Beberapa hari pun sudah berlalu, Shanum pun masih sering mual-mual. Namu dia masih bisa menyembunyikan rasa mualnya dari semua orang. Sewaktu itu ia bisa menutupi dengan keadaannya yang sedang sakit. Apalagi saat Nita mencurigainya, untung ia bisa beralasan masih pusing dan masih masuk angin. Jawabannya itu dipercaya oleh Nita. Bagi mereka mungkin mustahil seorang Shanum yang notabennya wanita baik-baik hamil di luar nikah. Namun apalah semua itu, kenyataan mencengangkan memang benar-benar terjadi Shanum memang hamil diluar nikah. Itulah yang terjadi padanya.
Samai sekarang pun Shanum tak berani mengatakan kebenarannya pada ayahnya. Dia juga takut membuat keadaan ayahnya memburuk lagi. Padahal ia baru merasakan kebahagiaan saat mengetahui ayahnya sudah baikan.
Hari ini adalah hari dimana umur sang ayah bertambah, Shanum sengaja pulang lebih awal untuk memasak serta menyiapkan kejutan untuk ayahnya. Shanum yang sedang asyik bekutat di dapur pun langsung terkejut saat ada orang yang mengejutinya dari belakang.
“ DOOR.”
“ Astagfirullah, Adib.” Teriak Shanum.
“ Sorry kak.” Ucap Adib
“ Untung kakak ngga jantungan. Kebiasaan deh kamu kaya begitu.”
“ Kakak masak apa.” Tanya Adib sambil melihat masakan Shanum.
“ Masak kesukaan ayah dong. Ini kan hari spesial ayah.” Jawabnya.
“ Selalu begitu, kalau Adib yang ulang tahun mana pernah kakak masak-masakan yang enak kaya begini, paling masakin Adib tempe goreng.” Adib pun merajuk Namun hal itu membuat Shanum tertawa karena adiknya itu terlihat kesal.
“ Kata kamu tempe goreng masakan kesukaan kamu, jadi ya kakak gorengin di hari spesial kamu dong.” Balas Shanum.
“ Hahhh, kakak mah ngada-ngada sejak kapan Adib bilang kalau tempe goreng itu makanan kesukaan Adib.”
“ Iya deh iya besok kalau Adib ulang tahun kakak bakalan masakin Adib masakan yang paling spesial.”
“ Janji lho.” Ucap Adib. Shanum pun menganggukinya.
“ Dib ayah mana.” Tanya Shanum
“ Ayah tadi lagi di depan sih.” Jawabnya
“ Ya udah bantuin kakak bawa ini ke meja makan dong.” Suruhnya dan Adib pun langsung membantu kakaknya.
Selesai menyiapkan makan malam Shanum menyuruh Adib untuk memanggil ayahnya yang dari tadi belum terlihat. Tapi Shanum heran karena Adib kembali tak bersama ayahnya.
“ Ayah mana dib.” Tanya Shanum.
“ Ayah masih disana kak, Mmmmm kak Shanum ayah keliatan aneh kak. Dia diem aja dari tadi pandangan ayah pun beda kak. Terus Adib disuruh manggil kakak ke sana.” Ucapnya.
“ Emangnya ada apa sih Dib.” Tanya Shanum lagi yang penasaran dengan ucapan adiknya.
“ Ngga tahu kak, udah deh kakak cepat kesana sekarang.” Suruh Adib dengan mendorong tubuh kakaknya.
Sesampainya diruangan dimana ayah Shanum sedang duduk sambil memangang kearah depan. Shanum dan Adib pun duduk mendekati ayah mereka. Mereka berdua hanya saling pandang karea bingung melihat ekspresi wajah ayahnya yang berbeda.
“ Ayah.” Panggil Shanum dengan lembut dan pelan. Namun ayahnya belumm juga meresponnya. “ Kata Adib ayah manggil Shanum.”
Shanum pun melihat ayahnya menghela nafas panjang, tatapan sang ayah yang tadinya lurus kedepan pun langsung beralih menatap Shanum. Dengan rasa takut Shanum pun menatap ayahnya, tapi tatapan teduh sang ayah kali ini tak ia dapatkan.
“ Berapa kali kamu sudah membohongi serta membodohi ayahmu ini.” Tanya ayahnya. Namun Shanum tak paham dengan pertanyaan tersebut.
“ Maksud ayah apa. Kapan Shanum bohong ke ayah Dan Shanum ngga pernah mencoba untuk membodohi ayah.” Jawabnya.
“ Masih bisa kamu berbohong… Baik kalau kamu masih ngga mau jujur pada ayah. Mungkin ini kesalahan ayah sampai ayah membesarkanmu seperti ini, ayah akui memang bukan ayah yang baik untukmu dan Shanum tapi ayah paling benci melihat anak ayah melakukan maksiat.” Ujarnya dengan mata yang sudah merah.
“ Ayah kenapa ayah bicara seperti ini, Shanum minta maaf kalau Shanum salah.” Ucap Shanum fikirannya pun sudah mulai melayang kemana-mana. Apa mungkin yang ayahnya maksudkan itu tentang kehamilannya. Namun dari mana ayahnya tahu, karena ia belum memberitahukannya. Batinnya terus berkecamuk memikirkan hal itu.
“ Kenapa ayah membiarkanmu melakukan sesuatu yang benar-benar dibenci Allah num. Kenapa kamu melakukan ini num.” Ucap ayahnya dengan air mata yang sudah berlinang.
Fikiran Shanum pun ikut tak karuan. Mulutnya pun mulai bergetar. “ A… YAH.” Ucapnya sambil menatap ayahnya.
Genggaman ayahnya pun mulai terbuka, namun tak ia sangka ternyata ada sesuatu yang dari tadi ayahnya pegang serta ia remas. Ayah Shanum meletakan benda tersebut diatas meja. Tangan Shanum pun langsung membekap mulutnya karena terkejut, karena hal ia tautkan benar-benar terjadi, kali ini dia hanya bisa pasrah. Shanum pun langsung berlutut dihadapan ayahnya.
“ Maafkan Shanum yah, Shanum tahu Shanum salah. Shanum menyesal sudah melakukan perbuatan ini. Shanum mohon ampun yah. Shanum mohon yah maafkan Shanum.” Ucapnya sambil menangis.
Adib yang tak paham dengan keadaan ini pun langsung mengambil benda yang tadi ayahnya pegang.
“ Sebenarnya ada apa ini, benda apa ini yah. Kenapa ayah marah ke kak Shanum. Memenangnya apa yang kak Shanum lakukan yah.” Tany Adib.
“ Kenapa num, kenapa kamu melakukan ini. Kenapa num. Ayah ngga bisa jadi ayah yang baik untukmu. Sampai ayah membiarkanmu terjerumus ke hal yang salah seperti ini. Siapa ayah dari anak ini num.” Tanya ayahnya yang dari tadi menguncang tubuh Shanum.
Dan Shanum hanya menggeleng menanggapi ucapan ayahnya.
“ Astagfirullah num, sejak kapan kamu melakukan ini sampai ayah dari anak ini pun kamu tak tahu. Kamu benar-benar sudah mengecewakan ayah num. Ayah fikir kamu bisa menjaga diri kamu sendiri tapi ayah salah..Apa untungnya kamu melakukan ini num.” Tanya ayahnya lagi.
“ Ayah, Shanum mohon yah maafin Shanum.” Pintanya.
“ Apa uang yang kakak dapatkan untuk mengoperasi ayah adalah hasil dari kakak menjadi seorang p******.” Tanya Adib.
Dan ayahnya langsung menatap Shanum dengan tajam. Hatinya sakit mendengar pertanyaan Adib pada kakaknya. Ia berharap itu bukan karena hal ini. Karena jika itu benar ayah Shanum akan sangat merasa bersalah. Ayah Shanum langsung mengangkat Shanum agar berdiri serta menatapnya.
“ Jawab ayah num apa benar yang Adib katakan num, apa kamu melakukan ini untuk biaya operasi ayah.” Tanya sang ayah dengan murka. Tapi bukannya menjawab Shanum hanya terus menangis. Ayahnya yang sudah mulai geram pun menekan lengan Shanum. “ Jawab ayah num apa benar ucapan Adib.” Dan akhirnya Shanum pun menjawab dengan anggukan.
“ I….. ya yah, maafin Shanum yah. Shanum udah ngga tahu caranya buat dapetin uang cepat. Shanum gunakan cara yang salah agar ayah bisa segera di operasi.” Ucapnya.
PLAK.! Tamparan pun melayang di pipi Shanum
“ DENGAR BAIK-BAIK NUM. LEBIH BAIK AYAH MATI DARI PADA HARUS DIOPERASI DENGAN UANG HARAMMU. LEBIH BAIK AYAH MATI DARI PADA MELIHAT ANAK AYAH MELAKUKAN PERBUATAN YANG MENJIJIKAN UNTUK MENDAPATKAN UANG.” Teriak ayahnya sambil menghempaskan Shanum.
“ Ayah Shanum mohon yah maafin Shanum, Shanum janji ngga akan melakukan itu lagi. Ayah Shanum minta maaf.”
“ Ayah sudah salah mendidik kamu, ayah ngga tahu apa yang akan terjadi ibumu disana melihat putrinya ada di jalan yang salah. Ayah menyesal melakukan operasi ini lebih baik ayah mati num.”
“ Ayah Shanum mohon jangan bicara seperti itu.”
“ Jangan minta maaf pada ayah num, mohon ampunlah pada Allah. Dia yang lebih berhak menghakimimu. Tapi ayah ngga bisa melihatmu berada disini lagi num. Pergilah kamu lakukan apa yang kamu mau. Kamu lakukan apa yang menurutmu itu benar. Karena ucapan ayah ngga pernah ada gunanya untukmu. Saat ayah bangun nanti ayah harap tak akan melihat wajahmu lagi di rumah ini.” Ucap ayah Shanum yang langsung masuk ke dalam kamar.
Shanum pun berusaha mengejar ayahnya dan menggedor-gedor pintu kamar. Namun ayah Shanum tak menanggapinya. Dia masih mengacuhkan Shanum. Dan pada akhirnya Shanum pun menyerah serta mengalah. Malam ini juga dia akan keluar dari rumah ini. Karena dia tak ingin menambah keadaan semakin memburuk. Ayah serta adiknya benar-benar marah padanya. Adib pun merasa terbohongi oleh Shanum, dia kecewa pada kakaknya. Kakak yang selalu dia anggap baik ternyata melakukan perbuatan menj***kan.
Shanum mulai mengepak barang-barangnya, kepergiannya pun tak ingin ada yang mengetahuinya. Ia juga tak ingin membuat malu ayahnya. Karena kalau sampai para tetangga tahu tentang kehamilannya orang-orang pasti akan mengucilkan keluarganya. Mungkin dengan kepergiannya akan membuat ayah serta adiknya menjadi lebih baik. Itulah yang saat ini Shanum fikirkan.
***
Setelah kepergiannya dari rumah Shanum pun mencari kos-kosan untuk dia tinggali sementara. Belum ada yang tahu tentang kepergiannya dari rumah termasuk Naufal dan Nita. Apalagi Naufal sahabatnya saat ini sedang mengunjungi orang tuanya. Karena Naufal di daerah Bogor hanya tinggal dengan neneknya. Sedangkan orang tuanya ada di Bandung.
Sekarang Shanum pun lebih banyak melamun. Nita pun sering mengamati perubahan yang ada pada diri Shanum. Namun Shanum selalu mengelak dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Sampai dimana dirinya sudah letih dengan kehidupan yang tak pernah bahagia ini.
Disaat teman-temannya sudah pulang dan disana hanya tinggal Shanum. Dirinya berdiri di dapur seorang diri dengan tatapan yang kosong. Shanum memang berniat mengakhiri hidupnya yang penuh dengan penderitaan. Dia sudah merasa tak berguna lagi, ditambah lagi keluarganya sudah membencinya. Pisau pun menyayat lengannya.
“Ngga ada gunanya Shanum hidup. Maafin Shanum ayah, ibu Adib.” Ucapnya dengan darah yang sudah mulai mengalir.
“ Mba Shanum.” Panggil Disa yang ternyata sudah ada dibelakangnya.
“ Kenapa kamu ada disini.” Ucap Shanum yang terkejut. Dan dia langsung mundur saat Disa mendekatinya. “ Jangan mendekat Dis.”
“ Mba istigfar mba, apa yang mba Shanum lakukan ini salam mba. Disa mohon mba jangan seperti ini.” Pinta Disa yang terus maju mengambil pisau yang dipegang Shanum. Dengan beraninya dan tanpa takut Disa merebut pisau yang Shanum pegang. Namun hal yang tak terduga pun terjadi. Pisauu tersebut justru menambah sayatan pada wajah Shanum, dan menyebabkan wajah Shanum terluka.
“ Awww.” Ucap Shanum memegang wajahnya yang terluka.
“ Ya Allah mba maafin Disa mba, Disa ngga sengaja.” Ucapnya.
Tapi Shanum dan menjawab. Dengan keadaan yang sudah melemah, Shanum pun kabur dia mendorong Disa, agar dia tak bisa mengejar Shanum.
“ Mba Disa.” Ucap Disa yang tak bisa jalan karena kakinya sakit akibat dorongan Shanum. Pada akhirnya Shanum berhasil kabur dari Disa dengan keadaan yang mengenaskan.
Ternyata sepeninggalan Shanum, Disa yang masih berada di dapur pun pingsan akibat sakit yang ia rasakan. Dan tanpa ia ketahui pula disana ada percikan api yang berasal dari toko sebelah. Sehingga membuat kafe ikut terbakar. Disa yang masih belum sadarkan diri pun ikut terbakar dengan kafe. Apalagi kedatangannya pada malam itu tak diketahui oleh orang lain. Akhirnya Disa meninggal dalam keadaan terbakar.
***
Shanum yang terus berjalan jauh sampai ia tak tahu dirinya ada dimana saat ini. Ia sudah tak memperdulikan padangan orang padanya. Apalagi dengan wajah yang terluka serta pergelagan tangan yang tersayat. Di jalanan yang sudah mulai sepi karena hati pun sudah larut Shanum terus berjalan seorang diri. Tangisannya pun belum mau berhenti, dia terus berjalan dengan langkah yang gontai. Darah pun masih terus mengalir. Sampai ia berhenti di pinggir jalan yang bawahnya jurang.
“ KENAPA ….. KENAPA SEMUA INI HARUS TERJADI PADAKU. KENAPA PENDERITAAN DEMI PENDERITAAN TERUS DATANG PADAKU TANPA HENTI. KENAPA ANAK INI HARUS ADA. KENAPA ALLAH MEMBERIKU PENDERITAAN INI.” Teriaknya.
“ AAAAAHHHHHHHH.”
Shanum pun akan melakukan bunuh diri untuk yang kedua kalinya. Dia berniat untuk terjun ke dalam jurang tersebut.
“ SHANUM.” Panggil seseorang yang taka sing ditelinga Shanum. Dia langsung menoleh.
“ Mas Naufal.” Ucapnya.
“ Num aku mohon num jangan lakukan hal bodoh ini. Aku tahu cobaan yang kamu hadapi ini berat dan ngga mudah. Tapi aku mohon num jangan bunuh diri. Ini ngga bener num, bukan ini jalan penyelesaiannya num.” Ucap Naufal yang berusaha mencegah aksi bunuh diri Shanum.
“ Mas Naufal ngga pernah merasakan apa yang Shanum rasakan, mas Naufal ngga ngerti.” Balas Shanum.
“ Aku memang ngga ngerti num penderitaan kamu. Tapi aku tahu bunuh diri bukan cara menyelesaikan masalah kamu. Ingat num bunuh diri adalah perbuatan dosa. Dan kamu juga akan membunuh nyawa yang ngga berdosa sama sekali.” Ucap Naufal yang masih berusaha membujuk Shanum, walau sebenarnya ia sangat takut kalau sampai gagal itu tandanya Shanum akan jatuh kesana. Dia tak bisa membiarkan sahabatnya melakukan hal yang salah lagi.
“ Jadi mas Naufal tahu Shanum hamil.” Tanyanya.
“ Ya aku tahu semuanya num, Adib udah cerita ke aku. Num aku tahu kamu melakukan semua itu karena terpaksa aku juga tahu kamu sangat menyayangi keluargamu num. Mungkin ayahmu marah padamu num. Tapi dia ngga pernah membenci kamu. Dia seperti ini karena dia merasa bersalah. Dia seperti mengorbankan kamu demi kesembuhannya. Num aku mohon jangan seperti ini. Kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik num. Tapi ngga dengan cara seperti ini.” Ujarnya.
“ Shanum udah ngga punya siapa-siapa mas, ayah dan Adib sudah benci sama Shanum, Shanum udah buat mereka kecewa. Shanum gagal jadi anak yang ayah sama ibu harapkan mas.” Ucap Shanum dengan hati yang begitu terluka.
“ Kamu masih punya aku num, aku janji aku akan selalu ada buat kamu.” Balas Naufal sambil mengulurkan tangannya pada Shanum. Sedangkan Shanum pun tersenyum kearah Naufal.
“ Mas Naufal memang orang yang baik, Shanum beruntung bisa dipertemukan dengan mas Naufal. Selama ini mas Naufal sudah banyak bantu Shanum dan selalu ada buat Shanum. Shanum sudah anggap mas Naufal seperti kakak Shanum sendiri, Shanum sayang sama mas Naufal. Shanum juga minta maaf karena mungkin mas Naufal kecewa pada Shanum. Makasih ya mas karena mas Naufal baik sama Shanum.” Ungkap Shanum.
Tubuh Shanum pun sudah mulai lunglai, karena dirinya kehabisan darah. Begitu banyak darah yang keluar. Dan tiba-tiba tubuh Shanum pun rubuh.
“ SHANUM.” Panggil Naufal. Dia langsung berlari kearah Shanum yang akan terjatuh ke bawah jurang.