Naya terkekeh. Azzam memang menyukai gitar, entah sejak kapan ia menyukainya. Yang pasti dia akan membawa gitar setiap hari kesekolah, dan memainkannya saat free class maupun istirahat. Selain pintar bermain gitar, Azzam juga memiliki suara yang cukup bagus. Dan hal itulah yang membuat Naya menyukainya. "Terus kenapa lo jemput gue, kan gue ga minta," tanya Naya polos. Padahal semalem ga ada chattan, ga ada angin ga ada hujan tiba-tiba dateng nge jemput. Kan Naya jadi bingung. Azzam menatap Naya, karna saat ini mereka sedang berada di lampu merah. "Kenapa, lo ga suka di jemput sama gue? Atau pacar lo marah?," Naya memanyunkan bibirnya sambil menatap Azzam kesal. "Jangankan pacar, cowok yang naksir sama gue aja gaada!,". "Lo sendiri, pacar lo ga marah?," tanya Naya membuat Azzam mendengus. "Gue ga punya pacar!,". Naya menahan senyumnya, merasa senang saat mendengar Azzam mengatakan bahwa laki-laki itu tak mempunyai pasangan. Artinya Naya masih punya kesempatan hehe. "Kok kita sama? Jangan-jangan kita jo-," Naya menggantung kalimatnya dan menatap Azzam. "Mblo," sahut Azzam cepat kemudian setelah itu kembali menatap jalan karna sudah lampu hijau. "Lo lagi suka sama cowok, Nay?," Naya menoleh mendengar pertanyaan Azzam yang tiba-tiba. "Bukan suka lagi, tapi udah sayang," jawab Naya jujur. "Bahkan gue cemburu kalo liat dia jalan sama cewek lain, nangis kalo dia jadian sama cewek lain. Padahal gue bukan siapa-siapa dia," sambungnya terkekeh miris. "Siapa emang?,". "Kepo!,". "Inisial gitu Nay?," "Inisialnya 'A'!," mendengar itu sontak Azzam tersenyum penuh arti. "Lo sendiri, lo lagi suka sama cewek?," tanya Naya balik. Azzam menganggukan kepalanya "Gue suka sama dia, tapi belum sayang," jawabnya. "Oh ya, sejak kapan?," tanya Naya berusaha tersenyum. Entah kenapa, Naya merasa hatinya sedikit sakit mendengar penuturan Azzam. Baru saja di bikin seneng karna Azzam ga punya pacar, eh taunya malah udah punya gebetan. "Sejak gue pindah kesini sih," "Siapa emang?," "Inisialnya 'A'," Naya tersenyum miris, ternyata selama ini Azzam menyukai wanita lain. Naya terlalu percaya diri dengan semua perhatian Azzam kepadanya, ini yang Naya takutkan. Dia harus merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan. ✨✨✨ "Lo mau diem di sini, apa mau ke kelas?," Naya memperhatikan sekitarnya, ternyata ia sudah berada di parkiran sekolah. "Ya, maap!," Naya membuka pintu mobil dan langsung keluar dari mobil Azzam. "Maap teros!," kata Azzam terkekeh. Lagi, mereka berdua menjadi pusat perhatian. Azzam dan Naya berjalan dengan langkah sejajar, dan itu terlihat serasi. Azzam yang berjalan menggunakan topi dan jaket jeans berwarna hitam untuk menutupi baju batik yang ia gunakan, tak lupa gitar yang ia pegang menggunakan tangan kirinya dan tas yang ia sampirkan di bahu kanannya. Sedangkan Naya, rambut yang ia kucir menggunakan jedai, wajah cantiknya yang terlihat putih dan mulus. Kulitnya yang seputih s**u, sangat cocok bersanding dengan kulit putih bersih milik Azzam. Ditambah, Azzam mengenggam tangan kiri Naya. Mereka bukan mostwanted disekolah ini, tapi mereka cukup dikenal di sekolah mereka. Azzam yang terkenal karna gemar mengikuti kegiatan disekolahnya, sedangkan Naya yang terkenal karna sikapnya ramah dan pernah membawa nama baik sekolah dalam ajang kompetisi basketball. Selain itu, Naya sedikit di kenal karna ia selalu bersama Nabila. Nabila cukup terkenal karna dia mantan ketua osis. Naya menarik tangannya dari genggaman Azzam begitu mereka hendak masuk ke dalam kelas. "Serius kalian ga pacaran?," Naya hanya diam tak menanggapi ucapan Randy. Mereka semua menatap Naya yang langsung duduk di kursinya, bahkan dia tak menegur atau sekedar mengucap salam. "Lo kenapa?," tanya Nabila pada Naya yang langsung menelungkupkan wajahnya di meja. Naya hanya menggeleng tanpa menjawab pertanyaan Nabila. Entahlah, ia ingin menangis saat ini. Tak tahu karna apa, yang jelas ia berusaha menahan airmatanya agar tidak keluar. "Lo apain ni anak?," tanya Bela menatap Azzam yang sedang menatap Naya. Azzam menggeleng pertanda ia tak tahu, ia tak merasa menjahili atau melakukan hal yang membuat mood Naya menjadi jelek. Azzam memperhatikan Naya yang menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan. "Cik, temenin gue ke toilet dong!," Cika menoleh menatap Naya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kok lo nangis?!," tanpa menjawab pertanyaan Cika, Naya langsung menarik lengan Cika dan membawanya keluar dari kelas. "Katanya tadi mau ke toilet?," tanya Cika seraya memperhatikan lapangan sekolah mereka dari rooftop. "Lo kenapa sih Nay?," Cika mengusap bahu Naya. Naya mengusap airmatanya "Gue mau nanya dong,". "Kalo misalnya lo suka sama cowok, tapi cowok itu ga suka sama lo gimana?," Cika mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Naya. "Gue ga pernah ngalamin yang kaya gitu," jawab Cika polos. "Astagfirullah, salah cari temen curhat nih gue," gumam Naya menepuk pelan dahinya. "Turun kuy! Bel udah bunyi," ajak Cika yang hanya di angguki Naya. Naya tampak berfikir sebentar lalu membuka ponselnya untuk melihat jadwal pertama hari ini. "Izinin gue Cik, gue mau di sini dulu." ujar Naya memasang earphone di kedua telingannya. "Lo bolos?," tanya Cika menatap Naya heran. "Sesekali," balas Naya santai. "Gabiasanya lo begini Nay," ujar Cika bingung. Naya bukan tipe orang yang mudah meninggalkan jam pelajaran, Naya itu taat peraturan. Kalo Naya udah bolos bolos begini berarti ada yang ga beres. "Gabut pen coba rasanya bolos gimana," Naya tertawa pelan. "Yaudah gue ke bawah ya," ujar Cika lalu meninggalkan Naya sendiri di rooftop. Naya menghela nafas kemudian membalikan tubuhnya, memperhatikan lapangan yang sudah kosong karena bel masuk sudah berbunyi. Naya mendudukan tububnya ke tanah dan meluruskan kakinya. Ting! Naya melihat notifikasi yang baru saja masuk. Ada saty chat dari Nabila. Lo bolos? Gabut haha Lo ada masalah? Cuma ga mood doang Bil Lo bohong Naya tersenyum membaca pesan terakhir dari Nabila lalu segera keluar dari aplikasi chatting itu dan membuka spotify. Naya membuka playlist favoritnya dan memejamkan mata saat alunan musik mulai terdengar. Untungnya udara di rooftop ini tak cukup adem karna cuaca hari ini berangin. Naya melepaskan jeday di rambutnya, membiarkan angin meniup rambutnya. Merasa bosan, Naya membuka ponselnya dan bermain game untuk mengurangi suntuk. "Apa gue ke uks aja?," gumam Naya bertanya pada dirinya sendiri. "Tapi gue ga sakit anjir, ntar gue bilang apa ke penjaganya?," Naya berdecak. Setelah itu ia berdiri dan membersihkan rok bagian belakangnya lalu segera turun dari rooftop. Kaki jenjangnya berjalan menelusuri koridor sekolah yang sepi. Lalu salah satu tempat terbesit di pikirannya. Naya tersenyum lalu segera berjalan ke tempat yang ada di pikirannya. "Nah di sinikan enak, bisa ngadem." ujar Naya dengan satu novel di tangannya. Naya berjalan mencari tempat duduk yang berada di pojokan lalu duduk dan mulai membaca novel yang baru saja ia ambil. Saat ini Naya berada di perpustakaan bersama dengan beberapa adik kelasnya yang mungkin mendapat tugas dari guru bahasa indonesia. Merasa bosan membaca novel akhirnya Naya memilih tidur. Naya melipat kedua tangannya di atas meja lalu meletakkan kepalanya dengan posisi menghadap dinding. ✨✨✨ Naya mengernyitkan dahi saat merasa ada tepukan di bahunya. Naya mengerjap pelan dan menoleh ke belakang. "Bisa bisanya lo tidur di perpus," omel Nabila pelan karna ini sedang di perpustakaan. "Hem," balas Naya masih setengah sadar. "Ayo ke kantin, yang lain udah nungguin!," Nabila menarik Naya. Naya mengambil ponselnya dan meninggalkan novel yang ia pinjam di atas rak. Toh nanti akan ada petugas perpus yang akan meletakannya di tempat semestinya. Naya merenggangkan tangannya yang terasa pegal, mencepol asal rambutnya. Naya belum sadar sepenuhnya. Pikirannya masih kosong. "Naya udah gede gais! Udah berani bolos," ujar Abian saat Naya dan Nabila sampai di kantin. Naya duduk di samping Azzam dan Nabila kemudian berdiri bangkit dan duduk di sebelah Bela. Tak menghiraukan raut wajah Azzam, Naya kembali memejamkan matanya dengan kedua tangan menangkup pipinya. "Naya kek ga ada semangat idupnya ye!," ujar Abel memperhatikan Naya. "Masih ngumpulin nyawa itu," ujar Randy. Naya mengangguk-angguk membenarkan ucapan Randy, kemudian membuka matanya. Naya menatap mie ayam di depannya dan segelas es teh manis. "Siapa yang pesenin?," tanya Naya setelah meminum es teh manisnya. "Gue," balas Azzam membuat Naya mendengus. "Makasih," ujar Naya lalu memakan mie ayamnya. "Lo lagi pms apa gimana dah?," tanya Bela melihat raut kesal di wajah Naya. Naya hanya menggedikan bahu dan lanjut memakan mie ayamnya hingga habis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Naya sendiri bingung mengapa moodnya menjadi jelek seperti ini. Bawaannya tuh kesel terus, apalagi kalo liat muka Azzam. Naya mengunyah es batu yang ada di dalam gelas es teh manisnya. "Kurang-kurangin kebiasaan ngemil es batu lo Nay," tegur Nabila menarik gelas Naya yang hanya berisi es batu. "Ish Bila apaan sii?!!," Naya kembali merebut gelasnya. "Ntar gigi lo rusak b**o," "Batu banget di bilangin!," Bela menyentil dahi Naya yang kembali mengunyah es batu. "Kalian semua ga normal," ujar Naya. Bisa bisanya ada orang yang ga suka ngemil es batu?! "Lo yang ga normal!," balas Abian tak terima. Naya memutar kedua matanya, kemudian mengambil uang di sakunya. "Buat apaan?," tanya Azzam saat Naya menyodorkan uang ke hadapannya. "Bayar makanan gue lah," "Gausah," "Ga nerima penolakan, bye." Naya mengambil tangan Azzam dan meletakan uang tersebut di telapak tangan Azzam lalu segera meninggalkan meja kantin. "Tuh anak kenapa si?," tanya Abel melihat Naya yang sudah keluar dari kantin. "Mana gue tau," sahut Nabila. "Aneh banget dia hari ini," ujar Randy menggelengkan kepalanya. "Tadi pagi dia ada ngomong sama lo, Cik?," tanya Bela pada Cika. "Dia nanya pendapat gue kalo misalnya lagi suka cowo tapi tuh cowo suka sama yang lain gimana," ujar Cika membuat teman-temannya terkejut. "Naya lagi naksir sama siapa anjir?," ujar Abel histeris. "Dia ga ada cerita apa-apa," sambung Bela ikut berfikir. "Lah? Si Naya bisa naksir cowo juga ternyata?," gumam Abian langsung di balas toyoran dari Nabila. "Lu kata temen gue lesbi?!," "Ya kan hari hari berdua sama elu, kali aja lu berdua lesbi," balas Abian kemudian berlari. "Abian b*****t!!," teriak Nabila mengejar Abian. ✨✨✨ Tbc Thanks for read❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN