Part 23

2399 Kata
KEKESALAN Raja sudah hampir tahap maksimal. Bagaimana tidak? Sejak istrinya ditarik Ken kesini, gadis kecil itu sibuk mengobrol dengan Ken, Alan dan juga seorang cowok yang tadi memperkenalkan diri sebagai temannya. Siapa lagi kalau bukan Alfian! Sampai – sampai keberadaan dirinya terabaikan. Padahal dia suami. Catat itu, SU–A–MI! Sudah hampir satu jam keempat manusia itu asik tertawa cekikikan di meja sebelah sementara ia juga terlibat perbincangan santai dengan Alven dan teman – temannya.. Lea tampak mengobrol begitu nyaman disana padahal Raja udah bela – belain nyisain satu kursi kosong buat istrinya itu. "Gue kesana dulu, ya..." Raja bangkit dari kursinya dan menuju kursi keempat manusia yang masih asik tertawa itu. Meski Lea adem ayem tentram di meja sana, entah mengapa ia tak suka saja melihat istrinya itu tertawa begitu lepas seakan hidupnya tak punya beban sama sekali. Sedangkan selama ini Lea tak pernah sekalipun tertawa selepas itu didepannya! "Aleah..." Lea langsung menoleh begitu namanya dipanggil. Wajah cantiknya yang tertawa lepas tampak semakin cantik di mata Raja. "Kak Raja..." seru Lea senang. Gadis itu langsung menarik Raja duduk di kursi kosong disampingnya. Raja menurut seraya langsung duduk dan mengalungkan lengannya di bahu kursi Lea. "Ngapain lo kesini? Udah selesai gosipnya?" tanya Ken ketus. Pria itu menatap Raja dengan raut tak suka yang kentara sekali di mata Raja. "Lo kenapa sih?" Ken mengedikkan bahu. Raja menatap empat orang yang duduk didepannya satu persatu. Tiba – tiba saja meja jadi hening seketika. Ken menampilkan wajah bete padanya, Lea juga tampak datar – datar saja, Alan, si sekretaris sekaligus pengacara Ken itu emang pendiam dari sono-nya, sementara cowok yang ngaku – ngaku bernama Alfian itu hanya memandangnya dan Lea bergantian. Raja langsung pasang radar. Dari caranya memperhatikan Lea, Raja yakin seratus persen Alfian – Alfian ini punya perasaan pada istrinya yang Raja akan pastikan TIDAK AKAN PERNAH tersampaikan sampai kapanpun. Sembarangan aja jatuh hati sama bini orang! Kayak diluar sana gak ada cewek lain aja! Si Alfian – Alfian itu berdehem begitu Raja menatapnya tajam. Noh, makanya jadi orang tau diri dong! Wilayah gue ini!-batinnya. Cowok yang umurnya kira – kira sepantaran Lea itu mengalihkan pandangannya. Mungkin keki karena Raja mulai mengelus – elus lengan Lea yang tertutup lengan panjang itu dengan sayang, sementara si nyonya yang punya badan menerima dengan senang hati meskipun fokusnya saat ini adalah pembicaraannya dengan Ken dan Alan. Rasain! Cemburu kan lo? Iya! Niat di hati Raja emang mau bikin itu bocah bau kencur itu cemburu. Atau lebih baik lagi, mundur teratur. Lea adalah miliknya meskipun belum bisa benar – benar ia miliki. Tak akan pernah ada satu orangpun yang bisa merebutnya dari seorang Marvin Rajata Mahendra, termasuk cowok ganteng mirip artis Hollywood bernama Alfian ini sekalipun! Raja cemburu? Ya iyalah! Siapa orang di dunia ini yang tidak cemburu kalau hak miliknya juga diincar orang lain. Terlebih lagi Raja yang sifat pecemburunya memang sudah ampun – ampunan sejak kecil. Mommy, Daddy, sampai Elang yang notabene adalah adiknyapun dicemburui olehnya. Dan untuk kasus Lea, mau dia cinta pada Lea ataupun belum, yang jelas Lea adalah miliknya. Meski dia tau Lea bukan tipe – tipe gadis yang suka berpaling seperti mantan ularnya itu, tapi kepolosan gadis itu juga berada di titik yang cukup mengkhawatirkan. Jangan sampai saja suatu hari nanti Lea datang kepadanya sambil nangis – nangis dan mengadu kalau dia tak sengaja terjatuh cinta pada lelaki lain selain dirinya. Amit – amit ya Tuhaan...!! "Sayang... sayang... kita pulang sekarang ya?!" Raja menggenggam tangan Lea yang bebas sambil sesekali mengerling kearah Alfian. Lea yang sedang asik berbincang dengan Ken dan Alan itu langsung menoleh kearahnya dengan sambil mengerutkan kening kaget. "Ha... hah? Apa?" Lea tergagap. Matanya mengerjap lucu membuat Raja rasanya mau menggigit hidungnya yang mancung itu saking gemasnya. "Kita pulang sekarang, sayangku!" kata Raja. Ia sengaja menekankan kata 'sayangku' dengan keras agar didengar oleh Alfian yang sekarang sudah mengerutkan kening dalam – dalam. Pasti cemburu tuh, gebetannya lagi mesra – mesraan sama cowok lain!  Biarin! orang bini gue juga! "Pu...pulang?" Raja mengangguk. Ia menatap mata Lea dalam – dalam, mata gadis itu  dipenuhi sorot kebingungan. Lea tampak salah tingkah, wajahnya merona merah, membuat kecantikannya makin naik berkali lipat. "Iya, ayo pulang..." kata Lea. Gadis itu berdiri dan mengajak Raja berpamitan pada Om dan Tante yang sedang nostalgia bahagia dengan teman – teman mereka di meja utama, tapi Raja menolak dan memilih berpamitan pada Ken saja. Toh, Ken juga tuan rumahnya kok, begitu kata Raja. "Aku pulang ya Yan, sampai ketemu lagi. Salam sama Mama kamu..." Lea melambaikan tangan pada Alfian. Cowok itu balas melambai dengan senyum lebar. "Hati – hati, Le. Jangan lupa telpon gue nanti ya?!" kata Alfian. "Ngapain kamu nyuruh – nyuruh istri saya nelpon kamu?" Raja menatap Alfian marah. "Kamu gak lupa kan Aleah istri saya?" Alfian hanya melongo. Sementara Ken dan Alan hanya jadi penonton sambil menahan tawa. Raja versi cemburuan gemesin banget sumpah! "Bukan gitu maksudnya..." wajah Alfian mulai pias. Terlebih lagi ada beberapa orang disana yang kini tertarik dengan obrolan mereka karena suara Raja cukup tinggi. "Kamu jangan main – main sama saya, saya bisa dakwa kamu karena usaha merebut istri orang." Mampus gue! Malu banget ini sumpah! Niat cuma ngomongin soal bimbel, tapi nih laki pake acara salah paham segala. Lo juga sih, Al! udah tau Lea itu bini orang, malah ngomong ambigu begitu, di depan suaminya lagi! "Kak Raja, udah..." bisik Lea di telinga Raja. Ia tak mau menanggung malu jadi pembicaraan orang – orang di pesta ini. Sudah cukup ia dicap sebagai penggoda karena menikahi Raja begitu Elang meninggal, jangan sampai ada lagi gosip yang beredar setelah ini. Rajata Mahendra menghajar seorang lelaki bernama Alfian Bagaskara karena bermain serong dengan istrinya-misalnya. "Kamu juga, ada urusan apa kamu sama dia sampai harus telpon – telponan segala?" sergah Raja. Lea meringis. Perasaan yang PMS kan aku, kok Kak Raja yang nyolot? "Cuma tugas kuliah, Kak! Udah dong, jangan dibahas lagi, kita pulang sekarang, oke?" Lea kembali membujuk Raja agar mereka bisa segera pergi dari tempat ini. Ia tak ingin drama rumah tangganya jadi tontonan publik. "Kamu---" Raja menghentikan ucapannya begitu tangan mungil Lea mengelus rahangnya lembut. Kekesalannya menguap seketika begitu melihat senyum tulus dan tatapan teduh istrinya. "Kak, malu loh dilihatin orang..." kata Lea pelan. Raja langsung menolehkan pandangan ke sekitar. Benar saja, beberapa orang kini sedang menatap mereka dengan tertarik sekaligus penasaran. Termasuk juga Ken dan Alan yang kini memasang raut geli. "Ehm... kita pulang sekarang!" tanpa aba – aba, Raja menarik tangan Lea jauh dari kerumunan itu menuju mobilnya. Beberapa kali pria itu menggelengkan kepalanya kuat – kuat. Selama ini ia memang sudah sering jadi pusat perhatian, tapi tak pernah dalam konteks memalukan seperti ini. Ya Tuhaaann... saham gue! *** Marvin Rajata Mahendra memang terkenal cerdas dan berwibawa, tapi kalau soal pengendalian diri, Lea jelas lebih unggul. Setelah kejadian malam ini dimana mereka jadi tontonan gratis orang – orang, Raja tak henti – hentinya menyalahkan Lea. Melontarkan kata – kata 'semua ini gara – gara kamu!' dan sejenisnya. Membuat Lea sampai pusing sendiri mendengarnya. Begitu mereka tiba di rumah, Mommy dan Daddy malah memperburuk keadaan. Kedua mertua Lea itu meledek Raja habis – habisan, membuat pria yang berusia hampir dua puluh delapan tahun itu makin uring – uringan. Imbasnya tentu saja pada Lea karena begitu mereka menjejakkan kaki di kamar mereka, ada saja hal di diri Lea yang salah di mata Raja. "Kamu gak punya baju tidur lain, apa? Sakit mata aku lihat warna baju kamu yang kayak neon itu. Ganti Aleah!" Lea menghela napas bersabar. Biasanya dia juga tidur pakai piyama spongebob ini kok!  Mau tidur aja kok ribet banget sih? Kalau sakit mata ya, tinggal merem aja, gampang kan? "Itu gaun kamu urus yang benar, Aleah! Itu baju mahal. Sialan si Agnes, baju kayak karung goni begitu kok bisa mahal banget sih? Udah sama aja harganya sama jam rolex gue!" Siapa juga yang minta? Lagian, siapa tadi yang ngomong 'aku gak bakalan bangkrut cuma karena gaun, Aleah!' Lea mencebik kesal. Iblis yang biasanya hidup tenang dalam dirinya kini perlahan – lahan menggeliat bangkit mendengar ocehan tak bermutu suaminya itu. Ditambah lagi dengan hormon PMS yang meledak – ledak dalam dirinya. Tinggal senggol sedikit saja lagi, sudah dipastikan Raja akan jadi korban bacokannya malam ini! Lea menggeleng ngeri mendengar suara pikirannya yang makin malam semakin ngelantur. Selama ini ia sangat mahir mengendalikan diri, jadi jangan sampai malam ini kemarahan yang ia pendam selama ini muntah di depan Raja. Ingat Lea, Raja itu suami kamu! Dosa loh ninggiin suara ke suami! Lea beranjak menuju kamar mandi. Ia bersih – bersih dengan cepat. Dan begitu selesai, ia kembali ke kamar dan mengambil tempat tidur di samping Raja. Pria itu sudah berbaring memunggunginya dengan tenang, meskipun Lea yakin Raja belum tidur sama sekali. Melihat punggung tegap Raja, entah kenapa kepalanya malah mem-flashback kejadian di rumah Ken tadi, saat tiga orang wanita yang Lea pun sudah lupa namanya itu mengatai dan menghinanya habis – habisan. Hatinya sesak seketika, bulir bening tiba – tiba saja mengalir tanpa izin dari kedua matanya. Lea mengusap cepat air matanya. Gadis itu menelentangkan tubuhnya menatap langit – langit kamar yang remang – remang karena cahaya lampu tidur. Selama ini, meski tersinggung ia tak pernah ambil peduli dengan semua ucapan orang lain tentang dirinya. Ia akan segera melupakannya dan tidur dengan nyenyak di malam hari. Tapi malam ini entah kenapa, ia merasa begitu tersinggung dan sedih. Kesedihan yang sama yang dirasakannya saat Papa terang – terangan mengatakan bahwa beliau sudah menyerah akan dirinya. Ternyata selama ini, orang – orang sudah mengetahui hal sebenarnya tentang dirinya. Putri keluarga Adiwangsa yang bodoh dengan prestasi akademik dibawah standar rata – rata. Dan mereka tetap memasang senyum terbaik mereka begitu berpapasan dengannya, padahal dibelakangnya ia hanya dianggap sebagai gadis cantik beruntung yang sama sekali tak layak terlahir dari keluarga terkenal dan kaya raya itu. Padahal diluar sana masih banyak anak – anak orang kaya yang hidupnya lebih memprihatinkan daripada Lea. Meski prestasi akademiknya menyedihkan, tapi Lea tak pernah bertindak diluar batas kewajaran. Sebegitu agungnya kah derajat keluarga Adiwangsa di mata orang – orang, sehingga kehadirannya dengan keterbatasan itu adalah sebuah wabah dan dosa? Saat – saat seperti inilah yang membuatnya sangat merindukan Perancis dan UK. Disana tak ada orang – orang yang akan memandang rendah dirinya hanya karena ia tak pintar matematika. Tak ada yang menghujatnya hanya karena ia adalah satu – satunya keturunan Adiwangsa yang memiliki otak standar, dan tak ada wajah – wajah palsu yang saat di depannya memuji dirinya karena statusnya sebagai anak diplomat, sedangkan dibelakangnya ia dihujat dan digosipkan habis – habisan. Seakan – akan ia adalah daging segar santapan mewah bagi burung alap – alap. "Kak Raja..." Lea memanggil Raja lirih. "Hm..." "Kakak pernah nggak berpikiran kalau selama ini Lea menjadikan Kakak pelampiasan?" Raja langsung membalikkan badan menghadap Lea begitu mendengar pertanyaan lirih dari gadis itu. Kedua kening pria itu berkerut dalam, tapi tak terkejut sama sekali dengan pertanyaan Lea. "Aku selalu tau kamu bakal nanyain pertanyaan kayak gini suatu hari nanti, tapi aku gak nyangka suatu hari nanti itu adalah hari ini. Kenapa? Apa yang terjadi?" Lea menghela napas panjang. Gadis itu masih terus menatap langit – langit kamar mereka. "No, just asking. You may answer it or not, it's up to you..." Raja menarik tubuh Lea agar menghadapnya. Gadis itu menurut. "Tentu saja aku pernah berpikiran kayak gitu. Dan aku yakin kamu juga berpikiran kayak gitu tentang aku, iya kan?" Raja menatap Lea dalam. Ia bisa menangkap ada percikan kesedihan dari bola mata indah istrinya. "Tapi aku juga tau, nggak ada yang perlu aku khawatirkan. Kita akan saling jatuh cinta suatu hari nanti, dan kenyataan tentang pelampiasan – pelampiasan ini akan berakhir dengan sendirinya..." Raja mengelus kepala Lea dengan lembut. Membuat gadis cantik itu memejamkan mata sejenak menikmati elusan yang membuatnya merasa dilindungi itu sebelum akhirnya ia mengangguk dan berujar. "I hope so..." "Aku minta maaf karena sering marah – marah gak jelas ke kamu. Kadang aku juga gak sengaja emosi karena masalah kantor dan melampiaskannya ke kamu saat aku tiba di rumah. Tapi satu hal yang harus ingat baik – baik, Aleah... aku selalu berharap hubungan kita semakin hari akan semakin membaik. Aku udah mutusin, kalau emang aku harus jatuh cinta, maka perempuan itu sudah pasti adalah kamu, bukan perempuan lain. Dan aku harap kamu juga begitu, hm?!" Lea mengerjapkan mata. Berusaha mencerna ucapan suaminya itu baik – baik. Hatinya yang tadi sempat baper karena kejadian tak mengenakkan di rumah Ken kini perlahan menghangat. Ada gelenyar – gelenyar aneh yang merambati hatinya membuat ia menarik bibirnya membentuk senyum manis. Raja masih memandangnya dengan pandangan lebih lembut dari yang pernah dilihat Lea saat mereka berbicara dengan Om Pasha dan Tante Amber di pesta tadi. Entah sejak kapan, kini jemari mereka sudah saling bertaut. Raja terkekeh pelan. "Kamu sadar gak? Ini adalah pillowtalk pertama kita sejak menikah..." Lea mengerutkan dahi. Oh ya? "Ya, selama ini kita sibuk saling memunggungi." kata Raja lagi. "Come, let me hug you..." Lea merangsek masuk kedalam pelukan Raja. Pria itu seolah menyalurkan ketenangan dan ketentraman pada istrinya itu. Tangannya mengelus surai panjang Lea dengan penuh kasih sayang. Ia tahu, istrinya itu sedang mengalami malam yang berat. Ken sudah menceritakan semuanya tadi. Semuanya mulai dari hinaan ketiga wanita itu pada istrinya, sampai dengan gosip – gosip tak berdasar yang menyakitkan hati. Dan ia tahu, dalam diamnya, Lea pasti sedang memendam kesedihan. Ingin saja rasanya ia mengambil tindakan tegas seperti yang dikatakan Ken, tapi hal – hal seperti itu sama sekali bukan gayanya. Menghancurkan hidup dan masa depan banyak orang hanya karena kesalahan satu orang. No, he is not that cruel to do those crazy things. Dan Lea juga tidak akan menyetujui perbuatannya itu. Tahu sendiri istrinya itu hatinya terlalu baik dan lembut. Dan yang paling terpenting, Lea baik – baik saja, dan ia memastikan akan tetap begitu sampai kapanpun. Raja melepaskan pelukannya dan menatap Lea lekat – lekat. Wajah cantik itu tampak sayu. "Jangan sedih dengan apapun yang dikatakan orang lain tentang kamu. Kamu emang bodoh, tapi aku yakin nggak sebodoh itu. Yah...Seenggaknya itu harapan aku." Lea melotot dan mencubit perut Raja keras – keras membuat pria itu mengaduh disela – sela tawanya karena berhasil mengerjai istrinya. Wajah merajuk Lea seperti saat ini terlihat benar – benar menggemaskan. Cupp Raja mengecup bibir Lea. "Goodnight kiss...” katanya seraya tersenyum. “Kayaknya aku harus sering – sering melakukannya. Anggap saja sebagai salah satu usaha membuatmu lebih cepat jatuh cinta padaku..."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN