Part 27

1909 Kata
"ALEAH Mahendra!!" Suara teriakan Raja yang menggema di dapur rumah keluarga Mahendra itu membuat Lea refleks tersedak jus jambunya. Raja sudah berdiri di pintu dapur dengan wajah garang. Tapi begitu melihat Lea yang terbatuk - batuk sambil memukul dadanya, wajah garang itu berganti menjadi raut panik. Pria itu menghampiri Lea setengah berlari. Keningnya berkerut melihat mata istrinya yang sudah memerah itu. "Are you okay?" tanya Raja dengan nada sarat kekhawatiran. Lea menatap Raja dengan pandangan tajam. "Am I look like one?" Mata Raja mengerjap cepat. Pria itu berdehem canggung seraya mengusap punggung Lea dengan lembut. "Sorry..." katanya pelan sambil kembali menyodorkan gelas berisi jus jambu itu pada Lea. Lea meraih gelas yang diulurkan Raja dan meminum isinya sampai separuh. "Kakak mau bunuh Lea?" Raja refleks melotot mendengar ucapan istrinya itu. "Gila kamu? Aku nggak mau jadi duda secepat ini..." katanya galak. Lea terkekeh. Lelahnya karena seharian ini melalui hari yang lumayan berat di kampus perlahan sirna melihat wajah pria yang berdiri disampingnya saat ini. "Ke... kenapa?" Raja menjauhkan tubuhnya dari Lea begitu gadis itu menatapnya intens. Pria itu tampak seperti seorang yang tengah waspada di mata Lea. Lea menggeleng dan tersenyum lebar. "Kak Raja yang kenapa? Pulang - pulang langsung teriak..." Bola mata Raja bergerak - gerak mendengar pertanyaan Lea. Ah, iya. Dia tadi memang mau menghakimi gadis kecil ini karena tak mengabarinya seharian!! Raja menarik tangan Lea menuju kamar mereka. Istrinya itu hanya menuruti langkah Raja tanpa bertanya sama sekali. Malah sepertinya ia senang - senang saja diseret oleh Raja. Mereka juga mengabaikan teguran Mommy yang sedang menonton sinetron favoritnya di ruang keluarga. Raja mendudukkan Lea diatas ranjang begitu mereka tiba di kamar dan mengunci pintu. Ia bersidekap didepan gadis yang saat ini menatapnya dengan cengiran lebar itu. Ia berdecak. Kepalanya yang sejak tadi dipenuh dengan spekulasi - spekulasi yang membingungkan itu kini semakin dibuat semakin bingung dengan senyum lebar Lea. Aaarghh... gadis ini benar - benar membuatnya sakit kepala! "Aleah..." ia membuka pembicaraan setelah hampir lima menit mereka berada di kamar. "Hmmm??" "Tell me something..." kata Raja. "What should I tell you, Kak?" tanya Lea santai. Senyuman masih terpatri di bibirnya. Raja mengambil langkah kecil berdiri tepat di depan Lea. Gadis itu mendongak menatap Raja dengan sorot mata berbinar. Raja membasahi bibirnya melihat wajah cantik Lea yang mengadah menatapnya. Istrinya benar - benar sialan cantik! Terlebih lagi dengan dress rumahan selutut warna baby blue berbahan siffon yang tampak pas ditubuhnya dipadu dengan rambut coklat gelapnya yang dibiarkan tergerai disatu sisi, membuat kecantikan Lea naik berkali - kali lipat. Bibirnya yang merah itu tampak basah, membuat Raja penasaran lip gloss rasa apa yang dipakai istrinya itu hari ini? Apakah strawberry? Atau rasa cherry seperti pagi kemarin? Okay, stop it! Please...Fokus Raja! "Are you mad at me?" tanya Raja lirih. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari bibir Lea. "Hah?" Raja mengambil tempat duduk disamping Lea begitu istrinya itu tak memberikan jawaban yang diinginkannya. Ia sudah bertekad akan menyelesaikan perkara ini sore ini juga. Atau dia tak akan bisa tidur tenang malam nanti... "Kamu marah sama aku?" Lea menatap Raja tak mengerti. "Marah kenapa?" Raja meraih kedua bahu Lea dan memposisikan gadis itu menghadap kearahnya. "Kalau kamu mau marah, marah aja Aleah. Aku akan terima dengan besar hati." "Kenapa kakak mengira Lea marah?" Raja melepaskan pegangannya pada bahu Lea. Pria itu menghela napas berat dan menatap istrinya itu kesal. "You act really weird!" "What do you mean?" "Jangan pura - pura, Aleah Mahendra! Aku tahu kamu sengaja menghindariku sejak tadi malam, iya kan?" Lea menggeleng keras. "Nggak kok!" "Kamu emang menghindar dari aku. Kalau tidak kamu nggak bersikap seperti orang yang sedang merajuk, Aleah. Biasanya kamu selalu cerewet, menarik dan memaksaku melakukan ini itu, mengirimiku pesan - pesan nggak jelas. Tapi hari ini kamu diam saja. Kamu juga nggak bertanya apa aku sudah makan siang atau belum..." kata Raja berapi - api. Akhirnya keluar juga segala uneg - uneg yang mengganjal di hatinya sejak tadi pagi. Lea mengerjap bingung. Otaknya yang polos itu tak bisa mencerna dengan baik, kenapa tiba - tiba saja Raja naik berang seperti ini hanya karena dia tak mengiriminya pesan? "Maaf kak, handphone Lea hilang..." katanya lirih. "WHAATT? HANDPHONE KAMU HILANG??!" Kekesalan Raja naik berkali - kali lipat mendengar ucapan Lea. Bibirnya sudah terbuka dan tertutup siap untuk menceramahi gadis kecil didepannya itu panjang lebar. Tapi melihat Lea yang menunduk dan meliriknya takut - takut membuat Raja menghembuskan napas kasar. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak melampiaskan emosinya dan berkata macam - macam pada istrinya itu. Hubungan mereka baru saja membaik. But wait... berarti sejak tadi dia hanya khawatir dan uring - uringan tanpa alasan? OH. MY. GOD! Raja menatap Lea yang masih menunduk itu dengan tatapan horror. Untung saja gadis itu tidak tahu dia sempat bersikap seperti ABG labil di kantor tadi, kalau tidak... dia tak akan sanggup menunjukkan wajah didepan Lea saat ini. Ada untungnya juga istrinya ini polos dan bodoh... "Gimana bisa hilang?" "Itu...anu..." Lea memilin ujung dressnya dengan gelisah seperti anak kecil ketahuan mencuri permen temannya. Padahal handphone itu bukan Raja yang membelikan, tapi kenapa dia jadi takut begini? "Look at me, Aleah..." Raja menarik dagu Lea menghadap kearahnya. Pria itu memberikan tatapan selembut mungkin, membuat kegugupan Lea perlahan memudar. "Tadi ketinggalan di kantin, tapi begitu Lea sama Lili kesana lagi buat ngambil, udah nggak ada..." kata Lea pelan. Raja mengelus kepala Lea lembut. Rambut gadis itu terasa halus di telapak tangannya. "It's okay, nanti bisa beli yang baru..." katanya sambil menyunggingkan senyum. "Kakak nggak marah?" "Why should i?" tanya Raja. "Karena Lea ceroboh, gak bisa jagain barang milik sendiri dengan baik? Biasanya kakak suka marah - marah kalau misalnya Lea---" Ucapan Lea terputus begitu bibir Raja membungkam bibirnya dengan ciuman. Lea refleks menutup mata dan mencengkram kemeja Raja kuat - kuat begitu pria itu membimbing tubuhnya untuk berbaring diatas ranjang dan mulai menjelajahi wajahnya mulai dari kening, mata, pipi, hidung dan kembali ke bibirnya. "It's strawberry..." kata Raja sambil tertawa kecil. "I mean, your lips taste like strawberry..." Wajah Lea sontak memerah. Ia menyurukkan kepalanya di d**a Raja yang semakin terkekeh gemas melihat ulahnya. "I'm sorry..." bisik Raja di telinga Lea beberapa menit kemudian. Nada bicaranya penuh penyesalan. Lea mengangkat wajahnya dari d**a Raja. "For?" "For last night... aku tahu aku keterlaluan, dan kamu pasti terluka dengan kata - kataku. So, would you forgive me for that, Aleah?" Lea menatap wajah Raja. Sorot mata pria itu menunjukkan... entahlah... kesedihan? Membuat rasa sakit dan kecewa yang dirasakan Lea tadi malam kembali menjalari hatinya. Ia menggigit bibir kuat - kuat berusaha menahan air mata yang hendak keluar, tapi gagal. Bulir bening itu tetap saja lolos dari matanya. "Don't cry please..." bisik Raja lagi. tangan besarnya menangkup pipi Lea dan menghapus air mata yang turun dari matanya. "'You hurt me..." kata Lea disela isakannya. "I already received so many neglect and humiliation, but none can hurt me that much as you do..." Raja menelan ludah susah payah mendengar penuturan Lea. Hatinya terasa seperti diremas - remas. Begitu berdosanya ia sampai menyakiti Lea. Dimana hatinya? Selama ini ia selalu memperlakukan wanita - wanita diluar sana dengan baik, tapi mengapa ia sampai tega menyakiti hati istrinya sendiri? Raja membenamkan wajahnya di ceruk leher Lea. Menciumi bahu istrinya itu sambil berkali - kali menggumamkan kata maaf. Sampai akhirnya beberapa menit kemudian saat isakan Lea sudah berhenti, ia kembali menegakkan kepalanya dan menatap wajah sembab istrinya itu dalam - dalam. "Aku tahu, kamu nggak akan pernah bisa melupakan ucapanku kemarin, Aleah. Kamu pasti kecewa sekali. Aku yang minta kamu untuk nggak bersedih, tapi aku sendiri yang malah melukai hati kamu. But I promise you, that would never happen again... " katanya mantap. Lea mengangguk kemudian tersenyum lebar. Matanya menatap Raja berbinar. "Ini, stempel untuk perjanjian kita kali ini..." katanya. Sebuah ciuman singkat ia sematkan di pipi suaminya itu. Raja tersenyum sumringah. Bagaimana tidak? Selama ini selalu dia yang selalu mengambil langkah pertama mencium istrinya itu, tapi kali ini Lea yang terlebih dulu menciumnya, meskipun hanya di pipi. Gadisnya semakin berani saja sekarang! "Dan ini stempel aku buat kamu..." ia balas mencium pipi Lea. Membuat wajah Lea yang tadinya sudah merah itu tambah semakin memerah. "Udah, bangun sekarang. Kakak harus mandi kan? Udah sore..." Lea berusaha mendorong tubuh Raja menjauh darinya. Tapi pria itu malah tertawa keras. "I love your blushing cheek, Mrs. Mahendra. It's cute..." *** Malam harinya setelah makan malam, Raja langsung memboyong Lea menuju Grand Indonesia Mall. Tujuan mereka tak lain dan tak bukan adalah toko handphone. Sudah lewat setengah jam mereka menjelajahi salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia itu. Handphone yang dicaripun sudah berada di tangan. iPhone dengan seri terbaru yang membuat Lea menatap Raja horor. Raja mengeluarkan belasan juta rupiah hanya untuk barang kecil itu. Benar - benar gila! Selama ini Lea bahkan tak pernah berangan - angan memiliki ponsel mahal seperti ini meskipun ia berasal dari keluarga kaya - raya. Sifatnya yang ceroboh dan lalai itu membuatnya tak berani membeli barang - barang mahal. Tapi Raja tetaplah Raja, sang raja drama. Ia tak bisa menolak begitu pria itu 'memaksa' dengan jurus andalannya agar Lea menerima iPhone itu. Mulai dari bicara baik - baik, mengatakan bahwa uang bukan masalah sama sekali, anggap saja iPhone itu sebagai permintaan maafnya, dan banyak lagi alasan lain yang membuat Lea jadi pening kepala. So, daripada mereka berlama - lama di tempat itu dan jadi tontonan para pegawai disana, lebih baik Lea cepat - cepat menuntaskan acara debat mereka. Raja menggenggam tangan kiri Lea erat sambil berjalan santai memperhatikan para pengunjung mall lainnya. Sesekali ia tersenyum lebar melihat anak - anak kecil yang melewati mereka. Raja memang sangat menyukai anak kecil. Itu sebabnya dua keponakannya- anak Karina sangat dekat dengannya. Hal itu tak luput dari pandangan Lea yang juga berjalan riang disampingnya. "Kak Raja suka anak kecil?" Raja mengangguk cepat. "Ya, aku punya cita - cita punya banyak anak nantinya..." katanya santai. Matanya masih menatap seorang anak laki - laki yang sedang merengek pada ibunya tak jauh dari mereka dengan tatapan berbinar. Lea terkekeh. "Lea bisa bayangin, rumah kita nanti pasti rame dengan celotehan anak - anak kita..." Raja sontak mengalihkan pandangannya menatap Lea begitu mendengar ocehan istrinya itu. "Apa tadi kamu bilang? Anak - anak kita?" "Hm..." Lea mengangguk. "Why? Kakak mau punya anak dari siapa lagi kalau bukan dari Lea?" Senyum Raja makin lebar. "Kamu udah siap punya anak emangnya?" Lea menyipitkan sebelah matanya. "Siap..." katanya yakin. "Yakin banget kamu?" Lea menarik Raja duduk di salah satu bangku tak jauh dari mereka. "Kata Eyang, seorang ibu itu dilahirkan, tapi seorang ayah perlu dididik..." Raja mengangguk. "Nice quote... tapi apa benar nggak apa - apa kalau misalnya kita punya anak waktu kamu masih kuliah?" tanya Raja. Lea mengangkat bahu. "I'm okay with that. Toh ada juga kok teman - teman Lea di kampus yang udah punya anak. Lagipun Mommy juga bilang, kakak makin lama makin tua, jadi harus punya anak secepatnya..." Raja berdecih. Mommy memang keterlaluan! "Gimana mau punya anak, kamu setiap kali aku cium aja udah mau pingsan..." katanya kesal. Bukan kesal pada Lea, tapi kesal karena ucapan Mommy yang mengatainya tua. Lea hanya cengengesan. "Sorry..." katanya. "Trus gimana ceritanya kamu siap punya anak, tapi gak mau lewatin proses bikinnya?" "Iya ya... berarti kakak harus sabar nungguin Lea ya..." kata Lea bergumam. Raja menggeleng - gelengkan kepala. Ia sudah sempat bahagia sebentar tadi, tapi bahagianya langsung amblas begitu Lea masih memintanya menunggu. Kalau begini ceritanya, dia tak yakin dia bisa menggendong anaknya sendiri sampai lima tahun kedepan!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN