09

1191 Kata
“Na, ada yang nyariin kamu di depan!” Ibu Kanaya berteriak di luar kamarnya. Memanggil Kanaya untuk segera keluar. “Iya, Bu. Bentar!” Olesan terakhir pada wajahnya berhasil Kanaya selesaikan. Dia menyambar sling bag yang tergantung dibalik pintu, kemudian keluar kamar. “Kamu mau kemana? Kok rapi banget.” Ibu bertanya sambil memperhatikan tampilan Kanaya dari atas hingga bawah. “Kana mau keluar sebentar, Bu. Ngumpul sama temen.” Kanaya sengaja berbohong pada ibunya. Dia belum siap untuk menceritakan perihal hubungannya dengan Niko. Apalagi jika sekarang dia mengatakan kalau akan pergi ke pernikahan Niko. Ibunya bisa-bisa langsung jantungan. “Cowok yang nungguin kamu di depan siapa? Kok kamu gak bareng Niko?” “Itu temen kantor Kana, Bu. Rumahnya searah sama rumah kita, jadi Kana sengaja nebeng biar hemat bensin.” Kanaya mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Ibu. Sebuah upaya untuk kabur dari pertanyaan-pertanyaan Ibu yang mungkin akan lebih menyudutkan dirinya. “Kamu jangan lupa ngabarin ke Niko kalo pergi sama cowok. Biar gak ada salah paham nanti,” ucap ibunya memperingati. “Iya, Bu. Kana pergi dulu, ya.” “Hati-hati.” Kanaya langsung ngacir ke teras, tempat di mana Raja sedang duduk menunggunya sendirian. “Lo kenapa keluar, sih! Tunggu di mobil kan bisa,” ucap Kanaya gemas. “Sorry to say, ya, Ay. Gue bukan tipe cowok yang beraninya jemput cewek depan gang.” Kanaya memutar bola matanya mendengar alasan Raja. “Udah, yuk, jalan. Nanti keburu macet di jalan.” Raja mengikuti Kanaya yang masuk ke dalam mobilnya terlebih dahulu. Pria itu duduk dibalik kemudi, di samping Kanaya. “Lo dandan?” Raja menyalakan mesin mobilnya, kemudian melajukan mobilnya pergi meninggalkan halaman rumah Kanaya. “Lo kira gue bakal berpenampilan gembel sementara di depan gue ada mantan gue sama bininya duduk di pelaminan?” Raja tertawa. “Nyokap lo emang gak nanya lo mau pergi kemana?” “Gue bilang mau nongkrong tadi.” “Nongkrong pake dress gini? Yakin nyokap lo gak curiga?” Kanaya mengendikkan bahu tak acuh. “Selagi nyokap gak tanya macem-macem. Gue anggep semuanya aman.” Raja hanya bisa geleng-geleng kepala. Lebih tepatnya heran kenapa Ibu Kanaya semudah itu dibohongi oleh anaknya sendiri. Raja yakin perempuan itu belum mengatakan tentang hubungannya dengan sang mantan. Terbukti saat Raja menunggu di depan teras tadi, telinganya sedikit mendengar nama mantan perempuan itu disebut. Mobil Raja berhenti di sebuah gedung tempat Niko menggelar pernikahannya. Bahkan gedung pernikahan yang dipakai oleh Niko sama persis dengan keinginan Kanaya waktu ditanyai oleh mantannya itu. “Udah, gak usah pasang wajah memelas gitu. Gue tau dalam hati lo ada niat buat rusuhin pernikahan mereka.” Kanaya mendelik, menatap sebal ke arah Raja. Selain menyebalkan, Raja itu sangat usil. Omongannya kadang membuat Kanaya ingin menyentil dahinya sampai merah. Kanaya memutuskan untuk turun dari mobil kemudian diikuti Raja yang mengekor di belakangnya. Ketika langkahnya hampir mendekati gedung tempat pernikahan Niko digelar, tanpa aba-aba Raja mendekat ke arahnya. Berdiri di sampingnya kemudian menarik tangannya agar menyatu dengan tangan pria itu. Kanaya terkejut. Tanpa sadar pipinya memerah atas perlakuan pria itu padanya. Ketika sadar, Kanaya segera menepis perasaan itu. Dia mengingat kembali bahwa pria itu hanya akting dan Kanaya tidak boleh terbawa suasana. Apalagi dengan Raja. Keduanya terlihat serasi ketika berjalan berdua memasuki gedung. Saat tiba menyalami kedua mempelai, Kanaya menyikut perut Raja agar bersiap untuk mengerahkan kemampuan sebagai pria playboy yang selalu bisa membangun suasana romantis. Kanaya sempat bersalaman dengan kedua orang tua Niko. Wajah keduanya terlihat terkejut juga memancarkan sinar sendu. Bahkan saat dirinya melewati ibunya Niko dan hendak menyalaminya, Kanaya terkejut ketika tiba-tiba ibunya Niko memeluk dirinya erat. Kanaya memang cukup dekat dengan ibunya Niko. Apalagi sewaktu pacaran dulu, dirinya sering diundang secara pribadi oleh ibunya Niko untuk mencoba resep baru yang dibuat oleh beliau. Saking dekatnya hubungan mereka, ibunya Niko sampai menyuruh Kanaya untuk memanggil dengan sebutan ‘Mama’ sama seperti anak-anaknya. Siapa sangka, setelah sejauh itu, malah bukan Kanaya yang berdiri di samping Niko di pelaminan. Bukan Kanaya yang menjadi menantu Mama. Kanaya lebih dulu melepaskan pelukan mereka karena antrian di belakangnya. Dengan senyum sendu Kanaya maju melewati Mama kemudian beralih menuju seseorang yang membuat sakit di dadanya terasa nyeri. Dia berhasil berhadapan dengan mantannya yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kanaya lebih dulu mengulurkan tangannya ke depan. Memberi ucapan selamat. “Selamat atas pernikahannya. Semoga lo bahagia.” Hampir saja suasana sedih tercipta di antara mereka. Namun, sebelum itu terjadi, lagi-lagi, tanpa aba-aba Raja menyerobot di antara Kanaya dan Niko. Pria itu berhasil memutuskan jabat tangan mereka. “Selamat buat pernikahannya. Makasih juga udah ngasih gue kesempatan buat ngisi hatinya Kanaya.” Kanaya bisa melihat raut meyakinkan dari wajah Raja. Apakah ini bagian dari akting yang pria itu bilang? “Dia siapa?” Niko memandang ke arah Kanaya. Bertanya dengan nada menuntut. Belum sempat Kanaya menjawab pertanyaan Niko, Raja lebih dulu menyeletuk. “Gue pacarnya Kanaya.” Belum sempat Niko membalas perkataan Raja, orang-orang yang antri di belakang mulai ramai membuat Kanaya dan Raja memilih untuk maju, menyalami orang selanjutnya. Kini yang ada dihadapan Kanaya adalah seorang perempuan dengan gaun putih menjuntai ke bawah. Sangat cantik dan tiba-tiba membuat Kanaya tau alasan Niko lebih memilih perempuan itu dibandingnya. Tangan Kanaya terulur ke depan. Dengan lapang d**a dia mengucapkan selamat pada perempuan pilihan Niko. Istri mantan pacarnya. “Selamat, buat pernikahannya.” Begitu tangan mereka terlepas. Kanaya langsung melengos pergi, melewati tamu-tamu yang menatapnya dengan pandangan heran. Sebelum Kanaya pergi terlalu jauh, Raja berhasil mencekal lengan perempuan itu membuat Kanaya berhenti. “Lo kenapa jalannya cepet banget, sih? Tungguin gue dong!” Kanaya tidak menghiraukan protes dari Raja. Dia hanya diam sambil berdiri mematung di depan pria itu. “Ay! Lo kenapa diem aja! Kesambet?” Raja melambaikan tangan di depan wajah Kanaya agar perempuan itu segera sadar. Kanaya seperti sadar dari alam bawah sadarnya kemudia menggeleng. “Gue gak apa-apa. Pulang yuk.” “Heh! Enak aja mau pulang! Mumpung udah di sini kita sekalian makan dulu. Sayang kalo dilewatin.” Kanaya memutar bola matanya malas. “Duh, nanti aja deh, sekalian pulang. Nanti gue traktir di jalan.” Raja menggeleng kemudian tanpa aba-aba menggeret tangan Kanaya untuk mendekat ke arah stan makanan yang berderet di pojok sana. “Kelamaaan, keburu gue mati kelaparan. Udah makan aja di sini.” Kanaya hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Raja. Sebenarnya dirinya sudah tidak nafsu makan sejak tadi. Padahal ada makanan favoritnya terhidang di sana. Gulai kambing dan sate ayam, tetapi entah kenapa hanya dengan melihat, perutnya sudah menolak. Getar pada tasnya membuat Kanaya mencari sumber suara yang berasal dari ponselnya. Dia mengambil benda pipih itu kemudian mengecek pesan yang masuk. Betapa terkejutnya Kanaya ketika melihat ada pesan dari mantannya masuk ke dalam WhatsAppnya. Dengan rasa penasaran Kanaya membuka pesan itu yang isinya: Niko : Bisa bicara sebentar, gak? Apa maksud pesan yang dikirimkan Niko? Untuk apa pria itu mengajak bertemu? Kanaya menggigit bibirnya bingung. Kini hatinya seperti terbelah menjadi dua. Antara ingin mengikuti kata hatinya untuk mengiyakan ajakan Niko atau menggunakan logikanya untuk berhenti berurusan dengan mantan pacarnya itu. Niko : Pliss, Kan. Sekali ini aja. Dan Kanaya memilih untuk mengikuti hatinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN