PERKATAAN Alfian tentang perancangan masa depan terngiang - ngiang di telinga Lea. Gadis itu sampai tampak seperti orang bingung melamun di sofa balkon kamarnya di rumah keluarga Mahendra sambil melihat Daddy mertuanya memberi makan ikan - ikan kesayangannya di kolam belakang rumah. Apa yang dikatakan Alfian memang benar, hidupnya selama ini memang terlalu flat alias datar - datar saja.
Meskipun ia sudah menggunakan kemampuan berbahasanya itu dengan menerjemah dan bahkan mendapat bayaran lumayan, tapi tetap saja itu tak membuatnya merasa puas. Memang dulu ia sempat bangga dan senang karena bisa membuktikan bahwa ia juga bisa menghasilkan uang dengan kemampuannya sendiri meskipun nominal yang didapatnya bahkan tak sebanyak uang sakunya dari Papa atau Eyang.
Tapi sekarang ia sadar, uang bukanlah satu - satunya hal yang bisa membuatnya bahagia.
Lea tak munafik, selama ini meskipun ia berada ditengah - tengah keluarga yang kacau, tapi persoalan materi ia tercukupi dengan sangat baik. Garis keturunan keluarganya baik dari pihak Papa maupun Mamanya semuanya memiliki kekayaan diatas rata - rata, membuatnya tak akan pernah merasakan yang namanya kesusahan meskipun ia hanya ongkang kaki saja di rumah. Semuanya tersedia, dan semuanya begitu mudah...
Karena itulah ia tak mau mengeluh dan menyalahi keadaan. Ia sudah cukup beruntung hidup di tengah kemewahan meskipun tak diinginkan oleh kedua orang tuanya. Sedangkan diluar sana banyak anak - anak yang sudahlah kehilangan kasih sayang, tapi juga harus bertahan dengan belitan ekonomi. Menjadi pengamen, pengemis dan peminta - minta saat umur mereka bahkan belum genap sepuluh tahun.
Miris...
Lea membolak - balik dua buku rekening dan kartu kredit di tangannya. Keningnya sesekali mengernyit begitu melihat nominal angka di buku itu. Buku di tangan kanannya terisi dana lebih dari enam ratus juta, uang yang dikirim oleh Papa dan Eyang setiap bulan. Saat ulangtahunnya yang ke delapan belas dulu, Eyang menghadiahkannya tiga persen saham di Adiwangsa Group, jadi setiap bulan sudah dipastikan ada bagian untuknya yang masuk ke rekeningnya. Sementara buku di tangan kirinya berisi dana lebih sedikit, hanya sekitar tujuh puluh juta sekian, hasil kerja kerasnya menerjemah buku - buku dan novel selama beberapa tahun ini dan honornya saat menjadi translator pada beberapa acara yang membutuhkan keahlian berbicara bahasa asingnya itu- yang tak pernah digunakannya sama sekali.
Lea meringis. Selama ini ia tak pernah mempermasalahkan segala sesuatu tentang uang. Hidupnya mengalir begitu saja. Setiap kali berbelanja, hanya tinggal gesek credit card. Dan setiap kali membutuhkan uang tunai, ia lebih suka minta pada Eyang atau sekretaris Eyangnya karena ia malas berhenti untuk sekedar mengantri beberapa menit di mesin atm.
Tapi kali ini, saat pertama kalinya ia membuka buku rekening bank-nya, ia baru menyadari bahwa ternyata memang benar apa kata orang - orang, ia adalah seorang gadis kaya dan memiliki uang yang sialan banyak, sampai tak tahu lagi akan ia pergunakan untuk apa uang itu. terlebih lagi setelah menikah dengan Raja, ia tak pernah lagi menggunakan uangnya sendiri, karena pria itu sudah langsung memberikan dua kartu kredit unlimited padanya.
Singkat cerita, selain kasih sayang keluarganya, ia tak kekurangan sesuatu apapun dalam hidupnya!
Tapi mengapa ia masih saja bertingkah seakan ia adalah orang yang paling menyedihkan didunia?
Papa dan Mama mungkin memang tak menyayanginya seperti kak Rene atau kak Ergan, tapi ia mendapatkan ganti seorang Eyang dan dua sahabat yang sangat mencintainya. Keluarga besarnya mungkin mencemoohnya, tapi keluarga besar Raja menerima kehadirannya dengan sukacita. Kak Elang memang meninggalkannya, tapi ada kak Raja yang sudah berjanji akan menjaganya.
Kembali melirik kearah dua buku rekening yang kini sudah tergeletak pasrah diatas meja, Lea kembali menyadari satu hal, bahwa selama ini ia sudah begitu serakah terhadap dirinya sendiri tanpa peduli dengan orang - orang disekitarnya yang jauh lebih membutuhkan. Dan gadis itu sudah bertekad, mulai saat ini ia tak akan lagi menjadi seorang Aleah manja yang hanya bisa bersembunyi dibelakang orang lain. Ia memang butuh orang - orang yang dicintainya untuk menghiburnya saat terpuruk, tapi ia juga akan membantu orang diluar sana yang sama terpuruk dengannya.
Dan sekali lagi Alfian benar, sudah saatnya ia fokus dengan tujuan hidupnya!
***
"Kak, Lea dapat tawaran studi banding ke Perancis..." kata Lea cepat sambil memejamkan matanya kuat - kuat. Akhirnya kata - kata yang sudah ia latih susah payah sejak tadi sore itu terucap juga setelah mereka saling terdiam selama hampir setengah jam. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam, dan Lea langsung menarik Raja ke kamar mereka.
Pria yang sejak tadi sudah mulai jengah karena Lea tak mengatakan apapun setelah setengah jam menyuruhnya menunggu, kini sontak terdiam mendengar ucapan istri kecilnya itu. Ia tak tahu harus bereaksi bagaimana mendengarkan berita yang terlalu mengejutkan itu.
"Maksud kamu?"
Lea meringis kecil sambil menelan ludah susah payah. Gadis itu mengeluarkan satu amplop putih dengan logo sebuah college ternama di Perancis, ÈcoleNormale Supérieure -dan mengulurkannya pada Raja.
Raja mengambil amplop putih itu dengan ragu - ragu. Ia masih bingung dan mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Perlahan jari - jari kokohnya menarik selembar kertas yang juga berwarna putih dari dalam amplop itu dan membaca isinya dengan cepat. Keningnya berkerut karena tak memahami satu kata pun yang ditulis di atas kertas itu.
"Are you kidding me? Ini bahasa Perancis kan? Kamu tahu aku nggak bisa bahasa Perancis..." Raja terkekeh menatap Lea. Istrinya ini sedang bercanda atau apa?
Lea yang sedang gugup langsung kembali menarik kertas itu dari tangan Raja sambil ber-oh-ria. Gadis itu tertawa lebar seakan sedang menertawakan kebodohannya sendiri. "Lea dapat tawaran buat studi banding ke Perancis bulan depan."
Raja terdiam sebentar mendengar ucapan Lea. "Tell me more..."
Lea menarik nafas panjang berusaha menetralkan debar dalam dadanya. Meskipun raut Raja tampak datar - datar saja bahkan tak terkesan keberatan, tapi entah kenapa mengingat statusnya sebagai istri pria itu saat ini membuatnya gugup juga. "Kemarin Madame Maria nelfon Lea dan menawarkan program studi banding ini. Disana kita cuma dua minggu, nggak lebih..."
Raja mengangguk paham. "Dalam rangka apa studi banding ini?" tanyanya kemudian.
"Meningkatkan semangat dan kualitas berbahasa. Disana nanti selain mempelajari metode belajar yang baru dan menarik, kami juga akan belajar banyak lagi tentang France lit, erm... kekayaan bahasanya maupun kultur masyarakatnya. Jadi nanti yang bermanfaat bisa di terapkan di Indonesia."
Raja mengerutkan kening heran. "Kamu kan kuliah jurusan ilmu ekonomi? Kenapa harus belajar France literature sampai kultur budaya masyarakatnya? Aku nggak bisa nemuin hubungannya sama sekali..." kata Raja.
Lea yang tadinya mulai santai kini mulai kembali ketar - ketir begitu Raja menatapnya. Ia membasahi bibirnya yang tiba - tiba saja terasa kering.
Santai Lea! Dia Cuma Kak Raja...!!
"Anu... itu kak, sebenarnya Lea kuliah ambil dua jurusan dikampus. Ilmu ekonomi dan sastra Perancis..." katanya pelan. Ia bahkan sudah menunduk sambil memejamkan matanya rapat - rapat menanti apa yang akan dikatakan oleh suaminya itu.
Apa kak Raja akan marah karena ia tak menceritakan hal ini sebelumnya?
Lama mereka saling terdiam. Lea yang risau dengan kekhawatirannya, dan Raja yang masih tak percaya dengan pengakuan Lea. Sampai beberapa menit kemudian, kekehan kecil dari Raja membuat Lea memberanikan diri untuk mendongak.
"Kamu? Kuliah dua jurusan?" kata pria itu. Nada suaranya sarat ejekan di telinga Lea.
Lea menatap Raja lekat - lekat. Seperti sedang menyampaikan pada pria itu bahwa ia saat ini sedang benar - benar serius dengan ucapannya. Lea tahu, apa yang baru saja dikatakannya memang termasuk hal mustahil untuk dipercayai, apalagi bagi Raja yang sudah sangat tahu bagaimana kapasitas otaknya yang pas - pasan itu. Terlebih lagi dengan sifat lalai dan penceroboh yang memang sulit dipisahkan darinya. Dibantai tiga soal akuntansi saja bisa membuatnya uring - uringan, apalagi sampai harus membagi waktu antara kuliahnya di dua jurusan berbeda.
Tapi satu hal yang tak diketahui Raja, dia begitu mencintai bahasa sampai pada tahap dimana bahasa itu sendiri yang menjadi penghiburnya saat ia uring - uringan karena stress oleh soal - soal akuntansi itu.
Kekehan Raja terhenti begitu melihat Lea yang menatapnya tajam. Pria itu berdehem dan kembali membetulkan duduknya menghadap Lea sepenuhnya. "You serious..." katanya pelan.
"Yes, I am..." kata Lea ketus. Gadis itu tiba - tiba saja emosi melihat Raja yang malah tertawa saat ia sendiri sedang tegang karena pria itu.
"Okay... kamu nggak cocok masang wajah begitu, Aleah... seram!"
Lea mendengus."So... gimana? Lea diizinin pergi gak?"
Raja kembali menarik kertas putih tawaran studi banding itu dari tangan Lea. "Pergi aja kalau kamu mau pergi. Ini pasti udah jadi impian kamu sejak dulu kan?"
"Benar kak? Lea boleh pergi?" tanya Lea heboh. Gadis itu bahkan sudah melupakan kekesalannya dan menghambur ke pelukan Raja sambil tertawa, membuat pria itu jatuh terjengkang di atas sofa karena tak siap ditubruk oleh istrinya itu.
Raja ikut terkekeh sembari mengusap rambut halus Lea dengan lembut.
"Merci, mon mari... je t'aime!!" kata Lea sambil mengecup cepat rahang Raja.
Pria itu tertegun mendengar kata terakhir yang diucapkan gadis itu. Meskipun ia tak bisa berbahasa Perancis sefasih Lea, tapi ia tahu setidaknya kata 'aku mencintaimu' atau 'I love you' dalam bahasa Perancis itu. Dadanya perlahan berdebar, tapi cepat - cepat ia netralkan begitu satu pemikiran yang cukup realistis masuk ke pikirannya.
Mungkin gadis kecil itu sedang terlalu excited...
"Kamu bahagia banget?" kata Raja begitu melihat Lea masih saja mempertahankan cengiran lebarnya.
"Emm... dari dulu Lea selalu berharap suatu hari nanti seenggaknya bisa jalan - jalan ke universitas - universitas di Perancis. Waktu tinggal disana dulu, Lea nggak pernah ke universitas, sebab umur Lea masih empat belas tahun. Jadi kak Ergan cuma bawa Lea jalan - jalan ke taman atau kafe aja..." Lea mulai bercerita. "Lea juga kepingin ke Bordeaux lihat kebun anggur dan apel, juga ke Provence. Selama beberapa tahun disana, karena kantor Papa di Paris Lea hanya main sampai sekitar Reims dan Versailles. Itupun kalau sedang liburan atau nggak ada les..."
"Kamu nggak pernah liburan sama Mama dan Papa kamu?" tanya Raja. Pria itu masih mengusap kepala Lea dan sesekali menghirup perpaduan dari aroma strawberry dan vanilla yang menguar dari rambut gadis itu. Posisi mereka bahkan belum beranjak sama sekali, dengan Lea yang berbaring di d**a Raja.
Lea menerawang. Mencoba mencari - cari kembali kepingan ingatannya dari masa lalu. "Pernah. Tapi Lea nggak ingat kapan terakhirnya. Papa selalu sibuk dengan urusan kedutaan, dan Mama kadang juga sibuk dengan urusan perusahaan meskipun kita tinggal jauh dari Indonesia. Mereka benar - benar pasangan yang sibuk..." kata Lea tertawa.
Raja mengangguk. "Okay, back to topic, gimana ceritanya kamu ambil kuliah dua jurusan? Eyang tahu?"
Lea menggigit bibir saat Raja kembali menanyakan tentang kuliahnya. Gadis itu beringsut dari posisinya di pelukan Raja dan hendak kembali duduk karena pembahasan mereka sudah mulai kembali serius. Tapi gerakannya ditahan oleh Raja yang kembali menarik Lea kedalam pelukannya. "Sini aja..." katanya.
Lea kembali berbaring nyaman diatas d**a Raja. Tangan mungilnya memeluk pinggang kokoh suaminya itu erat - erat. Ia mulai bercerita tentang kronologi kejadian sampai ia memutuskan untuk mengambil jurusan berbeda setelah ia menempuh semester tiganya di jurusan ilmu ekonomi. Keputusan yang terkesan gegabah memang, karena ia harus berusaha mati - matian menyesuaikan jadwal dan belajar lebih keras dari biasanya. Untung saja mata kuliah di jurusan sastra Perancis sangat menarik, jadi Lea tak merasa terbebani dengan hal itu. Mata kuliahnya di jurusan ilmu ekonomi malah lebih sering membuatnya sakit kepala...
"Kamu nggak perlu takut sama aku kalau misalnya ada hal yang mau kamu omongin, Aleah! Aku nggak makan orang kok. Aku malah senang kalau kamu terbuka seperti ini..." kata Raja begitu Lea selesai bercerita.
"Thanks, Kak..." Lea menatap Raja lekat - lekat. "After two months we’ve got married, I finally realize that everything Kak Elang said to me is true, Kakak sebenarnya orang yang perhatian..."
Raja mengalihkan pandangan dari Lea. Ia tahu itu adalah pujian, tapi mengapa saat Lea menyebutkan nama Elang, Raja merasa tak terima? Dan kenapa tiba - tiba saja gadis itu membahas Elang saat ini? Dengan posisi mereka yang bahkan seperti ini...
"Udah, bangun kamu bocah kecil. Aku mau ke ruang kerja dulu. kamu lanjut belajar sana..." Raja mendudukkan Lea dari atas tubuhnya dengan setengah kesal. Dan seolah tak mengerti tentang perasaan suaminya yang perlahan berubah jengkel itu, Lea malah tertawa riang dan menyingkir dari Raja.
"Selamat bekerja kak, nanti Lea bawain hot chocolate ya..."