“Nih.” Kanaya memberikan sebuah paper bag kepada Raja. Mereka memutuskan untuk mendiskusikan lebih lanjut kesepakatan mereka di kafe dekat kantor setelah pulang kerja.
“Apaan, nih?” Raja menarik paper bag tersebut mendekat ke arahnya kemudian mengintip sesuatu di dalamnya.
“Setelan jas buat lo. Biar senada sama gaun yang gue pake.”
Raja mengangguk mengerti. “Kok lo tau ukuran jas gue, sih?” Pria itu memandang dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Kanaya tiba-tiba gugup.
“G-gue cuma asal nebak aja. Ngeliat badan lo.”
“Berarti selama ini diem-diem lo merhatiin badan gue, ya?”
Lagi. Raja seakan menarik Kanaya maju, berusaha menggodanya.
Kanaya berdeham. Tidak ingin kalah dan masuk ke dalam lubang yang Raja gali. “Iya. Kenapa? Lo mau tau sesuatu yang gue temukan pas merhatiin badan lo, gak?”
Raja menarik alisnya ke atas, membentuk sebuah lengkungan di atas matanya. “Apa?”
Kanaya menarik kursi mendekat ke arah Raja. Membisikan sesuatu di telinga pria itu. “Kayaknya lo perlu diet deh. Perut lo mulai buncit. Gue khawatir cewek-cewek one night stand lo jadi kurang nafsu ngeliat badan lo yang makin mirip om-om.”
“Sialan!”
Setelahnya, Kanaya mendapati muka masam Raja dan bibir pria itu yang maju hampir lima senti.
Raja berdeham. Mengembalikan kembali ekspresinya seperti semula. “Jadi, apa yang perlu gue lakuin di pernikahan mantan lo nanti?”
Kanaya ikut berdeham. Dia meneguk jus jeruk yang dipesannya hingga menyisakan setengah gelas. Sepertinya mereka mulai memasuki pembicaraan yang serius.
“Lo cukup berakting seolah lo sangat mencintai gue di depan mantan gue. Tunjukkin ke dia kalo kita adalah pasangan paling bahagia di dunia.”
“Cuma itu aja?”
Kanaya mengangguk.
“Cuma kayak gitu doang lo sampe berdarah-darah nyari partner kondangan ke pernikahan mantan lo? Gue kira rencana lo bakal se-ekstrem yang ada di sinetron.”
“Tujuan gue kan cuma mau manasin mantan gue doang. Gue pengin dia tahu kalau gue juga bisa bahagia setelah ditinggal sama dia.”
“Oke. Kalo cuma itu doang mah gampang. Lo tenang aja. Mantan lo pasti bakal kepanasan ngeliat kita.” Raja meminum teh lemon yang tersaji di dalamnya, kemudian berkata, “Setelah gue bantu lo, jangan lupa imbalannya.”
Kanaya tentu tau imbalan yang dimaksud Raja. Pria itu memintanya untuk berpura-pura menjadi pacarnya di depan keluarga besar. Sebenarnya Kanaya tidak terlalu terkejut dengan apa yang diminta Raja. Sebagai pria yang usianya sudah terbilang matang, pasti keluarga Raja memiliki keinginan agar pria itu segera mendapatkan pasangan. Bukannya susah bagi Raja mendapatkan pasangan hingga menyuruhnya untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Namun, dengan Raja yang notabene adalah playboy kelas kakap, susah bagi pria itu untuk menjalin hubungan yang serius dengan wanita. Jalan pintas satu-satunya yang bisa diambil agar terhindar dari tuntutan pertanyaan ‘kapan nikah’ hanyalah menyuruh orang untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Hah! Sepertinya circle Kanaya selalu berputar pada orang-orang yang dituntut keluarga untuk segera menikah. Akhir-akhir ini dia sering menjumpai orang yang frustasi karena pertanyaan itu. Bahkan rekan kerja setimnya—Salma sampai menjalani pertemuan perjodohan yang sudah direncanakan oleh orang tuanya. Semoga saja Kanaya tidak mengalami hal serupa. Orang tuanya masih mengira hubungannya dengan Niko masih baik-baik saja. Setidaknya untuk saat ini dia terbebas dari pertanyaan-pertanyaan mengesalkan tersebut.
“Tenang aja. Gue masih inget kok,” ucap Kanaya.
“Lo gak tanya alasan gue nyuruh lo pura-pura jadi pacar gue di depan keluarga besar?”
Kanaya menggeleng. “Sayangnya gue gak kepo. Itu urusan lo, bukan urusan gue.”
Raja mendecih kemudian menenggak sisa minumannya hingga habis.
“Oke, kalo gitu sampai ketemu besok. Inget acaranya jam tujuh malem. Jangan sampai telat!” Kanaya memasukkan barang-barangnya ke tas, kemudian bersiap beranjak pergi meninggalkan Raja. “Oh, iya. Gue lupa bilang. Lo juga harus jemput gue besok. Kita berangkat bareng. Biar lebih meyakinkan.”
Raja menjawab malas. “Iya, iya. Lo gak perlu ngajarin hal dasar kayak gitu sama gue.”
Kanaya tidak membalas perkataan Raja. Dia beranjak pergi meninggalkan pria itu. Namun, belum ada lima langkah Kanaya pergi meninggalkan Raja, pria itu menarik kembali dirinya hingga hampir terjatuh karena saking terkejutnya.
“Apaan, sih, Ja! Gue hampir jatuh tau!”
“Ssssttt.” Raja meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan untuk diam. “Ini waktunya lo tepatin janji. Akting sekarang.”
Tanpa aba-aba Raja menarik Kanaya mendekat ke arah dua orang yang kini sedang duduk saling berhadapan. Raja menyenggolnya, mengisyaratkan agar dia bersiap untuk berakting.
“Loh, Abang? Abang kenapa bisa ada di sini?” Perempuan dengan rambut lurus sebahu yang memanggil Raja dengan sebutan Abang terlihat terkejut. Di depan perempuan itu duduk seorang pria yang sepertinya terkejut juga dengan kehadiran kami.
“Harusnya gue yang bilang gitu. Kok lo bisa ada di sini? Sejak kapan kantor lo pindah ke sini?”
“Aku lagi ada urusan di daerah sini.”
Kanaya bisa melihat Raja memindai dengan tatapan tak bersahabat ke arah pria yang berada di depan perempuan itu. “Oh, ada urusan,” ucap Raja yang ditelinga Kanaya terdengar seperti sarkasme.
“Dia siapa? Temen Abang?” Kanaya yang merasa disebut tersenyum canggung. Mau tidak mau dia jadi memperkenalkan diri di depan semuanya.
“Kenalin, aku Kanaya.” Kanaya hampir saja mengulurkan tangan, tetapi perkataan Raja membuatnya terkejut hingga tangan yang awalnya ingin menjulur terasa kaku sekarang.
“Pacar gue.” Kanaya melotot, begitu juga dengan perempuan itu.
“Wah, jadi yang Abang bilang sama nenek kemarin itu bukan bohongan? Abang beneran punya pacar?” Tak terduga perempuan itu antusias sekali mendengar pernyataan Raja. Perempuan itu bangkit dari kursi kemudian mengulurkan tangan pada Kanaya, mengajak untuk bersalaman. “Kenalin, aku Ratu. Adiknya Bang Raja.”
Kanaya membalas uluran tangan Ratu dengan canggung. “Salam kenal Ratu.”
“Urusan kalian udah selesai, kan? Kita boleh gabung di sini?”
Apa? Kita? Yang benar saja! Bergabung bersama adiknya Raja tidak masuk dalam kesepakatan mereka. Kanaya tidak mau berlama-lama bersama dengan anggota keluarga Raja. Lebih tepatnya, dia malas duduk diam sambil mencari bahan pembicaraan agar tidak mati kata.
Kanaya menyenggol Raja. Usaha mengode pria itu untuk berhenti melibatkan dirinya dengan urusan pria itu. Raja menoleh ke samping yang langsung dihadiahi tatapan horror Kanaya yang kurang lebih diartikan seperti ini, “Urus urusan lo sendiri. Jangan bawa-bawa gue.” Namun, sayangnya tidak ditanggapi lebih lanjut oleh Raja.
Ratu terlihat ragu. Kanaya bisa melihat perempuan itu menatap pria yang sedari tadi duduk di depannya, meminta pendapat. Pada akhirnya Ratu mempersilakan mereka untuk bergabung.
Kanaya tentu tidak langsung mengiyakan segampang itu. Dirinya harus segera keluar dari masalah ini kalau tidak ingin terlibat lebih jauh. “Kayaknya aku gak bisa gabung deh, masih ada urusan lain yang perlu diselesaikan. Next time, pasti bakal aku sempetin. Kalo gitu aku duluan, ya.” Kanaya melambaikan tangan. Berjalan cepat meninggalkan kafe tersebut.
Sialan sekali Raja! Kalau bukan karena misinya untuk memanas-manasi Niko, mana mau Kanaya melakukan ini. Hah! Ini semua gara-gara Niko mantan sialan itu. Kini hidup Kanaya benar-benar kacau.
***