Chapter IV. 05 : Klimaks

4350 Kata

Sore menerjang. Tetesan air hujan melembabkan tanah bebatuan diiringi cahaya senja yang semakin rapuh termakan kegelapan. Aku mencoba mencari celah di antara kesibukan kedua gadis kembar yang menyibukan dirinya di dapur. Kulihat nona juga sibuk dengan mesin ketik yang bersuara mengerikan. “Santi, Sinta!” panggilku pada mereka berdua yang sedang duduk di hadapan tungku dengan api yang menerjang. Dengan sigap mereka berdua menoleh padaku. Mata mereka seakan bertanya-tanya apa yang ingin aku katakan. “Apa kalian mau membantuku?” bisikku pada mereka berdua. “Membantu apa, paman?” Tanya Sinta padaku. “Begini! Bagaimana cara kalian berkomunikasi dengan eyang buyut kalian yang bernama Sukma itu?” “Oh, itu Santi yang melakukan!” ujar Sinta sembari menatap saudarinya. “Ya,” tegas Santi.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN