-happyreading-
---
"1..2..3..4!!," seru Azzam lalu memetik senar gitarnya, di ikuti Randy yang juga memainkan gitarnya dan Abian yang memukul meja, mengikuti irama.
Cantik, ingin rasa hati berbisik
Untuk melepas keresahan dirimu..
Azzam bernyanyi seraya menatap Naya yang memainkan ponselnya.
Oh.. Cantik, bukan ku ingin menganggumu..
Tapi apa arti merindu selalu..
Sambung Abian menyanyi menatap Abel yang berada di hadapannya, sambil memukul meja seolah meja tersebut adalah drum.
Ohh, walau mentari terbit di utara
Hatiku hanya untukmu..
Seru Azzam, Randy, Abian bersamaan.
Ada hati yang termanis dan penuh cinta..
Tentu saja kan ku bawa seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita..
Ini kesungguhan..
Sungguh aku sayang kamu..
Seru satu kelas ikut bernyanyi termasuk Naya dan kawan kawan, saat ini kelas mereka jam kosong karena guru yang mengajar sedang berhalangan masuk. Naya tersenyum tipis ketika Azzam menyodorkan finger love ke arahnya. Dengan cepat Naya menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk finger love, lalu menyodorkannya ke arah Azzam.
Naya tertawa saat telinga Azzam memerah, sepertinya lelaki itu salting karena Naya membalas fingerlovenya.
Azzam melanjutkan nyanyiannya sedangkan Naya membuka aplikasi i********: lalu merekam Azzam, juga suasana kelas yang tampak ramai. Setelah itu, Naya menyimpan video tersebut terlebih dahulu, lalu meng-upload video tersebut ke snapgram.
Bukan hanya Naya yang melakukan hal itu, melainkan hampir semua siswi di kelasnya juga ikut mengabadikan moment yang mungkin akan menjadi kenangan ketika mereka lulus nanti.
Waktu berjalan begitu cepat, bahkan ujian semester pun akan dimulai dalam kurun waktu 3 bulan lagi. Naya merasa sedih mengingat sebentar lagi mereka akan berpisah. Tapi bagaimana? Memang harus seperti itu.
"WOII DIEM, PAK BAMBANG OTW KESINI!," teriak Paskal seraya berlari ke tempat duduknya.
Mendengar teriakan itu, sontak semua murid yang ada di dalam kelas langsung berhamburan berlari menuju meja mereka masing-masing. Dengan cepat mereka membuka buku dan pura-pura menulis seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Seketika suasana kelas langsung hening, semua murid sibuk dengan kegiatannya. Lebih tepatnya pura-pura belajar..
Azzam berlari kebelakang dan meyembunyikan gitarnya di dalam lemari khusus untuk sapu. Jika ketahuan Pak Bambang bisa bisa gitarnya di ambil lagi seperti tahun sebelumnya
Suara ketukan sepatu mulai terdengar jelas dan tak lama seorang guru berdiri di depan pintu kelas mereka.
"Siapa yang ngajar kalian?," tanya Pak Bambang ketika berada di depan pintu.
"Bu Nur, Pak," sahut murid-murid polos dan serentak.
"Terus gurunya mana?,".
"Ga masuk Pak, tapi udah di kasih tugas. Ini kita lagi ngerjain," jawab Randy seraya menunjukkan buku tulisnya yang sudah berisi tulisan, mungkin saja itu catatan minggu lalu.
Pak Bambang hanya menganggukan kepalanya "Bagus, terus tadi kenapa kelas ini berisik sekali?,".
"Berisik darimana Pak? Kita dari tadi diem kok," sahut Paskal.
"Mungkin kelas sebelah Pak!," cerocos Dwi membuat Naya tersenyum tipis. Solidaritas teman sekelasnya ini sangat tinggi ternyata.
"Yasudah, Bapak permisi! Sekali lagi jangan berisik atau keluar kelas sebelum bel istirahat berbunyi!," ujar Pak Bambang memperingati lalu berjalan meninggalkan kelas tersebut.
Setelah di rasa aman, Paskal dan Dwi langsung tertawa seraya memukul meja. Mungkin mereka terlalu senang karna sudah mengibuli Pak Bambang. Tanpa menyadari bahwa Pak Bambang kembali memutar tubuhnya.
