HAI SESUAI JANJI... HARI INI AKU UPDATE 2 PART DI JADIKAN SATU BAB YA :) SELAMAT MEMBACA.
**
Bian Dan Teman – Temannya Saat Ini Berada Di Kantin. Kini, Boma Tengah Duduk Di Hadapan Bian Dan Menatap Lelaki Itu Dengan Serius, Sedangkan Bian Sendiri Lagi Sibuk Mengatur Senar Gitar Yang Kini Berada Di Pangkuannya.
" Bian? Lu Marah Ya Sama Gue Gara – Gara Gak Gua Ajak Nyalahin Petasan? " Tanya Boma Menatap Wajah Bian, Tetapi Bian Sendiri Hanya Terdiam Sibuk Dengan Aktivitasnya Itu, Sedangkan Temannya Yang Lain Duduk Di Sampingnya Berjejer Sambil Memakan Puding Yang Casilda Bawa Tadi.
" Kan, Sebelumnya Gue Udah Ajak Lu, Bian. Terus Lo Nya Gak Mau, Yaudah Gue Nyalahin Aja Petasannya Sendiri! " Lanjut Boma Tak Mau Menyerah Agar Membuat Bian Kembali Bicara Kepadanya Karena Sejak Pagi Hingga Istirahat Bian Sama Sekali Tidak Berbicara Dengan Boma.
" Tapi Kan, Akhirnya Gue Kasih Lu Petasan Juga Yang Terakhir. Eh, Lo Malah Patahin Petasan Itu. “ Ujar Boma. “ Salah Lo Sendiri Lah, Bukan Salah Gue! " Boma Melirik Ke Arah Teman – Temannya. " Ya Kan, Teman – Teman? " Tanya Nya Meminta Dukungan, Tapi Ketiga Temannya Itu Tidak Menyahut.
Menurut Boma Si Kepala Botak, Bian Marah Kepadanya Karena Tidak Di Ajak Main Petasan. Padahal, Bukan Karena Itu Sama Sekali. Hanya Saja Pemikiran Boma Terlalu Sempit Dan Tak Masuk Akal, Jadi Mengira Bian Marah Karena Petasan.
" Lo Sih, Boma. Hidupnya Cuma Bikin Rusuh Doang! " Celetuk Delon Sambil Terus Saja Memakan Puding. Dia Paling Lahap Memakan Puding Pemberian Casilda Kepada Bian.
Bian Melirik Kotak Makan Yang Berisi Puding Dari Casilda Kini Sudah Mulai Habis Di Makan Delon, Lelaki Itu Baru Tersadar. " Delon? Kok Di Habisin? Gue Belom Makan Sama Sekali. " Ucap Bian.
" Kirain Karena Lo Lagi Ngambek Jadi Gak Kepengen Makan. Yaudah Gue Habisin Aja, Deh. HE HE. " Jawab Delon Santai Lalu Ia Terkekeh, Bian Hanya Bisa Menarik Nafas Saja Melihat Kelakuan Temannya Itu.
" Emang Tadi Malam Lo Kenapa, Sih? " Tanya Nugi Penasaran Tapi Bian Tidak Menjawab.
" Bian, Cerita Ke Kita Semalam Lo Kenapa? " Tanya Adrian Yang Duduk Di Sebelah Bian.
Bian Meletakan Gitar Yang Sejak Tadi Berada Di Pangkuannya Ke Atas Meja, Lalu Ia Beralih Menatap Teman – Temannya Satu Per Satu Sebelum Akhirnya Ia Menjawab Pertanyaan Dari Teman – Temannya Itu.
" GAGAL TOTAL! " Kata Bian Membuat Teman – Temannya Bingung Mendengar Ucapannya Itu.
" Apa Nya? " Tanya Adrian.
" Jadi, Semalam Itu Gue Ajakin Casilda Pacaran. " Ucap Bian Belum Selesai Namun Tiba – Tiba Boma Meraih Tangan Bian Yang Berada Di Atas Meja Secara Paksa.
" Akhirnya, Temen Gue Udah Gak Jomblo Lagi! Selamat Bian! Selamat! " Boma Terus Saja Berbicara, Bian Mendengus Kesal Seraya Menarik Tangannya Dengan Kasar Yang Di Genggam Boma.
" Tapi, Gagal Gara – Gara Lo BOM! " Seru Bian Dengan Kesal, Ia Mengalihkan Pandangannya Ke Arah Adrian.
