Part 19

1963 Kata
ALEAH berubah! Sejak pulang dari rumah Eyang tiga hari yang lalu, istri kecil Raja itu lebih sering senyum dan cengengesan. Dia akan langsung memamerkan senyum lima jari begitu melihat Raja bahkan dari jarak sepuluh meter. Membuat pria itu mengerutkan dahi dan sesekali merinding. Dan juga gemas! Bagaimana tidak gemas? Setiap kali Raja bertanya 'kamu kenapa?' atau 'are you okay?' gadis kecil itu akan menunduk dan tersenyum malu - malu, seperti kembang desa perawan yang sering ditonton Mommy di tivi. Emang masih perawan, sih! Tak hanya jadi lebih murah senyum, gadis kecil itu juga sangat memperhatikan keperluannya. Raja sempat heran saat ia bangun pagi itu, air mandi dan pakaian kerjanya sudah disiapkan Lea diatas tempat tidur. Lengkap dengan boxer, tie and cufflink. Begitu juga saat ia pulang kerja, gadis itu akan menyambutnya di teras rumah dan bantu membawakan briefcase dan jasnya. Padahal selama ini setiap kali ia pulang kerja Lea pasti sedang sibuk dengan laptopnya didalam kamar. "Kak Raja mau sarapan apa? Roti atau mi goreng?" tanya Lea. Mereka sedang sarapan di halaman belakang dengan Mommy dan Daddy. Mommy dan Daddy sudah menghabiskan hampir separuh mi goreng di piring mereka, sementara Raja dan Lea baru saja turun dari kamar mereka. "Roti aja." kata Raja tanpa mengalihkan perhatian dari tablet di tangannya. Lea dengan cekatan mengoleskan dua lembar roti bakar dengan selai kacang dan meletakkannya diatas piring Raja, kemudian menuangkan secangkir kopi untuk suaminya. Perbuatan itu tak lepas dari perhatian Tuan dan Nyonya Anggara. Keduanya tersenyum melihat anak menantu mereka akur meskipun Raja masih terkesan kaku dan tak peduli. "Lea sekarang makin pintar manjain suami ya..." kata Anggara. Lea tersenyum tersipu. "Eyang yang ngajarin Daddy. Katanya tugas istri itu melayani keperluan suami. Lea nggak mau kak Raja jadi suami ART." Daddy dan Mommy tertawa. Sementara Raja hanya melihat ketiga orang didepannya dengan wajah bingung.  "Kenapa Dad?" tanyanya. "Enggak, ini istrimu lucu sekali." kata Daddy masih dengan tawanya. "Kenapa dengan Lea?" Mommy menghentikan tawanya dan menatap Raja tajam. Seakan hanya dengan pandangan saja ia bisa menguliti putranya itu hidup - hidup.  "Makanya kalau di meja makan jangan sibuk dengan gadget. Udah berapa kali Mommy bilang, no gadget on the dining table!" Raja tersenyum canggung. "Sorry Mommy Raja yang cantik. Ini harus diselesaikan pagi ini untuk materi meeting. Tapi tenang aja, semuanya udah beres, kok!" kata Raja. Pria itu memasukkan tabletnya kedalam briefcase dengan cepat dan fokus dengan sarapannya. "Teman - teman kamu yang dari Inggris kemarin gimana sayang?" tanya Mommy pada Lea. Lea merapikan piring mi gorengnya begitu ia selesai sarapan. Gadis itu meminum beberapa teguk air putih sebelum menjawab pertanyaan Mommy. "Mereka udah nyampe Bali, Mi. Katanya minggu depan baru pulang ke Inggris." "Kenapa gak diajak kesini kemaren? Mommy kan mau kenalan juga sama teman kamu yang bule - bule..." Raja menggeleng. "Mommy kayak pernah ketemu bule aja!" "Beda Raja, teman - teman Lea kan masih muda, masih seger jiwanya. Gak kayak partner bisnis Daddy yang kaku - kaku itu." kata Mommy. "Tapi mereka yang kata Mommy kaku itu yang bikin Mommy kaya, Mom!" Lea terkikik geli. "Mereka gak hanya mau ke Bali aja Mom, tapi juga ke Jogja. Mau lihat candi katanya. Jadi gak bisa lama - lama disini, harus memanfaatkan waktu soalnya." Mommy dan Daddy mengangguk - angguk mengerti.  "Tuh Dad, teman - teman Lea aja liburan, masa kita nggak? Kita udah lama nggak liburan loh Dad." Daddy terkekeh. "Mommy mau liburan kemana emangnya?" "Kemana aja. Kali ini jangan jauh - jauh, sekitar Indonesia gitu." "Tapi kantor lagi banyak kerjaan, Mommy sayang..." Mommy mendelik kearah Raja. "Kasi aja ke anak itu sementara Dad. Kan emang udah tugas dia ambil alih kerjaan Daddy." Raja refleks menggeleng tak terima. "Nggak, nggak ada liburan - liburan. Daddy jangan ikut - ikut aja omongan Mommy, Dad. Aku butuh backup untuk kerjasama dengan Mandala sementara aku ngurus proyek Lixon Group." Mommy mendesah kesal. "Kamu kan punya Etien sama Zaki di kantor Raja." "Mereka juga sibuk dengan kerjaan mereka Mom. So please, no holiday dalam waktu sebulan ini. Kalau memang ada yang harus liburan, orang itu adalah aku dan Lea. Mommy gak ingat honeymoon kami ke Jepang kemarin batal?" "Oh iya benar! Ya udah kalau gitu Dad, jatah liburan Mommy kasi ke Raja dan Lea aja. Daddy antar mereka honeymoon jauh - jauh biar pulang nanti bisa langsung bawa cucu - cucu mungil buat Mommy. Auuh... Mommy gak sabar mau gendong cucu, Dad!" teriak Mommy heboh. Wanita paruh baya itu lantas memeluk lengan suaminya erat - erat. Lea meringis di kursinya. Ekor matanya melirik kearah Raja yang tampak santai - santai saja mengunyah rotinya. "Jadi, kapan kalian mau berangkat honeymoon? Mau kemana? Perancis? Spanyol? Maldives?" Mommy masih saja semangat bertanya. Raja menggeleng. "Nanti, Mom..." Nanti, tunggu menantu Mommy ini siap lahir batin. Ngapain pergi honeymoon sekarang kalau gak bisa ngapa - ngapain? Mommy menghela napas. "Ya udah, terserah kalian. Yang penting Raja, kamu jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai mengabaikan Lea!" Raja mengangguk. Setelah selesai sarapan, mereka membubarkan diri dari halaman. Mommy mengantar Daddy sampai ke teras, sementara Lea ikut mobil Raja menuju kampus. Awalnya Raja menolak mengantar Lea dengan alasan ada meeting penting pagi ini. Tapi pria itu tak bisa berkutik jika ibu Ratu sudah angkat bicara membela sang menantu. "Kamu sengaja ya, minta diantar sama aku?" kata Raja gusar saat mereka sudah dua puluh lima menit duduk di dalam mobil. Jalanan pagi ini padat, dan Raja tak bisa menahan kekesalannya karena arah kampus Lea yang mereka tuju saat ini berlawanan arah dengan kantornya. Lea mengangguk polos. "Iya, kak Raja kan suami Lea, kata Mommy udah kewajiban kakak ngantar Lea kemana - mana." Raja mengetatkan cengkramannya pada stir. "Aku sibuk, Aleah! Banyak pekerjaan di kantor yang harus aku selesain selain mengantar kamu seperti ini. Lain kali gak usah manja bisa kan? Minta aja Pak Ihsan buat nganterin kamu kemana - mana!" Lea mencebikkan bibirnya. "Hmm... Sorry, Lea nggak tau kak Raja sesibuk itu. Soalnya dulu kak Elang nggak pernah protes kok nganterin Lea ke kampus hampir tiap hari..." "Ngapain kamu bawa - bawa Elang segala? Kamu lupa perjanjian pranikah kita?" Lea menggeleng. "Nggak, cuma tiba - tiba aja keinget