-happyreading-
---
'Teman'
Satu kata itu terus menganggu pikiran Naya, kenapa dia merasa sesakit ini ketika mendengar kata teman? Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa, tapi tidak bagi Naya. Ya, hal biasa jika itu di katakan oleh teman biasa, tapi kali ini berbeda. Kata itu di lontarkan oleh Azzam, orang yang Naya cintai namun tak bisa Naya miliki.
Sebelumnya Naya tak pernah merasa sesakit ini, ingin rasanya berteriak pada Azzam bahwa orang yang ia cintai itu ialah Azzam. Tapi ia tak punya nyali untuk mengatakan itu, ia hanya bisa berteriak dalam hati dan berharap Azzam peka dengan perasaannya.
Brak!!
"PULPEN GUE MANA WOI?!!," Randy berteriak ketika melihat pulpennya yang sudah raib, padahal ia baru meninggalkannya beberapa detik.
"EH LO LIAT PULPEN GUE GA?!,".
"EH ITU PULPEN GUE BUKAN?!,".
"LU KAN YANG NGAMBIL PULPEN GUE?!,".
Brak!!
"Bisa diem gak sih?!," bentak Nabila memukul mejanya sedikit keras "Lo itu ketua kelas Randy, kasih contoh yang bener dong!," tegur Nabila dengan nada tinggi.
Naya mengangkat kepalanya dan mengambil pulpen miliknya di laci, ia melemperkan pulpen tersebut ke arah Randy dan langsung di tangkap dengan sangat gesit oleh Randy.
"Jangan berisik, yang lain belajar! Lo pake aja pulpen gue," tegur Naya setelah itu melihat buku bahasa inggris yang sedari tadi Nabila omeli.
Setidaknya, omelin Randy tadi menyadarkan Naya dari lamunannya.
"Pusing gue!," adu Nabila menatap Naya yang membaca buku dengan tebal 278 halaman itu.
"Pulpen lo?," Nabila memberikan pulpen miliknya pada Naya dan setelah itu memperhatikan Naya yang menulis sesuatu di buku tulisnya dengan tenang.
Randy terkekeh ketika melihat kertas yang menempel di pulpen Naya "Allah maha melihat," gumannya membaca kertas tersebut.
"Bi, liat deh!," ujar Randy seraya memperlihatkan pulpen Naya pada Abian.
"Kocak!," kekeh Abian menatap Naya yang menulis dengan serius.
Begitulah Naya, ketika sudah melakukan sesuatu selalu serius. Ketika ia mengerjakan tugas ia serius, mengerjakan pekerjaan rumah untuk membantu Bundanya juga serius, menganggap semua perhatian Azzam juga serius, eh,,,
"Astagfirullah!," Naya tersentak ketika melihat beberapa orang sudah mengelilingi mejanya.
"Open ga?," tanya Dwi pada Naya.
Naya terkekeh lalu menoyor kepala Dwi pelan.
"Kagak!," bukan Naya yang menjawab melainkan Nabila.
"Dih sirik bae!," sahut Dwi sewot.
"Berisik, hargain guru di depan!," omel Naya pada Nabila dan Dwi, kemudian ia menatap murid laki-laki yang menyalin jawabannya.
"Kalian udah?," tanya Naya menoleh ke belakang menatap Abel dan Bela bergantian.
"Belum," jawab Abel jujur.
Naya menganggukan kepalanya setelah itu mengeluarkan ponsel berwarna silver miliknya dan mengambil buku tulis yang di jadikan contekan oleh teman sekelasnya.
Ini yang orang-orang suka dari Naya, gadis itu tidak pelit. Naya mau memberikan contekan untuk teman-temannya, Naya juga dengan sukarela membantu teman temannya jika ada yang tidak mengerti materi.
"Pinjem bentar!," izin Naya lalu memoto tulisannya itu.
"Nih!," Naya memberikan ponsel miliknya pada Abel.
"Lo emang terbaik!," Abel mencubit pipi Naya lalu mengambil ponsel Naya.
Naya tersenyum tipis kemudian mengambil cover buku tulis yang sudah ia siapkan sebagai kipas dari tasnya. Ia merasa gerah karena di kelilingi oleh teman-temannya sekelasnya ini.
