Jangan-jangan! Ujarku dalam hati. Belum sempat aku berkata-kata lagi. Nona Alicia berkata padaku. “Ahras! Buka sarungmu!” “Ta-tapi nona!” kataku tergagap. “Sudah buka saja!” perintahnya lagi sembari membuka tali temali itu. Aku dengan canggung membuka kain sarungku dan menemui batang kejantananku yang enggan untuk tertidur lagi. Urat-uratnya mengencang dan kulitnya memerah di ujung pentolannya. Aku tak habis pikir dengan kejantananku yang terus berdiri tegak ini. “Berdirilah!” ujarnya sembari duduk berjongkok di hadapanku. Batangku yang keras mengacung tepat kearah wajahnya, sehingga wajahnya sedikit tersipu menatap batang kejantananku itu. Lalu, kejantananku dimasukannya ke lubang cula itu. Lebar lubang itu serasa cocok dengan besar dan panjang cula itu. Sehingga membuat batangku

