5. MSC

1872 Kata
“ Siapa kamu.” Tanya Shanum dengan sedikit takut karena ada laki-laki asing dibelakangnya. “ Harusnya saya yang tanya padamu, siapa kamu kenapa kamu ada didepan club saya.” Tanya balik laki-laki tersebut. “ Jadi anda.. maksudnya bapak pemilik club ini.” Tanya Shanum yang tak enak hati. “ Iya saya pemilik tempat ini. Apa kamu sedang menunggu temanmu.” Tanyanya. Dan Shanum langsung menggeleng. “ Kalu tidak sebaiknya anda menyingkir karena mengganggu pengunjung saya yang akan masuk.” Jawabnya dan melangkah masuk ke dalam club. Tapi dengan cepat Shanum mencegah laki-laki tersebut untuk masuk. “ Pak tunggu.” Ucapnya. Jadi laki-laki pemilik club pun berhenti. “ Ada apa.” Tanyanya. “ Ada yang ingin saya bicarakan dengan bapak.” Ucap Shanum. “ Silahkan ikuti saya.” Ajak lelaki tersebut, dengan rasa was-was Shanum pun mengikuti laki-laki tersebut. Shanum berjalan menuju ruangan yang ia fikir itu adalah sebuah ruang kerja. Disana Shanum dipersilahkan duduk. Ia kira pemilik club itu orang yang mengerikan. Namun tak ia sangka orang yang ada dihadapannya itu bisa bicara sedikit lembut. “ Panggil saja saya Niko, jangan panggil saya bapak karena saya fikir saya tidak menikahi ibumu. Oh ya ada perlu apa kamu bertemu dengan saya.” “ Saya datang kesini… saya …. Saya … saya mau… saya mau menjual diri saya pada lelaki kaya.’ Jawabnya dengan cepat dan langsung menunduk karena begitu malu. Hatinya pun hancur saat ia mengatakan hal menjijikan seperti saat ini. Ia merasa sudah gagal menjadi anak dan wanita. Dia sudah merendahkan martabat seorang wanita. Niko pun langsung menatap Shanum dengan teliti serta mengamatinya. “ Kamu serius dengan yang kamu ucapkan.” Tanya Niko Shanum pun memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menghela nafas. “ I….ya saya serius.” “ Apa yang membuat kamu mau menjual dirimu, apa karena kamu butuh uang.” Tanya Niko lagi. Tangan Shanum pun bergetar dan berkeringat dia pun hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya. “ Saya memang butuh uang untuk operasi ayah saya.” Jawabnya dengan polos. “ Saya sudah biasa mendengar hal-hal seperti itu, saya yakin dengan wajah yang kamu miliki hanya sekali saja kamu akan bisa membiayai operasi ayahmu. Tapi aku akan bertanya sekali lagi padamu, karena aku tak akan memaksamu. Apa kamu serius dengan ucapanmu.” Tanya Niko. “ Saya serius, tapi saya melakukan ini hanya untuk mendapatkan biaya operasi ayah saya. Setelah itu saya tak akan lagi melakukannya. Dan saya pun punya syarat yang mau saya ajukan jika nantinya saya ……..” Ucap Shanum yang belum selesai bicara langsung di potong oleh Niko. “ Apa syaratnya.” Tanya Niko “ …………………” Shanum pun mengatakan berbagai syarat yang ia ajukan. Dan tak Shanum duga ternyata Niko mai mengabulkannya. Kemudian Niko menyuruh Shanum untuk kembali besok, dia akan mencarikan lelaki yang mampu membayar dengan tariff yang Shanum butuhkan. Akhirnya Shanum pun pulang, dan kembali ke rumah sakit. *** Akhirnya ayah Shanum bisa dioperasi. Dan Shanum pun bahagia mengetahui operasi yang ayahnya lakukan berhasil. Walau sebenarnya dalam hatinya ia merasa bersalah karena membohongi keluarganya tentang uang yang ia dapatkan untuk membiayai operasi ayahnya. Shanum