“Paman!” sapa mereka secara bersamaan saat aku berdiri di ambang pintu. Kedua wajah kembar yang berseri serasa mengobati lukaku untuk beberapa saat. “Cepat panggil nona Alicia!” ujar Sinta kepada saudarinya, Santi. Seketika Santi berlari dan menghasilkan suara retakan di lantai kayu. “Nona sangat mencemaskanmu, Paman!” Sinta yang kala ini terlihat bahagia menggenggam pergelangan tanganku. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Untuk beberapa saat matanya memutih sempurna dan nafasnya seperti tercekik. Kupincingkan mataku untuk menyaksikan kejadian sekilas itu. Semuanya berlangsung begitu cepat, sehingga saat matanya kembali seperti semula~~ Sinta melepaskan gegamannya. Bukan saja melepaskan, tetapi lebih seperti menghempaskan tanganku kembali ke tubuhku. Apa yang ia lakukan? Tanyaku dalam