"Ehh stttt, dia balik b**o!!," ujar Iqbal memberitahu.
Dengan cepat Paskal dan Dwi mengambil pulpen mereka dan pura-pura menulis.
"Itu tadi siapa yang ketawa sambil mukul meja?!," tanya Pak Bambang dengan nada tinggi.
"Jangan main-main ya kalian sama saya?!," lanjutnya.
"Siapa juga yang mau main?," gumam Naya cukup kecil sehingga tidak dapat di dengar oleh Pak Bambang.
"Udah Pak, jangan marah-marah. Ntar jantungnya kambuh," sahut Dirky bercanda.
"Iya juga ya? Ya sudah saya pergi dulu," ujar Pak Bambang lalu pergi meninggalkan kelas.
"Bwahahahaha!," seketika tawa murid-murid 12 IPA 7 pecah.
Mengapa gampang sekali mengibuli guru tersebut? Tentu saja, karna umurnya yang sudah tua membuat murid-murid berani mengibulinya. Kurang ajar memang, tapi seru. Hehehe jangan di tiru ya gaisss!!!
✨✨✨
Setiap orang pasti mempunyai seseorang yang hanya bisa ia cintai dalam diam. Entah karna dia malu mengakui perasaannya atau mungkin orang yang ia cintai sudah memilik seseorang yang spesial di hidupnya.
Terkadang Naya berfikir, apakah Azzam memiliki perasaan yang sama dengannya atau Azzam hanya menganggapnya sebagai teman. Sikap dan perhatian yang Azzam berikan kepada Naya cukup menjadi bukti bahwa mungkin Azzam juga memiliki perasaan yang sama dengan Naya.
Tapi Naya tidak mau terlalu berharap lebih, berharap lebih hanya membuatnya sakit jika harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.
"Gue baper sama dia, tapi gue ga mau terlalu berharap," lirih Naya menghela nafas.
Rooftop, saat ini Naya berada di tempat itu. Tempat dimana ia bisa mendapat ketenangan, bisa menghilangkan penat. Bahkan ia rela datang ke sekolah sebelum matahari terbit hanya untuk melihat sunrise. Begitu juga sebaliknya, ia rela pulang habis magrib hanya untuk melihat sunset. Meski ia harus memanjat pagar sekolah, karna jam 5 sore pagar sekolah mereka sudah ditutup.
Naya memasang earphone miliknya ke telinga, setelah itu ia menyalakan musik di ponselnya. Dan mendudukan tubuhnya di lantai, lalu memejamkan matanya.
Di sisi lain, Azzam menatap seorang gadis yang terbaring di lantai dengan earphone yang menempel di kedua telinganya. Gadis itu adalah Naya, gadis yang sedang tertidur layaknya gembel.
Saat pergi ke kantin tadi, Azzam tidak melihat keberadaan Naya. Saat ia pergi ke kelas pun ia tidak melihat Naya, dan itu membuatnya khawatir. Ia takut terjadi sesuatu buruk pada Naya. Ia sendiri pun tak tahu mengapa ia bisa merasakan hal tersebut.
Azzam berjongkok dan memperhatikan wajah Naya yang terlihat lebih manis ketika tertidur. Dengan cepat Azzam mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan wajah tidur Naya.
"b**o!," umpat Naya membuka matanya lalu mendudukan tubuhnya.
Tadinya ia sudah tertidur, tapi ketika merasakan ada cahaya kilat, ia terbangun. Tapi tidak membuka matanya, karna ia tak mau menggagalkan aksi seseorang yang memfotonya kini.
"Blits lo nyala dodol," omel Naya seraya mengucir asal rambutnya.
Azzam terkekeh, melihat wajah cemberut Naya membuatnya gemas seketika.
"Lo ngapain disini? Gue cariin kemana-mana ga ada," tanya Azzam seraya mendudukan tubuhnya di samping Naya.
"Ngantuk," jawab Naya singkat.
"Ngantuk?! Lo kan bisa tidur di kelas Nay!,".
"Kalo gue maunya disini emang kenapa?,".
"Gue khawatir!,".
Jantungnya Naya berdegup dua kali lebih cepat ketika mendengar jawaban Azzam. Ingin rasanya Naya menabok kepala Azzam karna sesuka hati membuatnya menjadi gugup seperti ini.
