Agni - 9

2086 Kata
Seorang laki-laki remaja menghela nafasnya kesal ketika tidurnya terganggu akibat lapar yang melanda. Dengan malas, Araka bangkit dari kasurnya sambil mengacak-ngacak rambutnya. Sulit juga punya kebiasaan seperti ini. Tidak dituruti keinginan perutnya maka siap-siap saja dirinya akan terjaga sepanjang malam. Baru saja hendak menuruni tangga, tiba-tiba langkah kaki Araka terhenti ketika mendengar sesuatu. Pendengarnya ia pertajam takut salah mendengar, namun tanpa perlu mempertajam pendengarannya, suara itu malah semakin lebih keras. Sialan! “Akhh...” “Nghhh..” “Oh s**t, where we go again!” umpatnya ketika mendengar sesuatu yang harusnya tak ia dengar. Araka merasa malu sekarang. Tunggu, kenapa harus ia yang malu? Harusnya Ayahnya itu yang malu karena melakukan itu disaat ia hendak ke dapur! Baru saja Araka hendak memutar langkahnya kembali menuju kamar, pintu kamar yang berada disamping kamar orang tuanya terbuka. Abian muncul dengan wajah mengerinyit aneh. Anak lelaki itu nampaknya tak menyadari suara-suara yang muncul dari kamar Abimanyu dan Agni. Dan, apa!? Abian malah ingin membuka pintu itu. Tidak! Anak laki-laki itu masih berusia dua belas tahun. Masih mudah. Kasian jika melihat hal itu. Dengan cepat Araka menarik tangan Abian menuju kamarnya yang berada diujung. Di lantai dua ini ada empat kamar, satu kamar paling ujung milik Abian disebelahnya kamar milik Agni dan Abimanyu lalu kamar Kadaffi dan terakhir kamar Araka. “Lho, lho kenapa Kak?” Abian bertanya ketika dirinya selesai ditarik dan sampai di kamar Araka. “Lo enggak dengar suara itu?” tanya balik Araka dengan ekspresi melotot. Abian menggeleng polos, anak laki-laki itu kemudian mengerinyit disusul sedawa kecil dari mulutnya. “Lo kenapa?” tanya Araka melihat gelagat aneh Abain. “Enggak tahu, Kak. Perut Bian kembung, mau pup tapi enggak bisa. Terus mau muntah juga, kayaknya Bian masuk angin.” Anak itu kembali mengerinyit sambil menepuk-nepuk perutnya yang kembung. Padahal Abian yakin bahwa selama ikut keluar bersama Abimanyu tadi jaketnya terpakai dengan baik. Ah, anak laki-laki itu melupakan bahwa saat perjalanan pulang jendela mobil terbuka dengan lebar. “Tunggu,” perintah Araka. Lelaki itu kemudian berbalik menuju meja belajarnya kemudian mengambil sesuatu dari sana. “Nih, pake!” Araka kemudian melempar sebuah botol kecil berwarna hijau dengan cairan bening didalamnya. Minyak kayu putih. “Makasih, Kak.” Abian sudah hendak menarik setengah bajunya bermaksud untuk mengoleskan minyak itu ke atas perutnya.  “Tunggu, makenya di kamar lo aja!” usir Araka. “Terus jangan ke kamar mereka,” perintahnya lagi membuat Abian menggeleng. “Pakenya disini aja biar nanti langsung dibalikin,” ujar anak itu membuat Araka mendengus. Namun tetap membiarkan Abian duduk diatas kasurnya dan mengoleskan ke perutnya yang nampak kembung. Saat hendak mengoleskan ke bagian belakang punggungnya. Abian nampak kesusahan karena tak sampai, ia kemudian menatap Araka yang berdiri tegak dihadapannya dengan tangan terlipat. “Kenapa?” tanya Araka ketus. Ia sebenarnya tau arti tatapan itu namun lagi-lagi itu bukan urusannya. Masuk anginnya Abian bukan karenanya. Jadi untuk apa harus membantu? “Enggak.” Abian menggeleng polos, tahu sekali dengan tatapan Araka. Kakaknya itu tidak ingin menolongnya, sungguh bukan anak yang baik! Araka memutar bola matanya malas ketika melihat Abian begerak-gerak terus  diatas kasurnya membuat berantakan belum lagi dengan tumpahan cairan minyak kayu putih itu kemana-kemana. “Sini gue tolong terus lo pergi dari sini!” Abian tersenyum lalu dengan cepat memberikan minyak kayu putihnya, ia juga menggulung bajunya ke atas dan memegaganginya sehingga Araka bisa mudah mengoleskan minyak itu. Plakk! Plakk! Plak! “Awwh!” Abian mengaduh kesakitan. Sebenarnya kata mengoleskan tidak cocok untuk Araka yang seperti menepuk-nepuk punggungnya. “Sakit, Kak,” rintih Abian pelan membuat Araka yang mendengarnya menjadi iba. Anak laki-laki itu kemudian benar-benar mengoleskan minyak kayu putih itu. “Makasih kak!” Abian menurunkan bajunya lalu tersenyum lebar ke arah Araka yang dibalas tatapan datar, tanpa ekspresi. “Keluar,” perintah Araka lagi. Ia nampaknya tak begitu suka berlama-lama dengan Abian. Bocah dua belas tahun itu kemudian mengangguk, padahal ia ingin sekali mengobrol sebentar dengan Araka. Tidaknya itu akan membuat mereka menjadi lebih dekat. Abian juga ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki Kakak. “Tunggu, buat lo aja!” Araka melemparkan minyak kayu putih itu kepada Abian yang berada di pintu kamar kakak tirinya itu. “Makasih Kak Raka!” seru Abian lagi sambil tersenyum lebar. Anak itu kemudian munutup pintu kamar kakaknya dengan perlahan. “Sama-sama.” ———— “Daffi, sayang, bangun, yuk?” Agni mengusap surai Kadaffi perlahan, bukannya terganggu anak laki-laki berusia lima tahun itu malah semakin terbuai dengan usapannya. Wanita itu terkekeh, gemas melihat wajah tenang Kadaffi ketika tidur. Percobaan terakhir, Agni menciumi setiap inci wajah anaknya hingga membuatnya tertawa dan terbangun. “Kkkkk—- geli Ibuu.”  “Assalamualaikum anak Ibu,” sapa Agni kala Kadaffi membuka kelopak matanya dengan tersenyum. “Walaikumsalam Ibunya Daffi!” balas anak itu mencium pipi Agni. “Bangun, yuk? Ibu udah bikin sarapan buat Daffi,” ujar Agni sambil menjulurkan tangannya untuk membantu anak itu berdiri. Kadaffi menyambutnya dengan bersemangat. Lalu setelah bangun dari tidurnya, anak itu mendekat ke arah Agni yang duduk dikasurnya dan memeluknya. Salah satu aktivitas pagi yang sangat Kadaffi sukai. Anak itu bisa merasakan hangatnya kasih sayang yang Agni berikan. Menghirup aroma ibu tirinya itu yang membuatnya tenang. Semenjak ada Agni, anak itu merasakan hidupnya menjadi lebih bewarna. Ada seseorang yang bisa ia mintai tolong selain Ayah dan Kaka Raka. Ada seseorang yang memeluk dan menciuminya. Ada seseorang yang bisa panggil Ibu. “Ibuk udah mandi ya?” tanya Kadaffi sambil mengambil sejumpun rambut Agni yang masih basah. Ia masih memeluk ibunya dengan posisi menyamping. Tiba-tiba pipi Agni bersemu merah, ia menjadi teringat dengan malam panas yang ia lakukan bersama Abimanyu malam tadi. Laki-laki itu benar-benar membuat Agni jatuh terpesona. Ucapan lembutnya yang membuatnya merasa terbang ke langit ketujuh. Perlakuannya sungguh perlahan dan manis seolah dirinya adalah vas yang bisa hancur jika disentuh kuat-kuat. Astaga! Padahal Kadaffi hanya bertanya apakah ia sudah mandi atau belum tapi kenapa Agni malah berpikir yang tidak-tidak?! Jawabannya hanya Iya dan tidak. “Iya, Ibuk udah mandi. Sekarang giliran Daffi yang mandi, oke?” tanya Agni sambil menjawil hidung kecil Kadaffi. “Oke siapp!” seru Kadaffi sambil berlari menuju kamar mandinya. Agni geleng-geleng kepala, sangking bersemangatnya anak itu sampai melupakan handuk miliknya. Wanita itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan mengambil handuk milik anaknya. Hal yang paling Agni takutkan adalah ketika Kadaffi keluar kamar dengan tubuh yang masih basah. Bukan lantai atau karpet yang menjadi kotor Agni keluhkan. Namun, tetesan air yang telah jatuh di lantai itu bisa membuat Kadaffi terpeleset. Membayangkannya saja Agni tak sanggup. “Handunya udah Ibu letak ditempatnya ya, nak!” “Makasih Ibuu!” Agni kemudian keluar dari kamar Kadaffi. Sebelum turun kebawah, ia kembali mengabsen kegiatannya. Pertama, ia sudah memastikan bahwa Abimanyu sudah masuk kamar mandi walau lelaki itu tak mengatakan apapun. Kedua, Agni sudah membangunkan Araka dengan mengetuk pintu kamarnya yang terkunci dan mendengar sahutan “Udah bangun!” Dengan nada ketus membuat Agni lega. Ketiga, Abian sudah bangun. Anaknya itu tidak kembali tidur setelah melakukan sholat subuh. Keempat, Kadaffi sudah bangun dan sekarang tengah mandi.  Sekarang tugasnya hanya menyiapkan sarapan. Agni menuruni tangga dengan perlahan, wanita itu masih merasakan sakit pada bagian intinya. Ia benar-benar dihajar habis-habisan oleh Abimanyu. Pria itu membuatnya bisa tertidur ketika pukul dua pagi. Astaga! Namun, Agni masih mampu untuk menahan rasa sakitnya. Ia kemudian mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat sarapan. Rencananya ia akan membuat sandwich tuna. Agni belajar dari kesalahannya yang pertama, wanita itu baru paham ketika Ia bertanya apakah nasi boleh dimakan saat sarapan pada Ibu-ibu komplek. Sebagian ibu-ibu menjawabnya dengan baik, apalagi Arista. Wanita yang merupakan Mama dari teman dekat Araka itu bahkan membantunya membuat beberapa masakan simple untuk sarapan. Yah, walaupun ada beberapa ibu-ibu juga yang terang-terangan mengatakan bahwa Abimanyu sial mendapatkan isteri yang tidak tahu apa-apa sepertinya. Agni tersenyum lebar ketika sarapan yang ia buat telah terhidang. Ia juga menambahkan roti tawar jikalau ada yang tak berselera memakan sandwich buatannya. Agni berusah untuk tidak kecewa ketika masakannya tak enak atau tidak dimakan. Ia harus menerimanya dan menjadikannya pelajaran. Bertepatan dengan itu, Abimanyu turun dari lantai atas dengan pakaian rapi dan lengkap. Pria itu juga membawa tas kantornya. Agni menyambut suaminya itu dengan senyuman secerah matahari namun yang ia dapat malah tatapan datar yang seperti tak ingin diganggu. “Mas, mau dibuatkan apa? Kopi atau teh? Aku juga udah buatin sandwich tuna, Mas mau makan sekarang atau tunggu