TAK seperti Raja yang tenang dan adem ayem begitu mendapat berita tentang tawaran studi banding itu, reaksi Mommy mertua Lea alias nyonya Tyana Mahendra saat Lea minta izin keesokan malamnya benar – benar luar biasa. Luar biasa heboh. Wanita paruh baya itu langsung menyuarakan ketidaksetujuannya didepan Lea, sampai hasrat dan kebahagiaan yang tadinya menggebu – gebu, kini padam tak bersisa.
"Mommy nggak setuju pokoknya! Perancis itu jauh sayang..." kata sang nyonya sambil bersedekap d**a. Di depannya duduk Raja dan Lea, yang saat ini sedang menunduk dengan bibir mengerucut lima senti.
"Lea berangkatnya nggak sendiri, Mom. Ada sebelas orang temannya, ada pembimbing juga..." Raja angkat bicara membela istrinya itu.
Lea langsung mengangguk semangat. Meyakinkan mertuanya bahwa dia pasti akan baik – baik saja. Dia sudah berasumsi bahwa Mommy pasti tidak mengizinkannya pergi, sebab itulah dia membujuk Raja untuk membantunya membujuk sang nyonya besar.
Mommy mendengus. Ia jelas kalah suara karena selama ini tak pernah bisa menang dengan keinginan Raja- anak tirinya itu. Kecuali untuk satu hal, menikah dengan Aleah.
"Dad, bilangin itu sama anak mantu Daddy, ke Perancis sendirian itu bahaya. Daddy mau kalau menantu kita kenapa – napa?" Mommy akhirnya beralih ke sang suami yang sedang asyik membaca grafik sahamnya di tablet. Meski terkesan seperti sibuk dengan dunianya sendiri, tapi Tyana yakin, suaminya itu pasti mendengarkan pembicaraan istri dan anak menantunya itu.
"Biar ajalah sayang, toh Lea perginya cuma dua minggu kok, nggak lama. Itupun untuk belajar, bukan liburan. Kamu kalau Mas keluar negeri dua minggu nggak pernah ribut begini loh..." kata Anggara santai. Matanya masih menatap layar tabletnya.
Sang nyonya langsung melayangkan pandangan membunuh kearah sang suami. Sosok yang tadinya diharapkan bisa jadi bala bantuan ternyata tak bisa membantu sama sekali. Malah mendukung pihak lawan pula. Benar – benar tak disangka!
"Sebenarnya Mommy bukan khawatir karena Perancis jauh, kan? Pasti khawatir kalau Aleah pergi nanti Mommy nggak ada teman gosip lagi, iya kan?" goda Raja sambil terkikik. Lea yang duduk disampingnya hanya mesem sendiri berusaha menahan tawa. Restu belum didapat, jadi dia tak mau ambil resiko salah langkah.
Mommy menghela nafas panjang kemudian menatap Lea dengan tatapan memelas. Mencoba peruntungannya untuk mengurungkan niat sang menantu ke Perancis untuk terakhir kali. Tapi ternyata Lea tetap keras kepala. Terbukti sampai beberapa menit kemudian, menantunya itu tetap tak bersuara sama sekali. Tak seperti biasanya setiap kali ia melayangkan tatapan yang sama, gadis cantik itu langsung menyerah dengan mudahnya.
"Nanti kalau Mommy kangen Lea gimana?" katanya sendu.
Lea beringsut mengambil tempat duduk disamping Mommy dan memeluk wanita paruh baya yang meskipun sudah berumur tapi tetap cantik itu. Sebenarnya ia tak tega melihat Mommy mertuanya itu cemberut seperti itu. Tapi ia berusaha sekuat tenaga menabah – nabahkan hatinya. Demi masa depan!
"Bisa telponan, Mommy. Nanti tiap malam biar Lea video call deh..." bujuknya.
"Janji ya?!"
Lea mengangguk semangat. Melihat reaksi Mommy saat ini sepertinya restu sudah ia kantongi sembilan puluh persen. Sisanya tinggal sepuluh persen...
"Nanti Lea beliin ole–ole buat Mommy deh, handbag Chanel atau jam tangan Cartier, gimana?" rayu Lea lagi.
"CALL!" teriak Mommy bahagia. Wajahnya bersinar seperti lampu gudang seratus watt begitu kata Channel dan Cartier keluar dari bibir menantunya. "Mommy mau dua – duanya!"
Raja memutar bola mata jengah. Setelah hampir satu jam mereka berdebat, ternyata keputusannya tak jauh – jauh dari oleh-oleh. Kalau begitu, kenapa nggak dari tadi aja terus terang?
Hm... wanita memang aneh! Kalau para pria lebih suka to the point, tapi wanita lebih suka berbelit – belit. Giliran pria nggak peka merajuknya sampai berhari – hari.
Oh... credit card gue!
Setelah mengantongi seratus persen izin dari nyonya dan tuan besar, Lea dan Raja kembali ke kamar mereka. Wajah gadis itu girang bukan main, kontras dengan wajah Raja yang masamnya juga tak main – main. Dia sendiri pun tak tahu kenapa wajahnya bisa tertekuk seperti itu, karena jujur saja masalah duit bukan masalah besar baginya.
"Girang banget kamu?" Raja menyindir begitu mereka sudah masuk kamar.
Lea menghadiahkan Raja cengiran lebarnya. Gadis itu langsung memeluk lengan kekar Raja yang kini sedang menatapnya dengan raut tak puas hati. "Thanks, Kak... udah mau bantu Lea minta izin ke Mommy dan Daddy..."
Raja melepaskan lengannya dari pelukan Lea seraya berjalan menjauhi gadis itu menuju balkon kamar mereka. Lea dibelakangnya menyusul sambil berlari – lari kecil. Langkah lebar dan cepat Raja benar – benar membuatnya yang mungil itu kewalahan.
"Kak Raja..."
"Kak Raja...??"
Raja terus saja melanjutkan langkahnya sampai beberapa saat kemudian ia sudah tiba di balkon dan langsung duduk di sofa yang ada disana.
"Suaminya Lea..." Lea juga tak mau mengalah. Gadis itu ikut duduk disamping Raja yang sedang sok merajuk itu sambil menggoda suaminya itu dengan nada – nada manja kuasa empatnya. Sampai dia sendiripun heran dia bisa mengeluarkan nada suara menjijikkan seperti itu.
Raja berdehem. Tengkuknya tiba – tiba saja dingin mendengar suara istrinya yang tiba – tiba mendayu itu. Tapi tak urung juga membuat hatinya tergelitik geli. Bukannya geli dalam artian ilfeel seperti biasa setiap kali ia mendengar Mommy bermanja – manja dengan Daddy, kali ini ia malah suka dan senang – senang saja.
"Hm..."
"Kakak kenapa tiba – tiba cemberut, hm?" tanya Lea manja seraya menyandarkan kepalanya ke bahu Raja. Tangannya mengelus lengan pria yang tak terbalut lengan kaos itu dengan lembut. Membuat sang empunya tubuh makin merinding.
Raja megerutkan kening. Iya ya? kenapa juga gue jadi cemberut gak jelas gini? kayak remaja labil!
"Siapa yang cemberut?" katanya ketus. Tapi tak selaras dengan nada suaranya yang tajam itu, ia malah menarik Lea ke dalam pelukannya dan mulai mengelus – elus rambut gadis itu. Sepertinya kegiatan mengelus – elus ini sudah jadi kegiatan favoritnya setiap kali ia dan Lea berdekatan seperti ini. Terbukti, sejak beberapa minggu terakhir ia terus – terusan mengelus dan mengecup kepala istrinya, sampai – sampai ia sudah hapal bagaimana tekstur rambut Lea yang halus dan lembut serta wangi strawberry campur vanilla yang menguar dari setiap helaiannya.
"I love your hug. It's warm..." bisik Lea. "Nanti kalau di Perancis Lea kangen sama pelukan kakak gimana?"
Raja terkekeh geli. "Cuma dua minggu, Aleah. Nanti kalau kamu pulang aku peluk kamu sampai pingsan..."
Mendengar kalimat 'sampai pingsan', Lea sontak langsung bangkit dan menjauh dari tubuh Raja dengan ekspresi horror. Teringat kata – kata pria itu di kafe beberapa minggu yang lalu. 'Gue bakal gempur dia sampai pingsan!'
Sementara Raja yang tak mengerti kenapa tiba – tiba saja istri cantiknya itu menjauh, hanya bisa bengong sambil merentangkan tangan karena kehilangan. "Kamu kenapa?" tanyanya heran.
Lea hanya cengengesan sambil menggeleng. Gadis itu kembali mendekat dan masuk ke pelukan Raja yang katanya hangat itu. Menenggelamkan wajahnya yang mulai memerah ke d**a pria itu dalam – dalam. Kenapa mikirnya jadi kesitu, sih? Timingnya nggak pas banget!
"Kakak pernah ikut studi banding nggak dulu?" Lea mengubah topik pembicaraan mereka. Ia memainkan dua kancing kaos Raja yang bertengger cantik di depan d**a pria itu.
"Pernah. Ke London business school selama sebulan."
"Oh ya? trus gimana?"
"Waktu itu aku baru masuk tahun kedua di Harvard. Professorku yang menawarkan program itu. Akhirnya setelah banyak pertimbangan, aku menyetujuinya."
Lea tertawa geli."Pertimbangan apa yang kira – kira dihadapi oleh seorang mahasiswa tahun kedua?"
"Classes, paperworks, seminars, and also... Melanie." kata Raja santai. Sementara Lea langsung mematung dalam dekapan Raja. Mendengar Raja menyebut nama Melanie, membuat hatinya tiba – tiba merasa... entahlah, marah? Tapi beberapa detik kemudian, ia berdehem dan melanjutkan aktifitasnya memainkan d**a bidang suaminya itu.
"Oh... ermm... Kakak pacaran sama Melanie itu sejak kapan?"
God, Lea! Kamu nggak suka topik itu, tapi kenapa dibahas juga?
"Ehm...Sejak kelas dua senior high school. Kamu tahu kan, aku SMP dan SMA di Singapura? Melanie itu dulu teman sekelasku. She is smart, beautiful, and suddenly we just fallin' love to each other..."
Nih suami juga nggak peka banget! Malah muji – muji perempuan lain di depan istrinya sendiri!
"Oh... Kalau sama Friska?"
Eh... malah dilanjutin! Ini mulut emang nggak sejalan sama hati ya?
"Hhh...Kalau sama Friska sejak aku pertama kali tinggal di Jepang, waktu itu wait--kamu ini lagi ngegoda aku apa gimana?" Raja menangkap tangan Lea yang sedang bergerilya di dadanya dengan frustasi. Sejak tadi ia berusaha menahan gejolak tak asing yang ditimbulkan oleh jemari – jemari lentik itu, berharap istrinya itu segera berhenti. Tapi gadis polos itu malah semakin seduktif membelai – belai dadanya. Demi Tuhan, dia laki – laki normal dan sudah dua tahun lebih puasa dari menjamah perempuan! Dan Aleah ini, meskipun available tapi belum bisa ia terkam sesuka hati.
Lea bangkit dan menatap Raja bingung. Kenapa tiba – tiba jadi marah? Apa emosi karena ingat dia diselingkuhi Friska dulu?
"Kamu jangan coba – coba bangunin singa tidur, Aleah..." kata Raja lagi. Kali ini matanya menusuk tajam ke dalam manik cokelat bening Lea, membuat gadis itu semakin yakin dengan asumsinya.
"Lea nggak ada niat ngegodain kakak kok! Kalau nggak mau cerita nggak usah cerita, kak! Lea juga nggak kepengen tahu banget kok!"
Raja mengerutkan kening. Hah?
"Iya, Lea tadi cuma iseng aja nanyain soal Melanie sama Friska itu. Nggak ada niat buat ngejelekin atau ngegodain kakak sama sekali!" kata Lea lagi.
Raja menggeram dan mengacak rambut gemas. Maksud 'menggoda' yang ia lontarkan tadi ternyata disalahpahami artinya oleh gadis polos ini. Hell yeah, gimana bisa gue berfikiran otak polos anak ini nyampe ke pembahasan yang begituan?
"Sini kamu..." Raja menarik Lea naik keatas pangkuannya. Gadis itu terkejut bukan main terlebih lagi ketika Raja mulai menciumnya. Telapak tangan besar pria itu kini sudah menelusup kedalam kaosnya dan membelai punggungnya lembut. Membuat gelenyar geli menjalar keseluruh tubuhnya bersamaan dengan debar jantungnya yang tiba – tiba saja menggila.
"See? Segitu aja kamu udah pucat. So, lain kali jangan sembarangan ngelus ya, little girl! Kalau kamu nggak mau aku gempur sampai pingsan..." kata Raja menyeringai setelah ciuman mereka terlepas.
Lea langsung tersedak dan terbelalak. Jadi tadi itu bukan emosi gara – gara Friska, ya?
***
Sejak kejadian elus – mengelus beberapa malam lalu yang berakhir ancaman dari Raja itu, Lea tampak sedikit berhati – hati setiap kali berdekatan dengan Raja meskipun setiap malam ia tetap tidur dalam pelukan suaminya itu. Bukannya sok polos atau sok nolak, tapi Lea memang sedikit merasa was-was dan insecure setiap kali ia bertatapan dengan pria itu. Sorot mata Raja selalu tampak jahil dan-m***m?-setiap kali menatap Lea. Lea seringkali memergoki pria itu menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil menyeringai, persis seperti tatapan om – om m***m yang pernah Lea tonton di drama – drama korea. Untung saja di rumah ada Mommy, Daddy dan para asisten rumah tangga yang bisa jadi tempat pelarian Lea setiap kali ia sudah merasa jengah dengan tingkah suaminya itu. Menghabiskan waktu membuat kue beberapa jam di dapur terasa lebih menyenangkan daripada meladeni suaminya yang tiba – tiba saja senewen.
Seperti sore ini, begitu pulang dari kantor Raja langsung bergegas mengganti baju. Bukannya langsung masuk kamar mandi, pria itu malah menarik Lea menuju kolam renang. Katanya ia sudah lama tidak berenang. Dan Lea wajib menungguinya sampai selesai meskipun istrinya itu sudah rapi dan wangi.
"Handuk..."
Lea terjingkat kaget dari duduknya begitu mendengar teriakan bossy Raja dari tepi kolam renang. Pria itu mengibas – ngibas rambutnya yang basah ke kanan dan ke kiri.
Lea mengulurkan handuk yang dipegangnya pada Raja. Tapi bukannya mengambil handuk itu, pria itu malah menyeringau, mencekal kaki gadis itu dan menariknya masuk kedalam kolam. Ia terbahak – bahak begitu mendengar teriakan heboh Lea yang mengumpat kesal karena dipaksa 'nyebur' ke dalam kolam.
"KAK RAJAAA!!"
"Hahahaha..."
"Kenapa malah narik Lea masuk kolam? Lea udah mandi kak!" kata Lea histeris. Wajah gadis itu sudah tertekuk sempurna persis siap menangis karena terlalu kesal.
Sampai beberapa menit kemudian, Raja masih saja tertawa terpingkal – pingkal di dalam air. Scene yang menurutnya alay setiap kali ia lihat di televisi itu entah kenapa jadi sangat menyenangkan saat ia praktekkan sendiri. Terlebih lagi korban bullyan-nya kali ini adalah Lea, gadis kecil nan polos yang beberapa hari ini memperlakukannya seolah – olah ia adalah virus yang harus dihindari.
Raja tentu saja tahu alasannya. Apalagi kalau bukan karena tatapannya pada Lea yang memang sengaja ia buat – buat semesum mungkin. Melihat wajah pucat Lea karena godaannya beberapa malam yang lalu itu membuatnya tak tahan untuk tidak mengerjainya. Dan hasilnya? Selama beberapa hari ini suasana hatinya selalu riang gembira baik saat ia sedang banyak pekerjaan di kantor, terlebih lagi saat ia berada di rumah.
Raja menarik Lea mendekat. "Kamu kenapa akhir – akhir ini ngehindarin aku?"
Lea menggeleng. "Eng...enggak kok! Ini buktinya aja Lea disini..."
"You avoid me, Aleah! Kalau nggak, kenapa tiap malam kamu selalu tidur duluan padahal biasanya kamu selalu nungguin aku selesai kerja?"
Lea menggigit bibir. Tentu aja karena gak sanggup ketemu kakak! Kalau Lea benar – benar digempur sampai pingsan, gimana?
"I'm sorry..." kata Raja seraya mengelus pipi Lea dengan ibu jarinya. "Tapi kamu memang benar – benar gemesin kalau lagi gelagapan... hahaha..."
Lea mencubit perut Raja yang semakin keras tertawa. Pria itu mengacak – acak rambut basah istrinya itu sembarangan. "Ganas banget kamu!" katanya.
Lea berjalan menjauh meninggalkan Raja menuju tangga kolam. Tubuhnya sudah sedikit kedinginan dan –lagi – lagi- meladeni Raja bukanlah pilihan yang bijak. Ia tak ingin sampai bermalam disini. Tapi baru saja ia berhasil naik dua tangga, Raja kembali menariknya dan melemparkannya kembali masuk kedalam kolam. Dan dengan secepat kilat pria itu naik terlebih dahulu sambil tertawa setan. Membuat kekesalan Lea yang tadi sudah hampir hanyut terendam air, kini perlahan kembali menghampirinya.
"Kak Raja!!" teriaknya frustasi.
"Tangan..." kata Raja. Pria itu melirik tangan Lea memberikan isyarat agar gadis itu menunjukkan tangannya.
Setelah beberapa saat berfikir antara mengulurkan tangan atau tidak, akhirnya Lea mengulurkan tangannya pada Raja. Meski berharap Raja akan membantunya naik, tapi gadis itu tampak pasrah saja dikerjai oleh suaminya itu lagi dan lagi.
Tapi raut pasrah Lea berganti dengan keterkejutan begitu Raja meletakkan sebuah kalung emas putih dengan bandul bintang di telapak tangannya. Gadis cantik itu sampai melongo dan mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya melihat kalung yang bandulnya berkilau karena terkena air kolam itu.
"Buat kamu, tadi nemu di jalan..." kata Raja sembari menepuk kepala Lea sambil tersenyum. Kali ini senyumnya benar – benar lembut dan menawan, membuat Lea tertular dan ikut tersenyum.
Tanpa menunggu balasan dari Lea, Raja langsung berdiri dan masuk kedalam rumah. Meninggalkan Lea yang masih termangu di kolam sambil memandangi kalung barunya sendirian. Hati gadis itu bahagia tak terkira meskipun hadiah dari Raja yang katanya 'nemu' itu tak semahal kalung pemberian Eyang waktu ulangtahunnya tahun lalu.
Aaarrhh...Kenapa pipi rasanya tiba – tiba panas ya?