"Lebay," ujar Naya seraya meraup. wajah Azzam
"Kan lo temen gue, wajar dong gue khawatir,".
Sakit, itulah yang Naya rasakan kini. Setelah ia di terbangkan setinggi langit, di saat itu juga ia dijatuhkan kembali.
Jadi, Azzam hanya menganggapnya teman?
Naya tersenyum masam "Iya kita teman!," balasnya singkat, mungkin Naya terlalu berharap.
Naya memejamkan matanya, menahan airmatanya agar tidak mengalir, menahan semua rasa sakit yang terus menusuk hatinya.
"Lo ngantuk?," tanya Azzam melihat Naya yang memejamkan matanya.
Tanpa membuka mata Naya hanya mengangguk, tak mau mengeluarkan suara. Ia takut suara bergetar, dan itu membuat Azzam bertanya-tanya.
"Sini tidur!," Azzam menarik tubuh Naya mendekat dan meletakkan kepala Naya di pahanya, membiarkan Naya tertidur di pahanya.
Naya dengan sekuat tenaga menahan airmatanya, perlakuan Azzam cukup membuatnya senang dan sakit secara bersamaan. Di satu sisi ia senang dengan perlakuan manis yang Azzam berikan padanya, namun disisi lain ia sakit ketika mendengar Azzam hanya menganggapnya sebagai teman.
Oh come on, sadarlah Naya jangan terlalu banyak bermimpi. Kalian memang temenan, untuk apa ia harus menangis ketika mendengar pernyataan Azzam?
Naya menahan sesak di dadanya, berusaha memejamkan matanya untuk menahan airmata yang ingin menerobos keluar. Tidak, Azzam tidak boleh melihatnya menangis. Naya tak boleh menangis sekarang.
"Naya cantik, lo ga boleh nangis sekarang, Lo ga boleh lemah!!!," ucap Naya dalam hati untuk menguatkan dirinya sendirinya.
Naya semakin ingin menangis saat Azzam mengelus kepalanya penuh sayang. Mengapa Azzam melakukan ini semua? Merekka hanya teman, tak seharusnya seperti ini.
Naya bodoh!
Naya baperan!
Mengapa Naya berharap lebih pada Azzam?
"Azzam," panggil Naya pelan. Naya berusaha agar suara tak bergetar.
"Hm,"
"Merem sebentar bisa ga?," tanya Naya yang masih setia menutup wajahnya dengan tangan.
"Kenapa?," tanya Azzam bingung,
"Bentar aja Azzam," balas Naya dengan suara yang sedikit bergetar.
Azzam mengerutkan dahinya saat mendengar suara Naya yang seperti menahan tangis. Kemudian ia memejamkan matanya untuk menuruti permintaan Naya.
"Udah," ujar Azzam membuat Naya menurunkan tangannya dan membuka mata.
Pandangan Naya memburam karena airmata, Naya berkedip dan saat itu juga airmata Naya menetes. Dengan cepat Naya mengusap airmata yang mengalir di wajahnya. Naya menatap wajah Azzam dengan airmata yang kembali menggenang.
"Lo jahat Azzam," ujar Naya dalam hati lalu kembali menumpahkan airmatanya.
"Lo nangis Nay?," tanya Azzam mendengar isakan kecil dari bibir Naya.
Naya tak menjawab justru gadis itu menhapus airmatanya, menarik nafas panjang meskipun sedikit sesegukan. Naya kembali menutup wajahnya, berusahan untuk tenang. Naya berbicara dengan dirinya sendiri, Naya menenangkan dirinya sendiri. Naya merasa sesak dan sakit secara bersamaan di hatinya. Menangis tanpa suara itu benar-benar menyakitkan.
Azzam membuka matanya, menatap Naya yang masih menutup wajahnya.
"Nay, are you okay?," tanya Azzam khawatir.
"i'm okay," balas Naya pelan.
"Lo nangis?,"
"Diem Azzam gue mau tidur," ujar Naya membuat Azzam bungkam.
Azzam menutup mulunya sambil memperhatikan Naya. Pikirannya bercabang memikirkan penyebab mengapa Naya menangis, apa Azzam melakukan kesalahan? Apa tadi Azzam salah bicara?
"Lo kenapa Naya?," tanya Azzam dalam hatinya.
✨✨✨
Tbc
Thanks for read❤