"RAJA Mahen..."
Suara menggelegar menyakitkan telinga itu membuat Raja mendengus kesal. Kosentrasinya pada tumpukan berkas di mejanya buyar seketika.
Di depan pintu ruangannya, seorang pria dengan pakaian kasual seumuran almarhum adiknya berdiri dengan senyum lebar. Tanpa permisi, pria itu melangkah mendekati meja Raja dan duduk di kursi seberang mejanya dengan gaya angkuh.
"Ngapain lo kesini? Gak punya kerjaan?" tanya Raja ketus.
Pria itu terkekeh. "Gue kangen sama lo. Udah hampir dua minggu kan kita gak ketemu?"
Raja memutar bola mata jengah. "Gue berharap gak ketemu lagi sama lo sampai tahun depan!"
Pria itu adalah Ken Dewaya Dirgantara. Anak kedua keluarga Dirgantara sekaligus sepupu tengil Raja dari pihak Mommynya.
"Mulut lo kurang ajar banget, sih!" kata Ken dengan nada tak suka yang dibuat – buat.
"Lo yang lebih kurang ajar! Apa – apaan manggil gue kayak gitu. Gue lebih tua dari lo Ken, kalau lo lupa!" sahut Raja.
Ken tertawa keras. Pria itu selalu punya cara untuk membuat Raja naik darah. "Gue selalu ingat lo emang udah tua, Raja Mahen. Apalagi kalau lo suka marah – marah gak jelas! Makanya gue kesini buat nularin aura gue ke lo biar lo awet muda. Kasian ipar gue yang masih seger itu kalau lakinya udah kayak om – om..."
Oh yeah, selain tengil, sepupu Raja ini pedenya juga gak ketulungan!
Raja diam saja dan kembali mencoba memfokuskan diri pada berkas – berkas di depannya. Meladeni Ken Dirgantara memang tak akan pernah ada habis – habisnya.
"Ipar cantik gue apa kabar?"
"Baik."
"Kok lo gak pernah bawa dia main ke rumah, sih? Mami sering nanya ke gue kenapa lo udah jarang main sejak nikah."
"Ngapain juga gue bawa dia kesana? Entar aja kalau memang ada acara atau special occasion."
Ken berdehem dan menyilangkan kaki. Pria tampan berusia dua puluh lima tahun itu menatap sepupunya yang sok sibuk itu dengan tatapan menyelidik. "Gue mencium bau – bau kecemburuan disini..." katanya menuding.
Raja mendongak menatap Ken dengan kesal. cecunguk ini benar – benar mengganggu, pikirnya.
"Sama siapa? Lo? Hah!"
Ken mengangkat bahu acuh. "Mana gue tau! Bisa jadi, kan? Yah, walaupun gue bukan tipe perebut kekasih orang..."
"Oh... ya, gue lupa. Selama ini kan kekasih lo yang direbut orang!" ledek Raja seraya tertawa keras.
Ken memasang muka cemberut. "Bener..."
Raja menutup berkas dan pulpen di tangannya kemudian mendorongnya ke tepi meja. Rautnya berubah serius. "Udahlah, bagus lo taunya sekarang, bukan nanti. Itu artinya cewek itu emang nggak pantas buat lo!"
Ken mengalihkan perhatiannya pada bandul newton diatas meja kerja Raja. Menarik salah satu bandul diujungnya dengan keras sehingga menimbulkan bunyi yang konstan. Pembahasan tentang kekasih dan perempuan ini adalah topik sensitif bagi pria itu.
"Gue tau..."
"So, ada apa lo kesini? Bukannya lo bilang jadwal lo padat sebulan ini?" Raja mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin membawa Ken yang tengil ini hanyut berlama – lama dengan situasi mellow dan cheesy yang menggelikan itu.
"Biasa! Pesta anniversary bokap sama nyokap gue. Anak – anaknya diwajibkan hadir sesibuk apapun mereka!" kata Ken datar. "Gue jadi ngabisin duit jutaan buat beli tiket pulang – pergi Samarinda."
"Tour lo masih lama?"
"Lumayan, masih ada sekitar tiga kota lagi. Artis – artis gue semuanya pada ribut pas tau gue pulang duluan."
"Trus acara anniv nyokap bokap lo itu, kapan?"
"Besok malam. Gue kesini karena Mami minta buat ngundang lo sama ipar juga."
"Oke, gue sama Lea bakal usahain datang..."
"Sip, then. Oh ya, jangan lupa bawa kado yang mahal. Mami gue lagi tergila- gila dengan set berlian keluaran terbaru Buccellati. Sempat ngerengek ke Papi sampai gue pusing sendiri dengernya!"
Raja mengangguk. Untuk nyonya Dirgantara ia rela menghabiskan ratusan juta untuk hadiah ulang tahun pernikahan. Mami Ken itu sudah ia anggap sama seperti Mommynya, karena sejak kecil ia memang sudah dekat dengan tantenya itu.
"Gue pulang dulu kalau gitu. Jangan lupa bawa Lea, ya!" kata Ken lagi. Pria itu berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu.
Raja mendengus. Dia sebenarnya mau ngundang gue apa ngundang Lea sih?
***
Lea melangkahkan kaki dengan riang menuju kantin. Setelah pertemuannya dengan Alfian tadi, kini ia berniat bertemu Diandra dan Lili untuk makan siang. Diandra sengaja ke kampus siang ini untuk mengajukan judul proposal penelitiannya ke prodi. Sementara Lili mengurus jadwal untuk koas-nya. Ya, gadis itu akan melaksanakan koas selama tiga bulan kedepan di salah satu tempat yang ditunjuk oleh fakultasnya.
Lea tersenyum ramah begitu dua orang gadis yang masih tampak seperti mahasiswa baru menyapanya. Jalan menuju kantin ramai seperti biasanya karena memang sudah masuk jam makan siang.
Diandra melambai kearah Lea begitu melihat sahabatnya itu celingukan mencari kehadiran mereka diantara kerumunan mahasiswa di kantin. Lea langsung melangkah mendekati meja dan langsung duduk di kursi yang telah disediakan kedua sahabatnya.
"Kalian udah lama?"
Diandra dan Lili serempak mengangguk. "Lama banget, sampai udah hampir diusir sama Mbok Yati."
Lea menampilkan cengiran lebar. "Sorry... Aku tadi ketemu sama keponakan dosen dulu tadi. He asked me favor..."
"Which is?" tanya Diandra tertarik.
"Dia mau lanjut kuliah ke Perancis. Jadi dia nanya – nanya aku tentang Perancis, plus minta aku jadi study partner-nya..."
Kedua sahabatnya itu kembali serempak mengangguk.
"Kalian kenapa? Kok dari tadi ngangguk doang? Aneh deh..." kata Lea heran. Tak biasanya kedua sahabatnya tiba – tiba sok akur dan jadi pendiam seperti ini.
"Lapar, Lea..." ujar Lili kesal.
"Kalian belum pesan makanan?"
"Udah, tapi belum nyampe juga. Antrian panjang banget,tuh!" Diandra menunjuk seluruh mahasiswa yang berada di kantin itu dengan bibirnya.
Tentu saja ramai! ini kantin, dan jam makan siang pula! Biasanya kalau suasana lagi seramai ini pesanan mereka baru sampai di meja setelah lebih dari setengah jam menunggu.
Lima menit kemudian, seorang pelayan menghampiri meja membawa makanan pesanan mereka. Nasi putih dengan semur ayam dan tumis sayuran. Sementara minuman mereka sudah sampai di meja sejak sebelum Lea tiba di kantin tadi. Gadis – gadis itu, terutama Lili dan Diandra langsung makan dengan lahap, seolah mereka sudah tak bertemu makanan berhari – hari.
"Li, kamu kenal Alfian gak?" Tanya Lea pada Lili. Ia kembali teringat Alfian sempat mengaku bahwa ia adalah mahasiswa fakultas kedokteran.
"Alfian? Alfian mana?" tanya Lili. Gadis itu mencomot kulit ayam semurnya dan memasukkannya kedalam mulut.
"Aku gak tau nama lengkapnya Alfian siapa, tapi katanya tadi dia mahasiswa kedokteran. Kali aja kamu kenal. Dia udah semester akhir kayaknya..."
Lili mengerutkan kening beberapa saat. "Alfian... Alfian Bagaskara? Yang ganteng dan ramah itu? Kakak senior gue?" tanyanya bertubi - tubi.
Lea dan Diandra menghentikan kunyahan mereka. "Bahasa lo kayak orang lagi jatuh cinta, Li!" kata Diandra horror.
"Kenapa emangnya? Emang dia ramah dan ganteng, kok! Dia idola fakultas gue. Kenapa Le? Jangan bilang dia yang minta diajarin bahasa Perancis sama lo?"
Lea mengangguk.
"Ohmaigat...ohmaigat... seriusan?"
"Iya, kenapa sih?"
Lili mencengkram tangan Lea erat sambil mengedipkan matanya genit. "Gue gak mau tau! Lo harus ajak gue setiap kali kalian privat..."
Diandra memukul tangan Lili keras – keras sampai gadis imut itu mengaduh. "Apaan sih, Di?"
"Najis gue, Li! Jual mahal dikit kenapa?"
Lili memasang raut innocent-nya. "Apa salah gue? Kenapa lo marah – marah sih? Kan gue mau pedekate doang! Perasaan waktu Lea sama kak Elang dulu lo gak sadis kayak begini, deh!"
Diandra mendelik. "Iya, soalnya Ale – ale gak pernah kecentilan kayak lo, kuli!"
"Gue gak kecentilan Didiiiittt! Siapa tau Alfian itu emang jodoh gue! Emang lo gak bangga gitu kalau sahabat lo ini punya calon suami ganteng?"
Diandra menggeleng jijik. "Suami...suami... selesain dulu koas lo, kuli! Baru abis itu kita liat sebesar apa pengaruh Alfian – Alfian itu sampai bisa bikin PAPA lo takluk!"
Lili menelan ludah kesat sementara Lea sudah cekikikan di kursinya. "Takdir kamu itu cuma dua, Lili-ku! Kalau nggak kawin lari, ya dijodohin..." kata Lea santai.
Lili memasang wajah iba. "Iya juga sih! Sekarang aja Papa udah mulai nyodorin gue ke anak – anak koleganya. Entah sampai kapan gue bisa nikmatin semua kebebasan ini..." tangannya membelai rambut Diandra dan Lea dramatis. Sontak saja Diandra menepis dengan secepat kilat.
"Makanya jangan main hati sama perasaan dulu, kuli! Ntar lo gila sendiri kalau cinta gak kesampaian..."
Lili menatap Diandra garang. "Lo nyumpahin gue?"
"Just reminding you, Lilipuutt!"
Mereka kembali makan dalam diam. Hanya denting sendok dan garpu yang terdengar. Sampai beberapa saat kemudian, sebuah suara mengalihkan perhatian mereka dari nasi dan sekutu – sekutunya diatas meja.
"Aleah..."
Lea dan Lili tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Seorang lelaki yang baru saja mereka bahas berdiri dengan senyum lebar didepan meja mereka. Diandra yang tak mengenal lelaki itu hanya memasang wajah bingung.
"Oh, hai Alfian..."
Alfian memandang Diandra dan Lili bergantian. Pria itu menatap Lili sedikit lama sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Lo Liliana Adiwangsa, kan?"
Lili tersenyum tak kalah lebar. "Iya, gue Liliana. Lo... Alfian?" tanyanya sopan membuat Lea tersenyum geli dan Diandra mendengus lirih.
Pura - pura gak kenal! Tadi aja matanya udah berbinar - binar kayak kejatuhan bintang dari langit!
Alfian mengangguk masih dengan senyum lebar. "Gue boleh gabung, gak? Tempat duduk lain pada penuh soalnya..."
Lea refleks mengedarkan pandangan keseluruh kantin. Memang penuh!
"Si, silakan!"
Alfian duduk di kursi yang tersisa disebelah kanan Lea. Tepat di depan Lili, calon doker imut yang saat ini sudah menatap Lea dan Diandra sambil cengar – cengir gak jelas.
"Gak nyangka lo juga kenal sama Liliana!" kata Alfian pada Lea.
"Ya, Lili ini sepupu aku..." Lea sambil menunjuk Lili. "Dan ini sahabat aku sama Lili. Namanya Diandra..."
Alfian mengulurkan tangan yang dibalas Diandra dengan sambutan dan senyum tipis.
"Berarti kamu salah seorang keluarga Adiwangsa juga?" tanya Alfian lagi. Lea mengangguk.
"Wow, dunia emang sempit ya? gak nyangka di kampus ini ada dua orang anak keluarga Adiwangsa. Kehadiran Liliana sendiri aja udah cukup mengejutkan buat gue!"
"Kenapa emangnya sama gue?" tanya Lili. Ia heran dirinya dibawa – bawa dalam pembahasan Alfian.
"Lo gak tau atau pura – pura gak tau kalau lo terkenal di fakultas kita? Dokter Alexandra, dosen anatomi tubuh manusia kita yang terhormat itu muji lo habis – habisan setiap kali dia masuk kelas gue..." kata Alfian santai. Meski ia takjub, tapi ia tak menunjukkan kekaguman yang berlebihan seperti orang lain saat bertemu dengan anak – anak keluarga Adiwangsa yang pintar – pintar seperti Lili. "Dan katanya gen – gen Adiwangsa itu pasti pintar – pintar dari lahir..."
Muka Lili sudah merah merona. Pasti udah sampai nirwana tuh karena dipuji sang lelaki pujaan dari fakultasnya!
"Sayangnya aku nggak..." kata Lea tertawa.
"Oh ya?" Alfian mengerutkan kening. "Berita yang gue denger salah berarti. Tapi gue yakin, pasti ada hal yang lo kuasai. Hidup nggak melulu tentang bisnis dan metematika, kali! So, santai aja..."
Lea, Lili dan Diandra mengangguk.
"Sorry to ask... lo emang aslinya cerewet gini, ya?" kali ini Diandra buka suara. Ia heran sejak tadi lelaki didepannya ini nyerocos panjang lebar seperti rel kereta api. padahal mereka boleh dikatakan baru kenal satu sama lain. kecuali Lili tentunya yang memang udah kenal lama tapi tak pernah mengobrol sama sekali.
Alfian tersipu seraya menggaruk kepalanya yang tiba – tiba saja gatal. "Iya, sori ya kalau kalian gak nyaman. Gue emang gini orangnya. Sekali ngomong susah buat berhenti..."
Lea, Diandra dan Lili tertawa. "It's okay, kita malah suka sama orang yang cerewet dan nggak neko – neko kayak lo. Tapi asal lo tau diri aja. Jangan pernah jatuh cinta sama Lea, dia udah taken. Kalau sama Lili boleh..." kata Diandra lagi.
"Kalau sama lo?"
Diandra mengangkat bahu. "Terserah, kalau lo siap patah hati nggak papa."
Alfian terbahak sembari mengibaskan tangannya. "Hahaha...gue bercanda kali. Gue juga udah punya pacar, by the way..."
Lea dan Diandra refleks melihat kearah Lili. Mereka berharap akan melihat Lili patah hati dan kecewa. Tapi ternyata gadis itu tetap fokus dengan makannya seakan tak peduli dengan ucapan Alfian.
"Gue juga udah tau dia punya cewek. Orang ceweknya teman sekelas gue! Gue sengaja mau godain lo tadi, Diandra! Hahaha..."
Lili kampret!!