Di samping kanan ada Dirky dan Iqbal, di hadapannya ada Chandra, Dwi, dan Paskal. Di samping kirinya ada Nabila, dan Cika.
"Itu kalo buku gue ancur, abis lo pada!," tegur Naya ketika melihat bukunya di perebutkan.
"Lo pada tuh udah kelas 12, belajar dong yang bener!," ujar Naya menasehati.
"Kalo saat kaya gini gue masih bisa contekin kalian, tapi kalo ujian," Naya sengaja menggantung kalimatnya dan itu membuat ia ditatap "Jangan harap!," sambungnya terkekeh.
"YAHH KOK GITU?!," teriak Chandra memukul meja sedikit keras.
"Heh, itu kau yang di sana! Mau ku pijak batang leher kau?! Diam siket!," tegur Pak Ucok, guru bahasa inggris dengan logat medannya yang kental.
"Iya Pak," ujar Chandra cengengesan.
"Itu guru, ngajar kagak! Main hp iya!," gumam Iqbal pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku Naya.
"Nah iya," sahut Nabila pelan, takut kedengeran oleh Pak Ucok.
"Udah gitu, doi ngasih tugas tapi ga di jelasin," timpal Naya terkekeh.
"Makan gaji buta b*****t," Naya terkekeh mendengar ucapan Dwi yang terlihat kesal.
"Gibah teros!!," tegur Paskal yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi Abel.
Tapi yang di ucapkan Dwi tidak sepenuhnya salah. Pak Ucok memang seperti itu, iya masuk ke kelas hanya untuk mengabsen dan memberi tugas saja. Bahkan kadang tugas yang ia berikan pun tak di nilai. Jarang menjelaskan materi membuat murid harus berpikir keras. Saat ada yang bertanya pun, Pak Ucok hanya menyuruhnya membaca buku.
Padahal tak semua materi ada di dalam buku. Kalo pun ada, beberapa murid sedikit sulit memahaminya. Tapi sepertu itulah Pak Ucok yang tak bisa di bantah. Jadi, apakah di sekolah kalian ada guru seperti Pak Ucok? atau hanya ada di sekolah Naya saja?
"Cik, lo udah belom?," tanya Naya ketika melihat Cika yang tak mengeluarkan suara.
"Udah," jawab Cika menganggukan kepalanya.
"Ke kantin kuy, haus nih gue!," ajak Naya yang hanya di angguki oleh Cika.
"Gue ga di ajak?!," tanya Nabila merengek menatap Naya.
"Lo sama mereka aja nanti nyusul," jawab Nabila menunjuk Abel dan Bela yang masih menulis.
"Yaudah deh," sahut Nabila melanjutkan kegiatan menulisnya.
"Ntar kumpulin buku gue ya!," pesan Naya pada laki-laki yang masih menyalin jawabannya.
Lihatlah, bahkan Pak Ucok tak menegur perbuatan tak benar muridnya. Selagi tidak berisik, Pak Ucok tidak akan menegurnya. Guru itu hanya fokus dengan ponselnya, entah untuk apa.
"Ashiap!!," sahut Dwi mengangkat jempolnya.
Naya berdiri dari tempat duduknya, ia melihat sekeliling namun ia tak menemukan Azzam. Apa dia keluar kelas? Tapi, kenapa Azzam tidak memberitahu Naya? Naya memukul pelan kepalanya, kenapa juga Azzam harus memberitahunya? Toh ia hanya teman.
"Pak, izin ke toilet!," izin Naya berbohong pada Pak Ucok.
"Ya," jawab Pak Ucok singkat.
Setelah mendapat izin, Naya segera menarik tangan Cika dan berlari keluar kelas.
✨✨✨
"Nay, sini!," Cika menarik menyenggol lengan Naya yang sedari tadi bersenandung pelan.
"Apaan?," tanya Naya seraya mencabut salah satu earphone yang menempel di telinganya.
"NAY WOY!!," Naya menoleh ke asal suara yang memanggil namanya.
"Bentar, gue beli minum dulu," teriak Naya pada Abian seraya berjalan ke salah satu kedai minuman.
Sesekali Naya melirik Azzam yang memainkan gitarnya asal, entah kenapa Naya merasa sedikit sedih ketika Azzam tidak menatapnya sama sekali. Padahal baru saja Azzam bersikap baik padanya. Membiarkan Naya tidur di paha lelaki itu.
"Om, es cincau satu ya," ujar Naya pada anak penjual es cincau yang terkekeh mendengar ucapan Naya.
"Gue masih 19 tahun anjir," sahutnya tak terima seraya membuatkan pesanan Naya.
"Yaelah Bang, becanda kok gue," ujar Naya terkekeh pelan.
"Lu mau kagak?," Cika menggeleng, lalu menunjukkan botol minuman yang ada di genggamannya.
"Bang, bagi es batu yang kecil-kecil dong!," pinta Naya seraya memasuki kedai tersebut.
Naya dan anak dari penjual ea cincau tersebut memang cukup akrab, jadi tak heran jika Naya berani melakukan hal tersebut.
"Buat apa?," tanya Vino, anak penjual es cincau tersebut.
Sebenarnya mereka sudah berkecukupan, namun karna Ibu Vino yang tidak bisa berdiam diri dirumah. Jadilah ia menyewa salah satu kios di kantin, hanya untuk menjual cincau agar ada pekerjaan. Dit ambah lagi, ayah Vino merupakan guru dan juga keluarga dari salah satu guru di sekolah ini.
"Buat nyemil," jawab Naya lalu menyengir.
Vino menggeleng pelan lalu mengambil cup dan mengisinya dengan es batu. Setelah itu ia memberikan cup tersebut pada Naya.
"Makasih,"
Naya memasukan satu es batu yang kecil ke mulutnya lalu menggigitnya seolah itu adalah keripik singkong kesukaan Bundanya.
"Ngilu gue dengernya," kata Vino seraya memberikan es cincau pesanan Naya.
"Enak tau," sahut Naya tak bergerak dari tempat duduknya.
Vino mengangguk lalu terkekeh pelan, setelah itu ia mengeluarkan ponselnya dan menatap Naya yang meminum es cincaunya.
"PUBG ga qi?," ajak Vino seraya mengangkat ponselnya.
"Gas lah!," Naya mengeluarkan ponselnya "Cik, duduk sini! Kalo lo bosen balik aja ke kelas ga papa kok," Cika mengangguk lalu duduk di hadapan Naya.
Setelah itu, Naya dan Vino sibuk mabar alias main bareng. Dan Cika memainkan ponselnya. Tanpa Naya sadari ada seseorang menatap mereka tak suka, ketika Naya tertawa bersama Vino.
Bel istirahat berbunyi 15 menit lagi, hal itulah yang membuag Vino masih bisa bersantai.
"Main miramar aja bang," ujar Naya membuat Vino berdecak.
"Livik aja udah, biar cepet."
"Tumben, biasanya ga suka main di Livik." gumam Naya.
"Bentar lagi istirahat, masa iya gue afk," balas Vino membuat Naya mengangguk paham.
"Yaudah gas aja,"
Seraya menunggu loading, Naya mendongak menatap Cika yang berdiam diri.
"Lo ke kelas aja deh Cik, ga enak gue ngacangin lo," ujar Naya membuat Cika tertawa.
"Santai aja sih Nay," balas Cika membuat Naya tak enak.
"Ga ada yang ngajakin lo ngobrol," ujar Naya.
"Santai, ntar kalo bosen gue ke kelas," ujar Cika di balas anggukan oleh Naya.
Naya mengambil ponselnya dan menunduk sambil memberikan mark di map.
"Turunn gronhus aja," ujar Naya di balas anggukan oleh Vino.
"Buset 3 squad Nay," ujar Vino terkejut.
"Gapapa, paling kita yang rata," balas Naya santai.
"s****n lo," balas Vino tertawa.
"Kalo ada sniper tandain ya,"
"Oke bos,"
Naya dan Vino asik bermain game hingga tak terasa bel istirahat sudah berbunyi.
"Anjir udah istirahat," ujar Vino.
"Gapapa, lu urusin aja dulu itu lo," ujar Naya menyuruh Vino mengurus murid murid yang ingin jajan.
"Lo gapapa?," tanya Vino ragu.
"Iye, orang sisa 2 orang lagi." balas Naya.
Vino mengangguk lalu meletakan ponselnya di meja dan melayani murid murid yang ingin jajan. Vino membantu sang ibu membuat minuman.
Naya meletakan ponselnya ke meja setelah berhasil meratakan musuh.
"Jagonya gue lemahnya musuh," ujar Naya meregangkan jarinya.
"Chiken Nay?," tanya Vino.
"Iya dong," balas Naya sombong sambil melihatkan ponselnya pada Vino.
"a***y jago," puji Vino membuat Naya tertawa.
"Hoki itu mah,"
Naya berdiri lalu melihat meja yang biasa di duduki teman-temannya.
"Ke tempat anak anak yu Cik," ajak Naya pada Cika yang tengah scroll t****k.
"Yu!,"
"Bang gue ke tempat temen gue dulu ya, thank you!," pamit Naya lalu berjalan ke meja teman temannya.
"Abis ngapain lo di sana?," tanya Abian menatap Naya curiga.
"Mabar," balas Naya jujur.
"Jangan jangan cowo yang di taksir si Naya abang abang yang jual es cincau," ujar Randy.
"Ngaco lo," balas Naya duduk di samping Nabila.
"Ya lo kan sering beli cincau di dia Nay," sahut Abian.
"Gue sering beli karna enak anjir,"
Azzam hanya diam mendengar perdebatan teman-temannya. Setidaknya Azzam percaya bahwa Naya tak menyukai abang abang penjual es cincau itu karena Naya menyukai cowo berinisial A. Sedangkan abang abang penjual es cincau itu berinisial V.
"Terus lo naksir sama siapa?," tanya Abel menimbring perdebatan Naya dan Abian.
"Apaan sih, lo pada tau darimana kalo gue naksir cowo? sotoy banget," elak Naya.
"Lah terus lo ngapain nanya Cika," tanya Randy menantang.
"Lo ngomong apa ke mereka anjir?," tanya Naya pada Cika.
"Pertanyaan lo kemaren," balas Cika jujur.
"Ohhhh, itu kan gue cuma nanya. Emang ga boleh apa?," tanya Naya di balas gelengan dari Bela.
"Lo ga mungkin tiba tiba nanya kaya gitu kalo lo ga ngalamin," ujar Bela membuat Naya tersudut.
"Lo gitu ya Nay sekarang, mainnya rahasia rahasiaan," ujar Bela dramatis.
"Apaansi gaisss, gue cuma nanya doang asli da ga boong," ujar Naya berusaha meyakinkan teman-temannya.
"Ga percaya gue mah," sahut Abian.
"Lo tuh ya!!," Naya menunjuk Abian dengan raut kesal.
"Apa?," tantang Abian.
"Gue ga ngurus lo mau percaya apa kaga, ga penting!!," balas Naya sewot.
"Naya kayanya naksir sama Azzam ga si? terus Azzam malah naksir cewe lain?," timbrung Abel membuat Naya melotot kaget.
"Lo ngomong apaan anjir? Ngaco banget," ujar Naya terkejut.
"Ya kan cuma nebak," balas Bela santai.
"Tapi bisa jadi sih. Soalnya Naya kan sering bareng sama Azzam," sahut Randy.
"Ya kan temen, gue sama Bila juga tiap hari bareng." elak Naya.
"Temen apaan sampe gendong gendongan di lapangan," cerca Abian membuat Naya terdiam sebentar.
"Ya itukan si Azzam cuma niat baik aja biar gue ga cape. Iya ga Zam?," tanya Naya pada Azzam.
Azzam menggedikan bahu.
"Tuhkan Azzamnya ga ngejawab," ujar Bela membuat Naya semakin gugup.
"Apaan sih ahh, Bil masa gue di sudutin mulu!!," adu Naya mencari pembelaan pada Nabila.
"Udah elah, Naya mau naksir sama siapa aja itu privacy dia. Kita ga usah ikut campur. Toh juga nanti dia bakal cerita kalo udah siap," ujar Nabila membuat Naya sedikit lega.
"Pesen makan anjir, gue laper." ujar Randy menarik Abian dan Azzam untuk memesan makanan.
"Kaya biasanya kan?," tanya Randy pada teman temannya.
"Iya,"
Akhirnya ketiga cowo itu berdiri dan memesan makanan untuk tuan putri mereka.
Naya mengelus dadanya dan menghela nafas lega. Hampir saja...
✨✨✨
Tbc
Thanks for read❤