Part 24

2239 Kata
RAJA mengetukkan kepalanya berkali - kali diatas meja kerja. Sesekali pria dua puluh tujuh tahun itu menggeleng keras sambil mengerutkan dahi, dan sesekali juga berteriak tidak jelas. Kedua kakinya tak bisa diam sejak tadi. Dan bolpoin mahal ala desainer miliknya sudah jadi korban gigitannya. Mengenaskan! Singkat kata, kondisi pria itu saat ini sudah persis... Orang gila! "Auhh... Rajata bodoh... Rajata g****k!" ia mulai memaki - maki dirinya. "No... No... No... You're damn clever, Raja! You're perfect!" dan sekarang ia malah mengangguk - angguk dengan senyum lebar. Tapi sedetik kemudian, ia kembali merintih dan menggaruk - garuk kepalanya gusar. "Aaarrgghhh... Sialan! Jangan sedih? HAH!" "Let me hug youuuuu?? APA - APAAN??!" "Malu - maluin kamu Rajata! You're sick! Oh my God, i need doctor, now!" "No... No... I need Mommy!" Ia meringis begitu mengingat 'pillowtalk' pertamanya dengan Lea tadi malam. Such a romantic, tapi membuatnya geli seluruh badan bila mengingatnya lagi. Pertama kalinya dalam satu bulan pernikahan mereka, ia terbangun dengan Lea dalam pelukannya. Padahal selama ini, Lea pasti bangun lebih awal darinya, ataupun jika ia terlambat bangun, gadis itu pasti berakhir diatas sofa ataupun terjatuh mengenaskan diatas lantai. "Rilex... Breath in... Breath out..." ia menegakkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Menarik dan mengeluarkan napasnya secara teratur untuk menghilangkan rasa malu luar biasa itu. Malu? Buat apa malu? Orang yang diromantisin kan, istri sendiri! But still, romantic is truly not his style! Kalau dua mantannya yang mandiri itu tau dia bersikap cheesy seperti tadi malam, sudah pasti dia jadi bulan - bulanan mereka. Damn it! Dulu, saat pacaran dengan Melanie dan Friska, bisa dikatakan ia tak pernah mengucapkan kata - kata memalukan itu. Selain karena keduanya adalah wanita - wanita mandiri and less problemo, intensitas pertemuan mereka yang terbatas itu lebih baik digunakan untuk 'in action' diatas ranjang. Sorry for that, Aleah! By the way, untuk kejadian tadi malam, salahkan saja hormon! Karena kata orang, semakin malam, maka tubuh manusia mengeluarkan hormon simpati lebih banyak daripada siang hari. Itu sebabnya, sensasi menonton film mellow lebih terasa saat malam daripada siang hari. "Forget it, Rajata! Forget it!" "What are you trying to forget, Raja Mahen?" Sebuah suara kelewat familiar itu membuat Raja kaget setengah mati. Ken Dirgantara, sepupunya yang sableng itu entah sejak kapan sudah berdiri di seberang mejanya. Tangannya terlipat di depan d**a, matanya mengerjap heran menatap Raja yang saat ini wajahnya putih pasi seperti melihat hantu. Bukan malu karena ketahuan berbicara sendiri, tapi kaget karena tak menyadari kehadiran pria itu disini. Gimana dia bisa masuk? Tadi kan pintunya gue kunci?! "Ngapain lo kesini?" Ken terkekeh kecil dan duduk didepan Raja. Pria itu menyilangkan kaki dengan gaya macho membuat Raja mendelik tak suka karenanya. "Gue ngantar ini..." Raja menerima kotak kecil yang diulurkan Ken. "Apaan nih?" "Anting bini lo, kayaknya jatoh di dapur rumah Mami..." Raja menerawang melihat anting mutiara itu lekat - lekat. "Gimana lo yakin ini punya Aleah? Yang datang ke pesta kan bukan cuma dia doang?!" Ken mengangguk. "Iya, tapi yang duduk di dapur cuma dia doang." Raja mengernyitkan dahi. Merasa aneh dengan ucapan Ken. "Ngapain dia di dapur rumah lo?" "Gue kan udah cerita kejadian tadi malam. Kejadiannya itu di ruang tengah, tapi bini lo nguping di dapur sama Alfian..." "Ohh..." "What kind of tone is that? I smell something fishy here..." Ken menopangkan dagu dengan