10

1151 Kata
“Sumpah! Lo tuh bego banget ya, Ay! Gue udah susah payah akting biar keliatan meyakinkan di mata mantan lo, tapi lo malah iya-iya aja waktu diajak ketemu. Gemes banget gue, sumpah!” Sekarang posisi Kanaya dan Raja sedang berada di dalam mobil. Pria itu langsung mengata-ngatainya begitu tahu kalau tadi Kanaya sempat bertemu dengan Niko atas permintaan mantannya itu. “Harga diri gue mau ditaruh di mana di depan mantan lo. Ibaratnya nih, gue udah koar-koar sana-sini, bilang kalo lo pacar gue, tapi lo malah iya-iya aja diajak ketemu sama cowok lain. Kesannya kayak gue yang ngebet banget sama lo tau!” Raja melipat tangannya di depan d**a sambil bibirnya ngomel panjang lebar pada Kanaya. Kanaya memutar bola matanya malas. Dia melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 21.03 WIB. Itu berarti sudah setengah jam kupingnya mendengar omelan panas nan pedas dari mulut Raja. “Iya, iya. Gue minta maaf. Udah jangan ngomel-ngomel mulu napa.” Raja tambah sewot mendengar permintaan maaf dari Kanaya yang terkesan ogah-ogahan. “Gimana gue gak ngomel coba? Gue tuh, udah susah-susah bantuin lo, tapi lo-nya malah bucin akut. Bucin boleh, tapi jangan bego, Ay!” “Ck. Iya ah, gue kan udah minta maaf. Udahan napa ngomel-ngomelnya. Lagian gue cuma penasaran aja apa yang mau diomongin sama Niko, makanya gue ngeiyain ajakan dia tadi.” Raja mendengkus mendengar alasan Kanaya. “Ngeles aja lu.” “Udah ah, pulang yuk. Udah malem, nih!” Pada akhirnya Raja menghentikan acara ngomel-ngomelnya pada Kanaya dan melajukan mobil meninggalkan parkiran gedung untuk mengantarkan Kanaya ke rumah. Selama di perjalanan mereka lebih banyak diam. Lebih tepatnya, Kanaya menghindari percakapan dengan Raja. Selain karena malas kalau nanti pada akhirnya Raja akan kembali membahas hal tadi dan mengomel padanya, dia juga sedang berpikir tentang sesuatu setelah pembicaraannya dengan Niko tadi. Tanpa sadar mobil Raja sudah sampai di depan gerbang rumah Kanaya. Pria itu menghentikan mobilnya kemudian memberitahukan pada Kanaya bahwa mereka telah sampai. “Gue perlu masuk buat pamitan sama orang tua lo, gak?” Kanaya langsung menolak mentah-mentah ide Raja. Yang ada nanti dirinya akan ditanyai macam-macam kalau Raja sampai masuk ke dalam rumah. Orang tuanya pasti akan curiga dan berusaha untuk mengorek keterangan darinya. “Gak perlu! Lo pulang aja. Udah malem.” “Serius, gue gak perlu masuk?” Kanaya berbalik menghadap Raja. “Lima rius. Lo gak perlu repot-repot cari muka di depan orang tua gue.” “Enak aja cari muka!” sewot Raja tidak terima. Setelahnya, Kanaya keluar dari mobil Raja kemudian masuk ke dalam rumah setelah memastikan mobil Raja pergi meninggalkan halaman depan rumahnya. Ketika masuk rumah, Bapak sudah stand by di ruang tamu seakan menunggu kedatangan Kanaya. “Habis dari mana, Mba?” Di rumah ini, Bapak memang terbiasa memanggilnya dengan sebutan Mba yang merupakan panggilan untuk kakak perempuan di Jawa, sedari Kanaya masih kecil. Harapannya ketika punya adik nanti, adiknya dapat meniru panggilan tersebut. Namun, sayangnya sampai saat ini dia tidak mempunyai adik. Dia ditakdirkan menjadi anak tunggal. “Habis dari luar, Pak.” “Kok rapi banget? Acara apa emang?” “Kumpul sama temen-temen, sekalian ngerayain ulang tahun temen tadi.” Untung saja Kanaya terlatih untuk berbohong. Jadi, ketika ditanyai oleh orang tuanya, dia tidak gugup sehingga bicaranya tidak terbata-bata. “Tadi pulang dianterin siapa? Kok gak mampir ke dalam?” “Sama temen kantor. Temen Kana tadi buru-buru. Soalnya udah malem. Jadi tadi cuma nitip salam sama Bapak Ibu.” Bapak mengangguk-angguk mendengar jawaban Kanaya. Syukurlah Bapak percaya. “Kalo gitu Kana masuk kamar dulu ya, Pak. Mau bersih-bersih terus tidur. Capek banget soalnya.” “Kamu udah ngabarin ke Niko kan Na, kalo tadi pergi dijemput temen cowokmu? Nanti jadi salah paham, repot urusannya.” Belum selangkah Kanaya pergi meninggalkan ruang tamu, suara ibunya mengudara dari balik pintu penghubung ruang keluarga dan ruang tamu, membuat Kanaya menghentikan langkahnya dan tertahan lebih lama di ruang tamu. “Iya, Bu. Udah.” “Loh perginya sama temen cowo? Kirain sama temen cewek.” Bapak tiba-tiba menyeletuk, membuat Kanaya mau tidak mau harus bertahan lebih lama di situ. Alamat bakal panjang urusan ini. “Sekalian, Pak. Rumahnya searah. Biar hemat bensin.” “Kalo cowok harusnya masuk dulu ke dalam. Gak sopan banget, nganterin anak cewek tapi gak pamitan.” “Kan, Kana udah bilang tadi, orangnya lagi buru-buru, jadi gak sempet mampir. Lagian Bapak sama Ibu kenapa jadi over gini sih? Gak kayak biasanya.” Padahal biasanya orang tuanya tidak pernah mempermasalahkan hal sesepele ini. Kenapa sekarang mereka seakan jadi over protektif kepadanya? “Bapak sama Ibu cuma mau hubungan kamu sama Niko baik-baik aja. Sekarang itu susah nyari cowok baik, Na. Kebanyakan mereka suka semaunya sendiri dan suka nyakitin. Jadi, kamu harusnya bersyukur dapet pacar kayak Niko. Udah baik, sopan, kurang apa lagi coba?” Kedua orang tuanya tidak tau saja kelakuan Niko yang sebenarnya. Pria yang tengah disanjung-sanjung oleh kedua orang tuanya adalah orang pertama yang mampu menyakiti hati Kanaya sedalam ini. Bayangkan kalau kalian di posisi Kanaya saat ini. Diputuskan saat hari anniversary. Seminggu kemudian malah mendapat undangan pernikahan dari mantannya. Belum lagi kenyataan yang baru saja Kanaya terima dari percakapannya dengan Niko tadi. Semakin dipikirkan semakin membuat kepala Kanaya pening. “Kamu harus terus baik-baik sama Niko. Jangan macem-macem. Gak usah aneh-aneh sama yang lain.” “Dengerin apa kata Ibumu, Mba.” Bapak ikut-ikutan nimbrung. “Kamu tuh harusnya ….” “Cukup Pak, Bu! Niko itu gak sebaik yang Ibu sama Bapak kira! Dia laki-laki b******k! Dia udah nyakitin Kanaya!” Kanaya berteriak cukup keras. Tanpa sadar dirinya mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan. Tiba-tiba suasana di antara mereka hening. Bapak dan Ibu terdiam beberapa saat. Kanaya juga tidak sadar kalau matanya sudah berair karena menahan tangis sedari tadi. “Maksud kamu apa, Na?” Ibu bertanya lebih dulu, memecahkan suasana hening di antara mereka. Ibu mendekat ke arahnya dan mengusap belakang punggungnya, memberikan ketenangan. Kanaya tidak tau apa yang harus dia katakan pada kedua orang tuanya. Dia kelepasan bicara hingga menimbulkan kekacauan baru. Saking emosinya mendengar kedua orang tuanya menyanjung-nyanjung Niko, seolah pria itu adalah malaikat yang sempurna padahal kenyataannya tidak, membuat Kanaya tidak tahan untuk tidak bicara. Namun, hal itu malah menimbulkan masalah baru. Kali ini dia harus menjelaskan kenyataan yang selama ini ditutup-tutupinya pada kedua orang tuanya. “Kanaya masuk kamar dulu. Capek, mau istirahat.” Kanaya memilih memberi alasan dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya tanpa menjelaskan apa-apa. Dia belum siap menceritakan segalanya. Walaupun mau tidak mau dirinya harus berkata jujur pada Bapak dan Ibu nanti, tetapi biarlah hal itu dipikirkan belakangan. Saat ini dia ingin sendiri dulu. Mengurung di kamar sambil memikirkan mengapa semua ini terjadi padanya. Rasa emosional setelah mendatangi pernikahan Niko masih membekas di hatinya. Luka itu belum sepenuhnya sembuh, ditambah lagi dia harus menceritakan kenyataan yang sebenarnya tidak ingin dia ulang pada orang tuanya. Kanaya butuh jeda untuk menghadapi semua masalah ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN