-happyreading-
"ASTAGA NAY!!! JADI LO BADMOOD SEHARIAN CUMA KARNA ITU?!!," pekik Nabila menatap Naya yang hanya mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ish, kan gue cemburu! Lagian siapa coba inisial 'A' yang ditaksir sama Azzam?," gerutu Naya menatap kesal Nabila yang masih memasang tampang terkejutnya.
Nabila menghembuskan nafasnya kesal, kenapa makhluk di hadapannya ini mempunyai kadar kepekaan yang minim?!!!
"Lo sering ngatain gue ga peka, tapi lo sendiri juga ga peka!!," Naya menggelengkan kepalanya, menandakan ia tidak setuju dengan apa yang Nabila ucapkan.
Naya itu orangnya peka pake banget. Ga kaya Nabila yang ga pekaan.
"Lo emang ga peka kali!," sahut Naya memakan kentang goreng yang ada di pangkuannya.
Saat ini mereka berada di halaman belakang rumah Nabila, lebih tepatnya di pinggir kolam renang. Saat pulang sekolah tadi, Nabila memaksa Naya untuk datang kerumahnya.
Nabila pikir Naya memiliki masalah besar, sehingga membuatnya menjadi pendiam seharian. Tapi ternyata, Naya jadi pendiam karna ketidakpekaannya sendiri.
"Heh curut, lo b**o apa gimana sih?! Nama lengkap lo siapa?," tanya Nabila kesal dan menyiram wajah Naya dengar air kolam.
Naya mengusap air yang membasahi wajahnya "Anaya Putri," jawabnya dengan polos.
"Terus inisial cewek yang Azzam taksir apa?,"
"A,"
"Inisial nama lengkap lo apa?,"
"A,"
"NAHHH!!," Naya tersentak ketika Nabila berbicara cukup kencang sambil memukul pahanya.
Naya mendengus sambil mengelus elus pahanya yang terasa perih lalu mencebik. Namun Nabila bodo amat dan kembali membuka suara.
"Bisa jadi orang yang si Azzam taksir itu lo! Secara inisial lo kan 'A'!!," Naya mangut-mangut mendengar ucapan Nabila. Kenapa ia tidak berpikiran seperti itu sejak pagi tadi.
"Kok gue ga kepikiran gitu ya?," gumam Naya. Kalo saja ia berpikiran seperti itu tadi pagi, Naya tidak akan uring-uringan seperti ini. Tapi, kalo inisial A itu memang bukan untuk Naya gimana?!!!
"Emang lo mikirnya insial lo apaan?,".
"N,".
"ALLAHUAKBAR NAYA!! SE ENGGAK PEKANYA GUE, GUE MASIH BISA NGARTIIN KODE SI AZZAM!," kali ini Nabila berteriak sangat kencang, sambil menggoyangkan tubuh Naya sehingga membuat tubuh Naya tercebur ke kolam.
Naya menyembulkan kepalanya ke permukaan air lalu menyingkirkan rambut yang menempel di wajahnya. Naya menatap Nabila yang melongo lalu berenang ke pinggir kolam.
"IH BILA, LO KALO HISTERIS GA GINI JUGA KALI!!!," bukannya menolong, Nabila justru menertawakan Naya yang berusaha naik kepinggir kolam.
"Astaga lo ngapain curut?!!," pekik Abel yang baru saja datang bersama Bela, Randy, Abian, dan juga....
"Azzam?," gumam Naya melihat Azzam yang datang membawa gitar kesayangannya.
"IHH, WOI TOLONG, DEDEK TERNISTAKAN!!," pekik Naya berusaha naik ke pinggiran kolam. Naya cemberut menatap Nabila yang tak menghiraukannya.
Bukannya menghiraukan Naya, Nabila justru menatap satu persatu temannya yang baru saja datang "Kalian ngapain kesini?," tanyanya bingung.
"Tadinya kita mau ngajak lo jalan, tapi ga jadi karna emak lo bilang, lo lagi main sama Naya di sini. Jadi kita susulin aja kesini," balas Abel berjongkok di pinggir kolam lalu mencomot kentang goreng yang ada di sana.
"ASTAGFIRULLAH, HUWAAAA JAEHWAN TOLONG AKUHHH!!," jerit Naya membuat Bela membulatkan matanya tak percaya.
"IH JAEHWAN PUNYA GUE!! LAGIAN KOK LO TAU JAEHWAN?! LO KESAMBET PENUNGGU KOLAMNYA NABILA YA NAY?!!," balas Bela tak terima.
"ENAK AJA! JAEHWAN CUMA PUNYA GUE SEORANG!!," sahut Nabila berteriak.
"Lagian, itukan ada tangga Nay!," Randy menunjuk tangga yang ada sebelah kiri Naya.
Naya menoleh dan mendapati tangga yang memang digunakan untuk naik kepinggiran. Ia menyengir dan langsung naik ke pinggir kolam, tanpa menyadari bahwa ada sesuatu yang mencolok di tubuhnya.
"Warna item ya Nay?!," tanya Abian dan Randy terkejut seraya memperhatikan sesuatu yang mencolok itu.
"Apanya yang item? Rambut gue?," tanya Naya polos dan berjalan mendekati Nabila.
Naya menekuk lengannya seolah sedang memeluk diri sendiri, Naya sedikit menggigil.
"Mata lo dijaga b*****t!," umpat Azzam pada Abian dan Randy.
Naya menatap Azzam bingung saat Azzam menutupi tubuhnya dengan hoodie bewarna navy yang mungkin milik Azzam.
"Daleman lo keliatan," bisik Azzam membuat wajah Naya memerah saat itu juga.
"HUWAAA ABIAN SAMA RANDY m***m!!!," pekik Naya berteriak lalu berlari menuju ke dalam rumah Nabila.
Bodohnya Naya, ia tak menyadari bahwa kakinya masih basah sehingga menyebabkan lantai yang ia lewati menjadi licin.
Bruk!!
"ADOH p****t GUE!!!," jerit Naya dengan posisi yang mengenaskan.
"Bwahahahahaha," bukannya menolong, teman-temannya justru terbahak.
Dengan perasaan malu, Naya berdiri dan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Sakitnya ga seberapa anjir!! Malunya itu loh!!," gumam Naya yang masih dapat di dengar teman-temannya.
Naya membalikan badannya dan langsung berlari kecil menuju kamar Nabila, ia mengumpat dalam hati. Sudah berapa kali ia membuat dirinya terlihat bodoh di depan Azzam. Secuek-cueknya Naya, ia juga cewek yang punya malu jika melakukan sesuatu yang memalukan di hadapan gebetannya.
"BILA PINJAM BAJU YA! DALEMANNYA JUGA!!," Naya menepuk pelan bibirnya. Lagi dan lagi Naya tak dapat mengontrol mulutnya. Sudah di pastikan Azzam mendengar teriakannya, karna suaranya cukup kencang.
"IYA," balas Nabila berteriak.
Setelah mendapat balasan dari Nabila, Naya langsung mengambil acak baju Nabila yang ada dilemari dan berlari menuju toilet yang ada di dalam kamar Nabila.
Setelah membersihkan diri, Naya keluar dari toilet dengan tubuh yang sudah terbalut pakaian yang cukup simple, baju kodok dengan T-shirt putih.
Setelah merasa tak ada yang kurang, Naya membungkus baju kotornya menggunakan plastik dan setelah itu ia letakkan di samping tas sekolahnya. Ia mengayunkan kakinya menuju ruang tamu, tempat teman-temannya berkumpul dan bernyanyi bersama.
Naya tertegun sejenak melihat Azzam yang fokus bermain gitar. Azzam hanya menggunakam kemeja bewarna hitam dengan bagian tangan yang ia gulung sampai siku, dan di padukan dengan celana jeans bewarna putih. Membuatnya terlihat cool di mata Naya, ditambah jam bewarna hitam yang melingkar dilengannya.
"Woi, diem-diem bae!," ucap Nabila melempar kulit kuaci ke wajah Naya.
Baru saja Naya ingin mengeluarkan suaranya, ia kembali teringat kejadian beberapa menit yang lalu.
Abian mengernyit ketika melihat Naya yang bungkam dengan wajah memerah, tatapan gadis itu juga terlihat kosong. Ah, sepertinya Abian mengetahui penyebabnya.
"Sekarang lo make warna apa Nay?," tanya Abian ambigu membuat wajah Naya semakin merah.
"Ih, gue pulang aja deh!," ujar Naya berjalan kembali menuju kamar Nabila.
Naya masuk ke kamar Nabila untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Abian bangkit dari duduknya lalu menyusul Naya.
"Yah, gue becanda Nay," Abian menahan lengan Naya yang hendak melewatinya.
"Baru juga goodmood beberapa menit yang lalu, udah dibikin badmood lagi!!," gerutu Naya kesal.
"Nay!!," Abian menampilkan wajah memelasnya, membuat Abel menahan pekikannya.
"Duh, muka lo biasa aja! Lagian gue cuma ngambil hp doang!," Naya mendekatkan bibirnya ke telinga Abian "Ntar ada yang cemburu," bisik Naya menatap Abel yang memainkan ponselnya.
"Zam, hoodie lo gue cuci dulu ya?," tanya Naya kepada Azzam yang bermain gitar.
Azzam hanya mengangguk sebagai jawaban, dan hal itu membuat Naya bingung.
"Dia kenapa?," bisik Naya pada Randy yang memakan keripik kentang buatan Ibu Nabila.
Randy hanya mengedikkan bahunya, pertanda ia tak tahu.
"Zam, lo kenapa?," tanya Naya yang hanya mendapat gelengan dari Azzam.
"Lo marah sama gue?," tanya Naya lagi membuat Azzam berdecak kesal.
Naya menggerutu, harusnya Naya yang marah bukan Azzam.
"Ck, ga peka!," Azzam bergumam pelan.
"Astaga Nay peka dong!!!," kata Nabila gemas.
"Peka gimana sih maksud lo?," tanya Naya polos.
Nabila menggeram pelan "Si Azzam tuh cemburu, lo bisik-bisikan sama Abian," ceplos Nabila tanpa memikirkan perasaan Azzam.
"Apaansih lo ngaco!!," kata Naya menunduk malu, sedangkan Azzam hanya mangut-mangut membenarkan ucapan Nabila dalam hati.
"Sok-sok an lo malu gitu, padahal dalem hati mah seneng!," sahut Bela melempar kulit kacang yang ada di meja kaca ke wajah Naya.
Naya mengumpat teman-temannya dalam hati, mengapa mereka tidak dapat mengontrol mulut mereka. Tidakkah mereka menyadari ucapan mereka itu membuat Naya menjadi malu?
Tapi, Naya membenarkan ucapan Bela yang mengatakan ia senang. Ya, Naya senang karna Azzam cemburu, yang berarti Azzam memiliki perasaan kepadanya. Meskipun itu hanya persepsi Naya, ia tidak mau terlalu berharap.
"Udah anjir ntar si Naya ngambek lagi," ujar Cika melihat Naya yang mengerucutkan bibirnya.
Naya berlari menghampiri Cika dan memeluknya "Lo emang temen gue Cik!!,"
"Ini serius mau main di sini? Apa mau main di luar?," tanya Nabila menatap teman-temannya.
Bukannya apa, stok cemilan Nabila sudah habis dan Nabila merasa malas kalau harus keluar untuk membelikan cecunguk cecunguk ini cemilan.
"Terserah," balas Abel dan Bela bersamaan.
"Nonton aja gimana?," tanya Cika di balas anggukan setuju dari Randy dan Abian.
"Lo gimana Nay?," tanya Nabila pada Naya.
Naya melihat jam yang melingkar di tangannya, jam sudah menunjukan pukul 5 sore lebih 20 menit. Naya harus izin dulu sama Bunda, karena nonton film butuh waktu yang lama.
"Gue izin bunda dulu," ujar Naya mengetikan sesuatu di ponselnya.
"Emang mau nonton film apa?," tanya Naya sambil menunggu balasan dari sang Bunda.
"Horor mau?," tanya Bela.
"Bebas sih,"
"Nonton Conjuring seru keknya," usul Randy.
"Makan dulu ga si? gue laper," ujar Naya mengelus perutnya dengan wajah memelas.
"Masalahnya lo di izinin apa kaga ini?," tanya Abian.
"Skuy gas nguengg!!," Naya beranjak dari duduknya.
"Gue ganti baju dulu anjir," Nabila berlari ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Kalian kesini naik mobil?," tanya Naya
"Gue sama Azzam bawa mobil," jawab Randy sambil menunjuk Azzam yang sibuk memetik senar gitarnya.
"Pamit dulu sama maknya Nabila," ujar Naya lalu menyusul ibu Nabila yang baru saja keluar dari dapur.
Setelah berpamitan, tujuh remaja itu akhirnya keluar dari rumah Nabila dan menunggu Nabila di mobil.
"Nay!," panggil Abel membuat Naya menoleh dan tersenyum pada kamera karena Abel sedang membuat instastory.
"Mau makan dimana?," tanya Azzam pada Naya.
"Di foodcourt aja,"
"Oke,"
Azzam menjalankan mobilnya karena Nabila sudah berada di mobil Randy. Naya melirik Azzam yang fokus menyetir lalu menghela nafas pelan.
✨✨✨
"Ah kenyang," gumam Naya setelah menghabiskan makanannya.
Mereka saat ini berada di foodcourt yang ada di mall.
"Gue sholat dulu," ujar Azzam ,
"Ikut!," Naya menatap Azzam dan di balas anggukan oleh Azzam.
Akhirnya mereka berpencar, Naya dan Azzam pergi ke musholah sedangkan yang lain pergi ke bioskop untuk memesan tiket.
Naya berjalan di samping Azzam sambil memainkan ponselnya. Naya terkejut saat Azzam menarik lengannya. Gadis itu menatap Azzam untuk meminta penjelasan.
"Lo hampir di tabrak orang, jangan main hp dulu," ujar Azzam.
Naya mengangguk dan memasukan ponselnya ke kantong celana karena ia tak membawa tas.
Sesampainya di depan mushollah, Naya dan Azzam berpisah untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat di shaf yang berbeda.
Setelah hampir 15 menit, kedua remaja itu menyelesaikan sholatnya. Naya berjongkok di depan musholah dan memakai sepatunya. Naya merasakan pergerakan di sampingnya, ia menoleh dan mendapati Azzam yang juga memakai sepatu.
Naya menatap Azzam yang terlihat tampan dengan rambut yang masih basah karena wudhu tadi. hidung mancungnya.
"Gue tau gue ganteng, ngeliatinnya biasa aja." gurau Azzam membuat Naya tersadar dan memukul bahu Azzam.
"Apaansih, pede lo!." elak Naya lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Azzam.
Azzam terkekeh dan mengejar Naya lalu merangkulnya. Mereka berdua berjalan ke bioskop untuk menemui teman-temannya.
✨✨✨
"Gue peka banget kan?," ujar Nabila setelah Naya menerima tiket darinya.
Nabila sengaja memesan sheet untuk Naya dan Azzam agar mereka berdua sampingan.
Naya terkekeh "Lo yang terbaik Bil," gumamnya.
Pintu teater sudah di buka, Naya dan Azzam jalan berdampingan menuju ke kursi mereka.
"Serem ga ya?," gumam Naya sedikit takut..
"Serem banget Nay," ujar Azzam dengan wajah serius.
"Masa???,"
"Iya,"
Tak lama film mulai di mainkan. Awalnya masih biasa saja. Namun semakin lama suasana di dalam ruangan itu semakin menengan. di tambah backsound yang menyeramkan.
Naya merasakan tangannya di genggam lembut dan menoleh pada Azzam.
"Ga usah takut," ujar Azzam sambil mengelus tangan Naya dengan ibu jarinya.
"AAAAAA," Naya berteriak lalu memeluk Azzam dan menyembunyikan wajahnya di bahu Azzam.
"Azzam keluar aja yu, jantungan gue lama-lama," ajak Naya dengan suara bergetar.
Azzam tertawa "Yaudah ayo."
Akhirnya Azzam dan Naya bangkit lalu keluar dari bioskop dengan tak enak hati karena menganggu beberapa penonton yang lain. Naya menghela nafas lega saat cahaya lampu memenuhi indra pengelihatannya.
"Takut banget ya?," tanya Azzam menatap Naya yang ngos ngosan.
"Takut banget lah!!," balas Naya sedikit nge gas.
Naya menarik Azzam untuk duduk di kursi. Azzam terkekeh lalu mengelus puncak kepala Naya membuat rambut Naya sedikit berantakan.
"Ihhh berantakan Azzam," rengek Naya menahan tangan Azzam yang masih mengacak-ngacak rambutnnya.
"Lagian emang lo ga takut?," tanya Naya.
Tidak ada raut ketakutan di jawah laki-laki itu.
"Gue ga fokus nonton Nay," balas Azzam.
"Terus fokus sama apa?,"
"Gue fokus ngeliatin lo,"
"H-hah?,"
"Lo cantik kalo takut kaya tadi,"
✨✨✨
Tbc
Thanks for read❤