CHAPTER 12

2243 Kata
Casilda Baru Saja Memasuki Gerbang Sekolah, Ia Mengedarkan Pandangannya Ke Sekelilingnya Hingga Akhirnya Pandangannya Berhenti Dan Terfokus Pada Satu Sosok Lelaki Yang Menurutnya Seperti Pangeran Tampan Yang Sengaja Tuhan Turunkan Ke Bumi Untuk Membuat Hidupnya Lebih Menarik. " BIAN? " Casilda Berlari Cepat Mengejar Bian Yang Sedang Berjalan Masuk Ke Dalam Lorong Sekolah. Casilda Terus Saja Berlari Sampai Akhirnya Saat Sudah Berada Di Dekat Bian, Ia Berusaha Menghentikan Larinya Dengan Menahan Sepatunya Sampai Menimbulkan Bunyi Berdecit Di Lantai. Sialnya, Casilda Tidak Bisa Menghentikan Larinya Tepat Di Dekat Bian Karena Terlalu Kencang.  Nasib s**l Menimpa Casilda Karena Tepat Di Depannya Ada Sebuah Kelas Yang Pintunya Tiba – Tiba Saja Di Buka Oleh Salah Satu Murid Dari Dalam Yang Ingin Keluar Kelas. Pintu Yang Terbuka Itu Di Tabrak Begitu Saja Oleh Casilda Hingga Ia Jatuh Tersungkur.   BUKK . . .   Bian Sangat Terkejut Ketika Melihat Ada Seseorang Yang Tiba – Tiba Saja Terjatuh Tidak Jauh Darinya Karena Menabrak Pintu Yang Baru Saja Terbuka. Setelah Ia Perhatikan Selama Beberapa Detik, Bian Baru Tersadar Kalau Yang Terjatuh Dihadapannya Saat Ini Adalah Gadis Yang Selalu Membuat Dirinya Gugup Dan Penyebab Jantungnya Berdetak Tidak Normal Ketika Berduan Dengan Nya Akhir – Akhir Ini. Siapa Lagi Kalau Bukan Casilda. " Casilda? " Ucapnya Mengernyitkan Dahi. Bian Diam Sebentar Memandangi Gadis Itu, Ia Tidak Langsung Membantu. Casilda Mengusap Dahinya Yang Tadi Sempat Terbentur Pintu Cukup Kencang Hingga Kepalanya Sedikit Terasa Pusing Dan Nyeri. " ADUH! " Casilda Meringis Sambil Berusaha Berdiri, Ia Di Tertawakan Oleh Seorang Lelaki Yang Menyebabkan Dirinya Seperti Saat Ini Karena Membuka Pintu Secara Tiba - Tiba. Beberapa Murid Yang Berada Di Lorong Juga Ikut Mentertawakan Casilda Yang Jatuh Seperti Itu. Sakit Yang Casilda Rasakan Tidak Seberapa Di Banding Malu Yang Ia Rasakan Saat Ini.   Rasanya Casilda Ingin Terbang Ke Khayangan Bertemu Mimi Peri Agar Lari Dari Semua Ini. " HA HA HA. " " GAK PUNYA MATA LO YA! " " Rese Banget Sih, Lo! Siapa Tadi Yang Buka Pintu? " Omel Casilda Yang Sudah Berdiri Tegak. " GUA? KENAPA? " Ucap Lelaki Berbadan Tinggi Dengan Tubuh Yang Cukup Berisi. " Gara – Gara Lo Nih, Jidat Gue Jadi Benjol! " Omel Casilda Sambil Mengusap Dahinya Yang Terlihat Memerah. " Makanya Jalan Itu Pake Mata! CAKEP – CAKEP KOK b**o! " Ucap Lelaki Itu Kasar Sambil Menepuk Pelan Pipi Casilda. " Gue Baru Sadar Kalo Kaka Kelas Di Sini Ada Yang Secantik Lo. " Lanjut Lelaki Itu Tak Sopan. Bian Yang Sejak Tadi Diam Segera Melangkah Mendekat Ke Arah Lelaki Itu, Ia Tak Suka Melihat Tingkah Dan Sikap Lelaki Itu Kepada Casilda Yang Terlihat Tidak Sopan.   Casilda Terkejut Ketika Bian Sudah Berada Di Sampingnya Dan Menatap Lelaki Itu Dengan Tajam. " BIAN? " Sapa Casilda Namun Tidak Di Gubris. Kini Bian Berdiri Berhadapan Dengan Lelaki Itu. " KALO SAMA PEREMPUAN ITU YANG SOPAN! " Bian Menarik Kerah Seragam Lelaki Itu Cukup Kencang, Tapi Lelaki Yang Di Ketahui Masih Kelas Sebelas Itu Kini Diam Saja Ketika Tau Siapa Yang Berada Di Hadapannya Saat Ini. Padahal, Lelaki Itu Bertubuh Lebih Besar Di Banding Bian, Tapi Nyali Nya Tidak Sebesar Bian. " Bian Udah, Bian! " Ucap Casilda Menarik Bahu Bian Agar Menjauh Dari Lelaki Itu. Namun, Usaha Casilda Tidak Berhasil Karena Bian Menahan Tubuhnya, Matanya Masih Menatap Tajam Ke Arah Lelaki Yang Tadi Bicara Kasar Kepada Casilda. " Bian Lepasin Aja, Jangan Ribut! " Casilda Terlihat Panik Berusaha Melerai Mereka Berdua, Tapi Sepertinya Bian Tidak Menggubris Ucapan Casilda Yang Memaksa Dirinya Untuk Melepas Cengkraman Lelaki Itu. " So.... Sorry Kak! " Ucapnya Ketakutan Tak Berani Menatap Bian. Bian Mendorong Tubuh Lelaki Itu Ke Dinding Hingga Tubuh Bagian Belakangnya Terbentur Kencang Membuat Casilda Yang Melihatnya Ketakutan Hanya Bisa Menggigit Jarinya Sambil Berdoa Semoga Bian Mendapat Hidayah Agar Mau Berdamai Dengan Lelaki Itu, Tapi Rasanya Tak Mungkin. " Jedotin Kepala Lo Ke Pintu! " Perintah Bian Dengan Nafas Terengah, Emosinya Mendadak Meningkat. " SEKARANG! " Teriak Bian Mengagetkan Lelaki Itu, Ia Melepaskan Cengkramannya Dan Membiarkan Lelaki Itu Melakukan Perintahnya. " Maafin Gue Kak, Gue Gak….." Lelaki Itu Menggigil Ketakutan. " JEDOTIN KEPALA LO SEKARANG! " Perintah Bian Menunjuk Ke Arah Pintu. Merasa Ketakutan, Lelaki Itu Dengan Paksa Melakukan Apa Yang Bian Perintahkan Untuk Membenturkan Kepalanya Secara Sengaja Ke Pintu Seperti Apa Yang Tadi Casilda Rasakan. Lelaki Itu Segera Membenturkan Kepalanya Cukup Keras. Casilda Terperangah Melihat Kejadian Itu. Bian Benar – Benar Membuat Lelaki Itu Sangat Ketakutan. " Udah, Kak. " Ucapnya Setelah Membenturkan Kepalanya Sekali. Bian Melirik Dahi Casilda Yang Terlihat Sedikit Memerah, Kemudian Bian Kembali Melihat Ke Arah Lelaki Itu Yang Dahinya Masih Terlihat Biasa Saja Tidak Memerah Seperti Casilda. " SEKALI LAGI YANG KENCENG! " Tegas Bian Dengan Tatapan Mengerikan. " TAPI KA… " Melihat Bian Melotot Ke Arahnya, Langsung Saja Lelaki Itu Menuruti Perintahnya Dari Pada Mendapat Masalah Yang Lebih Ruwet. Pria Berbadan Tinggi Itu Segera Membenturkan Kembali Kepalanya, Kali Ini Lebih Kencang.   BUKK . . . Casilda Menutup Matanya Melihat Lelaki Itu Kembali Membenturkan Kepalanya, Berbeda Dengan Bian Yang Kini Tersenyum Puas Melihat Hasil Karyanya Membuat Dahi Lelaki Itu Terlihat Lebih Merah Dari Casilda. " Oke, Cukup! " Seru Bian, Ia Melangkah Mendekat Ke Arah Lelaki Yang Tengah Meringis Kesakitan Itu.   “ Satu Lagi…” Bian Menepuk – Nepuk Pipi Lelaki Itu Seperti Yang Tadi Dilakukan Kepada Casilda. “ Jalan Itu Pakai Kaki, Bukan Mata! “ Tegas Bian Setelah Itu Ia Dengan Santainya Kembali Melangkahkan Kakinya Berjalan Menelusuri Lorong Menuju Kelasnya.   Melihat Bian Berjalan, Casilda Pun Mengikuti Bian Di Belakangnya.   " Bian, Makasih Ya. " Ucap Casilda Saat Sudah Berjalan Sejajar Dengan Bian. " Jidatnya Masih Sakit Gak? " Tanya Bian Sambil Terus Saja Berjalan. " Masih. " Nada Bicara Casilda Terdengar Sedikit Manja Sambil Mengerutkan Bibirnya. " Perlu Ke UKS Gak? " Tanya Bian Meliriknya Sekilas. " Enggak Perlu, Sih. HE HE. " Casilda Malah Menyengir Sambil Terkekeh. Bian Mendadak Menghentikan Langkahnya Ketika  Ingin Menaiki Tangga. " Lo Ngapain Ikutin Gue? Kelas Lo Kan, Di Sana? " Bian Menunjuk Ke Arah Kelasnya Casilda Yang Terletak Di Lantai Dasar, Sedangkan Kelas Bian Di Lantai Dua. " Oh Iya, Kirain Kelas Aku Pindah Ke Lantai Dua. " Seru Nya Sambil Tersenyum Tipis, Mata Nya Terus Saja Mencuri – Curi Pandangan Untuk Menatap Bian Yang Pagi – Pagi Gantengnya Terlihat Maksimal. " Sejak Kapan Kelas Lo Pindah? " Tanya Bian Tanpa Ekspresi. Padahal, Casilda Hanya Bercanda Saja, Tetapi Lelaki Itu Menanggapinya Dengan Serius. " Gak Tau. " Casilda Menggeleng Saja. " Sanah Balik. " Usir Bian Membuat Casilda Mengerucutkan Bibirnya, Memasang Wajah Sedih. " Kamu Usir Aku Ya? " Tanya Casilda. " Yaudah Kalo Gitu Biar Gue Yang Pergi. " Baru Saja Bian Menaiki Satu Tangga, Lelaki Itu Membalikan Badannya Dan Turun Kembali Berdiri Berhadapan Dengan Casilda Yang Masih Tetap Di Posisinya Semula. " Kok Gak Jadi Pergi? " Tanya Casilda Memasang Wajah Sok Jutek. Bian Mengambil Sesuatu Dari Tasnya. Casilda Diam Saja Sambil Berusaha Melihat Apa Yang Bian Cari Dari Dalam Tas Nya Itu. Setelah Mendapatkan Apa Yang Di Cari, Bian Kembali Menatap Casilda. " Nih, Buat Lo. " Bian Menyodorkan Empat Buah Cokelat Batangan Cukup Besar Ke Arah Casilda. " WOAH! " Mulut Casilda Terbuka Lebar, Ia Menatap Bian Tak Percaya Karena Lelaki Di Hadapannya Itu Secara Cuma – Cuma Memberikannya Cokelat Yang Cukup Banyak Kepadanya. " Banyak Banget Cokelatnya? Buat Aku? " Tanya Nya. Bian Memutar Kedua Bola Matanya. " Ambil. " Ucapnya Melihat Casilda Hanya Melongo Menatap Cokelat Di Tangannya Tanpa Mengambil Pemberiannya Itu. " Makasih Ya, Bian. Pagi – Pagi Kamu Udah Berbagi Rezeki Dan Kebahagiaan. " Pipinya Berubah Merah Muda Mendapat Perlakuan Dari Bian Yang Menurutnya Sangat Manis Seperti Itu.   Casilda Sangat Senang Walaupun Hanya Di Berikan Sebuah Cokelat, Tapi Jika Yang Memberikannya Itu Adalah Bian, Ia Amat Sangat Bahagia. " Kok Kamu Beli Nya Banyak Banget? Perhatian Banget Sih, Kamu. " Casilda Mengulum Senyumnya Sambil Memeluk Cokelat Itu. Bahkan, Menurutnya Hal Seperti Itu Di Sebut Sebagai Sebuah Perhatian. " Umm… Itu Gue Beli Empat Secara Cuma – Cuma Biar Sekalian Buat Temen Yang Sering Bareng Sama Lo!  " Bian Berusaha Mengelak Saat Casilda Bilang Dirinya Perhatian Dengan Casilda, Ia Berusaha Mencari Alasan Lain Agar Gadis Itu Tidak Kepedean.   Rasa Gengsi Bian Memang Sangat Tinggi.   " Yaudah Kalo Gitu Aku Ke Kelas Dulu Ya, Bian. " Ucapnya, Lalu Casilda Membalikan Badannya Untuk Berjalan Ke Arah Kelasnya. " Casie? " Panggil Bian, Dengan Cepat Casilda Membalikan Badannya Menghadap Bian Kembali. " APA? "   Bian Mengerjapkan Matanya Berkali – Kali Menatap Casilda. " GUE GAK MAU LIAT LO JATUH KAYAK TADI LAGI! " Ucapnya Serius, Perlahan Senyum Casilda Mengembang Mendengar Bian Berkata Seperti Itu. " KALO JALAN YANG BENER. " Lanjut Bian Setelah Itu Pergi Naik Ke Lantai Atas Meniggalkan Casilda Yang Senyam – Senyum Sendiri, Ia Tidak Bisa Terlalu Lama Berhadapan Dengan Gadis Itu Karena Akan Membuatnya Gugup. " Ternyata Bian Khawatir Juga Sama Gue. " Gumam Casilda Sambil Melompat – Lompat Kecil Berjalan Menuju Kelas. Rasa Nyeri Di Dahinya Seketika Hilang Begitu Saja Terlupakan Oleh Kebahagian Kecil Yang Ia Rasakan Saat Ini.     **     Casilda Bersama Kedua Sahabatnya, Alisa Dan Mira Baru Saja Kembali Dari Kantin Setelah Menemani Casilda Melakukan Rutinitasnya Yaitu Memberikan Bian Puding. Casilda Terus Saja Berbicara Di Sepanjang Lorong Sekolah, Ia Bercerita Bagaimana Perkembangan Kedekatan Dirinya Dengan Bian. " Gue Juga Gak Yakin Dia Ngomong Apa? Tapi Pas Gue Tanya Lagi, Eh Bian Gak Mau Ngulangin Ucapannya. " Jelas Casilda Kecewa Bercerita Bagaimana Kejadian Tadi Malam Ketika Bian Mengatakan Sesuatu, Namun Sayangnya Casilda Tidak Mendengar Itu Membuatnya Semakin Penasaran. " Yaudah Gak Usah Di Fikirin. Mungkin Bukan Sesuatu Yang Penting. " Alisa Berusaha Meredakan Rasa Penasaran Sahabatnya Itu Yang Sejak Tadi Terus Saja Membahas Apa Yang Sebenarnya Bian Katakan Kepadanya Malam Itu Di Rumah Boma. " Iya Casie, Gak Usah Di Bawa Pusing. " Mira Ikut Setuju. Langkah Mereka Seketika Terhenti Karena Di Hadapannya Kini Ada 3M Yang Menghadang Jalannya. Siapa Lagi Kalau Bukan Si Mery, Mela Dan Meicha Yang Selalu Saja Mengusik Ketenangan Hidup Casilda. Ketiga Gadis Itu Berdiri Sambil Bertelak Pinggang Menatap Ke Arah Casilda Dengan Sinis. " Casilda… Casilda. " Ucap Mery Sambil Tersenyum Sinis. " Lo Satu – Satunya Manusia Di Muka Bumi Ini Yang Paling Susah Di Bilangin Dan Gak Menuruti Apa Permintaan Gue! " Mery Melangkah Mendekati Casilda. " Akhir – Akhir Ini Gue Lihat Di Snapgram Nya Nugi Kalau Lo… " Merry Menunjuk d**a Casilda Dengan Kipas Plastik Yang Ia Genggam Sejak Tadi. " Sering Kumpul Bareng Bian Dan Teman – Temannya? " Lanjut Mery, Kemudian Ia Mengipas Dirinya Sendiri Karena Saat Ini Suasana Cukup Menegangkan. Jadi, Membuatnya Terasa Panas. Casilda Berdecak Kesal. " Terus Masalahnya Apa Sih, Mery? Kenapa Sih, Lo Selalu Ganggu Hidup Gue? " Tanya Casilda. " Ya Masalahnya Itu, Lo Ngapain Deket – Deket Bian Dan Teman – Temannya Juga! LO CAPER BANGET SIH, JADI CEWEK! " Teriak Meicha Yang Berdiri Di Belakang Mery, Ia Terlihat Geram Menatap Casilda. " DASAR CEWEK GATEL! " Celetuk Mela, Sedangkan Alisa Dan Mira Kini Hanya Bisa Terdiam Meskipun Dalam Hatinya Ingin Sekali Menghajar 3M Dan Menyumpal Mulut Ketiga Gadis Itu Dengan Kotoran. " Lo Pake Pelet Apa? Sampe Mereka Mau Main Sama Cewek Tengil Kayak Lo? " Tanya Mery. Casilda Hanya Diam Tak Berniat Menjawab Pertanyaan Tidak Penting Itu Baginya. " Gue Mau Ke Kelas. " Baru Saja Casilda Melangkahkan Kakinya, Mery Menahan Lengannya. " Gue Lagi Ngomong Sama Lo, Bodoh! Kenapa Lo Pergi! " Gertak Mery Membuat Siapapun Yang Berada Di Lorong Sekolah Melihat Ke Arah Mereka Saat Ini. " Mery Kita Udah Mau Lulus. Masa Lo Mau Kita Musuhan Terus? " Ujar Casilda. " Lo Jauhin Bian. Masalah Selesai! Se-Simple Itu, Kan? " Ucap Merry Ditelinga Casilda Penuh Penekanan. " GAK AKAN! " Jawab Casilda Tegas. " Kalo Lo Emang Suka Juga Sama Bian. Ayo Kita Bersaing Dengan Cara Sehat! " Casilda Memberanikan Menatap Mery Dengan Tajam, Ia Tidak Suka Jika Harus Di Paksa Untuk Menjauhi Bian. " Lo Nyuruh Gue Berhenti Ngejar Bian Karena Lo Sendiri Gak Mampu Kan, Dapetin Bian! Makanya, Lo Takut Kalo Gue Yang Akan Dapetin Bian! " Ucap Casilda Dengan Lantang, Entah Mendapat Keberanian Darimana Ia Bisa Berkata Seperti Itu, Tapi Yang Pasti Saat Ini Ia Merasa Puas Bisa Mengatakan Itu.   Alisa Dan Mira Pun Kini Ikut Tersenyum Melihat Casilda Akhirnya Berani Bersuara. " Gue Mau Ke Kelas. " Casilda Segera Berjalan Meninggalkan Mery Yang Kini Terdiam Membeku Ketika Casilda Berkata Seperti Itu. " Tunggu! " Ucap Merry Menahan Alisa Dan Mira Yang Ingin Melangkah Pergi, Sedangkan Casilda Sudah Berjalan Lebih Dulu. " Kenapa? " Tanya Alisa Dan Mira Bersamaan. " Gue Lihat Casilda Sering Kumpul Sama Bian Dan Teman – Temannya, Tapi Kayaknya Lo Berdua Jarang Di Ajak Ya? " Ucap Mery Membuat Mereka Berdua Diam Tak Mengerti. " Maksudnya Apa? " Tanya Alisa. " Ya… Gue Sih Ngerasa Kasihan Aja Sama Kalian Berdua Karena Cuma Di Manfaatin Doang Sama Casilda Biar Kalian Bantuin Dia Deket Sama Bian Dan Temen – Temennya. Setelah Dia Mendapatkan Itu, Pasti Kalian Berdua Akan Di Lupakan! " Mery Berusaha Meracuni Fikiran Alisa Dan Mira Agar Membenci Teman Dekatnya Yaitu, Casilda. " Mery, Satu Hal Yang Perlu Lo Tau. " Ucap Alisa Kemudian Ia Tersenyum. " Kita Bahagia Kalo Casilda Bahagia. Jadi, Kalo Casilda Bisa Dapetin Apa Yang Dia Mau, Kita Ikut Seneng! " Jelas Alisa Penuh Bangga. " Apapun Yang Lo Katakan, Itu Gak Akan Pernah Mengubah Pertemanan Kita! " Sahut Mira, Ia Tak Terpancing Dengan Apa Yang Mery Katakan.   Mereka Berdua Segera Pergi Menyusul Casilda Yang Sudah Berjalan Jauh Darinya. " s**l! " Mery Melempar Asal Kipas Yang Sejak Tadi Di Genggamnya. Rasa Kesal Terlukis Diwajahnya. " Mery? Apa Yang Harus Kita Lakukan? Casilda Udah Mulai Ngelunjak! " Ucap Meicha Melihat Bagaimana Tadi Casilda Mulai Berani Bicara Seperti Itu Kepada Mery. " Kita Harus Fikirin Rencana Selanjutnya! " Sahut Mela. " Tenang Aja, Nanti Pulang Sekolah Kita Kasih Dia Pelajaran! " Mery Menyipitkan Matanya, Ia Tersenyum Miring Menatap Casilda Yang Sudah Semakin Menjauh.   ** BESOK AKU UP 2 PART YA :) AKAN LEBIH MENEGANGKAN :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN