Part 21

2241 Kata
RAJA tak pernah menyangka ia akan melewati suasana seperti ini. Suasana dimana ia merasa akan mati berdiri karena terlalu kesal akibat ocehan istri kecilnya. Ia tak salah menyematkan panggilan 'gadis kecil' pada istrinya itu, karena Lea memang masih kecil dan sekarang ia semakin meyakini hal itu. Awalnya, rasa percaya diri Raja terhitung sangat tinggi begitu ia sudah siap dengan setelan jas mahal dan tatanan rambut klimis untuk ke acara anniversary om dan tantenya malam ini. Terlihat sangat tampan dan jantan. Tapi kepercayaan diri itu luruh seketika begitu Lea keluar dari walk in closet dengan setelan gaun one piece selutut dan tatanan rambut sederhana yang sialnya membuatnya tampak seperti gadis belia belasan tahun. Dia tiba - tiba saja merasa tua! Dan semua orang pasti mengecapnya sebagai seorang p*****l saat melihatnya berjalan beriringan dengan Lea nanti! Dijamin! "Ganti, Aleah!" Raja berteriak gusar. Lea mendengus kemudian berbalik untuk kembali mengganti pakaiannya. Ini sudah kali keempat Raja berteriak 'GANTI ALEAH!' pada baju pesta pilihan Lea, dan mereka juga sudah terlambat hampir setengah jam dari waktu acara. Raja melangkah kearah walk in closet dengan kesal begitu Lea tak kunjung keluar dari tempat itu. Dan begitu tiba disana, kekesalannya semakin meningkat begitu melihat gadis itu hanya bengong didepan pintu lemari sambil mengomel lirih. "Kenapa belum ganti baju juga?" tanya Raja. Lea menatap Raja dengan bibir mencebik. Mata bundarnya yang terpoles eyeshadow minimalis tampak sedikit berkilau ditimpa cahaya lampu. "Nggak tau mau pakai baju yang mana, baju pesta Lea semuanya model begini, kak!" Raja membalikkan tubuh dari hadapan Lea menghadap lemari di belakangnya. Tangannya mulai menyusuri satu persatu gaun pesta milik istrinya yang tergantung disana. Mencari satu gaun yang kira - kira sesuai dipakai gadis itu untuk acara malam ini. "Ck! Baju kamu kok semua model begini, sih? Kamu nggak punya gaun malam yang panjang dan elegan, gitu?" gerutunya sambil mengacung - acungkan beberapa gaun selutut dengan bermacam warna dan model kemudian kembali menggantungkannya ke lemari dengan kasar. Lea menggeleng sambil menggigit bibir. Raja mendesah berat. Sepertinya mereka memang benar - benar akan sangat terlambat malam ini! Ia memang bisa saja membiarkan Lea memakai gaun anak - anak itu, toh itu juga sesuai dengan umur Lea yang masih belia dan sifatnya yang kekanakan. Tapi yang berada disana nanti bukan hanya keluarganya saja, tapi juga kolega - kolega bisnis keluarga Dirgantara dan Mahendra. Jadi mau tak mau mereka harus tampil sedikit mencolok dan serasi. Dan gaun anak - anak yang imut dan manis itu sudah pasti akan sangat jauh dengan kata 'serasi' jika disandingkan dengan tuksedo mahalnya. Raja menekan layar handphonenya kemudian menempelkan ke telinganya. Beberapa detik kemudian, ia berbicara cepat begitu orang diseberang line mengangkat panggilannya. "Agnes, datang ke rumah sekarang, i really need your help. Gue sama Lea mau ke pesta anniv bokap dan nyokap Ken, tapi Lea gak punya gaun yang cocok buat kesana. Jadi gue minta lo datang bawa gaun yang sesuai. In fifteen minutes, okay?" "...." "Okay, and one more thing, tolong jangan bawa gaun kembang kayak anak - anak oke? I feel really bad because of it!" Raja mematikan telponnya dan kembali menghadap Lea. Gadis itu sudah duduk diatas sofa kecil di walk in closet itu dengan wajah tertekuk. "Kenapa?" tanya Raja seraya ikut duduk disamping Lea yang memandangnya lekat. "Baju - baju yang ada ini kenapa emangnya?" "Itu terlalu kekanakan, Aleah! Dan kamu harus tampil elegan meskipun kamu nggak ada elegan - elegannya sama sekali!" Lea mendelik kesal. Gadis itu sebenarnya sangat ingin berdebat panjang lebar, tapi diurungkannya karena tak mau menghabiskan tenaga. Selang lima belas menit kemudian, wanita bernama Agnes yang ditelpon Raja tiba dengan seorang asistennya yang tampak kerepotan membawa beberapa stel gaun indah. Wanita itu merengutkan wajah kesal karena dihubungi mendadak oleh Raja padahal ia sedang ada pekerjaan. "Lo harus bayar gue mahal buat ini, Rajata Mahendra! Gue sampai ninggalin Clara ke asisten gue gara - gara lo, kunyuk!" katanya. Raja membawa Agnes ke kamarnya dimana Lea sedang duduk dengan gelisah. Ini adalah kali pertama ia ditangani oleh seorang desainer terkenal hanya untuk sebuah pesta anniversary. Selama ini setiap kali ia akan menghadiri makan malam atau pesta, ia akan mengurusi dirinya sendiri. Memilih gaun asal comot dan make up ala kadarnya saja. "Oh my god! You are so cute!" Teriakan cempreng Agnes disertai cubitan di pipi membuat Lea meringis. Ia mengerjap - ngerjapkan mata heran, tak menyangka desainer yang biasanya hanya ia lihat di televisi itu ternyata adalah seorang yang sangat heboh dan... bar-bar! Sementara itu, Agnes yang tak lain desainer terkenal sekaligus sahabat Raja itu riang bukan kepalang begitu melihat sosok cantik dan imut bak barbie itu menatapnya dengan mata bundarnya yang lucu. Ia baru sekali ini bertemu dengan Aleah Mahendra, istri Raja karena saat pernikahan mereka dulu Agnes sedang berada di Inggris karena sedang sibuk dengan acaranya di ajang London Fashion Week. Ia memang sudah mendengar gosip bahwa nyonya muda keluarga Mahendra ini adalah seorang gadis cantik yang baru akan beranjak dewasa. Tapi ia tak menyangka akan secantik ini. Gadis di depannya ini benar - benar... Sempurna! Parasnya cantik dengan mata coklat yang berbinar riang, alisnya terbentuk sempurna, bulu mata panjang dan lentik, hidung bangir yang mungil, dan bibir merah alami yang jika tersenyum, Agnes yakin sekali tak ada yang tak bisa menolak pesonanya, rambut coklat madunya yang panjang dan lurus terurai dengan indah membingkai wajahnya.  Meski heran, tapi Agnes benar - benar salute dan acung empat jempol dengan selera Raja memilih istri. Ia tak menyangka selera Raja pada wanita bisa berubah dari tipe wanita dewasa ke tipe innocent dan baby face seperti Lea. Tapi tipe innocent dan baby face saat ini memang sedang tren, kan? Sama seperti pernikahan dengan gap usia yang lumayan jauh. Well, selera pria zaman sekarang sudah semakin bervariasi. Terkadang gadis yang tampak lugu dan menggemaskan bahkan bisa membuat pria makin tergila - gila dan b*******h diatas--- Oke, skip that! "Saat ini kamu memang terlihat cute, nyonya Mahendra. Tapi lihat saja dalam 3-4 tahun kedepan, suamimu itu pasti bakal jadi cemburuan dan kalang kabut. Kamu akan semakin dewasa dan berada di masa keemasanmu. Aku jamin dia pasti akan lebih memilih mengurungmu di rumah daripada membawamu ke pesta!" bisik Agnes pelan sambil memadu - padankan gaun yang dibawanya ke tubuh Lea. Sementara asisten Agnes yang bernama Dhea itu sedang sibuk membenahi riasan dan tatanan rambut Lea. Raja sedang duduk di sofa memainkan ponselnya, sama sekali tak terusik dengan pembicaraan mereka. Lea tersenyum. Rona merah pelan - pelan menjalar ke pipinya mendengar ucapan Agnes. Hatinya sedikit tersanjung dengan pujian itu. Entah pada bagian 'dia yang akan jadi semakin cantik' ataupun pada bagian 'Raja yang kalang kabut', dia sendiripun tak mengerti. Tapi rasanya bagian 'Raja kalang kabut karena cemburu' terdengar lebih membahagiakan baginya. Agnes terkekeh melihat wajah Lea yang memerah. "Ahh... Aku udah nggak sabar menantikan hari itu tiba! Selama ini Rajata itu selalu bersikap arogan dan angkuh selayaknya dia mampu menggenggam semua hal di tangannya. And that was really suck! Selama berpacaran dengan Melanie dan Friska dulu aku bahkan tak pernah melihatnya cemburu sama sekali!" kata Agnes lagi. Lea langsung terkesiap begitu mendengar Agnes menyebut nama Melanie dan Friska. "Mbak kenal sama Melanie dan Friska itu?" "Tentu saja! Melanie itu teman kami yang jadi pacar Raja waktu senior high school, sedangkan Friska itu mantan kekasihnya yang psycho. Aku pernah makai dia beberapa kali buat ajang fashion show ku tiga tahun lalu, rekomendasi dari Raja. Tapi sekarang tidak lagi. Wanita itu attitude nya minus, aku saja sampai heran kenapa Raja bertahan dengan wanita sepertinya sampai lima tahun. Untung saja mereka sudah putus!" "Me... Mereka, kapan mereka putus?" Agnes mengerutkan kening. "Setahu aku udah setahun lebih. Kenapa? Kamu kok kaget gitu? Raja gak pernah cerita emangnya? Atau... Uppss... Aku salah ngomong ya?" Agnes buru - buru menutup mulut dengan tangannya karena khawatir sudah kelepasan bicara. Wanita itu melirik Raja yang sedang duduk di sofa dengan panik. Untung saja pria itu tak mendengar perbincangan mereka. Lea menggeleng kemudian menyinggungkan senyum indah. Hatinya dipenuhi kebahagiaan yang membuncah - buncah begitu ia mendengar berita dari Agnes. Malam ini benar - benar luar biasa! Dua menit kemudian, Agnes menyodorkan sebuah gaun navy lengan panjang bermotif bunga berwarna putih dan meminta Dhea membantu gadis itu segera berganti. Beberapa saat kemudian, Lea keluar dengan dari walk in closet dengan senyum sumringah. Gaun yang dipilih Agnes membaluti tubuhnya dengan pas. Tak terlalu ketat dan tak pula kebesaran, membuat penampilannya benar - benar anggun dan berkelas. Raja yang sudah mengalihkan fokusnya dari handphonenya karena deheman Agnes terpesona seketika. Lidahnya kelu dan tenggorokannya tiba - tiba saja terasa kering. Gadis kecilnya yang manja itu kini bertransformasi menjadi wanita cantik dan elegan. Disana, Lea menatapnya dengan mata berbinar dan senyum lebar, membuat rasa menjanggal di hatinya yang pernah hadir saat ia memeluk Lea di rumah Eyang waktu itu hadir kembali. Membuat dadanya sesak seolah sedang kekurangan oksigen. "Eheemm..." deheman dari makhluk yang duduk disebelahnya memutus pandangan Raja dari Lea. Pria itu mengerjapkan mata berkali - kali kemudian menatap Agnes yang sudah terkikik geli dengan pandangan datar, seolah - olah tak terjadi apa - apa. "Terpesona, huh?" kata Agnes menggoda. Wanita itu berusaha sekuat tenaga agar tak meledakkan tawanya melihat wajah cengo Raja yang hampir saja meneteskan liur melihat istrinya. "It's too much, Nes!" kata Raja dengan suara rendah. Agnes menggeleng dan berdiri menghampiri Lea yang masih berdiri di tempatnya. "No... No... It's perfect! See?" katanya sambil membolak - balik tubuh Lea. "But---" "Just admit it, Raja Mahendra! Atau lo takut bini lo dikecengin orang di pesta nanti?" Raja menghela napas kasar. "Whatever! Kita berangkat sekarang, Aleah! Kita udah telat hampir dua jam gara - gara gaun dan make up kamu! Benar - benar menyusahkan!" katanya seraya menarik Lea keluar dari kamar. "Bayaran gue gimana?" teriak Agnes. "Nanti!" "Gue mau lo bayar dobel, Rajata Mahendra!" *** Sepanjang jalan menuju kediaman keluarga Dirgantara, Lea hanya diam saja sementara Raja sibuk bersungut - sungut. Ada saja kesalahan Lea di mata pria itu yang jadi bahan omelannya malam ini, terutama tentang keterlambatan mereka yang notabene disebabkan oleh insiden lima kali ganti gaun tadi. "Gara - gara kamu kita telat sampai dua jam Aleah! Kamu tahu, kalau pesta malam ini dinilai dengan uang, kita udah rugi milyaran. Milyaran!" "Padahal aku udah kasi tau kamu tentang pesta ini sejak kemaren, kenapa kamu nggak siapin semuanya?" "Apa - apaan Agnes itu! Percuma aja aku manggil dia dan bayar mahal - mahal. Padahal tampilan kamu kayak ondel - ondel begini!" Lea hanya diam saja tak menanggapi, berharap emosi suaminya akan reda jika dia tak melawan. Tapi ternyata malah sebaliknya, diamnya Lea membuat Raja gemas dan semakin semangat menghina istrinya itu! "Ingatkan aku buat minta Mommy temanin kamu beli baju buat pesta, besok! Nggak usah di butik Agnes, cari butik lain! Kamu nggak cocok pakai baju desainer!" "Kamu kenapa diam aja? Udah mulai tuli ya? Nggak cukup bodoh, sekarang juga tuli?" "Diam aja terus, abaikan suami kamu ini. Bagus Aleah! Kamu pikir---" Ocehan Raja terhenti begitu melihat gadis disampingnya terisak pelan sambil menatap keluar jendela mobil. Nyaris tanpa suara, tapi Raja yakin gadis itu memang sedang menangis begitu melihat Lea dengan cepat mengusap air mata di pipinya. Hati Raja mencelos. Tak menyangka gadis kecil itu menangis. Apa kata - katanya tadi terlalu kasar? Emangnya dia ngomong apa aja tadi? Raja menepikan mobilnya dengan cepat. Pria itu menggaruk kepalanya bingung, tak tau bagaimana harus membujuk gadis kecil di sebelahnya ini. Ia belum pernah berada di situasi seperti sekarang. Terakhir kali Raja melihat perempuan menangis adalah saat.... Err, waktu ia putus dengan Friska kalau tidak salah. Tangis pertama dan terakhir wanita itu. Wanita ular itu menangis menghiba sambil merayu dan memeluknya erat - erat. Dan waktu itu ia juga tak membujuk wanita itu sama sekali. Buat apa ia buang - buang waktu meladeni tangis buaya? Tapi saat ini yang dihadapinya murni tangis manusia. Tangis seorang gadis yang terluka karena kata - kata yang dilontarkannya. Shit! Kalau sampai Mommy tau gue bikin menantu kesayangannya nangis kayak gini, bisa mampus! Say goodbye to saham-saham gue!! Lima menit berlalu dalam keheningan, akhirnya Raja berinisiatif buka suara. Dengan ragu - ragu, ia mencolek - colek bahu Lea dengan jari telunjuknya. "Aleah..." Bukannya menoleh atau menyahuti panggilan Raja, tangis Lea malah makin kejer. Gadis itu meraung pilu membuat Raja jadi kasihan sekaligus khawatir. Khawatir kalau - kalau ada orang lewat, trus nyangka dia ngapa - ngapain anak gadis orang.  Nah loh? Untung saja tempat parkir mobil mereka cukup sunyi. "Kak Raja kenapa jahat banget sama Lea? Lea salah apa sampai kakak hina segitunya? Lea mana tau selera fashion yang bagus itu kayak gimana! Hiks... Hiks..." Raja menelan ludah kesat. "Eerr... Anu, itu..." katanya susah payah. "Aku gak maksud..." "Nggak maksud gimana? Emang Kak Raja ngomong begitu tadi!" Raja benar - benar mati kutu. Tak tau lagi apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan gadis di sampingnya ini. Baru kali ini ia menyumpahi dirinya habis - habisan. Great, Raja! Lo udah telat ke pesta, dan sekarang lo malah bikin drama! Setelah beberapa detik kemudian, karena tak tega melihat Lea yang terus menangis histeris, ia berinisiatif menarik Lea kearahnya. Merengkuh gadis itu masuk kedalam pelukannya. "Maaf ya..." bujuknya. "Aaaaa... Make up mahal Lea luntur kan, jadinya. Udah deh, kita lanjut aja,udah telat kan?" kata Lea. Gadis itu sedikit mendorong tubuh Raja untuk melepaskan pelukan mereka, membuat Raja menggeram. Padahal tadi momennya udah bagus, loh! Raja akhirnya menganggukkan kepala. "Iya, udah telat..." katanya. Raja kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Dirgantara, dengan kepala yang tak henti bertanya - tanya, Bini gue kenapa tiba - tiba jadi cengeng?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN