Pagi menunjukkan pukul 6, Fahri masih duduk di depan kamar inap istrinya, sejak semalam ia belum tidur ataupun memejamkan matanya, ia duduk di depan kamar inap istrinya dengan rasa bersalah yang mendalam, karena dirinya lah yang menghancurkan hati istrinya. Harusnya ia menjaga istrinya dengan baik, bukan malah menjadi sumber luka hati Luvina, namun ia manusia biasa, ia punya hati nurani, meskipun harus menyakiti istrinya dengan hati nuraninya itu. Tak butuh waktu lama, Prita dan Ferdi datang, semenjak menikah, keduanya tinggal di apartemen yang tak jauh dari rumah sakit ini, karena kawasan apartemen Ferdi memang di sekitar situ. Mereka bertukar pandangan ketika melihat Fahri duduk sepagi ini di depan kamar istrinya. “Fahri?” tanya Prita. Fahri mendongak dengan mata panda yang terlihat