ana—-“ “Saya sarapan di kantor.” Nampaknya Agni salah mendengar, ia malah mendengar Abimanyu ingin sarapan di kantor. “Teh atau kopi, Mas? Biar aku bua—-“ “Saya makan di kantor Agni! Perlu berapa kali saya katakan!” Senyuman dibibir Agni tiba-tiba menghilang ketika mendengar nada tinggi yang dikeluarkan Abimanyu. Batin wanita itu tiba-tiba terasa sesak mana kala melihat tatapan itu berubah menjadi tajam. Dimana tatapan lembut yang pria itu berikan semalam? Dimana kata-kata halus nan manis yang diucapkan Abimanyu semalam? Ah, Agni harusnya sadar diri. Bahwa semalam Abimanyi bisa selembut itu padanya karena nafsu. Dan, sekarang, seperti inilah sifat Abimanyu yang Agni kenal. “Mas mau dibawain bekal? Aku pengen sekali Mas mau mencoba sandwich buatan aku.” “Tidak perlu.” Dingin Abimanyu. Lelaki itu mengatakan semuanya tanpa melihat Agni. Karena ia yakin dirinya tak akan sanggup jika melihat wanita itu. “Anak-anak akan diantar oleh suruhan saya.” “Mas!” seru Agni ketika Abimanyu sudah hendak melangkah. Wanita itu berjalan tergopoh-gopoh ke arah suaminya.  Detik berikutnya, Abimanyu dibuat tercengang ketika Agni menarik tangannya dan menciumnya. “Hati-hati, Mas! Kami menunggu Mas pulang!” Agni memberikan senyum manisnya. Tapi, pria itu malah mengabaiknya dan melangkah dengan dinginnya. Agni tak tahu harus mengatakan apa, sakit? Jelas sekali. Namun, ia bisa apa? Sekali lagi ia hanya orang beruntung yang bisa bersama Abimanyu. Tentang malam tadi, apakah Agni menyesal? Tidak. Ia sama sekali tidak menyesal. Itu sudah tugasnya sebagai seorang isteri melayani suami. Tapi, jika ditanya apakah Abimanyu menyesal? Agni tidak tahu. Tapi, mungkin bisa saja. “Ibuuu!” “Iya, nak?” Agni membalikan badannya dan berjalan cepat menuju dapur. Jangan sampai anak-anak tahu bahwa ia telah mengeluarkan air mata sepagi ini. “Ibu kenapa?” Abian itu anak yang peka. Ia tahu bahwa Agni sedang tidak baik-baik saja. Sebenarnya, Araka juga menyadari namun ia tak ingin terlihat peduli. Ini pasti masalah dengan Ayahnya. “Oh, Ibu enggak apa-apa, sayang.” Agni mengusap wajah khawatir Abian. Untung ia segera sempat menghapus air matanya. “Abian duduk ya, sarapan dulu.”  “Ibu enggak ikut? Ayah mana, Buk?” tanya Abian sambil mencari Abimanyu. Agni meremas daster yang pakai, mendengar Abian memanggil Abimanyu dengan Ayah. Hatinya kembali teriris. Anaknya sudah sangat bahagia dengan kehadiran Abimanyu. “Ayah udah deluan, nanti kalian diantar sama sopir ayah.” ———- Abimanyu tidak tahu dimana dirinya sekarang. Namun, ia merasa asing dengan tempat seterang ini. Hanya ada dirinya disini. Ia sudah berjalan kemana-mana, namun tak menemukan siapa-siapa. “Araka?!” “Kadaffi!” “Abian!?” “Agni—“ Abimanyu membulatkan matanya ketika ia  belum selesai berteriak memanggil Agni. Seorang wanita yang sangat ia rindukan tiba-tiba muncul diujung sana. Wanita itu sangat cantik dengan gaun putih dengan rambut hitam gelombangnya. “Me—melisa?” Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk benar-benar sadar bahwa wanita itu adalah isterinya. Wanita yang ia cintai.  “Kamu masih hidup sayang?” Abimanyu hendak mendekat ke arah Melisa yang berada cukup jauh darinya. Wanita itu juga berjalan menujunya dengan lambat. Namun langkah kaki Abimanyu melambat ketika semakin dekat dengan isterinya. Tatapan itu? Wajah itu? Kenapa menyiratkan sebuah kesakitan? Kenapa Melisa terlihat begitu bersedih? “Melisa!” Abimanyu terbangun dari tidurnya—atau lebih tepatnya memaksa untuk bangun hingga lelaki itu kini terduduk diatas kasurnya. Suasana kamar sepi, nampaknya hanya dirinya yang berada disini. Lelaki itu menundukan kepalanya, mengusap wajahnya kasar. Mimpi itu, apa artinya?! Abimanyu benar-benar tidak tahu apa maksud dari mimpi itu! Setelah sekian lama ia mengharapkan Melisa mampir kedalam mimpinya, akhirnya keinginannya itu terwujud. Namun, kenapa bukan wajah bahagia dan senyum manisnya yang Abimanyu lihat? Apa Melisa tahu bahwa ia sudah menikah lagi? Apa Melisa merasa tersakiti? Iya! Pasti wanita itu merasa terkhiati olehnya. Apalagi semalam, ia telah melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh suami yang mencintai isterinya. Ia telah menyentuh Agni. Abimanyu tak menyalahkan Agni. Wanita itu tak bersalah. Ia yang bidab telah menyentuh wanita yang sudah menjadi isterinya itu! Padahal ia sudah menahan semua itu semenjak kepergian isterinya namun dengan kehadiran Agni di rumah ini. Abimanyu tak bisa menahannya. Lelaki itu butuh air dingin untuk menyegarkan kepalanya. Abimanyu akhirnya masuk ke kamar mandi dengan tak bersemangat. Pria itu mengenakan pakaiannya cepat dan mengambil tas kantornya.  Saat ia menuruni tangga, senyum lebar Agni menyambutnya. Wanita itu nampak bahagia. Wajahnya berseri. Agni nampak begitu cantik. “Mas, mau dibuatkan apa? Kopi atau teh? Aku juga udah buatin sandwich tuna, Mas mau makan sekarang atau tunggu ana—-“ “Saya sarapan di kantor.” Abimanyu seharusnya tak menjawab pertanyaan itu dengan nada datarnya. Namun, ia tak tahu harus mengatakan apa.  Nyatanya, ia belum bisa melupakan Melisa. Dan, Abimanyu yakin, Agni pasti merasa bahwa ia mulai mencintainya dengan kejadian intim semalam. “Teh atau kopi, Mas? Biar aku bua—-“ “Saya makan di kantor Agni! Perlu berapa kali saya katakan!” Abimanyu tidak tahu kenapa Agni terus berjuang disini? Kenapa wanita itu ingin sekali dicintainya? Senyuman dibibir Agni tiba-tiba menghilang dan Abimanyu melihatnya. Hanya sekilas, sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.  “Mas mau dibawain bekal? Aku pengen sekali Mas mau mencoba sandwich buatan aku.” “Tidak perlu,” ujarnya dingin. Lelaki itu kemudian berdehem. “Anak-anak akan diantar oleh suruhan saya.” “Mas!” seru Isterinya ketika ia hendak meninggalkan rumah. Wanita itu berjalan dengan tertatih menujunya, membuat Abimanyu mengerinyikan dahinya. Apa ia terlalu kasar pada wanita itu semalam? Abimanyu dibuat tercengang ketika Agni menarik tangannya dan menciumnya. “Hati-hati, Mas! Kami menunggu Mas pulang!” Agni memberikan senyum manisnya. Namun, ia malah mengabaikan senyum itu dan melangkah menjauhi Agni. Abimanyu masih belum bisa melupakan Melisa dan tak ingin membuat Agni terlalu berharap padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN