07

1109 Kata
Pagi-pagi sekali Kanaya sudah nangkring di kubikelnya sambil memantau keadaan. Ada sesuatu yang harus dilakukannya hingga dia merelakan waktu paginya yang biasanya digunakan untuk berleha-leha di kasur malah digunakan untuk mandi dan segera berangkat ke kantor. Mata Kanaya langsung terfokus ketika melihat objek di depannya—yang merupakan alasan dia berada di kantor lebih awal—terlihat keluar dari lift. Sosok itu—Raja—orang yang ditunggu Kanaya dari tadi, berjalan santai melewati meja Kanaya, lalu duduk di seberangnya. Pria itu tak merasa curiga apa pun. Padahal sekarang Kanaya sedang menatapnya dengan pandangan nafsu, seolah siap untuk menerkamnya. Setelah meletakkan tas di kursi, Raja tiba-tiba beranjak, membuat arah pandang Kanaya beralih menuju pantry, tempat yang menjadi tujuan Raja sekarang. Ini kesempatan bagus. Ucap Kanaya dan hati. Perempuan itu berencana untuk membuntuti Raja dan masuk ke dalam pantry. Sepertinya dia harus memulai percakapan ini dengan basa-basi sebelum masuk ke intinya. "Tumben lo ngopi pagi-pagi. Kesambet setan apa?" Raja melirik Kanaya yang sedang melakukan hal serupa dengannya, menuangkan beberapa sendok bubuk kopi ke dalam cangkir, kemudian menambahkan gula sebagai pemanis. "Abis begadang semalem. Gak bisa tidur," ucap Kanaya mengarang alasan. "Masih mikirin 'itu'?" Kanaya tau apa yang dimaksud Raja, tetapi dirinya memilih pura-pura tidak tahu. "Itu apaan?" "Ya itu, partner kondangan ke pernikahan mantan lo. Masih belum dapet?" Raja bertanya sambil menuangkan air panas ke cangkir yang berisi kopi dan gula. Kanaya mengendikkan bahu, pura-pura putus asa. "Ya gitu deh, gue gak tau mau gimana lagi. Kayaknya gue bakal datang sendiri ke pernikahan mantan." Raja menaikkan sebelah alisnya. "Kok gitu? Bukannya lo menggebu-gebu banget pengin balas dendam ke mantan lo dan bikin dia nyesel?" "Penginnya sih gitu ..., tapi mau gimana lagi." Kanaya mengendikkan bahu. Dia sedikit melirik ke arah Raja, berharap pancingannya sedikit berhasil. Dia sengaja terlihat butuh pertolongan di depan Raja agar pria itu kembali menawarkan penawarannya yang sempat Kanaya tolak kemarin. Sebenarnya Kanaya bisa saja langsung bertanya, tetapi dia tidak ingin terlihat butuh. Dia terlalu gengsi menanyakan langsung pada Raja. “Butuh bantuan gue?” tanya Raja. Bravo! Pancingannya masuk tepat sasaran. Namun, Kanaya ingin semuanya terlihat natural. Dia tidak ingin Raja mengira kalau dia memang sedang mengincar tawaran ini sejak awal. “Oh, iya, gue lupa. Lo, kan, gak sudi ya, gandengan sama gue.” Raja tiba-tiba bersuara lebih dulu sebelum Kanaya menjawab. Eh? Kenapa skenarionya jadi berubah di tengah jalan begini? “Eh, gue gak bilang gitu, kok.” Raja menaikkan sebelah alisnya, kemudian pria itu menirukan apa yang Kanaya ucap kemarin. "Ogah! Gue mending cari cowok lain daripada sama lo." Kanaya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mampus! Gara-gara sikap congkaknya kemarin, dia harus menanggung karmanya. “Itu kemarin khilaf aja.” Kanaya tersenyum canggung. Sial! Dia tidak bisa membayangkan muka bodohnya di depan Raja sekarang. Raja tersenyum miring, merasa mendapat “permainan” baru. “Gue sakit hati banget digituin kemarin. Padahal niat gue baik. Mau bantu lo, tapi malah didzolimi.” “Eh, Ja, sumpah! Kemarin tuh, gue cuma bercanda. Lo jangan masukin ke hati omongan gue kemarin.” “Tapi kalo lo emang gak butuh bantuan gue, gak pa-pa, sih. Gue cuma bisa doain semoga rencana lo berjalan lancar.” Setelah itu, Raja membawa kopinya keluar dari pantry, membuat Kanaya kelimpungan. Bukan seperti ini skenario yang Kanaya inginkan. “Ja, tunggu!” Kanaya berteriak sebelum Raja berhasil melewati pintu pantry. Raja otomatis berbalik mendengar seruan Kanaya. “Kenapa?” Kanaya memejamkan mata. Menahan sekuat tenaga gengsi yang harus diturunkannya demi misinya. Sekali ini saja, dia harus mengalah. Sekali saja! “Gue mau minta bantuan lo.” Dari sudut matanya, Kanaya bisa melihat Raja menaikkan bibirnya. Sialan! Dia tahu kalau Raja sengaja mengerjainya. “Bantuan apa?” Kanaya menarik napas panjang, kemudian menyuarakan keinginannya. “Gue mau lo jadi partner kondangan di pernikahan mantan gue nanti.” “Kemarin lo bilang kalau ….” “Ja, please.” Gengsi Kanaya benar-benar sudah turun sampai dasar, hingga tak ada lagi yang tersisa. Dia memohon dengan nada memelas pada Raja hingga membuat pria itu tertawa terbahak-bahak. Sialan! Kalau bukan karena keadaan yang mendesak dia juga tidak akan pernah mau menurunkan gengsinya untuk memohon seperti ini pada Raja yang notabene adalah musuh bebuyutannya. Ini semua karena Laras. Semalam, sahabatnya itu mengompori Kanaya agar memilih Raja sebagai partner kondangannya. Awalnya Kanaya menolak, tetapi Laras dengan kemampuannya sebagai tim marketing di kantor, mendadak menerapkan strategi menarik pelanggan kepada Kanaya. Tentu saja Kanaya berada dalam kebimbangan yang tidak berkesudahan. Ada banyak faktor yang membuat Kanaya akhirnya memutuskan meminta bantuan Raja. Salah satunya karena wajah pria itu yang mendukung untuk menjadi playboy, alias tampan. Oke, stop it! Kanaya benci membayangkan dirinya mengakui dengan gamblang kalau Raja memiliki wajah tampan. “Gue bakal bantuin lo. Tapi, lo tahu, kan, ini gak gratis?” “Gue tahu. Lo mau bayaran berapa?” Raja menggeleng. “No! Gue gak butuh duit lo.” Kening Kanaya mengerut. “Terus, lo minta apa?” “Gue minta imbalan yang sama seperti lo manfatin gue.” Kanaya mengernyitkan dahi. “Maksudnya?” “Gue butuh lo. Tubuh lo.” Kanaya melotot mendengar permintaan Raja. Dia tahu kalau Raja suka main dengan perempuan, tapi dia tidak tahu kalau pikiran Raja bisa sebejat ini. Pria itu sudah gila? “Ja, lo gila, ya! Jangan macem-macem! Gue gak seperti apa yang lo pikirin!” “Tunggu. Tunggu dulu, Ay. Ini gak seperti apa yang lo pikirin. Dengerin penjelasan gue dulu.” Kanaya yang hendak pergi dari pantry ditahan oleh Raja. Pria itu menarik tubuh Kanaya agar berdiri di dekatnya. “Maksud gue tuh, gini. Seperti lo yang manfaatin diri gue buat pura-pura jadi pacar lo, begitu juga dengan gue yang butuh lo buat pura-pura jadi pacar gue di depan keluarga besar gue.” Kanaya mengembuskan napasnya lega. “Kenapa gak bilang dari awal! Omongan lo, tuh, bikin salah paham tahu! Pakai bahasa yang gak ambigu, kek. Lo bilang butuh tubuh gue, kan, gue jadi ngeri!” “Ya bener dong! Emangnya lo gak punya tubuh? Kanaya yang berdiri di depan gue ini, kan, terdiri atas tubuh!” “Tapi lo bisa gunain bahasa lain yang gak bikin salah paham! Ah, udahlah! Males gue debat sama lo.” “Jadi, gimana? Deal, gak, nih?” Raja mengulurkan tangannya sebagai tanda kesepakatan. Kanaya memandangi tangan itu. Lama dia membiarkan tangan Raja menggantung di depannya. Hanya berpura-pura menjadi kekasih pria itu di depan keluarga besarnya, kan? Sepertinya tidak sulit melakukannya. Kanaya memejamkan mata. Memantapkan hati sebelum membuat kesepakatan dengan Raja. Dengan gerak pelan, tangannya terulur maju, kemudian dengan keraguan yang berhasil Kanaya tepis, dia menjabat tangan itu. “Deal!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN