Bel Masuk Telah Berbunyi, Tapi Bian Baru Saja Sampai Di Parkiran Sekolah. Dia Terlihat Santai Tidak Terburu – Buru Seperti Yang Lainnya Berlarian Agar Cepat Sampai Masuk Ke Dalam Kelas.
Parkiran Sudah Mulai Terlihat Sepi Saat Ini.
Bian Merapihkan Rambutnya Seraya Berkaca Di Spion Motornya, Setelah Selesai Ia Mulai Melangkahkan Kakinya.
" Heh! " Panggil Seseorang. Suaranya Sangat Asing Bagi Bian, Ia Segera Membalikan Badannya Dan Menoleh Ke Arah Sumber Suara.
Bian Terdiam Beberapa Saat Melihat Seorang Wanita Sedang Duduk Di Bangku Yang Berada Di Parkiran.
Bian Mengamati Perempuan Yang Duduk Santai Itu, Ia Tidak Kenal Dengan Gadis Itu. Sepertinya Itu Siswi Baru Atau Mungkin Itu Memang Siswi Di Sekolahnya, Tapi Bian Nya Saja Yang Tidak Kenal Dengan Perempuan Itu.
" Heh, Sini Deh! " Panggil Wanita Itu Yang Sama Sekali Tidak Ada Sopan – Sopannya.
" Hah? " Jawab Bian Seraya Mendogakan Dagunya Ke Arah Gadis Itu.
" Sini Dong Kalo Dipanggil! " Ucap Gadis Itu Sedikit Berteriak. Sebenarnya, Bian Sangat Merasa Malas Meladeni Wanita Itu, Tapi Kakinya Tetap Saja Tergerak Melangkah Mendekati Orang Asing Itu.
" Kenapa? " Tanya Bian Dengan Ekspresi Datarnya Menatap Gadis Yang Duduk Di Hadapannya Itu.
" Lo Siapa? " Tanya Wanita Itu Membuat Kening Bian Berkerut.
" Harusnya Gue Yang Tanya, Lo Siapa? " Tanya Bian Dengan Ketus.
" Di Tanya, Malah Bertanya Balik! Gak Sopan! " Ujar Wanita Itu Bernada Sedikit Meninggi.
" Panggil Orang Dengan Sebutan ‘Heh’ Juga Gak Sopan! " Balas Bian Melirik Gadis Itu Sekilas.
" Terserah! " Jawab Perempuan Itu.
" Kenapa Lo Panggil Gue? " Tanya Bian Yang Sudah Tak Sabar Ingin Segera Pergi Dari Parkiran.
" Pinjem Korek, Dong! " Ucap Gadis Itu Dengan Lantang, Di Sela – Sela Jarinya Sudah Menempel Sepuntung Rokok Yang Belum Menyalah.
Bian Tidak Terlalu Terkejut, Melihat Sikap Perempuan Itu Yang Lantang Dan Tidak Ada Lembutnya Sebagai Perempuan Membuat Bian Tidak Kaget Jika Melihat Perempuan Itu Merokok Atau Bahkan Terkesan Sebagai Perempuan Nakal.
" Ada Gak? Kenapa Malah Bengong? Lo Belom Korek Kuping, Hah? Gak Denger Apa Yang Gue Bilang? " Oceh Gadis Itu Tak Sopan.
" Gue Gak Ngerokok! " Jawab Bian Setelah Itu Ia Membalikan Badannya Ingin Segera Pergi.
" Heh, Tunggu Dulu! " Ucap Gadis Itu Ikut Berdiri, Ia Memasukkan Puntung Rokoknya Ke Dalam Saku Seragamnya.
" Apa Lagi? " Bian Kembali Membalikan Badannya.
" Anterin Ke Ruang Guru, Dong! Gue Anak Baru Disini! " Ucapnya.
Bian Menghela Nafasnya, Ia Tidak Bisa Untuk Tidak Perduli Jika Orang Meminta Bantuannya. Meskpiun Wanita Yang Ditolongnya Ini Sedikit Menyebalkan.
" Ayo, Ikut Gue. " Ajak Bian, Ia Segera Berjalan Masuk Ke Lorong Sekolah Diikuti Gadis Itu.
" Heh! Di Sini Ada Tempat Tersembunyi Gak Buat Ngerokok? " Tanya Gadis Itu Di Sepanjang Perjalanan. Bian Hanya Mengangguk.
" Dimana? Lo Tau Gak? " Tanya Gadis Itu Lagi.
" Tuh, Di Sana! " Bian Menghentikan Langkahnya Seraya Menunjuk Sebuah Ruangan.
" Hah? Lo Yakin Suruh Gue Ngerokok Di Sana? b**o Lo, Ya? " Oceh Gadis Itu Saat Melihat Ruangan Yang Ditunjuk Bian Adalah ‘Ruang Guru’.
" Yang b**o Gue Atau Lo? “ Tanya Bian Ketus. “ Kan, Tadi Lo Sendiri Yang Minta Anter Ke Ruang Guru. " Lanjut Bian Menatap Sinis Gadis Itu Yang Kini Terdiam.
" Udah Di Anterin Bukannya Bilang Makasih! Dasar Cewek Gila! " Bian Mencibir Seraya Pergi Meninggalkan Gadis Yang Kini Berdecak Sebal Karena Tidak Di Beri Tahu Tempat Tersembunyi Di Sekolah Itu Untuk Merokok.
“ Dasar Cowok i***t! “ Balas Perempuan Itu.
**
Keadaan Kelas Dua Belas Ipa Satu Yang Semula Riuh Mendadak Hening Ketika Bu Ani Selaku Wali Kelas Mereka Masuk Ke Dalam Kelas.
Kali Ini Guru Itu Tidak Sendirian, Melainkan Bersama Seorang Murid Perempuan Yang Berjalan Di Belakangnya Dengan Ekspresi Yang Terlihat Jutek, Sama Sekali Tidak Ada Ramah – Ramahnya Sebagai Anak Baru.
Seisi Kelas Menatap Kedepan Termasuk Casilda.
" Selamat Pagi Semuanya! Hari Ini Ibu Tidak Sendiri ! Kita Kedatangan Murid Baru! " Ucap Bu Ani Semangat, Ia Melirik Gadis Yang Berdiri Di Sampingnya Dengan Tatapan Lurus Kedepan.
" Silahkan, Perkenalkan Diri Kamu. " Perintah Bu Ani Dan Gadis Itu Mengangguk Pelan.
" Nama Pendek Irish, Nama Belakang Aresya. Kalo Nama Panjang Irish Aresya! Serah Lo Pada Mau Panggil Gue Apaan! "
Perkenalan Yang Singkat Padat Dan Jelas Itu Membuat Melongo Siapa Saja Yang Berada Di Kelas, Termasuk Bu Ani.
" Panggil Sayang Boleh Gak? " Sahut Salah Satu Murid Laki – Laki.
Seketika Semua Yang Ada Di Dalam Kelas Tertawa Mendengar Gadis Yang Diketahui Bernama Irish Itu Memperkenalkan Dirinya Seperti Itu, Tidak Terlihat Bersemangat Dan Hanya Menampilkan Wajah Juteknya.
Bahkan Saat Seisi Kelas Mentertawakannya, Irish Hanya Diam Dan Malah Memasang Tatapan Tajam.
" Irish, Senyum Dong Jangan Cemberut Gitu Nanti Cantiknya Hilang, Deh! " Goda Murid Lainnya, Tetapi Irish Tidak Berniat Memberikan Respon Apapun.
" Sudah – Sudah! Jangan Berisik! " Omel Bu Ani Melihat Muridnya Mulai Riuh. Bu Ani Mencari– Cari Bangku Kosong Untuk Murid Baru Itu Duduk.
Terlihat Beberapa Murid Yang Duduk Sendiri Dan Bangku Di Sebelahnya Kosong Mendadak Mengisi Bangku Kosong Itu Dengan Tas Atau Beberapa Buku Agar Terlihat Terisi.
Mereka Melakukan Itu Karena Tidak Ingin Irish Yang Sangat Terlihat Jutek Itu Duduk Di Dekat Mereka.
" Kamu Duduk Disamping Ucup, Ya? " Bu Ani Menunjuk Bangku Paling Belakang, Tempat Salah Satu Lelaki Yang Duduk Sendiri.
Dengan Cepat, Lelaki Bernama ‘Ucu’p Itu Langsung Menyampingkan Tubuhnya Dan Mengangkat Kaki Nya Lalu Diletakan Di Bangku Kosong Di Sebelahnya Agar Terisi.
" Gak Bisa, Bu! Saya Kalo Duduk Kakinya Harus Di Lurusin Biar Gak Pegel! " Protes Ucup Agar Irish Tidak Duduk Disampingnya.
Bu Ani Jadi Bingung Melihat Para Murid Nya Tidak Ada Yang Membiarkan Irish Duduk Disampingnya, Tapi Tidak Dengan Casilda , Gadis Itu Kini Mengangkat Tangannya Dengan Sukarelawan.
" Bu Ani, Irish Duduk Di Sebelah Saya Aja. " Casilda Mengajukan Penawaran, Ia Tidak Seperti Yang Lainnya Pada Menolak.
" Ah, Syukurlah Kalau Begitu! Irish Kamu Duduk Di Meja Paling Depan Ya Bersama Casilda. " Ucap Bu Ani Dan Irish Mengangguk Saja Daripada Dia Sama Sekali Tidak Dapat Tempat Duduk. Dalam Hati Irish Mengutuk Siapa Saja Yang Telah Membuatnya Kesal Hari Ini.
Irish Melangkah Mendekat Ke Arah Casilda, Matanya Mengamati Murid Lainnya Di Kelas Dengan Tatapan Tajam. Terlihat Ia Sangat Kesal Karena Tidak Ada Yang Ingin Duduk Dengannya.
" KELAS SETAN! " Cibir Irish Dengan Suara Pelan.
" Hai, Irish? Nama Gue Casilda. Lo Bisa Panggil Gue, Casie! " Casilda Memperkenalkan Dirinya Saat Irish Sudah Duduk Disebelahnya.
" Hmm." Irish Hanya Berdehem Saja , Kemudian Ia Menoreh Ke Arah Casilda Dengan Tatapan Datarnya. " Lo Tau Gak? Gue Benci Banget Duduk Paling Depan! " Protes Irish.
" Kenapa? " Tanya Casilda.
" Gue Merasa Seperti Murid Jenius! Lo Kenapa Sih, Harus Repot – Repot Bersedia Gue Duduk Disebelah Lo! " Bukannya Berterima Kasih, Irish Terus Saja Menggerutu.
Casilda Hanya Diam Saja Tak Berniat Membalas Ucapan Irish.
**
Casilda Segera Bangun Dari Duduknya Ketika Bel Istirahat Berbunyi. Dia Membalikan Badannya Menghadap Ke Arah Mira Dan Alisa. Casilda Berusaha Melupakan Apa Yang Terjadi Tadi Pagi.
" Mira, Alisa, Ayo Ke Kantin! " Ajak Casilda, Tapi Mira Diam Saja, Hanya Alisa Yang Merespon.
" Ayo! " Alisa Ikut Bangun Dari Duduknya.
" Mir? " Panggil Casilda Melirik Temannya Itu. Akhirnya, Mira Bangun Dari Duduknya, Ia Menarik Tangan Alisa Agar Berjalan Lebih Dulu Bersamanya Meninggalkan Casilda Sendirian.
" Sepertinya Mira Masih Marah Sama Gue! " Casilda Menunduk Sedih, Ia Menoreh Ke Arah Irish Yang Sedang Asik Memainkan Ponselnya.
" Irish, Mau Ke Kantin Gak? " Tanya Casilda.
" Gue Mau Ke Toilet! " Jawab Irish.
" Yaudah, Ayo Bareng Aja Gue Juga Mau Ke Toilet Dulu. " Ucap Casilda, Irish Mengangguk Saja.
Mereka Berdua Jalan Menelusuri Lorong, Terlihat Irish Mengamati Sekeliling Sekolah Itu.
" Kenapa Gue Harus Masuk Sekolah Swasta Kayak Begini, Sih! " Gerutu Irish. Dia Masih Tidak Terima Karena Orang Tuanya Memaksa Dirinya Untuk Bersekolah Di Tempat Ini.
" Ini Termasuk Sekolah Swasta Elite Di Sini! Harusnya Lo Seneng Bisa Sekolah Disini! " Jelas Casilda. Irish Memutar Kedua Bola Matanya Mendengar Casilda Bicara Seperti Itu.
" Itu Tadi Yang Duduk Di Belakang Kita, Temen Lo? " Tanya Irish Yang Sempat Melihat Tadi Saat Casilda Mengajak Mira Dan Alisa.
" Iya Mereka Berdua Sahabat Dekat Gue! " Jawab Casilda.
" Lagi Marahan? " Tanya Irish Lagi Setelah Melihat Tadi Bagaimana Mira Terlihat Kesal Kepada Casilda Dan Meninggalkannya.
" Enggak, Kok! " Bohong Casilda.
" Itu Lo Bawa Apa? Kok Banyak Banget Tempat Makan Nya? " Irish Melirik Ada Dua Kotak Makan Yang Di Genggam Casilda.
" Oh…” Casilda Melirik Tempat Makan Di Tangannya. “ Ini Satu Lagi Makanan Buat Pacar Gue! " Jelas Casilda.
" Oh.. " Balas Irish Ber – Oh – Ria.
Sampainya Di Dalam Kamar Mandi, Irish Masuk Kedalam Bilik Sedangkan Casilda Berkaca Dicermin. Dia Jadi Teringat Kotak Yang Diberikan Adrian Sejak Tadi Ia Taro Disaku Rok Nya. Casilda Mengeluarkan Kotak Itu Dan Segera Melihat Apa Isinya.
Perlahan Casilda Membuka Kotak Itu Dan Dia Terkejut Melihat Apa Isi Di Dalam Kotak Itu.
Casilda Sendiri Tidak Menyangka Kalau Ternyata Adrian Lah Yang Membeli Gelang Berbentuk Love Yang Casilda Inginkan Pada Saat Di Pantai. Pantas Saja Saat Bian Ingin Membeli Gelang Itu Sudah Tidak Ada.
Ternyata Bian Kalah Cepat Dengan Adrian.
" Wah Gelangnya, Adrian Baik Banget, Sih! " Casilda Mengeluarkan Gelang Itu Dari Kotak Dan Melingkarkan Gelang Itu Di Pergelangan Tangannya.
Terlihat Sangat Indah. Casilda Tersenyum Senang Menatap Gelang Itu.
" Irish, Gue Ke Kantin Duluan, Ya. " Ucap Casilda Dengan Perut Yang Sudah Keroncongan.
" Hmm. "
Casilda Pun Segera Pergi Menuju Kantin Untuk Melepaskan Rasa Laparnya Dan Juga Memberikan Makanan Biasa Yang Sering Ia Buatkan Untuk Bian, Apalagi Kalau Bukan Puding .
Sampainya Di Kantin Ternyata Tempat Biasa Bian Dan Teman – Temannya Berkumpul Masih Terlihat Sepi, Hanya Ada Adrian Saja Disana. Casilda Segera Menghampiri Lelaki Itu.
" Adrian. " Casilda Langsung Duduk Saja Di Samping Lelaki Itu. " Makasih Ya, Gelangnya! " Casilda Menunjukkan Pergelangan Tangannya Yang Sudah Dilingkari Gelang Itu.
" Iya." Singkat Adrian.
" Bian Sama Yang Lainnya Pada Kemana? " Tanya Casilda Melihat Saat Ini Tempat Duduk Itu Masih Kosong.
" Di Kelas Kita Tadi Ada Ulangan Dadakan. Mereka Pada Belum Selesai, Tapi Tenang Aja. Mereka Semua Udah Gue Kasih Contekan Kok, Biar Cepet Kelar. Sebentar Lagi Juga Pada Datang! " Jelas Adrian, Casilda Mengangguk Saja.
Disisi Lain Ternyata Mira Dan Alisa Sedang Menatap Ke Arah Mereka Berdua. Hal Itu Semakin Membuat Mira Panas Bagai Terbakar, Ia Mengepal Tangannya Kuat – Kuat, Namun Alisa Berusaha Menenangkannya.
" Lo Liat, Kan? Casilda Yang Selalu Lo Bela Ternyata Sikap Nya Begitu! " Gerutu Mira.
" Mira, Jangan Gitu Ah. " Jawab Alisa.
Casilda Bangun Dari Duduknya Setelah Melihat Kedatangan Bian Dan Teman – Temannya.
" Hai, Bian? Ini Puding Buat Kamu Hari Ini! " Casilda Menyodorkan Kotak Makan Itu Dengan Segera Bian Ambil.
" Yaudah, Aku Mau Makan Sama Temen Aku Dulu Ya! " Ucap Casilda. Setelah Mendapat Anggukan Dari Bian, Casilda Segera Pergi Menghampiri Mira Dan Alisa Yang Duduknya Tidak Terlalu Jauh Dari Tempat Bian.
Casilda Baru Saja Duduk Di Hadapan Mira Dan Alisa, Ia Berusaha Untuk Bersikap Ramah Kepada Mira Yang Masih Marah Dengannya.
" Kalian Pada Bawa Bekal Apa? " Tanya Casilda, Baru Saja Alisa Ingin Menyahut Dengan Cepat Mira Mencubit Lengan Alisa Agar Diam Saja Tidak Merespon.
"Ada Yang Mau Cobain Gak Hari Ini Gue Bawa... "
" Lo Gak Usah Sok Baik, Deh! " Mira Langsung Memotong Pembicaraan Casilda.
" Maksud Lo Apa? " Casilda Menggeleng Tak Mengerti.
" Gue Kasih Tau Ya Sama Lo! Gue Itu Suka Sama Adrian Dan Lo Gak Usah Kegatelan Deketin Dia! " Omel Mira, Ia Menatap Casilda Penuh Kebencian.
" Gue Tau Lo Cantik, Tapi Bukan Berarti Lo Bisa Merebut Siapapun Sesuka Hati Lo! " Lanjut Mira Mengeluarkan Unek – Unek Di Hatinya.
Mira Berdiri Dari Duduknya. " Bener Kata Mery Kalau Lo Itu Cewek Murahan! " Tegas Mira Kemudian Ia Menarik Alisa Agar Berpindah Duduk Meninggalkan Casilda Sendiri.
Bibir Casilda Mendadak Kelu Tak Bergeming, Sudut Matanya Berkedut Dan Genangan Air Mata Mulai Berkumpul Di Kedua Bola Matanya. Casilda Tidak Percaya Jika Mira Mengatakan Hal Sangat Menyakitkan Seperti Itu. Dia Tidak Mengerti Apa Kesalahannya Dan Mengapa Mira Menjadi Begitu Berbeda Dari Sikap Biasanya.
Casilda Tidak Akan Merasa Terlalu Sakit Hati Jika 3M Yang Mengatakan Dirinya Dengan Sebutan 'Cewek Murahan' Tapi Jika Sahabatnya Sendiri Yang Mengatakan Itu Justru Casilda Merasa Sakit Hati Dan Sangat Sedih.
Ternyata Sejak Tadi Bian Memperhatikan Casilda, Ia Melihat Jelas Sedikit Ada Keributan Antara Kedua Temannya Dan Melihat Mira Berpindah Tempat Membiarkan Casilda Sendirian.
Bian Segera Bangun Dari Duduknya.
" Mau Kemana Lo? " Tanya Nugi Namun Bian Tak Menjawab.
" Bian Puding Lo Gue Makan Ya? " Teriak Delon, Tanpa Menunggu Jawaban Dari Bian, Delon Langsung Saja Melahap Puding Itu. Diantara Temannya, Delon Paling Sering Menghabiskan Puding Itu. Dasar Delon Tidak Tahu Diri.
Bian Berjalan Mendekat Ke Arah Casilda Yang Kini Hanya Diam Mengaduk – Aduk Makanannya, Ia Terlihat Tak Berselera Dengan Guratan Kesedihan Diwajahnya.
Pletak ..
Baru Saja Datang Bian Langsung Menyentil Kening Casilda Membuat Gadis Itu Terlonjak Kaget Dan Mendongakan Kepalanya. " Bian? " Ucapnya Pelan Tak Berniat Memprotes Bian Yang Baru Saja Usil Dengannya.
" Kenapa? " Bian Sedikit Menundukkan Kepalanya Agar Dapat Melihat Wajah Casilda Yang Kini Sedikit Tertunduk.
" Gak Apa – Apa. " Jawab Casilda.
" Kenapa, Casie? " Bian Mengulang Pertanyaan Nya.
Bian Sudah Sedikit Faham Tentang Perempuan Setelah Mendapat Pencerahan Dari Delon Bahwa Jika Perempuan Bilang 'Gak Apa – Apa' Itu Artinya 'Ada Apa – Apa'
" Bian, Aku Malu Ceritanya. " Ucap Casilda Malu – Malu.
" Ayo Ikut Gue. " Bian Membantu Merapihkan Tempat Makan Casilda Setelah Itu Ia Mengajak Casilda Pergi Keluar Kantin.
Bian Menghentikan Langkahnya Ketika Sudah Berada Diatas Gedung Sekolah. Dia Mengajak Casilda Duduk Di Teras Yang Berada Di Atas Gedung, Saat Ini Keadaan Di Sana Terlihat Sepi.
" Bian, Kita Ngapain Kesini? "
" Sekarang Cerita, Lo Kenapa? " Tanya Bian.
" Kenapa Apanya? " Dengan Polosnya Casilda Mengatakan Itu.
" Antara Lo Dan Temen Deket Lo Itu Kenapa? Lo Berantem? " Bian Mencoba Memperjelas Pertanyaannya.
" Lo Gak Usah Malu Cerita. Disini Cuma Ada Lo Dan Gue! " Terang Bian Agar Casilda Mau Sedikit Terbuka Kepadanya.
Casilda Menunduk Sebentar, Sebelum Akhirnya Bicara. " Sepertinya Mira Marah Karena Aku Gak Bilang Sama Dia Kalau Aku Pergi Liburan Sama Kamu Dan Gak Ajak Dia! " Jelas Casilda, Ia Mengerucutkan Bibir Nya.
" Hanya Karena Itu Aja Dia Marah? " Tanya Bian.
" Sebenarnya, Ada Hal Lain. Aku Mau Bilang, Tapi Bian Jangan Cemburu Ya? " Ucap Casilda Dengan Wajah Lugunya Menatap Bian.
" Gak Lah, Ngapain Gue Cemburu. " Jawab Bian Dengan Santainya.
" Iya, Aku Tau Kok Kamu Gak Akan Cemburu! " Balas Casilda Kecewa.
" Terus Karena Apa Dia Marah? " Tanya Bian Tak Sabar.
" Karena Mira Cemburu Kalau Aku Deket – Deket Dengan Adrian. Dia Bilang Aku Kegatelan! Padahal Kan, Aku Gak Ada Hubungan Apa – Apa Sama Adrian! " Jelas Casilda, Kemudian Ia Sedikit Merasa Takut Kalau Bian Berfikir Hal Yang Sama Dengan Mira.
" Kamu Tau Kan, Kalau Aku Cuma Cinta Sama Kamu. " Ucap Casilda Dengan Lembut.
" Jadi, Mana Mungkin Aku Berpindah Hati Ke Adrian! " Tambah Casilda Meyakinkan Bian Agar Percaya Dengannya Bahwa Saat Ini Hanya Bian Lah Yang Berada Di Hatinya.
Bian Tertawa Pelan. " Yaudah Biarin Aja! Mulai Besok, Kalau Dia Berdua Gak Mau Duduk Sama Lo Di Kantin, Lo Bisa Duduk Bareng Gue Sama Dan Lainnya! " Ucap Bian. Dia Tidak Ingin Casilda Terus Larut Dalam Kesedihannya, Apalagi Sampai Bingung Jika Besok Dia Tidak Ada Teman, Maka Bian Akan Menemaninya.
" Makasih Ya, Bian! Kamu Emang Pacar Yang Baik! " Jawab Casilda Sambil Terkekeh.
Bian Hanya Tersenyum Saja, Pandangannya Tidak Sengaja Tertuju Ke Arah Pergelangan Tangan Casilda. Bian Memicingkan Matanya Menatap Sebuah Gelang Yang Tak Asing Baginya Melingkar Di Tangan Casilda.
Bian Tahu Betul, Gelang Itu Sudah Terbeli Oleh Orang Lain Saat Dirinya Ingin Membelikan Untuk Casilda Kemarin Pada Saat Di Pantai, Tapi Kini Gelang Itu Sudah Melingkar Cantik Ditangan Casilda.
" Gelang Itu? " Bian Meraih Tangan Casilda, Ia Mengamati Dengan Jelas Untuk Memastikan Lagi Apakah Itu Gelang Sama Dengan Yang Waktu Itu Di Pantai Atau Tidak .
" Ini Gelang Yang Lo Pengen, Kan? " Tanya Bian Menatap Casilda Serius.
" Iya, Bian! “ Casilda Mengangguk. “ Ternyata, Adrian Diam – Diam Beliin Ini Untuk Aku! Baik Banget Ya, Dia! " Dengan Semangat Casilda Menjelaskan Itu Semua.
Bian Terdiam. Fikiraanya Mulai Bergulat. Ada Sedikit Rasa Mencelos Dihatinya.
" Bagus, Ya? " Casilda Terus Saja Memandangi Gelang Itu.
" Jelek! " Jawab Bian Ketus. " Lepas Aja, Nanti Kita Cari Yang Lebih Bagus! " Dengan Entengnya Bian Bicara Seperti Itu.
" Loh, Kenapa Gitu? Ini Bagus Kok? " Casilda Terlihat Tak Setuju Dengan Pendapat Bian.
" Kali Ini, Gue Cemburu! " Tegas Bian Terlihat Serius, Tapi Berbeda Dengan Casilda Yang Kini Mengulum Senyumnya Mendengar Bian Bicara Seperti Itu.
Jantungnya Berdebar Kencang. Darahnya Mengalir Deras Membuat Sekujur Tubuhnya Berdesir.
" Bian, Kamu Beneran Cemburu? Tadi Katanya Gak Cemburu? " Ledek Casilda Sambil Mencolek Dagu Bian.
" Itu Kan, Tadi. Sekarang Beda! " Bian Meraih Kembali Tangan Casilda Dan Berusaha Melepaskan Gelang Itu Dari Tangan Casilda.
Gadis Itu Membiarkan Saja Apa Yang Di Lakukan Bian.
" Lo Simpen Aja! " Bian Meletakan Gelang Yang Sudah Terlepas Itu Di Telapak Tangan Casilda.
" Siap, Bos! " Casilda Mengangguk Cepat. Jika Itu Yang Bian Inginkan, Casilda Akan Lakukan.
" Bagus! " Bian Mengacak Pelan Rambut Casilda Karena Gadis Itu Menurut Kepadanya.
" Makasih Ya, Bian. Kamu Udah Menghilangkan Kesedihan Aku. " Casilda Menggeser Duduknya Agar Lebih Dekat Dengan Bian, Ia Menyenderkan Kepalanya Di Pundak Bian, Membiarkan Segala Resah Dan Gundahnya Hilang Di Dekat Lelaki Itu.
" Woy! Ngapain Lo Berdua? " Teriak Seseorang Mengejutkan Bian Dan Casilda. Mereka Berdua Segera Duduk Berjauhan Karena Terkaget Dan Segera Menoreh Ke Arah Sumber Suara.
Seseorang Yang Baru Saja Berteriak, Sedang Berjalan Mendekat Kearah Casilda Dan Bian.
" Lo Berdua Mau Berbuat m***m, Ya? " Tuduh Seseorang Yang Kini Sudah Berada Di Hadapan Casilda Dan Bian.
" Irish? " Ucap Casilda Setelah Melihat Kedatangan Gadis Itu.
" Sejak Kapan Lo Disini? " Tanya Bian Menatap Irish Dengan Sinis.
" Sejak Tadi, Saat Lo Berdua Sedang Melakukan Dialog Penuh Drama! " Ucap Irish Dengan Santainya.
" Dari Tadi Gue Duduk Di Sana, Lo Berdua Gak Liat? " Irish Menunjuk Ke Arah Tebing Tinggi Disekolah Itu.
" Siapa Juga Yang Mau Liatin Lo! Lagian, Cuma Orang Gila Yang Berani Naik Ke Atas Sana! " Ujar Bian Mulai Berdebat Dengan Gadis Itu.
Biasanya Bian Tidak Terlalu Ingin Banyak Bicara Dengan Orang Asing, Tapi Kali Ini Gadis Itu Membuat Dirinya Naik Darah.
" Siapa Juga Yang Mau Diperhatiin Lo, Gila ! " Irish Melirik Casilda. " Jadi, Ini Pacar Lo? " Tanya Irish Dan Casilda Mengangguk Penuh Rasa Bangga.
" Lo Ngapain Diatas Sana? " Tanya Casilda.
" Habis Ngerokok! Cari Tempat Aman Disini Susah! " Jawab Irish Seraya Pergi Meninggalkan Mereka Berdua.
" Dasar Cewe Gila! Lo Jangan Deket – Deket Sama Dia! " Ucap Bian, Casilda Hanya Diam Saja.
Bian Tidak Tahu Saja Jika Gadis Itu Kini Teman Sebangkunya Casilda.
**
Irish Berjalan Seorang Diri Di Lorong Sekolah Sambil Bersuil Santai. Sudah Beberapa Hari Ia Sekolah Ditempat Barunya Itu, Namun Tidak Memiliki Teman Sama Sekali. Hanya Casilda Saja Yang Mengajaknya Bicara Dan Terkadang Membantunya Serta Memberinya Contekan Dikala Irish Tidak Tahu Atau Bahkan Jika Ada Banyak PR, Maka Casilda Dengan Besar Hati Mau Membantunya.
Irish Terlalu Cuek Dan Ia Menikmati Itu. Saat Irish Berjalan Dengan Santainya Menuju Kantin, Ia Melewati Mery Dan Kedua Temannya Yang Sedang Asik Ngobrol Di Lorong Sekolah.
Raut Wajah Irish Yang Terlihat Jutek Dan Tidak Ada Ramahnya, Bahkan Saat Melewati 3M Pun Dia Tidak Perduli. Tentu Saja Hal Itu Membuat Mery Naik Darah Melihat Irish Yang Berjalan Sambil Mendongakan Kepalanya Yang Terlihat Angkuh. Biasanya Murid Lain Jika Melewati 3M Pasti Akan Menyapa Atau Sekedar Permisi, Tapi Tidak Dengan Irish.
" Siapa Tuh? " Tanya Mela Kepada Meicha Dan Merry Yang Tentu Saja Menggeleng Tidak Tahu.
" Kayaknya Anak Baru, Deh! " Ucap Meicha.
Mery Pun Segera Bertelak Pinggang Dan Berteriak Memanggil Irish. " HEH ANAK BARU! "
Irish Yang Sudah Berjalan Melewati 3M Segera Membalikan Badannya Saat Merasa Dirinya Terpanggil. Mery Dan Kedua Temannya Pun Segera Berjalan Mendekat Ke Arah Irish Yang Terlihat Tenang.
Padahal Siapapun Jika 3M Sudah Mendekati Pasti Akan Merasa Takut.
" Siapa Lo? " Tanya Mery Saat Sudah Di Depan Irish.
" Makhluk Hidup! " Jawab Irish Santai.
" Lo Fikir Lucu? " Mela Terlihat Sewot.
" Sepertinya Tidak! " Irish Mengangkat Bahunya.
" Lo Gak Tau Kita Siapa? " Celetuk Meicha Menatap Sinis Ke Arah Irish Yang Tetap Terlihat Santai.
Irish Terdiam Sebentar Menatap Ketiga Perempuan Di Hadapannya. " Lo Semua Pasti Murid Di Sekolah Yang Membosankan Ini, Kan? " Ucapnya Santai, Tapi Tidak Dengan Mery.
" KITA BERTIGA ITU 3M! LO TAU GAK? " Seru Mery Dengan Nada Meninggi.
" 3M? Apa Itu? " Irish Memutar Bibir Nya Seraya Berfikir Lagi. " AH, Gue Tau! Pasti 3M Itu Adalah Makan , Minum , Mules? " Jawab Irish Asal.
" Kurang Ajar Lo Sebut Kita Mules! Lo Ngajakin Ribut Sama Gue, Hah? " Bentak Mery Dengan Raut Wajah Penuh Amarah.
" Enggak! Gue Pengen Ngajakin Lo Semua Ke Kantin, Mau Gak? " Ajak Irish, Tentu Saja Hal Itu Akan Ditolak Oleh 3M.
" Jijik! Lo Sama Kita Beda Kasta! Ga Cocok Jadi Anggota Kita! " Tolak Mery Mentah – Mentah.
" Oke, Gue Mau Ke Kantin Dulu Ya! Bye! " Irish Langsung Membalikan Badannya Dan Melanjutkan Langkahnya. Dia Memutar Kedua Bola Matanya Malas Jika Harus Berdebat Dan Hanya Membuang – Buang Waktunya.
Mery Menatap Tajam Punggung Irish Yang Sudah Mulai Menjauh. " Kurang Ajar Itu Anak Baru! "
" Tenang Aja, Mery! Lo Lihat Kan, Dia Gak Berani Ribut Sama Lo! Itu Artinya Dia Takut! " Ucap Mela Berusaha Meredam Amarah Mery.
" Iya Betul! Lagian Gak Mungkin Dia Berani Sama Lo! Secara, Paman Lo Itu Kan Kepala Sekolah Disini! " Ujar Meicha.
**
WAH KITA KEDATANGAN TOKOH BARU, NIH! KIRA - KIRA APA YANG AKAN TERJADI BERIKUTNYA? DITUNGGU KELANJUTANNYA :)