kak Elang. Dulu----" CKIITTT... Kepala Lea hampir saja terbentur dashboard karena Raja mengerem mobil mendadak. Untung saja tubuh mungilnya ditahan dengan baik oleh seatbelt. Kalau tidak, bisa benjol parah kepalanya! "Turun!" perintah Raja. Lea mengedarkan pandangannya keluar jendela. Gadis itu mengerutkan dahi begitu sadar ternyata mereka sudah berada di halaman kampus Lea. "Udah sampai ya..." katanya sembari melepaskan seatbelt yang membelit tubuhnya. "Lea masuk kelas dulu ya, bye suamiii..." Lea menutup kembali pintu mobil dan melambaikan tangan dengan ceria sebelum melangkah menuju kelasnya dengan langkah riang. Sementara Raja yang masih duduk didalam mobil mendesah frustasi. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan lewat, dan dia sudah telat untuk meeting pertama pagi ini! Sial! *** "Aleah!" Sebuah suara yang sama sekali tak familiar membuat Lea menghentikan langkahnya. Gadis itu baru saja menyelesaikan mata kuliah france lit-nya dengan Madame Annie dan saat ini sedang berjalan menuju kantin untuk menemui kedua sahabatnya. Lea membalikkan badan. Ia sedikit tercengang begitu melihat seorang laki - laki dengan jarak hampir sepuluh meter berlari ngos - ngosan menghampirinya. "Kamu yang namanya Aleah, kan?" tanya lelaki itu begitu ia tiba didepan Lea. Lea mengangguk tanpa jawaban. Kepalanya masih menerka - nerka siapa gerangan lelaki yang didepannya ini dan kenapa ia menghentikan langkahnya. Lelaki itu memperhatikan gadis didepannya dengan sedikit memicingkan mata. "Beneran kamu yang namanya Aleah?" tanyanya lagi. "Iya, saya Aleah, kamu siapa ya? Ada urusan apa manggil saya?" tanya Lea. Ia sedikit gemas dengan lelaki ini. Sejak tadi sudah dua kali menanyakan pertanyaan yang sama. Kalau dia mengangguk itu artinya 'iya' kan? Bukannya menjawab pertanyaan Lea, lelaki itu malah menarik tangan gadis itu dan membawanya duduk kearah bangku tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi. "Eh, kenapa kamu malah narik - narik tangan saya? Lepasin..." Lea menarik - narik tangannya dari cengkraman lelaki itu. Lelaki itu melepaskan tangannya begitu mereka sudah duduk tenang diatas bangku. Ia mengibaskan tangannya memberikan isyarat meminta agar Lea membiarkannya menata napasnya terlebih dahulu. "Gue Alfian, mahasiswa jurusan kedokteran." lelaki itu memperkenalkan diri. "Iya?" "Gue keponakannya Madam Annie, dosen france lit lo." Lea langsung melebarkan senyum begitu mengetahui lelaki didepannya ini adalah keponakan dosennya. "Oh iya. Ada apa ya? Kata Madam Annie kamu butuh bantuan aku." Ya, seminggu yang lalu Madam Annie memang pernah meminta Lea untuk membantu keponakannya secara pribadi. Katanya keponakannya itu akan melanjutkan kuliah ke Perancis, jadi ia butuh tutor untuk mendalami bahasa Perancisnya. Lelaki bernama Alfian itu tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuk. "Tante Annie gak cerita emangnya?" Lea meletakkan kamus tebal bahasa Perancis yang sejak tadi didekapnya keatas bangku. "Madam Annie cuma bilang kalau ada keponakannya yang mau lanjut kuliah ke Perancis, jadi mau nanya - nanya tentang gimana disana." "Sebenarnya gue bukan cuma mau nanya soal Perancis doang, tapi juga mau minta tolong lo jadi guru privat gue. Itupun kalau lo gak keberatan." kata Alfian. "Kenapa gak sama Madam Annie aja?" "Tante gue itu orang sibuk, Aleah. Gue udah pernah ikut bimbel juga sih, tapi gak praktis rasanya. Waktu gue mepet, awal maret gue udah harus berangkat kesana. Jadi tante ngasi tau katanya ada mahasiswanya yang jago bahasa Perancis. Jadi dia janjiin buat ngenalin lo," Lea mengangguk - angguk. "Lo berapa lama tinggal di Perancis?" "Sekitar tiga tahunan." "Beasiswa?" tebak Alfian. Lea menggeleng. "Nggak, kerjaan Papa yang bikin aku hidup pindah - pindah." "Papa lo diplomat?" Lea meringis kecil. "Ya, begitulah..." "Wow! Hebat... Enak dong bisa sekalian keliling dunia! Gue selalu mimpi suatu saat nanti gue juga bisa keliling dunia..." Alfian terus saja berbicara panjang lebar. Lelaki itu tampak semangat begitu Lea bertanya tentang jurusan apa dan kampus mana yang dipilih Alfian untuk menyambung kuliahnya. Lea juga bercerita bagaimana kehidupan dan culture negara Eiffel itu pada Alfian. Tentang kebiasaan masyarakat dan juga kebudayaannya. Gadis itu bahkan memberikan rekomendasi beberapa restoran dan tempat refreshing menarik yang jarang dikunjungi oleh wisatawan. "Lo kayaknya ngerti banget tentang Perancis, ya?" kata Alfian takjub. Lea mengangguk. "Iya dong! Waktu tinggal disana, selain ke sekolah kerjaanku kan cuma jalan - jalan dan eksplor Perancis. Perancis itu udah kayak kota kedua untukku setelah Jakarta. Walaupun Papa dan Mama sekarang nggak tinggal disana lagi, tapi aku selalu menyempatkan diri tiap tahun buat balik kesana." "Oke, berarti tahun depan gue yang akan nemenin kalau lo kesana lagi." Lea terkekeh. "Iya, awas aja kalau sampai ingkar janji!" Alfian ikut tertawa. Ini benar - benar diluar kebiasaan. Lea yang biasanya bukan tipe yang cepat akrab dengan laki - laki. Bahkan dulu, Erlangga Mahendra sampai berjuang hampir setahun untuk menarik perhatiannya. Tapi dengan Alfian berbeda, entah karena pribadi lelaki itu yang blak - blakan mirip Diandra dan Lili, ataupun topik tentang Perancis ini yang mau tak mau membuat mereka jadi cepat akrab satu sama lain. "Menurut pengalaman aku, practice adalah cara belajar bahasa paling ampuh. Bahasa apapun baik itu inggris, Perancis, Arab, Spanyol... Jadi selain buka kamus, kamu harus rajin ngomong supaya lidah kamu nggak kaku. Grammar bisa nyusul belakangan. Toh yang penting itu, orang bisa ngerti apa yang kamu bicarain." kata Lea setelah tawa mereka reda. "Kalau gitu boleh gue minta nomor telpon lo gak? As you said, belajar itu biar cepat mahir adalah dengan practice, jadi gue minta lo ajar gue biar cepat mahir speaking dan writing. Hehehe..." Lea mengangsurkan handphonenya pada Alfian.  "Jadwal belajar kita seminggu dua kali ya, sore rabu dan sore jumat kamu bisa? Soal tempat kamu aja yang nentuin, asal bukan tempat yang aneh - aneh aja..." Alfian mengerutkan kening, mencoba mengingat jadwalnya di sore rabu dan jumat. "Oke, gue bisa kayaknya." katanya seraya mengembalikan handphone pada Lea. "Bagus kalau gitu. Untuk pelajaran tambahannya kita adakan lewat handphone aja." tambah Lea. "Lo masang tarif gak?" Alfian bertanya dengan nada menggoda. Lea tertawa. "Ya dong! Kamu harus rajin, biar aku bisa dapat pahala yang banyak."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN