Beberapa jam setelah meninggalnya Kafka, sekarang giliran Akhtar bergantian menunggu Wafi yang sedang menerima translantasi sum-sum tulang belakang milik adeknya. Perasaan takut, sedih, tegang itulah yang saat ini Akhtar rasakan. Dia tak berhenti mondar mandir di depan ruangan Wafi, menunggu dokter keluar. Semua orang yang disana pun merasa kasihan melihat keadaan Akhtar. “ Mama kasihan sekali melihat keadaan Akhtar saat ini. Pasti perasaannya begitu hancur.” Ucap mamanya pada Yusril. “ Aku pun tak bisa membayangkan jika aku berada dalam posisi seperti kak Akhtar ma.” Balas Yusril. Sekarang memang Yusril memanggil mama Akhtar dengan sebutan mama, itulah yang diinginkan oleh mamanya Akhtar. Karena ia sudah menganggap Yusril seperti anaknya sendiri. “ Tar duduk nak, nanti kamu kecapen ka

