Naufal terlihat sangat khawatir saat memandang Shanum terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dia pun tak beranjak dari tempatnya hanya untuk memastikan keadaan Shanum baik-baik saja. Dirinya pun taku Shanum akan melakukan hal nekad lagi, jika ia sudah sarakan diri. Jadi Naufal tak akan membiarkan sahabatnya sendirian lagi. Naufal memang sengaja tak mengabari keluarga Shanum, karena keadaan sekarang baginya belum memungkinkan untuk mempertemukan mereka.
Apalagi kabar yang baru saja ia dapat dari Nita teman Shanum di kafe, yang mengabari bahwa kafe tempat Shanum bekerja terbakar dan memakan satu jiwa. Berita buruk ini akan Naufal simpan sampai keadaan Shanum sudah membaik. Kemungkinan Naufal juga akan membawa Shanum ketempat dimana dirinya akan bisa jauh lebih tenang dan nyaman.
Akhirnya setelah berjam-jam tak sadarkan diri, sekarang Shanu sudah mulai membuka matanya dengan perlahan. Dokter mengatak Shanum sudah banyak kehilangan darah, sehingga membuat tubuhnya lemah. Luka sayatan diwajahnya pun cukup dalam, kemungkinan besar akan membuat bekas luka di wajahnya karena luka tersebut dijahit beberapa kali oleh dokter.
“ Shanum dimana.” Tanyanya dengan suara yang lemahnya.
“ Alhamdulillah num kamu udah sadar, sekarang kamu ada di rumah sakit num.” Jawab Shanum.
“ Mas Naufal.”
“ Iya num ini aku Naufal.”
Setelah itu Shanum pun terdiam, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu. Dan akhirnya dia mengingat kejadian-kejadian sebelum ia terbaring di rumah sakit ini. Ingatan-ingatan itu membuat lukanya kembali terbuka, dan matanya mulai berkaca-kaca lagi.
“ Mas Naufal.” Panggil Shanum lagi.
Naufal yang tahu keadaan Shanum pun kembali menenangkan serta meyakinkan Shanum bahwa semuanya akan kembali membaik.
“ Num semuanya akan baik-baik aja. Aku mohon ke kamu num jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi. Hidupmu terlalu berharga untuk melakukan aksi bunuh dirimu yang konyol. Kamu harus yakin kalau kamu ngga akan pernah sendiri. Ada Allah yang bakalan menolong serta jagain kamu. Jangan merutuki keadaanmu lagi num. Apalagi menyalahkan Allah akan kejadian yang menimpamu. Semua ini ujian num. Allah ingin kamu jauh lebih kuat dan mencintai-Nya.” Ungkap Naufal dengan sedikit emosi mengingat ulah bodoh yang akan Shanum lakukan tadi.
Shanum pun terlihat menyesal. “ Maafin Shanum ya Allah. Shanum nyesel.”
“ Udah num jangan nangis lagi, emangnya kamu ngga cape apa nangis terus. Aku aja yang ngliatinnya cape.” Ledek Naufal dan Shanum sedikit terhibur dengannya
“ Mas Naufal, anak Shanum.” Ucap Shanum yang terlihat ketakutan sambil memegangi perutnya yang masih rata. “ Dia baik-baik aja kan mas.” Tanyanya
“ Alhamdulillah num anak kamu itu anak yang kuat seperti ibunya. Dia baik-baik aja kok kamu tenang aja ya. Ingat num sekarang kamu ngga sendiri ada nyawa lain yang sedang tumbuh dalam rahimmu. Aku tahu dia bukan anak yang kamu inginkan kelahirannya. Tapi dia ngga bersalah atas perbuatan yang kamu dan laki-laki itu lakukan. Dia berhak untuk tumbuh dalam rahimmu. Aku mohon jangan sakiti diri kamu dan anak ini.” Pinta Naufal.
“ Iya mas Shanum janji, Shanum janji ngga akan pernah menyakiti dia lagi. Shanum ngga mau dia kenapa-napa. Makasih ya mas Naufal sudah menolong Shanum. Mas Naufal apa mas Naufal kasih tahu keadaan Shanum pada ayah.” Tanya Shanum dan Naufal langsung menggeleng.
“ Aku belum ngasih tahu tentang kamu num, aku takutnya keadaan semakin buruk kalau aku kasih tahu sekarang.” Jawab Naufal.
“ Mas Naufal apa mas Naufa mau janji sama Shanum sesuatu.” Tanya Shanum.
“ Janji apa maksudnya.” Tanya balik Naufal.
“ Mungkin Shanum ngga akan kembali mas, Shanum akan pergi dari ayah dan Adib untuk sementara waktu. Dan Shanum mau m’as Naufal jangan kasih tahu apapun tentang Shanum pada mereka. Shanum mohon mas.” Pintanya.
“ Memangnya kamu mau pergi kemana num.” Tanya Naufal.
“ Shanum pun ngga tahu mas, kemana Shanum akan pergi.” Jawabnya bingung.
Nufal pun diam sejenak. Dirinya balik menatap Shanum. “ Apa kamu mau ikut aku.” Tanyanya.
“ Kemana mas.” Tanya balik Shanum.
“ Ke suatu tempat. Disana mungkin akan membuat kamu jauh lebih tenang. Dan kamu pun bisa membetulkan otak kamu yang lagi konslet ini.” Jawab Naufal dengan sedikit emosi jika mengingat lagi aksi bunuh diri Shanum.
Dan Shanum hanya menundukkan kepalanya, karena ia sendiri malu dengan perbuatan bodohnya. “ Maaf.” Ucapnya.
“ Gimana kamu mau apa ngga ikut aku.” Tanyanya lagi.
“ Shanum mau mas. Karena Shanum yakin mas Naufal akan memikirkan tempat yang baik untuk Shanum.” Jawabnya. Mereka berdua pun sama-sama mengulas senyuman.
Naufal pun sedikit lega karena Shanum terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, walaupun ia tahu luka itu masih terlihat. Dia pun tak berani menanyakan tentang hal yang Shanum alami, dia hanya tahu sekilas dari Adib adik Shanum. Naufal akan memberikan waktu pada Shanum sampai dirinya siap untuk mencurahkan isi hatinya pada Naufal.
***
Keadaan Shanum pun berangsur membaik. Lalu Naufal membawa Shanum ke Bandung dan disana Shanum tinggal di sebuah pesantren. Tempat dimana dulu Naufal pernah menuntut ilmu. Shanum pun merasa tenang di bawa ketempat seperti ini. Mungkin disini dia akan belajar dan menjalani kehidupan yang jayh lebih baik lagi.
Naufal pun menceritakan tentang kisah Shanum. Pemilik pesantren pun terkejut dan merasa iba dengan apa yang Shanum alami. Mereka menerima Shanum dengan tangan terbuka. Keadaan Shanum yang sedang hamil pun tak membuat mereka mengucilkan atau mencaci Shanum. Justru mereka ingin membuat Shanum belajar menghargai hidup dan menjaga apa yang sudah ia miliki.
Lama kelamaan disana Shanum sudah sangat nyaman apalagi tak ada yang mengucilkannya dengan keadaan dirinya yang hamil diluar nikah. Bagi mereka itu hanya masa lalu yang tak mungkin bisa diulangi atau diperbaiki lagi. Yang ada saat ini hanya masa depan dan dengan masa depan kita bisa memperbaiki masa lalu. Banyak yang Shanum pelajari disana.
Dirinya pun mulai menutup aurat, belajar mengaji dan bahkan pemilik pesantren mengajarkannya berbisnis. Jadi walaupun dia wanita dan bukan seorang sarjana, tapi dia bisa menjalani aktivitas yang menyenangkan serta menghasilkan.
Tak terasa Shanum disana sudah tiga tahun, dia pun sudah merasa bahagia bisa tinggal disana. Apalagi orang-orang dipesantren menerima putranya dengan sangat baik. Namun tetap saja Shanum merasa tak enak hati. Karena saat ini dirinya adalah seorang ibu yang harus membiayai putranya. Dia juga tak ingin bergantung terus menerus pada pemilik pesantren dan juga Naufal. Maka akhirnya ia putuskan untuk keluar dari pesantren dan memulai hidup yang baru bersama putranya Muhammad Akhzan Wafi.
Awalnya pemilik pesantren berat membiarkan Shanum keluar, namun dengan alasan logis yang Shanum berikan pun mereka mengizinkannya. Shanum sendiri sudah menganggap mereka seperti keluarga. Shanum tak mungkin melupakan jasa mereka padanya.
Dan setelah keluar dari pesantren Shanum membuka toko bunga dengan modal yang diberikan oleh pemilik pesantren. Awalnya Shanum menolak, dia bersikukuh meminjam modal tersebut. Namun pemilik pesantren tetap memberikan modal tersebut pada Shanum tidak meminjaminya.
Selama inilah Shanum mengembangkan bisnisnya, sedikit demi sedikit usahanya pun mulai berkembang. Semua pelanggan Shanum merasa puas dengan hasil karya karangan bunga yang Shanum buat. Dan sekarang pun toko bunga yang Shanum dirikan sering mendapat sewa di berbagai acara besar. Dan toko bunga tersebut ia beri nama “ SHANUM FLOWER’S”
Flasback off.
Pandangan bu Hanin terus tertuju pada Shanum, dia sungguh tak menyangka bahwa kisah seperti itu bukan hanya ada di film. Shanum mengalaminya sendiri, hatinya terharu sekaligus sedih mendengarkan semua kisah masa lalu Shanum.
“ Maafkan Shanum karena Shanum sebelumnya ngga cerita ke ibu. Shanum hanya ingin semua itu menjadi masa lalu. Tapi percaya bu, Shanum ngga ada niatan untuk membohongi bu Hanin.” Ucap Shanum.
“ Nak ibu justru salut padamu,karena kamu mampu melewati semua cobaan ini. Dan masa lalu itu biarlah berlalu. Yang penting sekarang kamu mau terus berusaha untuk memperbaikinya.” Balas bu Hanin.
“ Makasih bu karena ibu mau menerima masa lalu Shanum. Dan ibu tak membenci Shanum.” Ujar Shanum.
“ Apa ibu boleh melihat wajah kamu nak.” Tanya bu Hanin. Dan Shanum pun membalasnya dengan anggukan. Tangannya pun membuka niqab yang ia kenakan. “ Masyaallah.” Ucap bu Hanin sambil memegangi wajah Shanum. Air matanya pun mengalir saat dirinya memegang bekas luka yang ada di wajah Shanum. “ Kamu cantik sekali num.” Puji bu Hanin.
“ Ibu.” Balas Shanum dan ia merasa seperti bertemu dengan ibu yang mampu melindunginya. Shanum pun langsung memeluk bu Hanin.
“ Kamu cantik nak, ada ataupun tidak bekas luka ini kamu tetap wanita cantik. Ibu sebagai seorang wanita pun mengagumi kecantikanmu.” Puji bu Hanin tanpa henti.
“ Shanum benar-benar bahagia. Shanum seperti menemukan sosok ibu dalam diri bu Hanin.” Ucapnya.
“ Ibu pun sangat bahagia Allah mempertemukan ibu denganmu. Ibu pun sudah menganggapmu seperti putri ibu sendiri num. ibu langsung bisa menyayangimu saat pertama kali melihatmu.” Ujar bu Hanin.
“ Makasih bu.” Balas Shanum
“ Apa setelah kepergianmu dari rumah kamu pernah bertemu dengan keluargamu lagi num.” Tanya bu Hanin.
“ Dulu mas Naufal yang selalu memberikan kabar tentang ayah dan Adib pada Shanum bu. Tapi semenjak mas Naufal kembali ke Bandung dia tak pernah memberikan kabar lagi. Dan Shanum pun pernah kembali untuk melihat tapi….” Ucapan Shanum pun menggantung. Dan tanpa bu Hanin duga Shanum langsung kembali memeluknya.
“ Kenapa num.” Tanya bu Hanin.
“ Ayah dan Adib sudah ngga tinggal di sana lagi bu, Shanum ngga tahu dimana keberadaan keluarga Shanum bu. Setiap saat Shanum memikirkan mereka. Shanum sudah begitu berdosa pada mereka. Shanum belum bisa jadi anak yang berbakti pada ayah bu. Shanum sangat merindukan mereka bu.” Jawab Shanum.
“ Apa kamu perlu bantuan ibu untuk mencari mereka num.” Tanya bu Hanin menawarkan dirinya. “ Mungkin orang-orang ibu bisa menemukan keberadaan mereka.”
“ Ngga bu, jangan lakukan itu. Biar Shanum mencarinya sendiri. Shanum ngga mau merepotkan ibu. Insyaallah, suatu saat Allah akan mempertemukan Shanum dengan mereka lagi.” Jawab Shanum.
Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka, dan menampakkan sosok anak kecil sambil mengucek-ucek matanya karena baru bangun.
“ Bunda.” Panggilnya dan berjalan dengan gontai kearah bundanya.
“ Wafi bangun sayang.” Balas Shanum, dan Wafi pun mengangguk serta memeluk bundanya dengan manja.
“ Pasti karena nenek berisik kan.” Ujar bu Hanin, Wafi langsung menggeleng.
“ Bunda.”
“ Iya sayang ada apa, apa Wafi haus. Biar bunda ambilin minum ya.” Tanya Shanum, Wafi kembali menggeleng. “ Terus Wafi mau apa nak.”
“ Kapan ayah Naufal pulang bun.” Tanya Wafi.
“ Mmmm kemarin ayah Naufal bilang dia pulang besok sayang, memangnya kenapa nak.” Tanya Shanum.
“ Wafi kangen sama ayah Naufal, bunda.” Jawab Wafi.
“ Besok kalau ayah Naufal udah pulang, Wafi bisa ketemu sama ayah sepuasnya sayang.” Balas Shanum.
“ Bener ya bun, Nanti Wafi juga boleh ya nginep di rumah ayah Naufal.” Tanya Wafi yang langsung semangat. Shanum pun mengiyakannya. “ Yeyyyy, makasih bunda.” Balas Wafi yang langsung mengecup pipi bundanya dan pergi begitu saja ke kamarnya.
Bu Hanin yang melihat obrolan anak dan ibu itu pun hanya tersenyum. Dia melihat Shanum begitu menyayangi Wafi. Namun dalam hatinya ada yang mengganjal serta ingin ia tanyakan langsung pada Shanum.
“ Wafi terlihat begitu menyayangi Naufal ya num.” ujar bu Hanin.
“ Iya bu, karena mas Naufal sudah seperti sosok ayah bagi Wafi. Sejak kecil mas Naufal yang selalu ada untuk Wafi. Dia pun menyebutkan dirinya sebagai ayah Wafi di depan semua orang. Makannya banyak yang mengira kalau mas Naufal itu mantan suami Shanum. Dan mas Naufal pun memang sengaja melakukan itu bu. Karena dia tak ingin Shanum dan Wafi di kucilkan lagi di masyarakat. Makannya kalau ada orang yang ngga tahu tentang kisah masa lalu Shanum, pasti dia akan mengaku menjadi mantan suami Shanum. Awalanya Shanum menolak namun dia tetap melakukan itu.” Ucap Shanum.
“ Apa Naufal itu calon suami kamu num.” Tanya bu Hanin dengan sangat hati-hati tanpa menyinggung perasaan Shanum. Namun tanpa bu Hanin duga Shanum justru tersenyum. “ Maaf num kalau ibu lancang, ibu hanya ingin tahu nak.”
“ Ngga papa kok bu, memang banyak sekali yang mengira kalau Shanum dan mas Naufal itu memliki hubungan khusus. Tapi sebenarnya ngga sama sekali bu. Shanum dan dia hanya sebatas sahabat ngga lebih dari itu.” Jawab Shanum.
“ Dari cerita kamu ibu tahu kalau nak Naufal anak yang sangat baik num, dia pantas menjadi suami kamu nak. Dia juga bisa menjadi ayah Wafi.” Balas bu Hanin.
“ Shanum senang sekali ada yang perhatian dengan Shanum seperti ini.” Ucapnya sambil menggenggam tangan bu Hanin. “ Mas Naufal memang pernah melamar Shanum bu, tapi langsung Shanum tolak. Karena dia berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari Shanum bu. Shanum ngga mau melibatkan dirinya jauh lebih dalam lagi masuk ke kehidupan Shanum. Sudah terlalu banyak penderitaan yang juga ia lalui karena Shanum bu.” Balas Shanum.
“ Apa Shanum mencintainya.” Tanya bu Hanin dan Shanum terkejut mendengarnya.
Kemudian Shanum langsung menggeleng. “ Shanum ngga mencintainya bu, tapi Shanum menyayanginya sebagai sahabat sekaligus kakak untuk Shanum.”
“ Alhamdulillah.” Ucap bu Hanin yang terdengar begitu lega
“ Alhamdulillah, kenapa bu.” Tanya Shanum yang bingung melihat ekspresi bu Hanin.
“ Apa Shanum bersedia menikah dengan putra ibu.” Tanya bu Hanin.
DEG.! Jantung Shanum seakan berhenti mendengar pertanyaan bu Hanin. Hal yang ia khawatirkan pun akhirnya terjadi. Shanum langsung membungkam mulutnya sambil menatap wajah bu Hanin. Begitu pula dengan bu Hanin pandangan penuh harap pun ia perlihatkan pada Shanum Seolah-olah dirinya ingin Shanum menjawab iya akan lamaran tersebut.