Flashback on
Beberapa tahun yang lalu.
Pandangan Shanum terlihat begitu sayu saat tatapannya kini hanya tertuju pada ayahnya yang terbaring lemah di ranjangnya. Shanum pun saat ini sedang bingung apa yang harus ia lakukan lagi untuk bisa mendapatkan uang. Masih banyak biaya yang harus ia cari untuk pengobatan dan operasi ayahnya serta biaya sekolah adiknya. Gaji yang ia dapatkan tak mungkin bisa untuk membayar itu semua.
“ Num.” Panggil ayahnya dengan suara lirih.
“ Ayah udah bangun.” Ucap Shanum yang tersadar saat ayahnya sudah bangun dari tidurnya. Namun Shanum heran karena pandangan ayahnya tertuju padanya. “ Ada apa yah, kenapa ayah ngliatin Shanum seperti itu, apa ada yang salah dengan Shanum.” Tanyanya.
“ Maafkan ayah num.” Ucap ayahnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“ Kenapa ayah minta maaf paa Shanum, ayah ngga salah apapun.” Balas Shanum.
“ Karena penyakit ayah yang tak kunjung sembuh ini menyebabkan kamu kesulitan. Bahkan ayah hanya menjadi beban untukmu num.” Ujar ayahnya.
“ Stop yah, Shanum ngga pernah sekalipuun menganggap ayah sebagai beban. Semua ini sudah tanggung jawab Shanum sebagai anak ayah. Jadi Shanum mohon jangan bicara seperti itu lagi. Shanum Cuma minta ayah selalu doakan Shanum agar rezeki Shanum selalu dilancarkan.” Ungkap Shanum yang tak ingin terlihat sedih dihadapan ayahnya.
“ Tapi num pengobatan ayah benar-benar ngga murah. Butuh biaya yang lebih banyak lagi. Apalagi jika ayah sampai operasi. Biaya untukmu kuliah pun sudah digunakan num.”
“ Ayah Shanum mohon jangan berfikir macam-macam. Shanum yakin Allah pasti bakalan kasih jalan untuk Shanum. Dan masalah uang tabungan kuliah Shanum ayah jangan fikirkan juga. Insyaallah nanti kalau ayah udah sembuh pasti Shanum menabung lagi buat kuliah.” Jawab Shanum.
Mereka pun berpelukan dengan air mata ayah Shanum yang sudah mengalir.
“ Makasih nak.”
“ Iya ayah, oh ya yah Shanum harus berangkat kerja dulu. Bentar lagi Adib pulang kok.” Ucap Shanum smbil berpamitan untuk berangkat kerja. “ Assalamualaikum.” Salamnya serta bersaliman dengan ayahnya.
“ Waalaikumsalam.”
Dalam perjalanan menuju kafe Shanum masih melanjutkan fikirannya tentang cara mendapatkan uang dengan cepat agar segera melakukan operasi ayahnya. Ketika dirinya masih sibuk dengan fikirannya, tiba-tiba di belakangnya ada yang mengklakson sepeda motor.
“ TIN …. TIN… TIN.”
Shanum pun langsung menyingkir dari tempatnya. “ Astagfirullah.” Ucapnya sambil memegangi jantungnya yang berdetak cepat akibat terkejut. “ MAS NAUFAL.”
“ Ya ampun num, di jalan jangan ngalamun dong num bahaya tahu.” Sapa Naufal sambil menghentikan motornya dan mendekati Shanum.
“ Maaf mas” Sesal Shanum sambil menundukkan kepalanya.
“ Apa sih yang lagi kamu fikirin.” Tanya Naufal.
“ Ngga ada kok mas.” Ucap Shanum. Dia tak ingin menceritakan masalahnya pada Naufal sahabatnya. Karena ia merasa tak ingin merepotkan Naufal lagi. Sudah banyak sekali Naufal membantunya dan kali ini dia tak ingin lagi menyusahkan Naufal, ia tak enak hati. Walaupun ia tahu apapun masalahnya pasti Naufal akan membantunya.
“ Num berapa kali sih aku harus bilang ke kamu kalau ada masalah jangan disembunyikan. Kita bukan kenal sehari dua hari num. Aku tahu kalau kamu lagi bohongin aku.” Balas Naufal.
“ Bener mas Naufal, Shanum ngga bohong mas. Shanum cuma lagi kecapean aja karena semalam ngga tidur jagain ayah.” Jawab Shanum mencoba menenangkan keadaannya agar tak terlihat sedih.
“ Oh ya gimana sama ayah kamu.” Tanya Naufal yang mulai mengalihkan perhatiannya jadi Shanum sedikit lega.
“ Alhamdulillah mas, ayah udah baikan.” Jawabnya.
“ Syukurlah.” Balas Naufal.
Kemudian Naufal pun mengantarkan Shanum ke kafe untuk bekerja. Dalam perjalanan ke kafe Shanum selalu mengalihkan pembicaraan agar Naufal tak lagi menanyakan tentang masalahnya saat ini.
***
Ketika dirinya sedang bekerja, tiba-tiba adiknya menelfon. Shanum pun yang masih memakai pakaian kerja pun langsung berlari dan mencari kendaraan umum. Dia tak peduli lagi dengan pandangan orang yang melihatnya. Air matanya pun sudah mengalir deras, perasaan takut, khawatir dan sedih pun bercampur jadi satu ketika adiknya memberitahu dirinya bahwa saat ini ayahnya berada di rumah sakit. Ayahnya tak sadarkan diri setelah dirinya berangkat kerja.
Sesampaiya di rumah sakit Shanum berlari menuju ruang IGD. Disana dia melihat Adib yang terlihat mondar-mandir di depan IGD.
“ Adib.” Panggil Shanum dan Adib pun langsung berlari menuju kakaknya.
“ Kak Shanum.” Ucap Adib. “ Maafin Adib kak, Adib ngga bisa jagain ayah.” Sesalnya.
“ Udah Dib, ini bukan salahmu. Keadaan ayah memang sudah makin buruk. Ini salah kakak yang belum bisa mencari biaya untuk operasi ayah. Jadi sekarang ayah seperti ini.” Balas Shanum.
Walau dirinya juga sedang khawatir tapi ia juga tak ingin menambah kekhawatiran Adib. Dia harus terlihat lebih kuat dari adiknya. Tak lama kemudian dokter pun menemui Shanum dan Adib.
“ Shanum.” Panggil dokter yang selalu menangani ayahnya.
“ Gimana keadaan ayah dok.” Tanya Shanum dengan panik.
“ Seperti yang saya katakan dulu num, kalau ayah kamu harus segera dioperasi dan menerima transplantasi ginjal.” Ucap Dokter dengan serius.
“ Iya dok sebentar lagi Shanum akan mendapatkan biaya untuk operasi ayah dok. Jadi Shanum mohon dok lakukan yang terbaik untuk ayah Shanum dok. Jangan biarkan dia kesakitan dok.” Pinta Shanum dengan penuh harapan.
“ Tentang iu kamu tenang saja num, Insyaallah semuanya akan baik-baik saja. Dan saya akan melakukan yang terbaik untuk pengobatan ayah kamu. Kalu begitu saya permisi dulu ya.” Balas dokter yang kemudian meninggalkan Shanum dan Adib.
Setelah kepergian dokter Shanum dan Adib pun menemui ayahnya yang masih di IGD. Disana tumpahlah air mata mereka karena melihat ayahnya terbaring lemah tak sadarkan diri.
“ Kak, apa bener kalau kakak udah dapat biaya untuk operasi ayah.” Tanya Adib yang penasaran.
Dengan berat hati Shanum pun berbohong pada adiknya. “ Insyaallah sebenntar lagi kakak akan dapat uang dib. Kamu tenang aja ya, kakak ngga akan membiarkan ayah kesakitan seperti ini. Yang penting kamu harus selalu doain kakak ya.”
“Adib pasti selalu doain kakak. Tapi Adib pun kasihan lihat kakak bekerja keras seperti sekarang demi Adib dan ayah. Sedangkan Adib sebagai anak laki-laki hanya diam aja.” Sesalnya.
“ Adib ini sudah kewajiban kakak. Dan kakak justru ngga seneng kalau sampai kamu ikut-ikut seperti kakak dan menelantarkan sekolah kamu. Kakak berjuang seperti ini karena kakak ingin ngliat kamu jadi orang yang sukses. Please dib wujudin mimpi kakak dan ayah.” Ungkap Shanum sambil memeluk adiknya.
“ Adib janji kak kalau Adib ngga akan menyia-nyiakan perjuangan kakak selama ini.” Jawab Adib.
“ Kalau gitu kakak balik ke tempat kerja dulu ya dib, kakak ngga enak keseringan izin. Nanti kalau ada apa-apa kamu langsung ngubungin kakak ya.” Pamitnya.
“ Iya kak.”
“ Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
***
Masih tetap dengan kebingungannya mencari biaya operasi untuk ayahnya sambil menyusuri jalanan yang terlihat ramai akan lalu lalang kendaraan dan orang-orang. Dia pun tak mungkin kembali ke kafe karena hari pun sudah larut. Pasti sekarang kafe sudah akan tutup. Shanum kembali berfikir akan meminjam uang pada bosnnya, namun dia urungkan karena hutangnya yang dulu saja belum selesai ia lunasi. Masa ia akan meminjam lagi, dan tak mungkin bosnya mau meminjamkannya lagi. Karena saat ia meminjam uang dengan dipotong gaji saja banyak ucapan yang tak enak untuk didengar. Apalagi jika ia meminjam uang lagi.
“ Apa iya aku mau meminta bantuan pada mas Naufal lagi.” Gumamnya yang terus bejalan menyusuri jalan. “ Ngga aku ngga boleh tergantung terus sama mas Naufal. Dia sudah begitu banyak menolongku.” Urungnya.
Kemudian Shanum pun terus menyusuri jalan, sampai tak terasa ternyata dia sudah melewati gang. Tapi saat ia tersadar ternyata dirinya memasuki tempat yang kurang baik. Disana adalah tempat dimana para wanita menjual dirinya.
“ Astagfirullah, kenapa aku kesini.” Ucapnya dan berbalik. Tapi saat ia akan kembali jalan tak tahu mengapa tiba-tiba ia urungkan dan kembali berbalik melihat tempat kotor tersebut.
Fikiran kotor pun terlintas dalam fikirannya. “ Apa aku harus menjual diriku agar bisa dapat uang banyak dan cepat.” Batinnya.
“ Astagfirullah kenapa aku berfikiran kotor seperti ini.” Ucap Shanum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan fikiran kotornya. “ Ngga aku ngga oleh nglakuin hal kotor ini. Ingat Shanum itu dosa besar.” Ucapnya mengingatkan dirinya sendiri.
Kemudian Shanum pun pergi meninggalkan tempat itu. Dia terus meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia fikirkan itu salah. Shanum pun akhirnya tak jadi ke kafe dan dia berencana untuk pulang. Karena jika ia berada dirumah sakit takutnya Adib akan menanyakan lagi biaya operasi ayahnya.
***
Keesokan harinya Shanum pun pergi ke rumah sakit untuk membawakan sarapan serta pakaian ganti Adib untuk sekolah. Dan kebetulan hari ini dia juga sift pagi jadi dia tak bisa menemani ayahnya. Maka ia akan meminta bantuan suster disana untuk menjaga ayahnya. Dan jika sesuatu terjadi pada ayahnya ia meminta suster untuk langsung menghubunginya.
Hari ini ternyata Shanum baru dikabari kalau akan ada orang yang memesan kafe untuk merayakan ulang tahun jadi dia harus bekerja lembur. Shanum senang sekaligus sedih, dia senang karena ada uang lembur namun sedihnya ia tak bisa menemani ayahnya di rumah sakit.
“ Num kamu keliatan cape banget.” Tanya temannya Nita.
“ Lumayan nih Nit, ayahku masuk rumah sakit lagi. Aku pun bingung banget nyari biaya buat operasi ayah.” Ungkapnya, Nita salah satu teman yang dekat dengan Shanum di kafe. Dan terkadang Shanum pun mencurhatkan hal pribadinya pada Nita.
“ Ya Allah num kasihan banget kamu, kenapa kamu ngga gadein aja rumah kamu dulu num.” Saran Nita.
“ Ya Allah Nit, gimana aku mau gadein rumah kalau sertifikatnya aja ada di bank.” Jawab Shanum.
“ Ya ampun. Rumit banget hidup kamu num. Andai aku orang kaya num pasti aku udah bantuin kamu. Sayangnya hidupku aja pas-pasan.” Balas Nita.
“ Ngga papa kok Nit. Aku justru makasih sama kamu karena kamu mau dengerin cerita dan keluh kesahku.” Ucap Shanum.
“ Sama-sama num. emang susah num kalau orang kaya kita kena masalah tentang keuangan. Apalagi kalau ngga ada lagi yang bisa dijual. Eh ujung-ujungnya malah banyak yang jual diri.” Ucap Nita yang bercanda. Tapi ternyata ucapan Nita membuat Shanum terusik. “ Ya udah num aku kedepan dulu ya nanti bos ngomel-ngomel. Ya penting sabar aja num.”
“ Iya Nit.” Jawab Shanum.
Sepeninggalan Nita, Shanum pun masih memikirannucapan Nita.
“ Apa iya aku harus menjual diri untuk mendapatkan uang dengan cepat.” Batinnya.
Selesai lembur Shanum pun berniat ke rumah sakit untuk bergantian dengan adiknya. Tapi belum sampai disana Shanum berhenti di depan sebuah club. Fikirannya pun mulai memikirkan hal-hal yang tak baik.
“ Mungkin kalau aku menjual diri ditempat orang-orang kaya aku bisa cepat dapat uang. Bahkan kalau aku hanya sekali menjual diriku.” Batinnya.
Tak tahu mengapa langkahnya tiba-tiba menuntunnya untuk masuk ke dalam club tersebut. Disana Shanum benar-benar terkejut. Karena baginya ini pertama kalinya ia memasuki tempat penuh dengan dosa seperti ini. Apalagi disana-disini terdengar music kencang serta orang-orang yang menari ditengah-tengah.
Pandangan Shanum pun mengarah pada pelayan yang sedang di goda oleh laki-laki. Tubuhnya langsung merinding jika itu sampai terjadi pada dirinya. Ia urungkan niatnya dan keluar dari tempat penuh dosa itu.
“ Ya Allah ampuni Shanum ya Allah karena masuk tempat penuh dosa itu.” Ucapnya saat berdiri di depan pintu club. Baru selesai berucap seperti itu ponsel Shanum pun berdering.
“ Halo, Assalamualaikum dib.” Salam Shanum.
“ Waalaikumsalam kak. Kok kakak belum sampai sini sih. Apa kakak masih lembur.” Tanyanya.
“ Hmmm.” Balas Shanum.
“ Adib Cuma mau ngasih tahu kakak, kalau dokter udah jadwalin operasi buat ayah kak. Dan jadwalnya minggu depan jadi dokter nyuruh kakak segera mengurus administrasinya.” Tubuh Shanum langsung membeku mendengar penuturan Adib. Kebingungan pun terus melandanya.
“ Iya dib, kakak akan segera urus biaya operasi ayah.” Jawabnya.
Kemudian Shanum pun menutup telfonnya. Dia membalikkan badan serta memandangi club tersebut.
“ Apa iya aku harus mengambil jalan pintas. Apa iya aku harus melakukan dosa dulu baru mendapatkan uang. Apa Allah akan mengampuniku jika aku melakukannya.” Batinnya.
Namun saat Shanum masih bimbang, tiba-tiba ada orang yang menyapanya di belakangnya.
“ Hai….” Panggilnya dan Shanum langsung menoleh kebelakang. Matanya langsung melotot saat ia memandang lelaki yang memanggilnya.
***