"Itu siapa Na?" Kali ini lagi-lagi Laras dan Kanaya duduk di kantin kantor pada jam makan siang untuk membahas masalah Kanaya yang belum selesai. Pernikahan Niko tinggal tiga hari lagi dan Kanaya masih keras kepala tidak mau memilih orang random sebagai partner kondangannya di pernikahan mantan.
Kanaya memperhatikan seseorang yang dimaksud Laras, kemudian melengos setelahnya. "Temen kantor gue. Kenapa? Lo naksir?"
"Gaklah! Gue cuma kayak gak asing gitu sama mukanya. Gue ngerasa pernah ketemu, tapi di mana gitu, lupa."
"Lo pasti pernah ketemu dia di bar atau diskotek. Itu orang suka keluyuran ke sana. Dia emang terkenal main sana-sini sama cewek. Gak heran gue."
"Tipe-tipe cowok playboy, ya?"
Kanaya mengangkat bahu. "Ya gitu, deh. Udah ah! Jangan ngomongin dia. Bawaanya enek gue. Di kantor gue udah mual adu mulut sama dia. Jangan sampai gara-gara ngomongin dia bikin gue gumoh sekarang."
Laras tertawa mendengar ucapan Kanaya. "Lo musuh bebuyutan banget sama dia?"
"Banget! Dia tuh orangnya julid banget! Mulut emak-emak aja kalah sama mulutnya yang suka nyinyir. Gue prihatin sama cewek yang nanti jadi pacarnya. Kayaknya kerjaan mereka tiap hari adu gosip gak kelar-kelar."
"Awas kena karma. Bisa jadi malah elo yang jadi jodoh dia nanti."
Kanaya langsung melotot, kemudian bergidik ngeri membayangkannya. "Amit-amit! Jangan sampe!"
Laras terbahak. "Tapi dia ganteng, sih. Muka-mukanya mendukung buat jadi playboy. Kayaknya kalo gue dideketin modelan dia, gue juga bakal mau-mau aja, deh."
"Kalo gue sih amit-amit, ya! Mau dia seganteng apapun kalo ceweknya di mana-mana, angkat tangan gue. Modelan playboy kelas kakap gitu biasanya cuma bisa nyakitin. Mereka cenderung gak bisa diajak komitmen dan cepet bosen."
"Iya juga, sih, tapi cewek-cewek zaman sekarang, kan, lebih suka sama cowok-cowok modelan b******k gitu. Lebih menantang katanya."
"Sorry to say, gue gak masuk ke sekte itu. Gue anti sama cowok brengsek."
"Tapi mantan lo b******k juga. Kenapa lo mau sama dia?"
Iya juga, ya?
"Itu dulu sebelum gue tau kebrengsekannya. Sekarang mah ogah!"
Mengingat hal itu entah kenapa membangkitkan memori tersendiri dalam benak Kanaya. Dulu dia sangat mencintai Niko. Bahkan Kanaya sering berandai-andai soal kehidupan masa depannya dengan Niko. Kanaya tidak pernah berpikir ada masa ketika dia dan Niko akhirnya harus benar-benar berpisah. Bahkan jika bisa didramatisir, keadaan Kanaya sekarang seperti dibuang oleh Niko. Padahal Kanaya yang selama ini menemani Niko dalam setiap perjalanan kehidupannya. Dari mulai lulus kuliah, masa-masa sulit mencari kerja, hingga akhirnya pria itu bisa mendapat kerja dan merintis kariernya. Semua itu Kanaya jalani dengan Niko tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, pria itu justru memilih orang lain untuk menemani masa tuanya, bukan Kanaya.
"Eh, jam masuk kantor gue bentar lagi, nih. Gue cabut duluan ya, Na." Laras membereskan barang-barangnya kemudian pamit pada Kanaya untuk kembali ke kantor.
"Hati-hati. Kalo ada kenalan cowok baru, jangan lupa kenalin ke gue." Kanaya melambaikan tangannya pada Laras yang sudah mulai menjauh.
"Gila! Cuma gara-gara mau manasin mantan, orientasi lo sekarang cuma berpusat sama cowok dari kemaren-kemaren." Kanaya tidak tahu sejak kapan Raja sudah berada di belakangnya. Pria itu tiba-tiba datang kemudian duduk ditempat Laras duduk tadi.
"Lo saking sakit hatinya ditinggal nikah sama mantan sampe totalitas gini, ya, Ay."
Kanaya berkacak pinggang di depan pria itu. “Lo nguping?”
“Bukan nguping, tapi emang suara lo sama temen lo kayak toa masjid. Kedengeran sama ujung sana.”
Kanaya melotot. Sama sekali tidak percaya dengan perkataan Raja. Dia hendak mendebat, tetapi diurungkannya karena terlalu lelah dengan percakapan yang tidak akan ada ujungnya. Dia malas membahas hal unfaedah seperti ini. Pada akhirnya mereka malah makan bersama menghabiskan makan siang mereka.
"Lo beneran gak ada niatan bantu gue, nih, ngenalin temen-temen cowok lo ke gue?" Kanaya menagih lagi permintaan waktu itu yang sempat dia minta pada Raja.
Raja berdecak. "Gue bilang enggak, ya enggak."
"Ish, lo kan cowok, Ja. Pasti temen lo banyak yang bisa dikenalin ke gue."
"Nih, ya, daripada lo susah-susah nyari partner kondangan, mendingan lo ajak gue aja. Simpel. Gak pake ribet. Gue udah jelas lama kenal sama lo, chemistry kita juga dapet karena kita sekantor, dan yang paling penting, nih, wajah tampan gue tuh mendukung banget buat manas-manasin mantan lo."
Kanaya langsung menolak tegas ketika Raja menawarkan dirinya sendiri padanya. "Ogah! Gue mending cari cowok lain daripada sama lo."
"Lah? Daripada lo ribet nyari-nyari, tapi gak ketemu, kan mending sama gue yang udah pasti di depan mata."
Kanaya memindai Raja dari atas sampai bawah kemudian berkata, "Tapi lo itu gak meyakinkan banget, Ja. Gue yang takut."
"Lo ngeraguin kemampuan gue, Ay? Gini-gini gue mantan artis cilik tau! Akting gue udah gak diraguin lagi. Coba aja dites kalo mau."
"Sejak kapan lo jadi artis cilik? Gue gak pernah, tuh, ngeliat muka lo nyempil di TV." Kanaya tertawa meledek pada Raja.
"Jangan salah! Gue beneran pernah masuk TV, bentar nih gue liatin."
"Gak usah ngadi-ngadi deh, Ja."
"Gak ngadi-ngadi gue! Beneran, nih liat." Raja menyodorkan ponselnya yang menampilkan video YouTube iklan jadul yang pernah ditampilkan di TV.
"Mana muka lo? Kagak ada!" Kanaya mencoba mencari muka yang mungkin mirip Raja.
"Lah, lo gak liat itu anak kecil yang ada di belakang? Itu gue!"
"Ya elah! Itu mah lo kebetulan aja lagi main sepeda terus ke-shoot. Ini mah bukan mantan artis cilik." Kanaya sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran Raja.
"Intinya gue pernah masuk TV, kan?"
"Tapi lo cuma jadi figuran!" Kanaya jadi ngegas.
"Masuk TV gak?"
"Y-ya ... Masuk, sih."
"Orang yang biasanya masuk TV namanya apa?"
"Artis," jawab Kanaya.
"Nah! Berarti fix gue dulunya artis," ucap Raja dengan seenak jidat menyimpulkan sendiri.
Tapi gak gitu konsepnya! Ah, sudahlah!
Kanaya yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Raja hanya bisa mengelus d**a. Dia memilih untuk membereskan barang-barangnya kemudian pergi meninggalkan pria itu.
"Eh, kok gue ditinggal?"
"Gue mau balik! Bye!" Kanaya melambaikan tangan kepada Raja sambil berlalu menuju lantai gedung kantornya. Lebih baik segera kembali ke kantor dari pada harus berlama-lama terjebak dengan Raja. Rasanya sepuluh menit berada di dekat Raja tensi darah Kanaya makin naik. Kalau bukan karena kesal diledek atau dijaili oleh pria itu, pasti ada hal lain yang membuat mereka selalu adu mulut. Memang sepertinya dari awal mereka diciptakan bagai kucing dan tikus yang tidak pernah bisa akur.
***