" Ternyata Casilda Sama Sekali Gak Denger Apapun Yang Gue Bilang Gara – Gara Si Boma Nyalahin Petasan! " Bian Memijit Pelan Kepalanya. " Gue Udah Susah Payah Memberanikan Diri Bilang Itu Ke Casilda, Eh Semuanya Gagal Gitu Aja Tuh, Gara – Gara Si Botak! " Ucap Bian Kesal Menunjuk Boma.
" Emang Nih, BIANG KEROK! " Nugi Memukul Kepala Boma Dengan Botol Mineral Yang Telah Kosong.
" Gak Ada Otak Emang Boma! " Delon Juga Ikut Memberi Pukulan Kepada Boma.
" Yaudah Sih, Maaf. Kan, Gue Gak Tau Kalo Lo Lagi Mau Nembak Casilda. “ Boma Menautkan Kedua Tangannya Memohon Maaf Kepada Bian. “ Maafin Boma Yang Lucu Ini Ya, Bian. " Ucap Boma Berusaha Merayu Bian. " Maafin Temen Mu Ini Ya? Manusia Itu Tidak Luput Dari Kesalahan, Bian. Jadi, Lo Mau Kan Maafin Gua? " Boma Terus Saja Memohon Dengan Wajah Memelas.
Tampang Boma Yang Sangat Menyedihkan Itu Membuat Bian Tak Bisa Menahan Tawanya. " Udah Lo Gak Usah Pasang Muka Kayak Gitu Ngeliat Gue! Enek Tau Gak. " Bian Mengambil Botol Kosong Tadi Lalu Melemparkan Ke Arah Boma.
" Gue Juga Gak Marah Beneran Kali Sama Lo. Santai Aja. " Mendengar Bian Berkata Seperti Itu Boma Jadi Merasa Lega.
" Syukurlah Kalo Gitu. Hampir Aja Gua Mau Nangis Kejer. " Gerutu Boma Dengan Tampangnya Yang Masih Memelas.
" Oh, Iya. Hari Sabtu Kan, Tanggal Merah. Gimana Kalau Kita Liburan Ke Villa Nyokap Gue? Nah, Lo Ajak Casilda Deh Tuh. “ Kini Boma Menatap Bian Dengan Serius. “ Gue Janji, Kali Ini Gak Akan Bikin Masalah Lagi! " Nada Bicara Boma Benar – Benar Terdengar Serius, Ia Ingin Menebus Kesalahannya Itu Dengan Bian.
" IDE BAGUS! AYO KITA LIBURAN! " Delon Bangun Dari Duduknya Langsung Memeluk Boma Sambil Mengusap Lembut Kepala Boma.
" Terimakasih Teman Ku Yang Baik Telah Memberi Saran Yang Bermanfaat. " Setelah Itu Delon Mencium Pucuk Kepala Boma.
" Idih Najis! Udah Gak Suci Dah, Kepala Gua! " Boma Mengusap Kepalanya Yang Baru Saja Di Cium Delon " Pasti Kepala Gue Jadi Bau Kecoa Abis Di Cium Delon. "
" HA HA HA. "
" Jadi, Kita Gunakan Sabtu – Minggu Untuk Liburan! Fix Ini Harus Jadi! " Ucap Nugi Penuh Semangat.
Bian Terlihat Seperti Sedang Memikirkan Sesuatu. " Kalo Casilda Gak Mau Gimana? " Celetuk Bian.
" Pasti Mau! Lo Tenang Aja Nanti Kita Yang Urus Semuanya. " Jawab Delon.
" Lo Aja Yang Ajak Casilda. Jangan Gue. " Ucap Bian Merasa Gengsi.
Teman – Temannya Menggeleng Mendengar Bian Berkata Seperti Itu.
" GENGSI BANGET SIH LO JADI COWO! " Seru Delon Dengan Tatapan Kesal.
" Pasti Orang Tuanya Gak Akan Izinin Dia Pergi Sama Laki – Laki, Apalagi Sampai Nginep. " Ucap Bian Yang Tak Yakin Dengan Saran Teman – Temannya Itu.
" Lo Minta Izin Lah Sama Orang Tuanya. Nanti Lo Ngarang Cerita Kek Biar Orang Tuanya Jadi Izinin Dia Pergi. " Sahut Boma.
" Males, Ah. Gue Gak Bisa Ngomongnya. “ Bian Menggeleng Cepat.
“ Nanti Yang Ada Orang Tuanya Malah Curiga Dan Gak Izinin Pergi Terus Nama Gue Nanti Jadi Jelek. " Ucap Bian, Ia Menolak Jika Harus Meminta Izin Kepada Orang Tua Casilda Karena Dia Takut Salah Bicara Karena Gugup Harus Berbohong Dan Malah Membuat Masalah. Terlepas Dari Itu Semua, Sebenarnya Bian Tidak Memiliki Keberanian Yang Lebih Untuk Hal Seperti Ini.
“ Ah Giliran Berantem Aja Berani Dan Jago! “ Celetuk Delon. “ Masa Cuma Minta Izin Doang Aja Gak Berani! Payah. “ Ledek Delon.
Adrian Menepuk Punggung Bian. " Lo Serahin Aja Semuanya Ke Gue. " Ucap Adrian Penuh Kepastian Membuat Bian Percaya Dengannya Yang Pandai Bicara Dan Lebih Dewasa Di Banding Dengan Yang Lainnya.
" Oke. " Bian Mengangguk Setuju.
***
Seluruh Murid Berhamburan Keluar Kelas Ketika Bel Pulang Sekolah Berbunyi. Alisa Dan Mira Sudah Keluar Kelas Lebih Dulu, Sedangkan Casilda Saat Ini Sedang Menyelsaikan Tugas Piketnya Membersihkan Kelas Bersama Beberapa Murid Lainnya Karena Hari Ini Adalah Jadwalnya Membersihkan Kelas Di Saat Pulang Sekolah.
Casilda Sedang Sibuk Menghapus Sisa – Sisa Tulisan Spidol Di Papan Tulis, Ia Mempercepat Pekerjaannya Itu Agar Tidak Membuat Bian Menunggu Di Parkiran Untuk Mengembalikan Kotak Makan Miliknya. Gadis Itu Bekerja Secepat Kilat.
" Casilda? " Panggil Ria Di Ambang Pintu Masuk Kelas, Ia Siswi Kelas Dua Belas Juga, Hanya Saja Beda Kelas Dan Jurusan Dengan Casilda, Tapi Mereka Saling Kenal.
" Iya, Kenapa? " Casilda Yang Sudah Menyelesaikan Tugasnya Berjalan Mendekati Ria.
" Lo Di Tunggu Seseorang. "
" Siapa? " Casilda Mengernyitkan Keningnya Menatap Ria. " Di Tunggu Di Mana? "
Ria Mengangkat Bahunya. " Lo Di Suruh Tunggu Di Sana. " Ria Menunjuk Ke Arah Tangga Yang Menuju Lantai Dua. " Tunggu Aja Di Situ, Gak Usah Naik. " Jelas Ria Setelah Itu Dia Pergi Berlalu, Tugasnya Sudah Selesai Hanya Menyampaikan Itu Saja.
" Ri… Ria Tunggu! Siapa Yang Suruh? " Teriak Casilda, Ria Terus Saja Berjalan Tidak Menoleh Atau Mendengarkan Casilda Yang Terus Saja Berteriak.
Beberapa Teman Sekelas Casilda Yang Sudah Selesai Piket Berjalan Menghampirinya. " Casie, Semuanya Udah Rapih. Lo Gak Pulang? "
" Iya, Kalian Duluan Aja. " Balas Casilda.
" Oke, Deh. Duluan Ya Casie. Bye… " Mereka Pun Segera Pergi Meninggalkan Casilda Yang Masih Terdiam Bingung.
Casilda Segera Mengambil Tas Nya Dan Berjalan Menuju Tempat Yang Tadi Ria Beri Tahu. Casilda Berdiri Di Dekat Tangga, Ia Menunggu Kedatangan Siapa Yang Menyuruhnya Menunggu Di Sana. Casilda Mengedarkan Pandangannya Melihat Ke Adaan Sekolah Yang Sudah Semakin Sepi.
" Lama Banget, Sih? " Casilda Melirik Jam Tangannya. Sudah Lima Menit Ia Berdiri Di Sana, Tapi Tidak Ada Yang Datang. Casilda Bergegas Pergi Menuju Parkiran Untuk Menemui Bian. Namun, Langkanya Terhenti Saat Ada Seseorang Yang Menghadang Jalannya.
" Meicha? " Ucap Casilda Terkejut Melihat Salah Satu Anggota 3M Ada Di Hadapannya Saat Ini.
" Kaget Ya? " Tanya Meicha Sambil Tersenyum Miring. " Santai Aja Kali, Udah Kayak Ngeliat Setan Aja! "
" Gue Mau Pulang. " Perasaan Casilda Tak Enak, Ia Segera Melangkahkan Kakinya Untuk Pergi Dari Sana, Tapi Dengan Cepat Meicha Menarik Tas Casilda Hingga Langkah Gadis Itu Mendadak Terhenti.
" Tunggu Dulu, Dong. " Ucap Meicha. " Ikut Gue Sebentar! " Meicha Menarik Tas Casilda Hingga Menyeret Gadis Itu Masuk Ke Dalam Toilet Perempuan Yang Tidak Terlalu Jauh Dari Posisinya Saat Ini.
" Lepasin, Meicha! Mau Ngapain Sih, Lo Bawa Gue Ke Sini! " Seru Casilda Yang Kini Sudah Berada Di Dalam Toilet.
" Tuh, Liat! " Meicha Menyuruh Casilda Membalikan Badannya Untuk Melihat Siapa Yang Ada Di Belakangnya Saat Ini.
Perlahan Casilda Membalikan Badaannya Dan Melihat Jelas Siapa Yang Ada Di Hadapannya Saat Ini. Siapa Lagi Kalau Bukan Mery Dan Mela. Mereka Berdua Menatap Casilda Sambil Tertawa, Namun Tatapannya Sinis.
Casilda Diam Mematung, Ia Tidak Mengerti Mengapa Mereka Bertiga Selalu Saja Mengganggunya.
" Casilda… Casilda! " Mery Berjalan Mendekat Kehadapan Casilda Yang Terlihat Sedikit Ketakutan Karena Dirinya Saat Ini Hanya Seorang Diri. Casilda Takut Seperti Dulu Ketika Mereka Bertiga Menguncinya Di Dalam Kamar Mandi.
Casilda Takut Hal Itu Terulang Lagi.
" Jadi, Lo Yang Suruh Gue Nunggu Di Deket Tangga? Lo Yang Mau Ketemu Sama Gue? " Ucap Casilda. Sesekali Ia Melihat Ke Arah Belakang, Di Mana Ada Meicha. Dia Takut Jika Meicha Akan Melakukan Sesuatu Yang Buruk Kepadanya Dari Belakang.
" Betul Sekali! " Mery Memetik Jarinya, Ia Semakin Berjalan Mendekati Casilda.
" Kalian Mau Apa? " Tanya Casilda Lagi Sedikit Gemetar.
Merry Kini Sudah Berdiri Di Hadapan Casilda, Ia Menepuk Pelan Pipi Casilda Beberapa Kali. " Lo Tau Kan, Apa Mau Gue? " Kata Mery, Tapi Casilda Hanya Diam Tak Merespon.
" Jangan Diem Aja Kalo Di Ajak Ngomong! Tadi Pas Istirahat Aja Lo Ngomong Sok Jago! " Celetuk Mela Yang Berada Di Belakang Mery.
" Apa Mau Lo? " Tanya Casilda Langsung Di Hadapan Mery.
" BERHENTI NGEJAR BIAN! " Teriak Merry Sekuat Tenaga Membuat Casilda Sangat Amat Terkejut Hingga Tubuhnya Sedikit Bergetar. Casilda Meremas Rok Nya, Memejamkan Matanya Sebentar Kemudian Kembali Menatap Mery.
" Gak Bisa. " Jawab Casilda Tenang. " Gue Gak Bisa Lakuin Itu, Mer! Gue Sayang Sama Bi… " Belum Selesai Casilda Bicara, Mery Langsung Saja Menampar Wajah Casilda Sekencang Mungkin Hingga Casilda Jatuh Tersungkur Kelantai.
Casilda Memegang Pipinya Yang Memerah Terasa Panas, Mata Nya Mulai Berkaca – Kaca, Namun Ia Berusaha Menahan Tangisnya Itu. Perlahan Casilda Mencoba Untuk Kembali Berdiri, Tapi Meicha Mendorong Kembali Tubuhnya Hingga Terjatuh Lagi.
Mery Berlutut Di Hadapan Casilda Yang Masih Terduduk, Ia Meraih Dagu Casilda Agar Menatapnya Yang Kini Tengah Melihatnya Dengan Sangat Tajam.
" GUE ULANGIN SEKALI LAGI! BERHENTI NGEJAR BIAN! KALO GUE GAK BISA DAPETIN, BIAN! LO JUGA GAK BOLEH DAPETIN DIA! " Tegas Mery Penuh Penekanan.
Casilda Menarik Nafasnya Dalam – Dalam, Ia Membalas Tatapan Mery Tak Kalah Tajam. " DASAR PENGECUT! LO FIKIR HIDUPNYA BIAN LO YANG ATUR SAMPAI DIA GAK BOLEH ADA YANG DEKETIN! " Jawab Casilda, Kali Ini Bernada Tinggi. Dia Tidak Terima Jika Dirinya Terus Di Perlakukan Seperti Ini. Casilda Memberanikan Diri Untuk Melawannya.
" b******k LO YA! " Mery Kembali Menampar Wajah Casilda Dengan Penuh Emosi Hingga Sudut Bibir Casilda Mengeluarkan Darah. " DASAR LO CEWEK MURAHAN! " Mery Kembali Ingin Menampar Wajah Casilda. Untungnya, Sebelum Tamparan Berikutnya Menyentuh Pipinya, Casilda Segera Menahan Tangan Mery.
" JANGAN SOK JAGO DEH LO! " Meicha Yang Berada Di Belakang Casilda Langsung Menarik Kuat – Kuat Rambut Casilda Hingga Kepala Gadis Itu Mendongak Ke Atas. " BERANI LO YA LAWAN MERY! " Teriak Meicha Di Telinga Casilda.
" GUE GAK AKAN BERHENTI NGEJAR BIAN! GUE AKAN DAPETIN DIA! LO SEMUA AKAN LIHAT ITU! " Teriak Casilda, Kemudian Ia Tersenyum Puas Telah Mengatakan Itu.
Mendengar Casilda Bicara Seperti Itu, Amarah Mery Semakin Menjadi – Jadi. Dengan Penuh Emosi, Mery Mencengkram Wajah Casilda.
" NYARI MASALAH LO YA! " Mery Mengangguk – Angguk, Ia Melirik Mela Yang Berada Di Belakangnya. Mengerti Dengan Maksud Tatapan Mery, Mela Langsung Bergegas Memegang Kedua Tangan Casilda, Sedangkan Meicha Masih Tetap Menarik Rambut Gadis Itu.
" DASAR CEWEK MURAHAN GAK ADA OTAK! " Dengan Bebas Mery Menampar Wajah Casilda Berkali – Kali Tanpa Perlawanan, Hingga Menciptakan Memar Di Wajah Casilda Dan Terlihat Darah Keluar Di Bibir Dan Hidung Casilda.
Mery Dan Kedua Temannya Sama Sekali Tidak Merasa Kasihan Melihat Keadaan Casilda Saat Ini Sangat Menyedihkan. Tangan Mery Yang Sudah Terlihat Merah Terus Saja Menampar Wajah Casilda Dengan Kencang Berkali – Kali.
Casilda Terus Saja Meringis Kesakitan, Ia Mengerjapkan Mata Nya Berkali – Kali, Penglihatannya Sedikit Buram.
Diketahui, Mery Memang Sangat Menyukai Bian Sejak Lama Meskipun Lelaki Itu Sudah Jelas Menolaknya Dan Menjauhinya Karena Dirinya Di Kenal Sebagai Tukang Bully. Bian Tidak Suka Itu.
Mery Selalu Membuat Siapa Saja Yang Mendekati Bian Kapok Karena Selalu Di Perlakukan Buruk Dan Di Bully Oleh Mery Membuat Mereka Akan Menyerah Dan Berhenti Mengejar Lelaki Itu.
Bagi Mery, Jika Ia Tidak Bisa Memiliki Bian. Maka, Tidak Ada Yang Boleh Mendapatkannya Juga Di Sekolah Ini.
Hanya Casilda Lah Satu - Satunya Yang Bertahan Sampai Saat Ini Dan Masih Tetap Mengejar Bian Meskipun Sudah Berkali – Kali Di Beri Pelajaran Dan Di Peringati Oleh 3M. Gadis Itu Sudah Sering Di Kunci Di Kamar Mandi, Di Lempari Kotoran Dan Juga Di Bully, Tapi Tetap Saja Tidak Menyerah.
Mungkin Itu Yang Di Sebut Bahwa Cinta Itu Buta Dan Juga Cinta Gila. Rasa Suka Nya Yang Berlebihan Kepada Bian, Membuat Casilda Seperti Tergila – Gila Oleh Lelaki Itu.
Apalagi Saati Ini Casilda Sudah Mulai Mendapat Respon Baik Dari Bian, Itu Artinya Ia Satu – Satu Nya Perempuan Yang Di Beri Lampu Hijau Oleh Bian. Hal Itu Lah Yang Membuat Mery Semakin Iri Dan Dendam Kepada Casilda.
" INI BUAT LO! " Mery Mendaratkan Pukulan Keras Di Wajah Casilda Hingga Gadis Itu Terlihat Tak Berdaya, Tetapi Mereka Bertiga Kini Tertawa Puas Melihat Keadaan Casilda Yang Seperti Itu.
Meicha Dan Mela Melepaskan Casilda, Membiarkan Gadis Itu Kini Tergeletak Tak Berdaya Di Lantai.
" Terus Mau Di Kemanain Nih Anak? " Tanya Mela.
" Udah Tinggalin Aja Di Sini. " Ucap Mery Sambil Mencuci Tangannya Di Wastafel, Ia Membersihkan Sedikit Darah Casilda Yang Menempel Di Telapak Tangannya. " Ayo Kita Pulang. " Setelah Itu Mery Bergegas Keluar Toilet Meniggalkan Gadis Malang Itu Sendirian.
Disisi Lain, Bian Saat Ini Masih Menunggu Casilda Di Parkiran Di Temani Oleh Delon, Boma Dan Nugi. Bian Masih Berada Di Parkiran Meskipun Gadis Itu Sejak Tadi Tidak Muncul Juga. Biasanya Kalau Casilda Telat Datang, Bian Tidak Pernah Menunggu Gadis Itu.
Sejak Perasaan Nya Mulai Berubah Kepada Casilda, Bian Jadi Rela Membuang – Buang Waktunya Menunggu Gadis Itu.
" Tumben Casilda Lama Banget? Jangan – Jangan Dia Udah Di Jemput Cowok Lain Kali. " Celetuk Boma Asal.
" Bisa Jadi. HA HA. " Tambah Delon Ikut Meledek Bian.
" Apaan, Sih! Gue Lempar Pake Kotak Makan Ya Lo Berdua! " Ucap Bian Kesal.
" Tenang Aja, Bian. Casilda Setia Kok Sama Lo. " Sahut Nugi.
Bian Terlihat Tenang, Tapi Tidak Dengan Fikirannya. Bian Terus Saja Mengedarkan Pandangannya, Ia Berharap Segera Melihat Kedatangan Casilda, Tapi Sayangnya Tidak.
Ada Sedikit Rasa Khawatir Yang Entah Kenapa Menyelimutinya.
' Casilda Kemana Ya? ' Batinnya.
Bian Menoreh Ke Arah Teman – Temannya Yang Masih Setia Menemaninya Berdiri Di Belakangnya Saat Ini. " Adrian Kemana? " Tanya Bian.
" Lo Lupa? Tadi Kan, Dia Lagi Di Suruh Pak Amin Bantuin Upgrade Software Di Lab Komputer. " Jawab Nugi. Bian Hanya Mengangguk Saja Setelah Mengingat Itu. Bahkan Karena Memikirkan Casilda, Bian Sampai Lupa Akan Hal Itu.
" Gue Ke Kelas Casilda Dulu Ya. " Setelah Pamit Dengan Temannya, Bian Bergegas Pergi Dari Parkiran Menuju Kelas Casilda Untuk Memastikan Bahwa Gadis Itu Masih Berada Di Sekolah Atau Sudah Pulang.
Biasanya Casilda Tidak Pernah Seperti Ini, Bahkan Casilda Selalu Datang Lebih Dulu Menunggu Bian Di Parkiran.
Bian Menghentikan Langkahnya Ketika Sudah Berada Di Depan Kelas Casilda Yang Kini Pintunya Tertutup Rapat, Lampu Kelasnya Pun Sudah Mati Semua Dan Kelas Itu Terlihat Sepi Tidak Ada Orang Sama Sekali. Itu Artinya Seluruh Murid Sudah Pulang.
" Tumben Casilda Pulang Gak Nemuin Gue Dulu Di Parkiran? Apa Dia Marah Sama Gue? " Fikir Bian Sambil Berjalan Kembali Menuju Parkiran Dengan Tatapan Kosong. " Perasaan, Gue Gak Ngelakuin Kesalahan Yang Bikin Dia Marah? " Bian Terus Saja Bergulat Dengan Fikirannya.
" Bian! " Teriak Boma Ketika Sudah Melihat Kedatangan Bian. " Ada Gak Casilda Nya? " Tanya Boma Dari Jauh, Bian Hanya Menggeleng Saja. Wajah Nya Terlihat Tak Bersemangat.
" Mungkin Dia Tadi Buru – Buru Pulang Kali Ada Urusan Penting. " Ucap Nugi Saat Bian Sudah Berada Di Dekatnya.
" Menurut Kalian…" Bian Diam Sebentar Mengingat Apa Yang Temannya Tadi Ucapkan Ternyata Sedikit Mempengaruhi Fikirannya. " Ada Kemungkinan Gak Kalo Dia Di Jemput Cowok Lain Atau Mungkin Dia Udah Deket Sama Cowo Lain Di Sekolah Ini? Jadi, Dia Pulang Bareng? " Pertanyaan Bian Seperti Itu Membuat Ketiga Temannya Itu Tertawa.
" Cie Cemburu…." Ledek Boma. " Cie – Cie. "
" Berisik Lo BOM! " Seru Bian Kesal.
" Menurut Gue Sih, Enggak. Soalnya Kan, Tadi Aja Pas Istirahat Dia Masih Kasih Lo Puding. Itu Artinya Dia Masih Ngejar Lo, Jadi Gak Mungkin Dia Lagi Deket Sama Cowok Lain. " Jelas Delon Berusaha Menenangkan Bian.
" Iya Bener. " Bian Menghela Nafas Lega. " Adrian Belum Selesai Juga? " Tanya Bian Melihat Adrian Belum Datang Juga.
" Oh Iya, Tadi Dia Telfon Katanya Kita Suruh Pulang Duluan. Dia Masih Lama Bantuin Pak Amin. " Terang Nugi.
" Yaudah, Ayo Pulang. " Akhirnya Bian Memutuskan Untuk Pulang Dan Tidak Menunggu Casilda Karena Ia Berfikir Gadis Itu Telah Pulang Lebih Dulu.
**
Di Dalam Kamar Mandi, Casilda Menangis Tersedu – Sedu. Dia Merasakan Sakit Di Bagian Wajahnya Yang Sejak Tadi Di Tampar Berkali – Kali Oleh Perempuan Yang Tak Punya Hati Itu. Casilda Berusaha Untuk Bangun Meskipun Kepalanya Terasa Berat. Setelah Sudah Berdiri Tegak, Ia Menatap Wajahnya Di Cermin. Terlihat Cukup Jelas Luka Lebam Di Wajah Casilda.
" Gak Boleh Nyerah! " Casilda Menguatkan Dirinya Sendiri Tidak Akan Menyerah Berjuang Mendapatkan Bian, Meskipun Ia Sudah Di Peringati Berkali – Kali Oleh 3M. Bahkan, Saat Ini Ia Sudah Di Beri Peringatan Keras, Tapi Casilda Tidak Akan Menyerah Begitu Saja.
Casilda Membersihkan Darah Yang Keluar Dari Bibir Dan Hidungnya Dengan Air Di Wastafel, Setelah Itu Ia Berjalan Keluar Toilet. Langkahnya Sedikit Gontai, Ia Terlihat Lemas Tak Bertenaga. Casilda Berjalan Dengan Pandangan Lurus Sambil Menangis Meratapi Nasibnya Yang Begitu Menyedihkan.
Adrian Baru Saja Keluar Dari Lab Komputer Setelah Membantu Pak Amin Karena Adrian Termasuk Murid Yang Pintar Komputer, Sehingga Kalo Ada Apa – Apa Ia Yang Sering Di Panggil Untuk Membantu.
" Terima Kasih Ya, Adrian. Kamu Nanti Kalo Lulus Sekolah, Ambil Jurusan Komputer Saja. " Kata Pak Amin Sambil Mengunci Lab.
Adrian Hanya Mengangguk Saja. " Yaudah, Saya Duluan Ya Pak. " Ucap Adrian.
" Hati – Hati Ya. "
Adrian Berjalan Menuruni Tangga Menuju Lantai Dasar Yang Kini Terlihat Sudah Sepi Karena Sudah Lewat Dari Jam Pulang. Murid – Murid Sudah Pada Meninggalkan Sekolah.
Setelah Berada Di Lantai Dasar, Adrian Mendadak Menghentikan Langkahnya Ketika Melihat Di Lorong Ada Seorang Gadis Berjalan Sedikit Gontai, Tampilannya Sedikit Berantakan Dengan Rambut Yang Terlihat Sedikit Acak – Acakan Dan Baju Seragamnya Yang Di Keluarkan.
Adrian Tidak Melihat Jelas Wajah Gadis Itu Karena Membelakangi Dirinya Saat Ini. Adrian Memperhatikan Sebentar, Sebelum Akhirnya Ia Memberanikan Diri Berjalan Lebih Cepat Untuk Mendekati Gadis Itu, Setelah Merasa Ada Sesuatu Yang Tak Beres.
Saat Sudah Berada Di Dekat Gadis Itu, Adrian Segera Menghadang Jalannya Dan Ia Terkejut Saat Mengetahui Siapa Gadis Itu, Yang Tak Lain Adalah Casilda.
Mata Adrian Terbuka Lebar, Dahinya Berkerut, Ia Terperangah Melihat Keadaan Casilda Seperti Saat Ini Yang Sungguh Menyedihkan. Terlihat Di Seragamnya Ada Beberapa Bercak Darah Dan Di Beberapa Bagian Wajah Casilda Terlihat Sedikit Lebam.
" Casilda? " Ucap Adrian Terkejut. " Lo Kenapa? " Tanya Nya Penasaran, Tapi Casilda Hanya Diam Tak Menjawab.
Casilda Terlihat Begitu Lesuh, Matanya Memerah Sehabis Menangis Tadi.
" Gak Apa – Apa. " Jawab Casilda Suaranya Pelan Nyaris Tak Terdengar, Ia Kembali Melanjutkan Langkahnya Melewati Adrian.
" Lo Pulang Naik Apa? " Tanya Adrian Berusaha Berjalan Sejajar Dengan Casilda.
" Ojek Online. " Jawab Casilda, Ia Tidak Berniat Pergi Ke Parkiran Karena Yakin Bian Sudah Tidak Menunggunya.
" Gue Anter Aja. " Tawar Adrian Menatap Wajah Casilda Dari Samping, Gadis Itu Menggelengkan Kepala Menolak Tawarannya.
" Keadaan Lo Kayak Gini, Casilda! " Adrian Kembali Menghadang Jalan Casilda.
" GUE ANTER! " Adrian Terus Saja Memaksa, Ia Tidak Tega Melihat Seorang Gadis Dengan Keadaan Seperti Itu Di Biarkan Sendirian.
" Kalo Lo Kenapa – Kenapa Nanti Gak Bisa Ketemu Bian Lagi Gimana? " Adrian Mencoba Membawa – Bawa Nama Bian Dengan Harapan Agar Casilda Berubah Fikiran Dan Menerima Tawaran Nya Untuk Di Antarkan Pulang.
Casilda Terlihat Sudah Tidak Memiliki Tenaga Lagi, Bahkan Untuk Mengeluarkan Ponsel Di Tas Nya Saja Untuk Memesan Ojol Rasanya Sangat Berat Bagi Casilda. Akhirnya Ia Mengangguk Setuju Menerima Tawaran Adrian, Apalagi Saat Adrian Berkata Seperti Itu, Casilda Tidak Ingin Terjadi Sesuatu Yang Lebih Buruk Lagi Kepadanya.
" Yaudah. " Casilda Mengangguk Lemas.
Saat Adrian Dan Casilda Keluar Dari Sekolah Naik Motor Berdua, Ternyata 3M Masih Berada Di Sekitar Sekolah. Mereka Sangat Terkejut Melihat Pemandangan Saat Ini, Terutama Mery. Dia Semakin Kesal Karena Merasa Casilda Sangat Beruntung Di Kelilingi Cowok – Cowok Keren Atau Lebih Tepatnya Teman – Temannya Bian.
" Liat Tuh, Cewek Murahan! Gak Cuma Deketin Bian Aja, Tapi Deketin Temennya Yang Lain Juga! " Ungkap Mela.
Mery Mengeluarkan Ponselnya, Dengan Cepat Dia Merekam Dan Memotret Casilda Dan Adrian Tengah Berdua Di Atas Motor Itu. Entah Rencana Apalagi Yang Ingin Mery Lakukan, Sepertinya Ia Tidak Akan Berhenti Mengusik Casilda.
**
DITUNGGU KELANJUTANNYA YA :)