Agni - 8

2013 Kata
Saat isterinya meninggal, Abimanyu merasa bahwa seluruh jiwanya ikut mati terkubur bersama jasad isterinya. Seperti tak ada lagi yang tersisa untuknya kembali melanjutkan hidup, ia benar-benar buta saat itu. Pria itu menjalani hari-harinya seperti mayat hidup yang saat meninggal dihukum untuk terus bekerja. Pagi, siang, malam, semuanya untuk bekerja. Jika tak punya apapun yang lagi yang ingin dikerjakan, maka ia memilih untuk bertemu dengan isterinya. Sebuah nisan yang terukur cantik nama Melisa. Isterinya. Awalnya, semua keluarga menganggap itu sebuah kewajaran karena Abimanyu begitu bersedih kehilangan kekasih tercintannya. Namun, lama-lama, semua menjadi geram dengan tingkah Abimanyu yang ikut mengabaikan anak-anaknya. Termasuk, Kadaffi yang saat itu masih berupa bayi merah. Araka, anak sulungnya masuk rumah sakit karena sistem pencernaannya terganggu. Anak tengahnya dibawa sang mertua ke luar negeri dan anak bungusnya, Kadaffi, belum sama sekali ia sentuh hingga makam milik isterinya mengering. Rasanya itu menjadi alasan yang cukup untuk membuat seorang Kafeel Bimasena—Ayah Kandung Abimanyu untuk menghajar anaknya. Mengingatkan bahwa yang ia lakukan sudah kelewat batas. Bersedih juga ada batasannya. Abimanyu masih belum mau untuk bangkit, ia masih terus terpuruk dalam lukanya. Walau lukanya terus bertambah karena Ayahnya. Tapi, ketika ia bertemu dengan Pedagang Asongan yang tengah menawarkan minuman kepadanya, Abimanyu tersadar mana kala ia menceritakan masalahnya. Kata-kata yang membuat ia bangkit dan sedikit mengikhlaskan masa lalunya. “Mas boleh bersedih karena mungkin hanya diri Mas yang tahu sakitnya. Tapi, jika terus menerus bersedih yang sudah tenang disana jadi tak tenang karena Mas belum merelakannya. Ikhlaskan, Mas, bukan dilepaskan.” Benar. Hanya Abimanyu yang tahu rasa sakitnya. Tapi, bukan berarti hanya Abimanyu yang merasakan sakit. Mereka. Orang tua Melisa, Papa dan Mamanya yang kehilanan menantu. Dan, jangan lupakan anak-anaknya yang kebilangan Ibu mereka. Semua merasakan sakit yang sama. Ketika ia mengetahui Ayah kandung dari Abian meninggalkan karena kecelakaan. Ia bisa merasakan hal yang sama. Rasa kehilangan yang masih belum direlakan sepenuhnya. “Abian.” “Iya, yah?” “Udah sampai, mau turun?” tanya Abimanyu ketika telah memarkirkan mobilnya. Abian menoleh ke arah jendela, deretan gerobak dengan tenda berbaris rapi di pinggir jalan. “Turun temanin Ayah, yuk?” ajak pria itu sambil membuka pintu mobil lebih dulu. Abian mengangguk, tak mungkin ia hanya berada di mobil saja. Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu merapatkan jaketnya lebih dulu sebelum turun dari mobil.  Ketika Abian turun dari mobil itu, Abimanyu sudah berada disampingnya. Bola mata Abian seketika membulat ketika Abimanyu mendekapnya dan menepuk bahunya beberapa kali. “Abian anak kuat ya,” kata Ayahnya itu tiba-tiba. Perasaan Abian tiba-tiba menghangat, tepukan di bahunya dan ucapan Abimanyu seolah menjadi matahari di hari yang mendung. Anak lelaki itu memamerkan senyumnya. Abimanyu yang  diam-diam melirik Abian ikut tersenyum. “Abian mau apa?”  Abian melemparkan pandangannya ke arah sekelilingnya. Deratan gerobak dengan warna yang berbeda membuat pinggir jalan disini menjadi terlihat keren. Namun, setelah membaca satu persatu tulisan makanan yang dijual tapi tidak ada satu pun yang membuatnya berselera. Jangan lupakab bahwa ia telah makan malam. Ia sudah kenyang memakan masakan terenak sedunia, masakan ibunya. “Enggak ada, yah. Udah kenyang. Beliin Kak Raka sama Kadaffi aja.” Abimanyu mengangguk namun sedetik kemudian ia berpikir. Jika ia membeli sesuatu dari sini, siapa yang akan memakan? Araka sudah pasti tidak ingin makan lagi karena habis mengeluarkan isi perutnya sedangkan Kadaffi, bocah itu pasti sudah tertidur sekarang. Lalu Agni? Pria itu tidak tahu makanan kesukaan Agni. Namun, melihat jam yang kini menunjukan pukul sepuluh malam, ia menjadi ragu untuk memberikannya. Bukankan setiap wanita menghindari makan terlalu malam agar berat badannya tak bertambah? “Ibu suka apa, Bian?” tanya Abimanyu akhirnya. Di makan atau tidak, ia sudah membelikannya untuk Agni. “Ibu suka martabak telor.” Abimanyu mengeluarkan dompetnya, memberikan beberapa lembar uang bewarna merah pada anak itu membuat kening Abian berkerut. “Bian tolong beliin martabaknya ya. Ayah mau beli bandrek dulu.” Untuk menghemat waktu, Abimanyu minta bantuan Abian untul membeli makanan kesukaan Agni. “Tapi... beli berapa, Yah? Satu gerobak?” tanya anak itu kaget ketika menghitung uang yang diserahkan Abimanyu. Totalnya ada sepulun lembar uang bewarna merah, jadi satu juta rupiah. “Beliin dua aja, sisanya simpan untuk buat jajan besok.” Lagi-lagi Abian membulatkan matanya, harga martabak telor itu paling tidak dua puluh hingga tiga puluh ribuan. Jika hanya beli dua bungkus, sisanya masih akan sangat banyak. “Ini banyak banget, yah.” Abian sampai gemetar memegang uang yang diberikan Ayahnya. Seumur-umur ia hidup, ia hanya pernah memegang uang seratus ribu dan itu pun untuk membeli buku di sekolah saat Agni sedang ada urusan sehinggak tak bisa membelikannya. Hal itu membuat Abian tak tenang membawa uang didalam tasnya, walaupun sudah ia masukan ke sampul buku. “Besok Ayah tambahin lagi,” ujar Abimanyu yang sepertinya tak mendengar perkataan Abian. Pria dewasa itu memutar tubuh anak tirinya dan menepuk pantatnya agar segera membelikan martabak untuk Agni. Hari sudah semakim malam dan suasana semakin dingin. “Pak, bandreknya satu.” “Wah, Pak Abi. Udah lama engga kesini.” Penjual Bandrek yang merupakan Bapak-bapak paruh baya itu tersenyum ketika melihat salah satu pelanggan tetapnya dulu kembali mampir.  Abimanyu ikut tersenyum, sudah lama ia tak mampir ke salah satu tempat yang sering dirinya dan Melisa kunjungi diakhir pekan. “Bandreknya ekstra jahe, Pak Abi?” “Iya, Pak.” “Wah, mau tempur, toh!” Pria paruh bayah yang sedang membuat bandrek itu terkekeh. Sedangkan Abimanyu, tersenyum malu ketika para pengunjung melihat ke arahnya.  “Ini, Pak. Lima belas ribu.” “Makasih, Pak.” Bertepatan Abimanyu keluar dari tenda penjual Bandrek, Abian menghampirinya dengan membawa bungkusan yang pasti berisi martabak. “Lho, cepet?” “Iya, yah. Lagi sepi.” Abimanyu kemudian menggandeng Abian untuk menyebrang, kebetulan mereka parkir di sebrang sana. Pria dewasa itu membuka bungkus bandreknya, untung wadah yang digunakan berupa gelas plastik sehingga Abimanyu bisa meminumnya langsung dengan sedotan. “Itu bandrek, yah?” Abimanyu menoleh, ia meneguk minumannya sebelum menjawab pertanyaan anaknya. “Iya, Bian mau?”  Abian menggeleng, ia tak suka minuman Bandrek. Menurutnya minuman itu aneh, rasanya sedikit pedas karena terdapat jahe didalamnya. Bukankah minuman itu seharusnya menghilangkan pedas, bukan membuat pedas? “Ayah memang mau ngapain? Pake minum bandrek?” Abimanyu hampir saja memuncratkan isi mulutnya ketika mendengar pertanyaan ambigu dari Abian. Namun, dengan cepat lelaki itu meneguk minumnya dan bernafas lega. “Ayah lagi ke pengen aja.” Tidak mungkinkan Abimanyu mengatakan bahwa ia membeli minuman itu sebagai peningkat stamina? Ia bisa mengotori otak suci milik anaknya jika mengatakan itu. Lelaki dewasa itu merasa kurang percaya diri dengan dirinya yang sekarang. Umurnya sudah hampir kepala empat, mungkin tenaga akan akan sanggup lagi. Astaga. Ia sudah melantur kemana-mana. Mobil yang mereka kendarai akhirnya telah sampai di garasi rumah. Abian turun sambil menguap, anak lelaki itu nampaknya sudah sangat mengantuk. “Bian, jangan lupa cucu tangan sama kaki ya. Jangan lupa berdoa juga.” Abian mengangguk. “Bian tidur, yah!” Abimanyu mengangguk ketika anak tirinya naik ke lantai atas sedangkan dirinya pergi ke dapur sebentar untuk meletakan bungkus martabak dan juga ia membutuhkan segelas air putih. Gelas kosong itu ia letakan di bak wastafel, Abimanyu menghela nafasnya panjang sebelum masuk ke dalam kamar. Astaga! Ia seperti seorang perjaka saja. Ketika Abi membuka pintu dengan detak jantung berdetak, lelaki itu mengerutkan dahinya ketika melihat suasana kamar yang sunyi dan gelap. Perasaan berdebar-debar itu lenyap seketika, tergantikan dengan rasa kecewa saat melihat Agni tidur dengan selimut menutupi hingga ke leher. Wanita itu juga membalikan tubuhnya. Abimanyu tak mungkin membangunkan Agni. Wanita itu pasti tidak siap— atau lebih tepatnya enggan. Yah. Memang siapa wanita yang ingin melakukan itu ketika sang suaminya sendiri mengatakan bahwa ia tak akan mencintainya? Ia memang belum mencintai Agni dan ia juga tak mungkin bisa melupakan Melisa. Ia egois. Dia benar-benar lelaki tak tahu diri. “Maaf,” ujarnya pelan tepat di telinga Agni. Nampaknya Abimanyu harus mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Bagian bawah tubuhnya sudah bangun dan belum lagi sekarang suhu tubuhnya meningkat membuatnya berkeringat. “Mas...” Baru saja Abimanyu hendak beranjak dari kasur mereka. Agni membalikan tubuhnya dan menghadap ke arah Abimanyu yang kini berada di ujung kasur. Walau keadaan kamar yang berubah menjadi gelap namun Abimanyu masih bisa melihat wajah isterinya berkat bantuan sinar rembulan yang masuk melewati jendela yang tak tertutup. Wajah isterinya itu nampak baru saja dialiri air mata. “Ada apa, Agni? Kamu sakit?” Wanita itu terdiam. Bola matanya bergerak ke arah lain, kemana pun asal tak melihat wajah suaminya. “Apa karena perkataan saya tadi di dapur?” tanya Abimanyu membuat Agni kembali memandang suaminya. “Saya egois, Agni. Maafkan saya jika hal itu membuatmu terganggu.” “Enggak, Mas.” Agni menahan tangan Abimanyu yang hendak bangkit dari kasur. Wanita itu menatap lama ke arah wajah rupawan nan tampan milik Abimanyu, lelaki itu memiliki rahang yang keras dengan ditumbuhi rambut-rambut kecil.  Hidungnya lancip, alis matanya tebal dan dianugrahi sepasang mata dengan tatapan tajam. Tak ada kerutan di wajahnya, orang-orang akan menyangka bahwa Abimanyu masih berada diawal tiga puluh tahun. “Aku— aku takut, Mas.” “Aku takut tak bisa—-“ Agni tak melanjutkan ucapannya sebagai gantinya wanita itu menurunkan sedikit selimut yang tadi menutupinya. Sebuah gaun tidur berbahan sutra dengan tali tipis yang membuatnya menyangkut di tubuh Agni. Gaun tidur itu merupakan kado dari Raihani yang diberikan padanya secara diam-diam. Abimanyu tak bisa berkata apa-apa ketika melihat sebagain, hanya sebagian tubuh Agni yang masih tertutupi gaun tidur tipis. Tubuhnya memanas, rasanya ia baru saja dimasukan beberapa bara kedalam tubuhnya sehingga membuatnya sepanas ini.  Lelaki itu tidak berkata-kata lagi namun tatapan matanya seakan menembus retina mata Agni. Perempuan itu menutup matanya ketika merasakan Abimanyu mendekat ke arahnya. Tak kalah sama, wanita itu juga merasakan tubuhnya memanas. Namun ketika merasakan sentuhan lembut pada dahinya, rasa panas itu hilang tergantikan dengan rasa sejuk, damai dan perasaan senang lainnya. Agni membuka matanya setelah merasakan Abimanyu melepas bibirnya dari dahinya. Mata mereka bertatapan, saling adu pandang dan tak ada yang ingin mengalah lebih dulu.  Ketika bibir tebal nan penuh milik Abimanyu menyentuh bibirnya, Agni tahu ia tak akan bisa kemana-mana lagi. Lelaki itu tak hanya menyetuhnya, pria itu menciumnya dengan ganas. Merampas semua pasukan udara milik Agni dengan menutupnya. Ciuman itu menuntut, memaksa Agni membuka mulutnya. Lidah Abimanyu masuk, mengabsen setiap isi Agni. Ketika nafasnya terasa sudah hampir habis, Abimanyu melepaskannya. Tatapan matanya semakin membara-bara. Baru saja Agni hendak berkata sesuatu, Abimanyu malah lebih dulu menempelkan bibirnya pada bibir Agni lagi. “Mmhh...” Ciuman itu turun kebawah, mengecap setiap inti jenjang leher Agni membuat wanita itu bergerak gelisah. Dengan sekali tarikan, selimut yang tadi menutupi tubuh Agni hilang entah kemana. Pria itu mendekatkan tubuhnya ke arah Agni, menghimpitnya. “Massss...” “Biar aku yang buka,” ujar Agni ketika Abimanyu sudah hendak menarik gaun itu yang sudah pasti akan cabik jika Abimanyu yang menariknya. Agni menutup matanya kembali ketika tak ada lagi yang menutupi tubuhnya, polos. Hal yang membuat Agni menangis tadi adalah tentang dia yang mungkin tak akan membuat Abimayu senang. Tubuhnya tak seindah dengan tubuh wanita lain. Cup... Cupp... Abimanyu mengecup kedua kelopak mata Agni, gadis itu harus tahu bahwa tubuhnya sangat cantik. “Kamu cantik, Agni.” Agni baru hendak membuka matanya namun Abimanyu kembali menciumnya ganas lalu berpindah pada lehernya, semakin turun, hingga laki-laki itu menemukan sebuah harta kaun. Abimanyu memasukan mulutnya kesalah satu puncak d**a Agni membuat wanita itu melenguh. Satu tangannya menangkup yang lain, memilinnya dan sesekali memerasnya. “Nghhh....” “Mass...” “Aku suka Agni.” Lelaki itu kembali memasukan mulutnya kedalam puncak p******a yang satunya, mengisap dengan kuat, menggigitinya dengan gemas dan kembali mengisapnya. Agni tak bisa menahan eranganya ketika Abmanyu begitu lihai mempermainkan puncak dadanya. Bahkan Wanita itu menarik rambutnya Abimanyu menyalurkan rasa nikmatnya ketika lidah lelaki itu mempermainkan putingnya yang mengeras. “Ughhh...” Abimanyu merasa sudah cukup, ia sudah puas—-untuk sekarang, ia langsung melepas seluruh pakainnya, bergabung dengan Agni yang sudah lebih dulu tanpa busana dengan tak sabaran. Lelaki itu merenggangkan kaki isterinya, membuatnya menjadi lebar. Abimanyu dapat melihat wajah khawatir Agni, dahi wanita itu mengerut. Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada wajah Agni dengan menindih wanita itu. Lalu meletakan tangan Agni pada punggung dan tangannya. “Cakar, Agni. Jika itu membuatmu sakit.” Sekali lagi, pria itu mengecup bibir Agni dengan kilat. Abimanyu memasukan seluruh intinya, membuat Agni merasa tak nyaman dengan benda asing yang masuk kedalam tubuhnya. Wanita itu menggigit bibir hingga berdarah ketika tubuh bagian bawahnya terasa terbalah menjadi dua. “Akhh..” Abimanyu mengusap peluh didahi Agni ketika seluruh inti tubuhnya berada didalam tubuh Agni. Pria itu membungkam bibir Agni dengan bibirnya ketika mulai bergerak. Perlahan. Perlahan lalu lama-lama menjadi mununtut. Agni terus bergerak gelisah ketika Abimanyu terus saja bergerak dibawah sana.  Abimanyu sudah lama tak meraskan ini, rasanya pikirannya sudah tak ada lagi di bumi. Terbang bersama rasa nikmat. Darahnya terus mengalir lebih deras dari biasannya. Detak jangungnya terus berdetak lebih kuat. “Mass.... nghhh.” Agni menggigit bibir bawahnya ketika gelombang kenikmatan itu lebih dulu menghampirinya. Sedangkan Abimanyu terus bergerak mencari pelepasan untuknya. Hentakan demi hendakan. Dorongan demi dorongan. “Nghhh...” “Akhhh..” Abimanyu menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Agni ketika mereka meledak bersama, memecahkan jutaan keping kenikmatan yang membuat mereka lupa bahwa tak ada hal yang pasti dari hubungan mereka. “Terima kasih Agni,” bisik Abimanyu yang kini berada diceruk leher isterinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN