HANDPHONE baru pembelian Raja mengundang decakan kagum dari kedua sahabat Lea, Lili dan Diandra. Kedua gadis bar-bar itu bahkan sampai memekik heboh saat Lea pertama kali mengeluarkan iPhone barunya itu untuk mengangkat telpon dari Mommy.
"Heol... Raja gila! Kok bisa – bisanya dia ngebeliin handphone mahal gini buat lo?" Diandra menatap iPhone silver itu dan Lea bergantian.
Lea meringis. Tak tahu bagaimana ia harus memberikan jawaban pada pertanyaan Diandra. Hampir sepuluh tahun bersahabat, Diandra sudah tahu pasti bagaimana lalai dan cerobohnya seorang Aleah, jadi wajar saja gadis itu menanyakan pertanyaan seperti itu.
"Tapi laki lo orang kaya, bebas mah..." Lili mengotak – atik handphone baru Lea. Mengecek satu persatu fitur yang disediakan oleh barang mahal itu.
"Ya iya sih, tapi... ini seri terbaru loh, Li! Bang Ke udah lama ngincar ini, tapi belum kesampaian juga." Diandra merebut benda pipih itu dari tangan Lili, yang disambut decakan kesal gadis itu.
"Lo jaga baik – baik Le, jangan hilang lagi kayak kemarin. Gue sampai heran, kenapa lo bisa nangis kejer banget padahal cuma hilang handphone butut doang..." Diandra kembali menyerahkan iPhone itu ketangan Lea. "Ngeri gue megangnya lama – lama, ntar kegores kan berabe..."
Lea dan Lili terkekeh. "Aku bukan nangisin handphonenya Di, tapi sayang sama kontak dan foto – foto yang ada disana. Kalian tahu sendiri kan, foto – foto itu pengingat dan kenang – kenangan berharga buat aku."
Tentu saja Lili dan Diandra tahu. Kontak – kontak di handphone Lea jumlahnya ratusan karena gadis itu memang punya banyak teman. Tidak hanya teman – teman mereka yang berada di Indonesia yang notabene sudah dikenal oleh Lili dan Diandra, tapi juga teman – teman yang berada di benua lain di dunia ini. Belum lagi editornya di penerbitan, juga dosen – dosennya yang seringkali merecoki Lea. Well, wajarlah, karena Lea adalah primadona dan mahasiswi kesayangan di jurusan sastra Perancis.
Foto – foto di galeri Lea juga tak kalah banyak dan menarik. Dan seperti kata Lea – memorable. Gadis cantik itu memang sangat jarang take selfies dengan handphonenya, tapi disana banyak foto – foto pemandangan yang diambilnya secara langsung setiap kali ia berlibur ke luar negeri. Foto keluarga dan sahabat – sahabatnya, dan juga foto – foto materi kuliahnya saat ia sedang malas mencatat.
"So, talking about that, kamu udah kasih tau Kak Raja tentang tawaran madame Maria? Studi banding ke Perancis itu?" tanya Lili.
Lea mendesah. Satu lagi masalah yang harus dihadapinya!
"Aku nggak tahu gimana ngomongnya, Li! Kamu tahu sendiri, kan? Kak Raja nggak tahu aku kuliah ambil dua jurusan, kalau dia nanya aku harus jawab gimana? Trus studi banding itu sampai dua minggu. Lama banget..."
Lili dan Diandra saling berpandangan bingung. "Gimana apanya? Ya, lo cerita aja semaunya, gampang kan?"
Lea mengacak rambutnya kasar. Memang iya, tinggal cerita saja semuanya, masalah akan beres! Tapi masalahnya... dia takut kalau misalnya suaminya itu tiba – tiba mengamuk, trus melarangnya berangkat. How? Padahal dia sudah girang bukan main saat menerima telpon dari dosennya itu. Sampai – sampai dia tak sadar meninggalkan ponselnya di kantin dan langsung bergegas menghampiri madame Maria di ruangannya untuk memastikan berita itu.
Atau bagaimana kalau misalnya dia tiba – tiba rindu dengan Raja begitu menjejakkan kaki disana? Selama mereka menikah, Ia tak pernah berpisah dengan Raja walau seharipun. Pria itu selalu tidur di sampingnya setiap malam, meskipun baru akhir – akhir ini saja ia tidur dalam dekapan suaminya itu. Dan Lea baru menyadari, dekapan Raja benar – benar membuatnya nyaman...
"Laki lo pasti ngerti, lah..." kata Lili seraya menyeruput teh es di gelasnya.
"Atau..." Diandra menatap Lea penuh selidik. "Lo takut kangen sama dia, makanya ragu buat kesana?!"
Lea terkesiap mendengar pertanyaan Diandra, sementara kedua sahabatnya itu kini sudah menatapnya dengan tatapan menggoda.
"You are blushing, Le..." kata Lili seraya terkekeh pelan.
Lea menutup kedua pipinya yang panas dengan tangan kedua tangannya. Ia benar – benar seperti sedang tertangkap basah berciuman didepan umum oleh kedua sahabatnya itu.
Haish... kenapa akhir – akhir ini setiap kali mengingat Raja dia selalu saja merona?
"Tell us, Aleah Mahendra... lo udah diapain sama laki lo?" Diandra menaikkan kedua alisnya bergantian. Bibir gadis tomboy itu sudah menyunggingkan senyum setan yang terakhir kali Lea lihat adalah waktu makan malam mereka di kantin rumah sakit bersama Kak Raja dan Kak Ergan saat Eyang sakit dulu.
"Bener lo digituin sampai pingsan?" kini giliran Lili yang menatap Lea takjub. Sepupunya itu menatap Lea dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan penasaran.
Lea menggeleng kuat – kuat. Ia benar – benar sudah malu sekarang. Bagaimana mungkin dua sahabat bar – barnya itu membicarakan hal seperti itu di tempat terbuka seperti ini tanpa rasa malu sama sekali? Sedangkan Lea saja tak pernah menyinggung sedikitpun prihal rumah tangganya pada orang lain, termasuk Eyang yang sudah mengetahui tentang dirinya luar dalam. Bagaimana Raja memperlakukannya, bagaimana pria itu memeluknya, bagaimana harum parfum yang dipakainya, dan bagaimana ciuma---
Aarghh... mengingat hal itu membuat rona merah di pipi Lea sampai menjalar ke telinga saking malunya.
Diandra dan Lili sontak terbahak keras melihat Lea yang masih saja menutupi wajahnya yang memerah sambil sesekali mengerang kesal seperti anak kucing. Mereka tahu, sahabat mereka itu adalah orang yang polos dan pemalu. Topik dewasa adalah hal yang tabu bagi Lea walaupun gadis itu pernah bertahun – tahun tinggal di luar negeri yang pergaulannya cukup bebas. Tapi entah kenapa sifat pemalu Lea lebih mendominasi dari pada sisi liarnya. Gadis cantik itu bahkan menutup mata jika ada adegan kissing di drama korea yang sering mereka tonton.
"Lea udah nggak perawan lagi, Di! Sahabat kita ini udah gede, udah ternodai... hahaha..." Lili dan Diandra masih saja terbahak.
"Berarti tahun depan gue bakal jadi onty..."
"Stop it!" Lea berteriak sambil melempar tasnya kearah Lili dan Diandra yang masih saja terbahak itu saking kesalnya. Beberapa orang di taman kampus ini bahkan sudah menatap mereka dengan pandangan geli dan tertarik, membuat Lea merasa ia sepertinya sedang di telanjangi habis – habisan.
Bukannya berhenti, Diandra dan Lili makin mengeraskan tawa mereka. "Padahal gue pernah berniat mau jadi dokter kandungan loh, Le! Gue pikir lo gak bakalan hamil sampai sepuluh tahun kedepan. Kasihan Kak Raja... hahaha..."
Lea mengerutkan bibir. "Okay, fine! I'm leaving!" katanya seraya langsung berdiri dan menyambar tasnya dari pangkuan Diandra. Tapi baru saja ia akan mengambil langkah pertama, tampak Alfian menghampiri mereka dengan raut ceria.
"Hai girls..." lelaki tampan itu menyapa mereka, sontak membuat tawa Lili dan Diandra terhenti.
"Hai Alf..." Diandra dan Lili menyambut Alfian dengan wajah sumringah sisa tawa mereka tadi.
"Kenapa kalian ketawa gila – gilaan? Gue udah perhatiin sejak tadi, karena suara kalian sampai ke gedung fakultas gue..." Alfian menunjuk satu gedung terdekat tempat mereka duduk saat ini. Mereka memang sedang berada di taman fakultas kedokteran, karena tadi Lili yang mendesak Lea dan Diandra untuk menemaninya mengurus berkas – berkas untuk koasnya minggu depan. Lea dan Diandra tentu saja tak menolak, karena taman fakultas kedokteran ini memang lebih nyaman dan asri daripada fakultas ekonomi.
"Kita lapar Alfian, traktir dong! Makanan di kantin fakultas kalian kan enak!" bukannya menjawab pertanyaan Alfian, Lea malah menyeret Alfian menjauh dari Diandra dan Lili sebelum kedua gadis sengklek itu melibatkan Alfian untuk membahas topik dewasa dengan mereka.
Lili dan Diandra yang mendengar tentang makanan langsung mengekori Lea dan Alfian dengan semangat. Topik dewasa yang sempat mereka bahas tadi langsung terlupakan begitu Alfian bertanya menu apa yang akan mereka makan siang ini. Cowok tampan itu malah tanpa segan mengalungkan lengannya pada leher Lea dan memamerkan betapa enaknya ayam penyet di kantin fakultas mereka, tanpa tahu bahwa Lea dan Diandra sebenarnya sudah menjadi langganan tempat itu selama ini.
Dikiranya, dia sendiri saja yang jadi mahasiswa fakultas kedokteran? Lili kan juga mahasiswa kedokteran, kali!
***
"Alors, où est votre bien-aimé? (Jadi, dimana kekasihmu?)" Lea membuka pembicaraan begitu mereka berempat sudah duduk dengan selamat di kantin.
Mendengar kata bien-aimé diucapkan oleh Lea, Alfian langsung menghela nafas berat. "Je me suis séparé de lui…" katanya.
Lea sontak membulatkan bola matanya. Apa katanya tadi? Berpisah? Maksudnya putus?
"How come?" tanyanya dengan nada yang tak ia sadari telah meninggi beberapa oktaf.
Diandra dan Lili yang tak mengerti bahasa Perancis itu menatap Lea dan Alfian dengan bingung. Dari tiga kalimat yang mereka ucapkan tadi, keduanya hanya mengerti 'how come?' tapi tak tahu entah apa yang membuat Lea terkejut bukan main.
Alfian terkekah pelan seraya melirik kearah Diandra dan Lili bergantian, melihat keduanya tampak termangu seperti orang bodoh, ia melanjutkan kata – katanya. "Elle est trop jaloux. (Dia terlalu pecemburu)." katanya santai.
Lea langsung menatap Alfian horror. "sur moi? (padaku?)"
Alfian menggeleng cepat. "sur ta cousine..."
Lea refleks menatap Lili yang duduk disampingnya dengan tatapan heran. Bagaimana mungkin sepupunya ini menghancurkan hubungan orang? Oh tidak... tidak... Lea sangat kenal Lili. Meskipun sepupu kesayangannya ini cantik dan memiliki pesona luar biasa yang mampu menggaet lelaki manapun, tapi gadis itu bukan tipe yang suka tebar pesona. Meskipun dia agak centil, sih! Lili juga pasti akan berada di garis depan membela wanita teraniaya karena disakiti oleh wanita lain. So... nggak mungkin!
Lili yang ditatap ketiga makhluk disekelilingnya itu hanya bisa menggaruk dagu bingung. Lea yang menatapnya takjub, Alfian yang cengengesan gak penting, dan Diandra yang juga ikut – ikutan melihat kearahnya meskipun ia juga sama seperti dirinya, sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan Lea dan Alfian.
"Kalian lagi pada ngutuk gue ya?" tanyanya hati – hati.
Lea mengerjap kemudian menggeleng keras. Gadis itu kembali menatap Alfian yang saat ini juga sudah kembali mengalihkan perhatian dari Lili. "comment est l'histoire? (Bagaimana ceritanya?)"
"Facile, Aleah. elle n'a rien fait. En fait ma relation avec Rosie a été longue. Elle était trop jaloux et m'a maudit, mais nous sortions juste ensemble. Elle m'empêche aussi de prendre un master en france. tu sais, je suis un homme réaliste. pour l'instant l'éducation est plus important pour moi qu'un amant... (Tenang, Aleah, dia tidak melakukan apapun. sebenarnya hubunganku dengan Rosie sudah lama renggang. dia terlalu pecemburu dan mengekangku, padahal kami baru sebatas pacaran saja. dia juga menghalangiku mengambil master di perancis. kau tahu sendiri, aku adalah pria realistis. untuk saat ini pendidikan lebih penting bagiku daripada kekasih...)"
Lea mengerutkan kening bingung. "Alors, qu'est-ce que ça a à voir avec lui? (Jadi, apa hubungannya dengan dia?)" Lea melirik Lili dengan ekor matanya sekilas.
Alfian menyeringai. Pria itu memilih mengangkat bahu begitu seorang pelayan kantin membawakan nampan berisi menu makan siang mereka.
"Gue yakin kalian emang lagi ngutuk gue..." kata Lili seraya meraih mangkuk cuci tangan yang tersusun rapi di ujung meja. "Dan gue heran, perasaan lo belajar bahasa Perancis sama Lea belum sampai sebulan deh, kok udah lancar aja? Lo modus ya, biar bisa dekat – dekat sama sepupu gue?" tuduhnya.
Alfian sontak tertawa mendengar tuduhan Lili. Lelaki itu menatap Lili lekat – lekat sambil tersenyum jahil. "c'est parce que je suis intelligente, fille! (Itu karena aku pintar, nona!)"
Lili menatap risih pada Alfian. "Whatever!" katanya menutup pembicaraan mereka. Ia kembali sibuk dengan ayam penyetnya dan ocehan Diandra yang masih saja berspekulasi tentang apa yang dibicarakan Lea dan Alfian.
"So, gue dengar lo dapat tawaran untuk studi banding ke Perancis?" Alfian kembali bertanya dengan nada pelan pada Lea.
Lea mengangguk. "I did, but I'm not sure I will take it or not... " katanya lesu.
"Why? Lo bilang itu salah satu mimpi lo?"
"Ya, but the situation has changed. I'm married now, remember?" Lea mengacungkan jari manis kanannya yang tersemat cincin pernikahannya.
Alfian terkekeh tak percaya. "Cuma dua minggu, Lea. Bukan dua bulan, apalagi dua tahun. Dan lo kesana buat belajar, bukan buat perang..."
Lea mendengus kesal. Semua orang tak mengerti kekhawatirannya dan malah menertawakannya tentang hal itu. Memang benar, studi banding itu hanya dua minggu. Tapi... tapi... huh! Apa dia sendiri yang terlalu lebay?
"Kak Raja bahkan nggak tahu aku kuliah ambil dua jurusan, Yan!"
Alfian ternganga sejenak. Lakinya gak tahu bininya kuliah dua jurusan? Aneh!
Tapi lelaki itu kembali memasang wajah datar. "You tell him then..." katanya santai sambil mecomot daging ayamnya.
"Hm..." kata Lea malas.
"Gue bukannya mau ikut campur urusan lo, Le. Tapi gue mau kasi lo sedikit pandangan. Lo harus lebih menata hidup lo supaya lebih terarah, meskipun sekarang lo udah jadi seorang istri. Lo punya bakat luar biasa di bidang bahasa. Lo udah menguasai keseluruhan tujuh bahasa di umur lo yang bahkan belum sampai dua puluh dua. So, gunakan itu untuk membuat orang – orang di sekeliling lo bangga. Make your self useful for others, jangan sampai cuma berhenti di gue. Lumayan kan, lo bisa kembali belajar dan juga sekalian dapat pahala."
Lea terdiam menatap takjub pada Alfian. Baru kali ini lelaki itu mengatakan hal bijaksana padanya. Dan entah kenapa, hati Lea sedikit menghangat mendengarnya. Useful for others? Hm... sounds good!
"Sekali lagi gue ngomong gini bukan karena hidup gue udah benar atau apa, tapi gue cuma ngasi pandangan loh ya. terserah lo mau terima atau nggak. Yang jelas, apapun yang lo lakuin, kita selalu ada buat lo..."