"Pagi, Mas," ucap Luvina lalu duduk di samping suaminya yang sedang membaca koran pagi ini ditemani secangkir kopi hangat dan sepiring cemilan yang di suguhkan Inem. "Pagi, Sayang." Fahri mengecup puncak kepala istrinya. "Gimana tidurmu? Nyenyak nggak?" "Alhamdulillah, Mas, tidurku nyenyak sekali semenjak kamu pulang," jawab Luvina lalu menyerendengkan kepalanya di bahu suaminya. "Jadi, maksud kamu ... selama aku pergi tidurmu nggak nyenyak?" "Ya nyenyak juaga sih mas, tapi senang banget rasanya suamiku udah balik dan memelukku." "Maafkan aku ya sayang karena aku belum bisa fokus di Jakarta, aku masih harus mengurus banyak hal." "Nggak masalah, Mas, karena itu perusahaanmu. Ya tentu saja yang bisa menyelesaikannya adalah kamu jadi aku memahamimu, aku nggak akan pernah egois." "Terim

