Nathan dan Luvina duduk berhadapan dan menikmati brownis yang sudah di siapkan waitres, mereka tersenyum simpul, lalu tangan kanan Luvina menggaruk minumannya dengan sendok yang sudah di sediakan, sendok perak kecil. Nathan merasa bersalah karena harus mengajak Luvina di café milik kakaknya, sebenarnya ia enggan mengajak Luvina bertemu di sini, namun sangat kebetulan Luvina sedang berada di sekitar sini bersama Tania. “Kenapa kamu memintaku bertemu, Nat?” tanya Luvina mendesah dan mendongak menatap wajah Luvina. “Nggak apa-apa. Aku hanya khawatir,” jawab Nathan. “Khawatir? Kamu khawatir karena apa?” “Aku dengar kemarin Rafki sakit?” tanyanya. “Iya. Dia muntah dan demam,” jawab Luvina, menunduk sesaat dan kembali mendongak melihat brownis yang sudah di potong kecil. “Sekarang kondisin