tangan kanannya. Matanya menatap Raja menyelidik. Raja mengalihkan pandangan dari anting - anting mutiara di tangannya. "Like what?" Ken mengedikkan bahu. "Jealousy, maybe?" godanya. Raja langsung meledakkan tawa mendengar ucapan Ken. Ia sampai memegangi perutnya sendiri saking lamanya tertawa. Tapi semenit kemudian, ia kembali menegakkan punggung dan menatap Ken dengan tatapan membunuh. "Jangan sembarangan lo!" katanya pelan. "Lo kayaknya kerasukan roh jahat deh, Ja! Rukiah sono, makin lama gue gak ketemu lo, kelakuan lo makin aneh aja!" Raja mendelik tak terima. "Enak aja! Gue bukan kerasukan jin jahat, tapi gara - gara Lea gue jadi begini!" "Kenapa lo jadi nyalahin ipar gue? Kesalahan apa yang dia perbuat selain punya wajah cantik itu?" "Woy, bini gue, bego! Bahasa lo udah kayak Alven aja tau gak?" "Haha... Santai aja dong, gue juga cuma ngomong doang kali! Gak niat buat nikung." "Berani lo nikung, gue penggal kepala lo!" "Aww... Takuutt!" bukannya bergidik, Ken malah tertawa makin keras. "Seharusnya yang lo antisipasi itu bukan gue, tapi Alfian..." "Kenapa dengan Alfian?" Ken melipat tangan di atas meja. Sorot matanya menunjukkan keseriusan.  "Lo gak nyadar dia punya perasaan sama Lea?" Raja berdehem. Tentu saja dia tahu itu! Tapi dia harus bagaimana? Tak mungkin juga dia melarang Lea bergaul dengan bocah ingusan itu! Anak kecil itu pasti jadi besar kepala kalau dia tiba - tiba saja berperan jadi suami posesif sekarang. Oh no! "Lo gak tahu Alfian itu siapa? Dia anak sulungnya Permadi Bagaskara, anak mantan mentri pendidikan yang sekarang jadi rektor di kampus bini lo!" seakan masih kurang, Ken malah semakin semangat memanas - manasi Raja. "Gue dengar Lea jadi tutor pribadi Alfian belajar bahasa Perancis. Dia mau ngelanjutin kuliahnya ke Perancis katanya. Bahasa Perancis, man! Lo tau kan, Perancis udah dianggap rumah kedua sama Lea? Hmm... Kalau gue cenderung cepat akrab sama orang yang hobinya sama dengan gue, kira - kira itu berlaku juga nggak ya buat Lea? Atau bisa - bisa dia jatuh cinta kali ya? Soalnya lo kan---" Ucapan Ken terputus begitu suara gebrakan meja memenuhi ruangan. Raja sudah berdiri dari kursinya dengan wajah garang mirip singa. Ucapan Ken tentang Lea yang jatuh cinta pada Alfian b******k itu membuat emosinya tak terkendali. "Watch out your mouth, Ken! Lo ngedoain gue yang nggak - nggak?" katanya geram. Ken bersorak dalam hati. Good, Raja! Ayo kita lihat gimana sebenarnya perasaan lo ke Lea! "Suuzhon mulu lo! Gue ngomong ada dasarnya kali! Gue lihat postingan Alfian di i********: tadi, mereka lagi nongkrong di kafe. Ber...du...a!" kata Ken santai. "WHAT? Tapi tadi Lea izin sama gue buat ke kampus kok!" Raja buru - buru menyambar ponselnya dari atas meja. Jarinya lincah mencari - cari chatting terakhirnya dengan Lea tadi. "Nih, liat! Dia izin ke kampus sama gue!" ia menyodorkan handphonenya didepan wajah Ken. Disana tertera isi pesan Lea yang hanya dibalas 'ok' oleh Raja. "Mungkin dari kampus mereka langsung ke kafe ber...du...a!" kata Ken. Ia sengaja menekankan kata 'berdua' dengan jelas untuk melihat reaksi sepupunya itu. Dan benar saja, Raja sudah tampak blingsatan sekarang, persis bocah kehilangan ibunya. "Lagian ngapain dia izin sama lo kalau dibalas 'ok' sama 'hm' doang? Udah hapal kali!" "Mana... Mana? Mana postingan itu? Sini gue lihat!" Ken mengulurkan iPhone-nya pada Raja. Menunjukkan postingan Alfian yang diunggah belum sampai setengah jam yang lalu. Itu benar - benar Lea. Dan foto itu benar baru diambil hari ini. Baju Lea sama dengan yang dilihatnya tadi pagi. Kemeja hitam siffon motif polkadot dan celana jeans broken white. Sialan!! Dia bohongin gue? Raja melemparkan iPhone Ken keatas meja. Rasa kesal dan marah perlahan menguasai dirinya. Tapi sekuat tenaga berusaha ia tahan. "Kenapa masih diam aja? Gak mau nyamperin atau sekedar chat gitu? Emang gak cemburu?" Raja memalingkan wajah menghadap Ken. "Enggak! Ngapain juga gue cemburu? Lagian gue percaya sama Aleah. Nggak mungkinlah dia macam - macam di belakang gue..." katanya. Nada suaranya antara yakin dan tak yakin. Ken mengangguk - angguk kemudian bangkit dari duduknya. "Okay, then! Up to you... Oh ya, gue harus pergi sekarang! Sejam lagi gue flight ke Samarinda." "Ok, take care!" Ken melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Raja yang masih berdiri gusar di depan mejanya. Ia yakin, sepupunya itu pasti sedang dilema. Ia kenal Raja sejak mereka sama - sama masih bayi. Pria itu saat ini pasti bingung memilih antara 'nyamperin' istrinya ataupun mementingkan egonya yang selangit itu. Ken berhenti sejenak di meja Zaki. Ada hal penting yang ingin ia diskusikan dengan sekretaris Raja itu terkait kontrak kerja salah satu artisnya yang jadi brand ambasador perusahaan ini. Sebenarnya ini tugas Alan, tapi berhubung pengacara itu sedang ada urusan diluar kota, jadi mau tak mau ia yang menggantikan. Untung saja urusannya tak terlalu ribet seperti tandatangan kontrak dan sebagainya. Belum sampai lima menit ia duduk di depan meja Zaki, dilihatnya Raja keluar dari ruangannya dengan terburu - buru. Pria itu juga tak melirik kanan - kiri, hanya fokus pada langkahnya yang lebar. Ken tersenyum geli. Kena kan lo? Udah cinta masih aja nyangkal! Ini demi kebaikan lo, Raja! Gue gak mau kejadian kayak dulu terjadi lagi! Err... Tapi lo gak tau ya kalau Alfian itu udah punya pacar? Emang Lea gak cerita?! *** Entah jin darimana yang menghasut Raja sampai ia duduk di kursi tempat ini, di depan empat orang remaja beranjak dewasa yang menatapnya dengan pandangan sulit diartikan. Ya, setelah obrolan dengan Ken di kantor tadi, ia langsung melesatkan mobilnya ke tempat ini. Apalagi kalau bukan untuk membawa Aleah-nya pulang! Tapi begitu tiba, ia langsung mati kutu begitu melihat Diandra dan Lili juga berada disini. Ken sialan!! Katanya tadi Lea dan bocah bau kencur itu cuma berdua, tapi sekarang kok malah berempat? "So... Can you tell us the purpose you came here today?" pertanyaan sarat intimidasi dari Lili membuat Raja menelan ludah susah payah. Mau bilang gara - gara postingan Alfian, trus dia jadi jealous ? Hell NO! bunuh aja dia sekalian! Mau bilang kebetulan? Mustahil mereka percaya! Kalau Lea yang polos itu sedikit mudah diakali, tapi kalau Lili, Diandra dan bocah ingusan itu... "Tau darimana kita lagi disini?" tanya Diandra. "Lo stalking kita?" Alfian ikut bertanya dengan nada curiga. Sementara Aleah, istri kecil Raja itu hanya diam saja sejak tadi sambil mengerutkan dahi. Sama seperti Raja, ia mulai menerka - nerka ada apa gerangan suami yang biasanya jam segini masih sibuk kerja itu tiba - tiba berada disini. Baru pertama kalinya Raja bersikap seperti ini. Raja yang duduk di seberang meja mulai gelisah. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mencoba mengabaikan pertanyaan ketiga remaja beranjak dewasa di depannya itu dengan cara mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kafe. Kafe ini tampak ramai di waktu menjelang siang ini. Hanya beberapa meja saja yang tampak kosong. "Kak Raja ada apa kesini?" Raja menghentikan survei dadakannya itu dan menatap sumber suara yang baru saja mengajaknya bicara. Aleah, istrinya itu duduk diseberangnya dengan tatapan datar yang malah membuat tengkuk Raja tiba - tiba saja dingin. Ia berdehem pelan dan menyilangkan kaki, mencoba rileks dengan pandangan - pandangan keempat manusia didepannya. "Ehm... Sengaja! Aku mau ajak kamu makan siang," katanya. Lea, Diandra dan Lili saling berpandangan mendengar jawaban Raja. Tumben banget! "Kenapa? Selama ini gak pernah tuh ngajak Lea makan siang bareng?" Lili mewakili Lea dan Diandra bertanya pada Raja. "Apa butuh alasan gue ngajak istri gue sendiri makan siang?" Raja mulai jengah. Demi Tuhan, Lili itu hanya sepupu istrinya! Tapi kenapa berasa seperti calon mertua? Mertuanya saja tak peduli dengan kehidupan mereka!  "Aleah, kamu mau ikut aku nggak?" "Huh?" Lea yang ditanya hanya menampilkan raut bingung. "Dia syok kali kak, lo tiba - tiba datang ngajakin makan siang!" kata Diandra. "Iya nggak Le?" Lea mengangguk. "Iya, kaget banget waktu lihat kak Raja tiba - tiba datang kesini." "Jadi selama ini kalian gak pernah makan siang barengan?" Alfian bertanya heran. Lea mengangguk lagi. "Woaahh... Seriusan? Kok lo gak romantis banget sih bro?" Raja melotot kearah Alfian. "Diem lo!" "Iya, selama ini dia ini cuma statusnya doang suami sepupu gue! Tapi implementasinya... Nihil! Kasian sepupu gue udah nikah sebulan masih aja perawan ting-ting. Atau gue ragu malah dia yang gak berselera sama Lea. But hellow...cowok mana sih yang bisa menolak pesona seorang Lea? Nggak ada! Atau jangan-jangan...lo gay kak?" Lili berkoar - koar. Semua orang di meja itu ternganga tak percaya mendengar ucapan Lili. Wajah Lea sudah merah, sementara Raja tersinggung bukan main orientasi seksualnya diragukan dan dilecehkan sedemikian rupa oleh gadis kemarin sore itu. Buset dah ini sepupu bini gue! Mulutnya bener-bener minta dikasi pelajaran kali ya? "Kamu nyeritain prihal ranjang kita ke orang luar, Aleah?" Raja bertanya pada Lea. Gadis itu menggeleng sambil menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. "Gak perlu salahin Lea, kak Raja! Kita udah cukup dewasa buat ngerti masalah begituan!" kata Diandra ketus. "Rugi banget lo Le, nikah sama cowok gak lurus begini. Cari yang lain aja, udah! Gue masih available, nih! " Raja tertawa sumbang. Apa - apaan nih bocah? Sok oke banget! "Lo ngeraguin gue?" "Hm..." "Hah! Simpan kata - kata lo bocah! Gue bakal buktiin dalam waktu dua bulan kedepan 'TEMAN' lo ini bakalan hamil anak gue! Gak peduli siang malam, gue bakal gempur dia sampai pingsan!" Lea, Diandra dan Lili melotot horor mendengar penuturan frontal Raja yang diucapkan dengan emosi itu. Bulu kuduk Lea sampai merinding seketika. Gempur sampai pingsan? Apaan - apaan bahasanya Kak Raja? Sementara Alfian tertawa dalam hati melihat Raja yang emosi sampai - sampai tak menyadari bahwa perhatian seluruh pengunjung kafe saat ini mengarah pada mereka. Ingin rasanya ia guling - guling di lantai, tapi rasanya itu tak mungkin ia lakukan jika tak ingin dicap sebagai orang gila. "Kak Raja... Udah, malu dilihatin orang..." Cicitan pelan disertai ringisan dari Lea menyadarkan Raja akan kondisi sekitar. Mukanya ikut merah padam menahan malu melihat pengunjung kafe yang melihat mereka sambil senyam - senyum tak jelas. Ada juga yang terang - terangan berbisik dan mencemooh. Mampus! Dia pasti sudah dicap penjahat kelamin sekarang! 'Mudah-mudahan gak ada satupun dari orang - orang ini yang jadi kolega bisnis Mahendra Group. Kalau nggak... Bisa jatuh saham perusahaan bokap gue!' "Kita pulang sekarang, Aleah Mahendra!" Kata Raja seraya bangkit dari kursinya dan menarik Lea dengan paksa. Ya Tuhaann... Sudah dua kali dia mempermalukan dirinya hari ini gara – gara istri kecilnya ini!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN