Dari sela bibirnya yang merah, menjulur lidahnya. Seakan lidah itu memanjang dan menyusuri setiap kulitku yang mulai menghitam karena sengatan mentari. Lalu, ia tertawa geli melihat gelagatku yang semakin salah tingkah. Seakan ia tahu, bahwa aku tergoda olehnya. Tertawanya seakan mengejekku karena aku tak mampu merengkuhnya~~terutama untuk saat ini. Tanpa rasa bersalah, Nona Alicia berbalik memunggungiku. Kulihat pinggulnya bergoyang ketika menjauh dari jendela itu. Aku hanya termenung, sembari merasakan desakan hebat di selangkanganku. Desakan yang menimbulkan tonjolan hangat di bagian celanaku. Sehingga rasa nyeri terasa di area sana. Malam telah tiba, ketika aku terbaring sempurna di lantai kayu beralaskan tikar. Aku masih termenung karena penglihatanku tadi siang. Nona Alicia, tak