mengatakankalau ia mendapatkan pinjama dari temannya. Adalagi yang sebenarnya membuat Shanum sedikit lega, uang yang ia dapatkan ternyata lebih banyak dan uang tersebut bisa ia gunakan untuk menebus rumah yang dulu pernah ia gadaikan. Dan untung saja adiknya tak banyak bertanya, karena ia percaya pada Shanum. Shanum pun meminta kepada Adib agar dirinya tak mengatakan pada ayahnya bahwa ia lah yang mendonorkan ginjal untuk ayahnya. Karena Shanum tak ingin ayahnya merasa sedih lagi jika sampai ia tahu bahwa anaknya mengorbankan salah satu organnya supaya dirinya bisa sembuh. Adib pun menyutujuinya, dia akan menyimpan rahasia ini. *** Setelah sebulan keadaan ayah Shanum pun mulai membaik. Dirinya pun sudah bisa memulai aktivitasnya sedikit demi sedikit. Walau sekarang tak bisa seperti dulu lagi karena dirinya tetap tak boleh kelelahan pasca operasi. Shanum pun juga memulai kegiatannya seperti biasa. Namun dia merasa ada yang berbeda dengan dirinya saat ini. Dia mudah sekali lelah dan pusing. Setiap pagi pun dirinya muntah-muntah. Seperti pagi ini Shanum hampir tak bisa bangun dari tempat tidur. Dia pun bolak balik ke kamar mandi. “ Huek….. huek…. Huek..”   “ Ya Allah kenapa aku pusing sekali, kalau seperti ini aku ngga mungkin berangkat kerja.” Ucapnya yang masih berada dalam kamar mandi. “ TOK…. TOK… TOK.” Pintu kamar mandi pun terketuk. “ Num, kamu kenapa.” Tanya ayah Shanum yang mendengar suaranya muntah. Shanum pun keluar dengan wajah yang pucat. “ Ngga tahu yah, mungkin Shanum masuk angina.” Jawabnya “ Ya sudah sebaiknya hari ini kamu izin saja dulu num kalau keadaan kamu seperti ini nanti malah membahayakan kalau kamu tetap berangkat kerja.” Saran ayah. “ Iya yah, Shanum nanti izin ngga masuk dulu deh. Kalau gitu Shanum masuk kamar dulu ya yah.” Pamitnya. Saat Shanum sedang istirahat ayahnya pun masuk ke kamar Shanum dengan membawa sarapan serta obat untuk Shanum. Dan dia yang merasa ada yang mendekatinya pun langsung membuka matanya. Ketika melihat wajah sang ayah pun Shanum duduk. “ Apa masih pusing num.” Tanya ayah. “ Alhamdulillah udah ngga seperti tadi sih yah, tapi masih lemes banget.” Ucap Shanum. “ Ya udah sebaiknya kamu sarapan dulu dan setelah itu minum obat.” Balas ayah Shanum. Pada saat ayahnnya akan menyuapi makanan padanya perut Shanum kembali merasakan mual. Dia pun bergegas menuju kamar mandi. Ayah Shanum yang melihatnya pun khawatir melihat putrinya yang sakit seperti itu. Tak lama kemudian Shanum pun kembali ke kamar. Ayahnya masih disana menunggui dirinya. “ Apa kamu masih mual num.” Tanya ayahnya lagi. “ Iya yah, perut Shanum ngga enak banget apalagi saat nyium bau makanan ini. Shanum ngga nafsu makan yah.” Ucapnya. Ayah Shanum justru tersenyum mendengar jawaban Shanum dan ia langsung meledek putrinya. “ Kamu lucu num kaya orang lagi hamil aja. Dulu ibu kamu kalau nyium bau makanan yang dia ngga suka pasti langsung mual.” Ucap sang ayah. Namun ternyata gurauan sang ayah tak membuat Shanum tertawa justru membuat dirinya diam terpaku. “ Ya sudah kalau nanti udah ngga mual kamu makan ini dan minum obat dulu, ayah mau berangkat kerja dulu ya.” “ Yah, apa ayah sudah bener-bener membaik. Shanum khawatir nanti ayah kecapean.” Ujar Shanum. “ Kamu tenang aja num, keadaan ayah udah membaik kok, ayah malah ngga betah kalau terus-terusan dirumah. Ayah janji ngga akan kecapean num. ayah juga harus bantuin kamu untuk memenuhi kebutuhan keluarga ini.” Ucap ayah. “ Ya sudah, tapi ayah hati-hati ya.” Pinta Shanum. “ Iya ayah janji, Assalamualaikum.” Pamitnya. “ Waalaikumsalam.” Balas Shanum dan menyalami tangan sang ayah. Sepeninggalan ayahnya Shanum kembali memikirkan ucapan ayahnya sambil memegangi perutnya yang rata. “ Apa aku hamil.” Batinnya. “ Kalau aku benar-benar hamil bagaimana, apa yang harus aku lakukan, gimana kalau sampai ayah dan Adib tahu. Aku memang bodoh. Ya Allah apa yang harus Shanum lakukan.” Ucapnya dengan mulut yang bergetar serta air mata yang sudah keluar. Shanum menangis sambil memegangi perutnya yang rata. Dia benar-benar khawatir serta takut bahwa apa yang ia ucapkan tadi benar-benar terjadi. Dia pun merutuki dirinya yang lupa meminum obat untuk mencegah kehamilan, saat dirinya melakukan hubungan terlarang dengan laki-laki yang ia pun tak tahu sama sekali. Tubuh yang tadinya lemas dan pusing pun ia lupakan, sekarang hal yang ia khawatirkan yaitu tentang dirinya sendiri. “ Bagaimana kalau janin yang tak berdosa ini benar-benar tumbuh di rahimku. Ya Allah ampuni do Shanum ya Allah. Ya Allah apa yang harus Shanum lakukan sekarang. Aku harus memastikannya.” Ujarnya dengan bolak balik di dalam kamarnya. Dia pun langsung melihat kalender. Tangannya kembali bergetar. “ Ya Allah Shanum udah telat, Ya Allah apa iya aku hamil. Ya Allah apa yang Shanum lakukan.” Dirinya pun langsung luruh ke lantai sambil memukuli dirinya sendiri terutama perutnya. Yang saat ini ada dalam fikirannya yaitu hanya ayah serta adiknya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya kalau sampai keluarganya mengetahui kabar tentang kehamilannya. Shanum pun sudah membuat keluarganya malu serta kecewa padanya. Dia pun mengunci dirinya di dalam kamar, sampai hari ternyata sudah siang. Ayah serta adiknya heran saat mereka tahu kalau kamar Shanum di kunci. Namun hati mereka lega saat Shanum mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Shanum pun tak ingin menunjukan kesedihannya pada keluarganya. *** Keesokannya Shanum berangkat kerjalebih awal. Dia ingin pergi ke apotek untuk membeli tespack. Dia harus membuktikannya sendiri tentang keakuratannya. Dia tak ingin menduga-duga seperti ini. Sesampainya di kafe Shanum langsung pergi ke toilet untuk mengeceknya. Dan untungnya belum ada yang datang karena ia memang terlalu awal. Biasanya teman-temannya berangkat pukul setengah delapan dan saat ini dia sampai di kafe puku setengah tujuh. Dengan hati berdebar serta tangan gemetar, ia tetap memberanikan diri untuk mencobanya. Karena dirinya pun sudah terlalu penasaran. Shanum menutup mata serta melafalkan berbagai doa. Setelah itu dirinya pun mengambil tespack yang ada didepannya dengan tangan gemetar. Dia pelan-pelan membuka matanya untuk melihat hasilnya. “ Bismillahirohmannirohim.” Ucapnya Air matanya serta tubuhnya langsung luruh ke lantai saat dirinya mendapati dua garis merah pada tespack tersebut. Shanum langsung membekap mulutnya, dia tk ingin ada yang mendengar tangisannya, karena ia khawatir sudah ada karyawan lain yang datang ke kafe. “ Ya Allah apa yang harus Shanum lakukan sekarang.” Ucapnya yang benar-benar bingung serta kalut. Namun dia terus menguatkan dirinya, karena ini bukan tempat yang tepat untuk meratapi apa yang saat ini terjadi padanya. Shanum langsung menghapus air atanya serta membasuh wajahnya.  Dirasa sudah cukup tenang Shanum pun keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk bekerja. “ Num kamu udah baikan.” Tanya Nita. “ Alhamdulillah Nit.” Jawabnya sambil mengelap meja. “ Syukur deh, oh iya kemarin waktu kamu ngga masuk anak baru yang kerja disini datang lho.” Balas Nita. “ Oh ya, aku kira bos ngga jadi merekrut karyawan baru.” Ujarnya. “ Jadi Num, sekarang kalau ngga salah dia ada dibelakang, oh itu dia.” Ucap Nita sambil melambaikan tangan pada karyawan baru yang sedang mereka bicarakan. Saat mereka sudah berhadap-hadapan tangan Shanum pun langsung ia ulurkan untuk berjabat tangan dengannya. “ Shanum.” “ Disa mba.” Sesaat Shanum mengerutkan dahinya saat Disa menyebutkan namanya. Namun fikirannya buruknya pun langsung ia buang jauh-jauh. Senyuman pun mulai ia pancarkan walau dalam keadaan hati yang tak karuan. “ Selamat bergabung Dis, semoga kamu betah kerja disini ya.” Ujar Shanum. “ Iya mba, Insyaallah Disa bakalan betah kalau teman-temannya baik-baik semua gini.” Jawabannya membuat Shanum dan Nita saling pandang dan tersenyum. “ Iya Dis jangan sungkan-sungkan kalau ngga tahu tanya aja.” Saran Nita. Kemudian mereka bertiga pun kembali dengan aktivitasnya saat kafe mulai di buka. Kali ini Shanumm berjaga di bagian kasir. Awalnya ia menolak, tapi teman-temannya menyarankan itu padanya karena Shanum masih terlihat pucat karena kemarin habis sakit. Saat Shanum berjaga di kasir pandangannya pun tertuju pada salah satu pelanggan yang datang dalam keadaan hamil. Hatinya terasa perih saat melihat wanita hamil tersebut dengan bahagianya mengelus erut yang membuncit. Ia pun dengan tangan gemetar memegangi perutnya yang masih rata. “ Mungkin aku akan bahagia seperti wanita itu saat aku mengetahui kehamilan ini. Dan aku pasti akan bahagia menerima kehadirannya, tapi kenapa dia harus hadir dengan cara seperti ini. Dia harus jadi korban atas perbuatan dosaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang ya Allah.” Batinnya. “ Shanum kamu nangis.” Ucap Nita yang ternyata melihatnya menangis. Dan Shanum segera menghapusnya. “ Ngga kok Nit, tadi aku kelilipan.” Jawabnya bohong. Dan tanpa ia duga perutnya kembali mual. Shanum langsung menutup mulutnya serta lari ke kamar mandi. Shanum sudah tak menghiraukan anggilan Nita. Dan ternyata Nita mengikuti Shanum ke kamar mandi. Dia menggedor-gedor pintu kamar mandi karena khawatir melihat temannya yang muntah-muntah didalam. “ Num kamu baik-baik aja kan.” Tanyanya dari luar. “ Iya Nit.” Jawab Shanum. Saat sudah membaik Shanum pun keluar dari kamar mandi. Dia terkejut saat mengetahui Nita masih menunggunya di depan kamar mandi. “ Num kamu……” Ucapan Nita yang menggantung membuat jantung Shanum berdebar. Ia takut Nita akan mencurigainya dengan keadaannya yang  seperti ini. Apalagi Nita memandanginya dengan tatapan penuh pertanyaan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN